Masa remaja Andini, seorang gadis SMA yang ceria, seharusnya dihabiskan dengan mengerjakan PR, tertawa bersama teman-teman, dan menikmati masa muda yang bebas. Namun, takdir berkata lain. Sebuah perjodohan mendadak menyeretnya ke dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan, dengan pria yang berada di dunia yang sangat jauh berbeda dari dunianya.
Charles, seorang CEO muda yang dikenal dengan reputasi "es berjalan". Baginya, hidup adalah tentang keuntungan, strategi, dan kesempurnaan. Ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini baginya, Andini hanyalah tanggung jawab yang harus ia jaga demi memenuhi wasiat sang kakek.
Di sekolah, Andini adalah siswi biasa yang berusaha menjalani hari dengan tenang. Namun di balik pintu apartemen mewah, ia adalah istri dari pria yang paling disegani sekaligus ditakuti di dunia bisnis. Pernikahan ini harus dirahasiakan rapat-rapat; satu kesalahan kecil bisa menghancurkan reputasi Charles dan masa depan sekolah Andini...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selenium Alchemy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30
Malam kembali merayap di langit Jakarta, membawa serta udara sejuk sisa hujan sore tadi. Di dalam apartemen, aku duduk di sofa dengan sebuah buku catatan kosong di pangkuanku. Setelah kepergian Bu Rahma, aku mencoba menulis beberapa bait kalimat, namun entah mengapa, penaku terasa begitu berat. Fokusku buyar bukan karena materi pelajaran, melainkan karena firasat aneh yang terus berputar-putar di kepalaku sejak sore.
Pintu lift pribadi di lorong depan berdenting, menandakan sang pemilik rumah telah kembali. Aku segera meletakkan penaku dan bangkit berdiri saat sosok Charles melangkah masuk. Seperti biasa, ia tampak begitu berwibawa dengan setelan jasnya, namun malam ini, gurat kelelahan di wajahnya tidak bisa disembunyikan.
"Kau belum tidur, Andini?" tanyanya lembut sambil melepaskan jas hitamnya dan menyerahkannya kepada Pak Gunawan yang menyambutnya dengan takzim.
"Aku menunggumu," jawabku sambil melangkah mendekat, membantunya melonggarkan ikatan dasinya—sebuah kebiasaan baru yang perlahan-lahan membuatku merasa benar-benar menjadi seorang istri. "Bagaimana pekerjaan di kantor hari ini?"
Charles menghela napas panjang, lalu menggenggam tanganku dan menuntunku untuk duduk bersama di sofa. "Semua berjalan sesuai rencana. Tim hukum kita sudah memperketat pengawasan terhadap gerak-gerik Vivian. Namun, aku merasa dia tidak akan diam begitu saja setelah dipecat oleh Kakek. Seseorang dengan ambisi sebesar Vivian pasti sedang mencari celah lain."
Aku terdiam, teringat akan wajah penuh dendam Vivian yang kulihat beberapa waktu lalu. "Kuharap dia tidak melibatkan orang-orang yang tidak bersalah lagi, Charles."
Charles meremas jemariku lembut, mencoba menyalurkan ketenangan. "Selama kau berada di sini, di sampingku, dia tidak akan bisa menyentuhmu. Aku sudah memastikan semuanya."
Keesokan paginya, ketika matahari baru saja memancarkan sinar hangatnya, sebuah paket tanpa nama pengirim mendarat di lobi meja depan apartemen. Pak Gunawan yang selalu waspada menerima paket tersebut dengan penuh kehati-hatian. Di atas meja kerja Charles, paket itu akhirnya dibuka setelah melalui pemeriksaan keamanan internal.
Di dalamnya tidak ada benda berbahaya, melainkan sebuah amplop cokelat tebal yang berisi salinan dokumen pengadilan dan sebuah surat tertulis dengan tinta hitam yang rapi. Charles, yang saat itu sedang bersiap untuk berangkat ke kantor, menghentikan gerakannya saat melihat isi dokumen tersebut.
Wajahnya yang tadinya tenang seketika berubah menjadi sedingin es. Matanya yang tajam membaca baris demi baris tulisan di dalam surat itu.
> *Untuk Charles Utama,*
> *Kau mungkin bisa membeli hukum dengan uangmu, dan kau mungkin bisa mengusirku dari rumahmu. Tapi kau tidak akan pernah bisa menghapus apa yang telah tertulis di dalam hati. Andini adalah bagian dari duniaku, dunia yang penuh dengan kejujuran yang tidak akan pernah bisa kau pahami dengan lembaran sahammu.*
> *Minggu depan, di hadapan hakim dan publik, aku akan berdiri sebagai saksi untuk membongkar bagaimana kau telah memanipulasi masa depan seorang gadis demi takhtamu di Utama Group. Aku akan membawanya pulang ke tempat yang seharusnya.*
> *— Reyhan Dewangga*
>
Tangan Charles mengepal sangat kuat hingga kertas di genggamannya sedikit merenyuk. Sinar kemarahan yang begitu pekat berkilat di matanya. Firasat buruknya kemarin terbukti; Vivian tidak bergerak sendirian. Dia telah berhasil menemukan bidak baru yang sempurna untuk menyerang jantung pertahanannya, dan bidak itu adalah masa lalu Andini sendiri.
"Gunawan," suara Charles terdengar sangat rendah, namun sarat akan ancaman yang mematikan.
"Ya, Pak Charles?" Pak Gunawan melangkah maju dengan kepala menunduk.
"Cari tahu di mana pemuda ini bertemu dengan Vivian. Aku ingin laporan lengkap tentang semua komunikasinya dengan Vivian dalam waktu tiga jam. Dan pastikan Andini tidak melihat atau mengetahui tentang surat ini," perintah Charles dengan ketegasan yang tidak membantah.
"Baik, Pak. Segera saya laksanakan."
Charles menyandarkan tubuhnya di kursi kerja, menatap dokumen gugatan baru dari Vivian yang kini didukung oleh kesaksian tertulis dari Reyhan. Vivian sangat cerdik. Dia tahu bahwa menyerang Charles dari segi bisnis sudah tidak mempan, maka dia menyerang dari sisi emosional dan opini publik dengan memanfaatkan narasi "Cinta Pertama yang Terenggut oleh Penguasa Serakah". Jika narasi ini meledak di media, maka persidangan dispensasi pernikahan mereka bisa ditinjau kembali oleh pengadilan.
Charles menoleh ke arah pintu ruang kerjanya yang tertutup. Di balik pintu itu, Andini mungkin sedang bersiap untuk belajar bersama Bu Rahma, tanpa tahu bahwa badai besar yang melibatkan seseorang dari masa lalunya sedang bergerak cepat untuk menghancurkannya.
Sementara itu, di sudut kamar apartemennya yang sederhana, Reyhan sedang duduk menghadap laptopnya. Di sekelilingnya, lembaran-lembaran kertas berisi coretan puisi lama dan foto-foto masa sekolahnya bersama Andini tampak berserakan. Hatinya dipenuhi oleh gejolak emosi yang tidak menentu. Ada rasa bersalah karena telah bersekutu dengan Vivian, wanita yang ia tahu memiliki niat kotor, namun rasa cemburu dan obsesinya untuk "menyelamatkan" Andini telah membutakan akal sehatnya.
"Aku melakukan ini untukmu, Andini," bisik Reyhan pada kesunyian kamarnya. "Pria itu tidak pantas memilikimu. Dia hanya menggunakanmu. Aku akan membukakan pintu sangkar itu, bahkan jika aku harus membakar seluruh duniaku sendiri."
Reyhan mengingat kembali kata-kata Vivian tentang bagaimana Charles akan mencampakkan Andini jika posisi bisnisnya sudah aman. Baginya yang naif, semua yang dikatakan Vivian adalah kebenaran mutlak. Dia merasa dirinya adalah pahlawan dalam cerita sastra yang sedang berjuang merebut sang putri dari tawanan sang raksasa jahat. Dia tidak sadar, bahwa di dalam cerita nyata yang sedang ia masuki, dia hanyalah pion yang siap dihancurkan kapan saja ketika tujuannya sudah tercapai.
Kembali ke apartemen Utama, Charles berjalan keluar dari ruang kerjanya dengan langkah yang diatur agar tetap terlihat tenang. Ia menghampiri aku yang sedang duduk di meja makan, menikmati sarapan pagiku dengan santai.
Charles berdiri di belakangku, lalu melingkarkan kedua lengannya di pundakku, menyandarkan dagunya di puncak kepalaku. "Andini," panggilnya pelan.
"Ya, Charles? Kau belum berangkat?" tanyaku sambil mendongak, menyentuh lengannya yang kokoh.
"Hari ini aku mungkin akan pulang sangat larut," ucapnya, suaranya terdengar begitu protektif. "Dan aku ingin kau berjanji padaku satu hal."
"Janji apa?"
"Jangan membuka pintu untuk siapa pun selain Bu Rahma, dan jangan membaca berita apa pun di internet hari ini. Fokuslah pada tulisanmu. Bisakah kau melakukannya untukku?"
Aku menatap mata Charles yang tampak begitu dalam dan penuh dengan kekhawatiran yang tertahan. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, namun melihat keseriusannya, aku tahu ini adalah demi kebaikanku. Aku mengangguk pelan, memberikan senyuman terbaikku untuk menenangkan hatinya.
"Aku berjanji, Charles. Aku akan di sini, menunggumu pulang."
Charles mengecup keningku lama, sebuah kecupan yang terasa seperti sebuah benteng pertahanan yang ia bangun sebelum ia pergi ke medan perang. Di balik senyumanku, aku merasakan desiran halus kecemasan. Badai baru telah tiba, dan kali ini, pusarannya akan menguji seberapa kuat ikatan yang telah kami jalin di atas puing-puing masa lalu.