NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dunia Masa Depan / Idola sekolah
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Selenium Alchemy

Masa remaja Andini, seorang gadis SMA yang ceria, seharusnya dihabiskan dengan mengerjakan PR, tertawa bersama teman-teman, dan menikmati masa muda yang bebas. Namun, takdir berkata lain. Sebuah perjodohan mendadak menyeretnya ke dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan, dengan pria yang berada di dunia yang sangat jauh berbeda dari dunianya.

​Charles, seorang CEO muda yang dikenal dengan reputasi "es berjalan". Baginya, hidup adalah tentang keuntungan, strategi, dan kesempurnaan. Ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini baginya, Andini hanyalah tanggung jawab yang harus ia jaga demi memenuhi wasiat sang kakek.

​Di sekolah, Andini adalah siswi biasa yang berusaha menjalani hari dengan tenang. Namun di balik pintu apartemen mewah, ia adalah istri dari pria yang paling disegani sekaligus ditakuti di dunia bisnis. Pernikahan ini harus dirahasiakan rapat-rapat; satu kesalahan kecil bisa menghancurkan reputasi Charles dan masa depan sekolah Andini...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selenium Alchemy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 31

## Bab 31: Di Ambang Batas

Deru mesin mobil Charles yang meninggalkan lobi apartemen seolah membawa pergi sebagian udara dari dalam ruangan. Aku berdiri terpaku di dekat jendela, menatap ke bawah, ke arah jalanan ibu kota yang mulai merayap padat. Pesan Charles sebelum berangkat tadi terus berdenging di telingaku seperti alarm yang tak kunjung mati. *Jangan membaca berita apa pun di internet hari ini.*

Sebagai seorang gadis yang terbiasa hidup dengan intuisi, aku tahu ada sesuatu yang tidak beres. Kata-kata Charles tidak terdengar seperti sebuah larangan yang mengekang, melainkan sebuah perisai darurat yang ia pasang karena tahu ada peluru yang sedang meluncur ke arahku.

Pukul sembilan tepat, Bu Rahma datang. Senyum keibuannya yang hangat sedikit meredakan gemuruh di dadaku. Kami duduk di meja belajar, membuka lembaran-lembaran teori tentang struktur narasi dan bagaimana membangun klimaks dalam sebuah cerita fiksi. Namun, pikiranku terus mengembara. Setiap kali Bu Rahma menjelaskan tentang peran "tokoh antagonis" yang mencoba merusak kedamaian tokoh utama, wajah Vivian—dan sayangnya, wajah Kak Reyhan—bergantian muncul di benakku.

"Andini, kau melamun?" suara lembut Bu Rahma membuyarkan lamunanku. Wanita paruh baya itu menatapku dengan pandangan penuh empati di balik kacamata tebalnya.

"Ah, maaf, Bu," aku membetulkan letak buku catatanku dengan canggung. "Aku hanya sedang memikirkan bagaimana sebuah konflik dalam cerita kadang terasa begitu nyata, sampai-sampai tokoh utamanya tidak tahu siapa yang harus dipercaya."

Bu Rahma tersenyum, lalu menutup buku referensinya perlahan. "Dalam sastra, maupun dalam kehidupan nyata, konflik terbesar biasanya muncul bukan dari orang asing, Andini. Melainkan dari masa lalu yang belum selesai, atau dari orang-orang yang mengklaim diri mereka bertindak demi kebaikan kita, padahal mereka hanya memuaskan ego mereka sendiri."

Kata-kata Bu Rahma terasa seperti sebuah tamparan lembut yang menyadarkanku. *Orang-orang yang mengklaim bertindak demi kebaikan kita.* Bukankah itu yang dilakukan Kak Reyhan kemarin? Dia datang atas nama "kepedulian", namun tindakannya justru membawa riak kegelisahan di dalam rumah yang baru saja kutemukan kedamaiannya.

Setelah sesi belajar berakhir dan Bu Rahma pamit pulang, apartemen kembali diselimuti keheningan yang pekat. Pak Gunawan tampak sibuk di ruang kerja luar, berulang kali menerima panggilan telepon dengan suara yang sengaja diredam. Aku bisa mendengar beberapa patah kata seperti "pengadilan", "berkas kesaksian", dan "Reyhan Dewangga".

Mendengar nama Kak Reyhan disebut oleh Pak Gunawan, pertahananku runtuh. Aku melanggar janjiku pada Charles. Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku meraih ponselku yang sejak pagi sengaja kuletakkan di dalam laci meja belajar. Aku membuka aplikasi peramban dan mengetikkan namaku sendiri di kolom pencarian.

Hasilnya membuat darahku seketika berdesir hebat.

Sebuah artikel dari media daring lokal yang baru diterbitkan satu jam lalu menampilkan judul yang bombastis:

> **"Cinta Pertama yang Terenggut: Mantan Kekasih Siap Bongkar Sisi Gelap Pernikahan Rahasia CEO Utama Group!"**

>

Di bawah judul itu, terpampang foto masa laluku bersama Kak Reyhan yang diambil di depan perpustakaan daerah dua tahun lalu. Foto itu tampak kontras dengan potongan artikel yang memuat pernyataan tertulis dari Kak Reyhan. Dia menyebutkan bahwa aku adalah korban manipulasi bisnis, seorang gadis polos yang dipaksa memasuki dunia pernikahan oleh Charles Utama untuk mengamankan takhta perusahaannya. Di bagian akhir artikel, disebutkan bahwa Vivian Rahardja telah mendaftarkan kesaksian Reyhan ke pengadilan sebagai bukti baru untuk membatalkan dispensasi pernikahan kami.

Ponsel di tanganku rasanya mendadak berubah menjadi sangat panas, hingga aku menjatuhkannya ke atas kasur. Air mata langsung menggenang di pelupuk mataku. Rasa kecewa, marah, dan tidak percaya bercampur menjadi satu, menyumbat tenggorokanku.

"Bagaimana bisa, Kak Reyhan..." lirihku, air mata mulai menetes membasahi pipi.

Bagaimana mungkin pria yang dulu mengajariku menulis tentang keindahan dunia, kini bersedia menjadi alat bagi seorang wanita kejam seperti Vivian untuk menghancurkan hidupku? Dia bilang dia ingin "menyelamatkanku", namun dengan menyeret masa lalu kami ke depan publik, dia justru sedang menelanjangiku di hadapan jutaan mata yang haus akan gosip dan skandal. Dia tidak sedang menyelamatkanku; dia sedang membakar satu-satunya rumah yang bersedia menampungku saat aku hampir mati kedinginan.

Sementara itu, di kantor firma hukum Utama Group, suasana tidak kalah mencekam. Charles duduk di balik meja kaca besar dengan rahang yang mengeras. Di hadapannya, tiga pengacara senior dan Pak Gunawan berdiri dengan wajah tegang. Di layar monitor besar yang menempel di dinding, artikel yang baru saja kubaca terpampang jelas.

"Vivian menggunakan taktik gerilya," ujar salah satu pengacara senior, menunjuk pada dokumen di tangannya. "Dia tahu kita telah memblokir stasiun televisi swasta, jadi dia melemparkan narasi ini ke media daring kecil yang tidak terafiliasi secara hukum dengan grup media besar. Dalam hitungan jam, artikel ini sudah dibagikan puluhan ribu kali di media sosial. Publik mulai bersimpati pada pemuda bernama Reyhan ini, Pak Charles. Mereka melihatnya sebagai korban romantis, dan Anda dilihat sebagai... maaf, penjahat kaya yang serakah."

Charles tidak memotong penjelasan tersebut. Ia hanya mengetukkan pena mahoninya di atas meja dengan ritme yang konstan—sebuah tanda bahwa amarahnya telah mencapai titik puncak yang paling dingin.

"Aku tidak peduli apa yang publik pikirkan tentangku," suara Charles terdengar sangat rendah, namun sanggup membuat ruangan ber-AC itu terasa semakin membeku. "Yang kupedulikan adalah dampak psikologisnya pada Andini. Pemuda bodoh ini telah menyeret nama Andini ke dalam lumpur demi egonya yang terluka."

Charles berdiri dari kursinya, berjalan mendekati jendela besar yang menghadap langsung ke arah kota. "Gunawan, apakah kau sudah menemukan di mana Reyhan berada sekarang?"

"Sudah, Pak Charles," jawab Pak Gunawan sigap. "Dia saat ini berada di kantor firma hukum keluarga Rahardja, bersama dengan tim pengacara Vivian. Tampaknya mereka sedang mempersiapkan draf kesaksian lisan untuk sidang pembukaan minggu depan."

Charles membalikkan badannya, menatap para pengacaranya dengan pandangan yang mematikan. "Kita tidak akan menunggu sampai minggu depan. Siapkan mobil. Aku sendiri yang akan mendatangi pemuda itu. Jika dia ingin bermain dalam sebuah cerita drama sastra tentang pahlawan dan penjahat, maka aku akan menunjukkan padanya bagaimana akhir dari seorang pahlawan yang salah memilih medan pertempuran."

"Tapi Pak Charles, mendatangi mereka secara langsung bisa memicu spekulasi media yang lebih besar," cegah salah satu pengacara ragu.

"Aku tidak meminta saran hukum untuk hal ini," potong Charles tajam, menyambar jas hitamnya dari sandaran kursi. "Aku sedang melindungi istriku. Dan untuk hal itu, aku tidak membutuhkan izin dari pengadilan mana pun."

Dengan langkah yang lebar dan aura kepemimpinan yang meledak penuh kemarahan, Charles keluar dari ruangan kerja, diikuti oleh Pak Gunawan. Badai baru yang melibatkan masa lalu dan masa kini kini telah sepenuhnya pecah, dan Charles Utama siap merubuhkan siapa pun yang berani mengusik kedamaian di dalam rumahnya, termasuk seseorang yang pernah menjadi bagian dari bait puisi pertama Andini.

1
Eni Wati
berharap
Grace Putri
kok ga upload" ? mati kah trkhr semua ?
Eni Wati
Gak seru tokoh nya mati beberan
Eni Wati
menunggu
Eni Wati
Lanjut
Eni Wati
Aamiin
Eni Wati
Penasaran
Eni Wati
seruuu👍
Eni Wati
Menunggu
Eni Wati
sll menuggu
Eni Wati
sll menunggu
R.A Naimah
nggak faham alur ya selalu berputar
Eni Wati
Lanjut
Eni Wati
sll menuggu
Eni Wati
Lanjut
Wawan
Semangat... ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!