NovelToon NovelToon
Pendekar Tingkat Dewa

Pendekar Tingkat Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Action / Fantasi / Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:224.3k
Nilai: 5
Nama Author: Raffa Alief

Di dunia yang selalu mencari pemenang, ia memilih untuk berjalan sendirian, tidak untuk menang tapi untuk menghentikan sesuatu yang tak pernah benar-benar ia pahami.

Ia kembali, bukan sebagai anak yang ingin belajar, tapi sebagai seseorang yang sudah tahu terlalu banyak, dan percaya terlalu sedikit. Di matanya, dunia ini belum berubah, hanya lebih pandai menyembunyikan niat buruk di balik tradisi dan kehormatan.

Ia tak datang mmembawa dendam. Tapi tidak juga datang dengan damai.

Dalam bayang-bayang kesunyian malam, medan perang telah menanti di ujung waktu, satu langkah kecil menjadi pemantik sejarah baru. Atau hanya jejak lain yang hilang bersama debu?


(Remake)

Zhong Li -> Shi Yexian

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raffa Alief, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 32 - Hanya Permulaan IV

Zhong Li hanya bisa berdecak kesal setelah menerima kenyataan jika serangan musuhnya itu mengenainya, mata kanannya terluka parah bahkan saat ini dirinya merasakan jika itu tidak akan bisa di gunakan lagi.

“Aliran Pendekar Sejati, Perpindahan Tangan.”

Pertahan Zhong Li sudah hancur, dirinya segera mengubahnya menjadi posisinya yang hancur itu menjadi penyerang. Pedang musuhnya yang masih ada di bawah ia tahan dengan menggunakan kaki kanannya, pedangnya mulai terangkat lurus dengan jantung musuhnya.

“Gaya Tombak Pembalik, Sambaran Guntur.”

Gagal, jurus yang ia keluarkan gagal karena pedang yang di tahan menggunakan kakinya terlepas dari lantai, sembari Zhong Li mengatur keseimbangannya yang sedikit goyah, musuhnya tampak mengangkat tinggi-tinggi pedangnya.

‘Dasar tubuh lemah sialan, bahkan hanya menahan satu pedang dengan kaki mu dan ditambah lagi dengan bobot tubuhmu masih juga bisa terlepas.’

Zhong Li terpaksa menghindari serangan dari musuhnya, ia bergerak ke samping untuk menghindar, kemudian mulai maju sambil mengeluarkan jurusnya.

Jurus yang ia lancarkan berhasil di tahan oleh musuhnya dengan mudah, ini membuatnya menjadi semakin dibuat frustasi. Pandangan yang di lihat hanya dari satu mata saja sangatlah tidak maksimal, itulah yang menjadi penyebab dari semua ini.

‘Ini membuat ku pusing!’

Zhong Li memaksa menggunakan Teknik Merasakan yang masih sangat lambat untuk berkerja dengan baik, tapi dirinya sangat yakin jika akan bisa menggunakannya dengan baik.

Rasa yang sangat tidak mengenakkan kembali muncul setelah dirinya merasakan apa yang ada di sekitarnya. Pedang melesat dengan cepat menggores lengan kirinya, tapi teknik merasakannya baru mengirim tanda-tanda itu ke kepalanya setelah semua itu baru saja terjadi.

‘Teknik ini sama sekali tidak berguna… Seharusnya aku lebih melatihnya lagi kemarin.’

Zhong Li merapatkan giginya setelah dirinya melompat mundur sambil menahan rasa sakit yang terus menyerang mata kanannya dan lengan kirinya yang baru saja tergores.

‘Tidak, ini tidak benar… Aku seharusnya bisa menangani semua ini dengan mudah, tapi kenapa malah jadi seperti ini.’

Zhong Li menenangkan pikirannya yang menyebar kemana-mana, dirinya mulai tenang dengan pernafasan teratur sedang berjalan berdampingan dengan pompaan jantungnya yang melambat.

Ruangan kini terasa lebih sepi, meskipun begitu tampak api yang masih menyala dari luar jendela menerangi jalannya pertarungan mereka.

“Saat ini aku masih tidak boleh kalah!”

Mata Zhong Li mengeluarkan niat membunuh yang besar, tangan kanannya yang memegang pedang kini diselimuti oleh aura berwarna biru pekat sedikit transparan. Melihat itu, musuhnya hanya bisa bertanya-tanya dengan kebingungan, "Kekuatan apa itu? Tidak sebenarnya siapa kau."

Zhong Li tidak menjawab, dirinya perlu fokus untuk mengerahkan aura berwana biru pekat itu meluas menyelimuti pedang yang di genggamnya. ‘Teknik ini sangat menguras kekuatan Qi ku.’

Zhong Li hanya bisa mengeluh di dalam hatinya, terlepas dari itu semua ia sudah sangat bersiap untuk mengeluarkan jurus dari Aliran Dewa Pedang.

“Aliran Pedang Dewa, Gaya Ketiga Belas.”

Zhong Li mengeluarkan jurusnya saat mereka berdua maju hampir bersamaan, ia menggerakkan pedangnya dengan sangat cepat, menebas tubuh musuhnya dengan tiga belas gaya yang berbeda.

“Aliran Pendekar Sejati, Perpindahan Tangan.”

“Aliran Pendekar Matahari, Api Suci.”

Zhong Li menarik pedangnya kembali, mengubah alirannya secara tiba-tiba. Pedangnya di arahkan untuk menebas kepala musuhnya, pedang itu mulai terbakar, bilah nya mengeluarkan api berwarna merah yang sangat indah.

Kepalanya terlepas dari badannya, darahnya keluar dengan sangat deras. Dampak dari serangan Aliran Pedang Dewa juga mulai terlihat, tangan kanan dan kirinya tiba-tiba saja terputus di posisi yang berbeda, paha kirinya juga terlepas dari badan utamanya, ditambah dengan berbagai luka terpampang jelas di perut dada dan bahu kirinya yang sudah terbelah sampai ke jantungnya.

“Fuhh, akhirnya selesai juga.”

Dengan mata yang tertutup sebelah Zhong Li mengambil sarung pedang dari jasad musuh yang ada di depannya itu, ia berencana untuk menjadikannya sarung baru bagi pedangnya. Setelah itu selesai Zhong Li mulai menghampiri Xinyue yang tampak masih menutup matanya dengan sangat erat, ia tampak sangat ketakutan.

Zhong Li berencana untuk menggendongnya menjauh dari tempat ini, tapi sebelum itu, dirinya melihat ke sekitar mencari jasad dari orang tua Xinyue tapi itu tidak berhasil di temukan olehnya.

Zhong Li berpikir di mana jasad itu berada, tapi saat ini kepalanya tidak bisa berpikir dengan jernih sehingga membuatnya mengehentikan pemikiran itu. “Untuk saat ini jangan buka mata mu…”

Suara itu memecahkan keheningan, membuat Xinyue senang, tapi dirinya merasa aneh saat Zhong Li menyuruhnya untuk tetap menutup matanya, tapi dirinya tidak berpikir hal yang sangat jauh, ia hanya menuruti dalam diam.

“…Kau bisa berdiri, kan?”

Suara yang sangat di kenalnya itu kembali terdengar, Xinyue menjawabnya dengan sedikit tergagap. “I-iya, ak-ku b-isa mela-kukannya!”

“Kalau begitu berdirilah… kemarikan tangan mu, akan ku bantu.” Zhong Li meraih tangannya membantu nya berdiri dengan pelan, “Tetap seperti itu, jangan di buka.”

Sambil berkata seperti itu, Zhong Li mengusap bekas air mata yang masih ada disudut matanya dan juga pipinya. Setelah itu ia langsung membalikkan badannya ke arah lain dan berkata, “Majulah dengan pelan, raihlah punggung dan bahuku… aku akan menggendong mu.”

Xinyue hanya pasrah dengan itu, dirinya terlihat sangat lemas untuk menggapai tubuh Zhong Li yang ada lebih rendah dari pada dirinya. Tangannya melingkari leher Zhong Li, ia menitihkan air matanya lembut tanpa isakan tangis yang menyertai.

Zhong Li menghela napasnya pelan sebelum akhirnya mengangkat tubuh gadis itu sepenuhnya. Dengan pedang yang berada di tangan kirinya tersarung dengan rapi, dirinya akhirnya keluar dari rumah itu dengan tenang.

“Kau masih ada di sini? Zhong Li kecil dan Gadis Xinyue kalian selamat!” Pria paruh baya yang tidak lain adalah salah satu dari penduduk desa Tao terkejut oleh kemunculan sepasang anak laki-laki dan perempuan di depan matanya.

“Kakek Yin? …Berisik!” Xinyue tampak terganggu dengan suara pria paruh baya yang memekakkan telinga itu.

Mendengarkan ku, Zhong Li tampak tersenyum kecut. “Kakek Yin! Bagaimana keadaan desa sekarang?” ia memanggil namanya sesuai dengan yang Xinyue sebutkan, ia sebenarnya sama sekali tidak mengenal pria paruh baya itu.

“Tunggu dulu, ada apa dengan mata mu? Aku harus segera mengobati mu! Cepat ikut aku.” Pria paruh baya itu tidak mendengarkan pertanyaan Zhong Li, dirinya terlalu khawatir dengan luka yang di derita oleh Zhong Li saat ini.

Di sisi lain dirinya sangat ingin bertanya akibat dari luka itu, tapi saat ini menyembuhkannya dulu adalah yang terpenting baginya.

Zhong Li hanya bisa terkekeh pelan, dirinya langsung menurut untuk mengikutinya, ia menyusul langkah pria paruh baya itu dengan pelan karena tidak mau menggangu Xinyue bangun dari istirahatnya, setelah bisa menyamainya, Zhong Li kembali bertanya hal yang sama.

Pria paruh baya itu tampak menghela napasnya, “Korban Jiwa sangatlah banyak!”

1
Jumadi 0707
yng dimaksud pria paruh baya itu umur brp ada jenggot dah putih n masa umurnya 50 an setidaknya 70 an lah Thor jelasin aja Thor peria tua
Jumadi 0707
maksud bertempur gk tau maunya dan bertele2 gk ngerti
alexander
bagus ceritanya
Muhamad Rizki
GT
Dzikir Ari
Kenapa jadi berbeli Belit kata katanya
Dzikir Ari
Alur mulai tertata dan selanjutnya jangan membosankan Tor, ini sekedar masukan...🙏
Dzikir Ari
Gimana kok Alurnya mbulet tor
Dzikir Ari
jalan ceritanya cukup menarik tapi terlalu bertele tele Tor
Dzikir Ari
Lanjutkan Tor
Dzikir Ari
Lanjut
Dzikir Ari
Coba mampir, moga Alurnya tidak bikin bosan Tor 🙏
Haryanto Sendtot
lanjut
Haryanto Sendtot
mna up nya lgi
Abdullah
update ya
Djambar Barmo
Alur cerita tidak mengalir,beberapa bab isinya tidak berhubungan, kalau bercerita harusnya terstruktur
Ahmad Tavip
remove aja cerita ini
Ahmad Tavip
bertele tele
Suyatno Saban
lanjutkan
Idk!
bagus ceritanya, lanjutkan
de wek
baru nemu malam ini di beranda
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!