Tidak mudah bagi Alya untuk membuka hatinya untuk Daffa, seorang CEO muda yang memimpin perusahaan keluarga Pratama Group. Setelah pengkhianatan yang dilakukan mantan kekasihnya. Namun takdir berkata lain, sebuah kecelakaan menimpa Daffa akibat kelalaian Alya.
Alya dihadapkan pada sebuah keputusan yang akan menentukan hidup dan masa depannya.
Akan kah tumbuh cinta di hati Alya? Atau sebaliknya Daffa membenci Alya, dan menyalahkan keadaannya kepada Alya?
Penasaran? Yuk simak kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RisFauzi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Mencuri dengar pembicaraan
Untuk pertama kalinya selama Alya bekerja di perusahaan Pratama Group, baru hari ini Alya merasakan semangat kerjanya turun drastis sampai ke titik nol. Padahal biasanya, Alya dengan mudah dan cepat bisa menyelesaikan pekerjaannya. Apalagi saat tiba di kantornya tadi pagi, dilihatnya Rey datang bersama dengan Diana. Mood-nya langsung saja berantakan.
Sudah hampir jam sebelas siang, tidak banyak pekerjaan yang bisa dikerjakannya. Alya mengesah pelan, duduk sambil bersandar pada kursi. Membuka laci meja kerjanya lalu mengambil ponselnya yang berada di dalamnya.
Ting!
Ponselnya berbunyi, ada notif masuk. Alya mengusap layar lalu membuka pesan masuk.
"Siang Nona, Aku baru saja sampai di rumah mama."
"Gimana keadaan di kantor? Semangat kerjanya, jangan coba-coba bolos lagi hanya karena aku nggak ada disana. Aku pastikan Kamu bakal dapat hukuman lagi."
Alya tersenyum membacanya, lalu menulis balasan. "Baik, Iya."
Singkat, padat tanpa banyak kata. Sudah mewakili semua pertanyaan Daffa padanya. Toh Daffa bisa menelpon dan bertanya langsung pada Rey, pikir Alya.
"Nggak ada yang lain gitu? Cuman 'baik, Iya' doang."
"Nggak ada!"
Sementara di seberang sana, Daffa yang baru saja datang dan memasuki kamar pribadinya, mengerutkan keningnya saat membaca chat balasan Alya padanya.
"Ish, nggak peka. Ngeselin banget." Daffa melempar ponselnya ke atas tempat tidur lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Alya memeriksa ponselnya lagi, kali ini ada pesan masuk dari ibu Ane yang memintanya datang ke bagian gudang untuk mengambil laporan harian dan menyerahkannya langsung pada Rey. Alya lalu bergegas ke gudang.
"Mas Hendra, tadi bu Ane ada nelpon minta disiapin laporan harian? Kalau sudah selesai biar Aku bawa sekalian, mas."
"Sudah Ay, ini laporan sampai jam sebelas siang ini. Semua armada sudah berangkat sesuai orderan dan surat jalan, silahkan di cek ulang," jelas Hendra kepala gudang di kantor.
Alya lalu memeriksa laporan, mengangguk puas. "Makasih, mas. Laporannya Aku bawa dulu, silahkan dilanjut kerjanya," pamit Alya.
"Oke, Ay. Sama-sama."
Alya langsung menuju ruangan Daffa yang sekarang digantikan Rey sementara dia berada di luar kota. Belum sempat tangannya mengetuk pintu, gerakannya terhenti saat mendengar namanya disebut-sebut oleh Rey.
"Aku bilang tidak," Rey berkata dengan nada datar, berdiri membelakangi pintu. "Kali ini Aku tidak bisa memenuhi permintaanmu, Aku tidak ingin Alya salah paham lagi denganku."
Rey mengendurkan ikatan dasi di lehernya, menghembuskan napas berat lalu melangkah menuju sofa panjang.
"Apa tidak lebih baik untukmu tetap tinggal di rumah saja, lagi pula masa liburanmu di sini juga sudah hampir habis. Dan yang ku dengar dari Daffa, besok lusa Kamu harus kembali dan masuk kuliah lagi."
"Aku janji tidak akan membuat masalah dengannya lagi," Diana berjalan membuntuti Rey di belakang, duduk dengan kaku di sofa berhadapan dengan Rey.
"Apa Aku bisa mempercayai ucapanmu?" Rey menatap tak percaya. "Pokoknya besok lusa Kamu harus sudah meninggalkan kota ini," tambahnya lagi dengan senyum sinis.
Sikap Diana yang manja dan kekanak-kanakan sering membuat orang yang menjadi lawan bicaranya menjadi tidak nyaman.
"Hei! Ada apa denganmu, Rey. Dia cuma mantan Kamu. Mantan!" Diana menyela, memajukan tubuhnya menatap Rey penuh selidik. "Kenapa Kamu begitu mengkhawatirkannya. Jangan bilang kalau Kamu menyesali keputusanmu padanya Rey, dan berencana ingin merebutnya dari Daffa."
Alya menahan napas, menunggu jawaban Rey atas pertanyaan Diana padanya. Sebenarnya Alya tahu mencuri dengar pembicaraan orang lain itu tidak baik, tapi Alya tidak dapat menahan diri. Apalagi setelah tahu kalau yang sedang mereka bicarakan itu ternyata dirinya.
"Jaga ucapanmu, Di. Aku tidak sejahat itu, Aku juga tidak sedang berencana merebut Alya dari Daffa. Mereka bahkan belum jadian," sahut Rey geram.
"Bagus dong, begitu lebih baik. Dengan begitu, Kamu bisa lebih mudah mendekati Alya dan merebut hatinya lagi." Diana tersenyum penuh rahasia. "Dan Aku akan membuat Daffa jadi milikku."
Wajah Alya memucat, dia masih berdiri di depan pintu. Didekapnya erat file laporan pengeluaran barang yang sedianya akan dia berikan pada Rey untuk diperiksa.
Dikuatkannya dirinya, Alya mengangkat tangan mengetuk pintu dan membukanya. Pada saat yang sama Rey berpaling dan melihat kehadirannya.
"Oh, kamu Ay," Rey terkejut. Ekspresi wajahnya tampak aneh, sepertinya ia menyadari kalau Alya sudah mendengar semuanya.
"Aku pulang," Diana berdiri dan mengambil tas miliknya di meja, berjalan ke pintu dengan langkah anggun dan berhenti sejenak saat akan melewati Alya.
"Selamat menikmati waktumu dengannya," bisiknya di telinga Alya, menolehkan wajahnya pada Rey lalu melangkah keluar ruangan.
"Saya hanya ingin memberikan laporan harian untuk Bapak periksa. Setelah Bapak menandatangani, Saya bisa langsung membawanya ke bagian administrasi," kata Alya lalu menyerahkan file dan berdiri menunggu.
"Ay, bisa kita tunda dulu pekerjaan kali ini," Rey mengacungkan file di tangannya. "Ada hal penting yang harus kita bicarakan. Semua yang Kamu dengar tadi tidak seperti apa yang Kamu pikirkan."
Alya tidak suka diingatkan pada hal-hal yang tidak menyenangkan, terutama berkaitan dengan kenangan masa lalunya bersama laki-laki itu. Dan matanya jelas menyiratkan hal itu.
"Kenapa harus repot-repot membahas hal yang sudah lewat. Tolong jangan ingatkan lagi betapa bodohnya Saya saat itu." Alya mengingatkan.
"Tapi, Ay ..." Rey memandang gusar wanita di hadapannya itu, Alya sudah banyak berubah. Bukan lagi seperti wanita yang dikenalnya dulu.
"Lima belas menit lagi jam istirahat kantor, Saya harus segera menyerahkan file ini ke bagian admin. Saya mohon kerjasamanya."
"Dimana Aku harus tanda tangan?"
Alya lalu menunjukkan bagian mana yang harus Rey tanda tangani. Tanpa membaca dan memeriksanya lagi, Rey langsung saja menandatanganinya.
"Terima kasih, Saya permisi dulu Pak," Alya pamit undur diri dari hadapan Rey.
"Kuhabiskan 2 tahun waktuku dengan sia-sia, hanya untuk melihatmu meninggalkan Aku begitu saja," bisik Alya dalam hati, melangkah meninggalkan Rey yang menatapnya dengan wajah hampa.
🌹🌹🌹
🤗🤗🤗♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐