sequel dari i love you om
Bagi Tasya cinta dan pernikahan cukup terjadi sekali dalam hidupnya, menikah dengan Arga Fransisco tidak pernah terbayang sekalipun di benaknya karena yang ia tau hatinya menyukai Kelvin Anggara namun ternyata ia salah hatinya sudah tertaut sejak lama untuk Arga, sejak ia di titipkan oleh sang papa kepada Arga atau sejak Arga mendonorkan darahnya untuk Sandra. Tasya tidak tau kapan cinta itu hadir, namun setelah cinta itu hadir begitu besar untuk Arga dalam pernikahan mereka, kasih sayang yang selalu Arga berikan ternyata banyak menyimpan kebohongan.
"Aku memang pernah terluka, tapi tidak akan pernah siap untuk terluka kembali."
~Tasya~
"Berhenti! jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!"
~Arga~
Sanggupkah Tasya bertahan atau memilih pergi meninggalkan Arga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syafitri wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takut kehilangan
Happy reading
*******
Hampir saja tubuh Tasya luluh ke lantai, jika tak ada Arga yang menopang tubuh gadis itu. Arga yang baru kembali dari membeli obat untuk Tasya di buat khawatir dengan keadaan Tasya yang sangat kacau. Tanpa di jelaskan pun Arga tau ada sesuatu yang terjadi dengan Sandra, di lihat dari wajah Tasya dan Alex yang sangat khawatir dan rasa bersalah itu mendominasi keduanya. Tasya melihat ke arah Arga dengan matanya sayu nya, ia tak tau lagi harus melakukan apa. Tubuhnya sangat lemas bagai tak bertulang, Arga membawa Tasya duduk di kursi tunggu ruang ICU tempat di mana Sandra di rawat. Tanpa ragu Arga membawa Tasya kepelukannya.
"Ini semua salah Tasya, om. Tak seharusnya Tasya meninggalkan mama sendirian, mama kritis gara-gara Tasya, om."ucap Tasya dengan nada yang sangat sendu membuat Arga tak tega ia mengecup puncak kepala Tasya dengan lembut dan mengelus punggung Tasya bermaksud untuk memberikan ketenangan pada istrinya itu. Apakah Tasya masih bisa di sebut istrinya? Tentu saja! Karena surat cerai itu belum sama sekali di tanda tangani gadis yang berada di pelukannya ini.
"Tidak ada yang salah, ini semua terjadi karena sudah kehendak Tuhan. Yang kamu harus lakukan sekarang adalah berdoa agar mama dan calon adik kamu selamat."
"Tasya takut kehilangan mama, ini semua salah Tasya."ucap Tasya yang terus menyalahkan diri sendiri akibat kritisnya Sandra.
"Ini sudah takdir Tasya, berhenti menyalahkan diri kamu sendiri."ucap Arga tegas.
"Tasya mau melihat mama."
"Di sini saja, biarkan Alex yang terlebih dahulu melihat Sandra. Kamu juga sangat pucat, badan kamu terasa panas, minum obat dulu! Aku sudah membelikannya untukmu."
"Aku gak mau obat om, aku mau mama."
"Sssttt, yakinlah Sandra baik-baik saja. Sekarang minum obat atau aku yang akan memberikannya langsung dari mulutku."
Tasya mengangguk setuju, ia menerima obat yang berada di tangan Arga. Gadis itu masih tampak sangat kacau membuat Arga tak ingin meninggalkan Tasya sedikit pun.
"Orang tua Sandra dan nenek kamu sudah di hubungi jika Sandra berada di rumah sakit."
"Sudah, mereka masih berada di perjalanan menuju ke sini."
"Tidurlah sini."ucap Arga menepuk pahanya agar Tasya tidur di pangkuannya. Awalnya Tasya ragu. Namun, ia mulai membaringkan tubuhnya dengan paha Arga sebagai bantalnya.
Tak jauh dari mereka Kelvin dengan berlari menghampiri Tasya, ia sangat khawatir mendapat kabar jika Sandra dalam keadaan kritis. Apalagi mendengar suara Tasya yng menangis saat menelponnya membuat Kelvin yang masih bekerja langsung menyuruh dokter lain menggantikannya, ia sungguh khawatir dengan keadaan Sandra maupun Tasya.
"Tasya."panggil Kelvin membuat Tasya yang hendak memejamkan mata menatap ke arah Kelvin yang khawatir terhadapnya. Tasya langsung bangkit dari tidurnya ia memeluk Kelvin sangar erat menumpahkan air mata nya kembali, membuat Arga yang berada di dekat mereka mengepalkan tangannya merasa hawa saat ini, sangat panas sekali, hatinya mendidih, ingin sekali ia menarik Tasya dari pelukan Kelvin. Dan Arga ingin sekali meninju bibir Kelvin yang dengan lancangnya mencium puncak kepala Tasya, sungguh Tasya hanya miliknya karena Tasya adalah istrinya.
"Jangan menangis lagi, semua akan baik-baik saja, oke."ucap Kelvin mencoba menenangkan Tasya yang terisak.
"Mama kritis, Vin. Aku takut kehilangannya."
"Sandra tidak akan meninggalkan kita semua, kamu percaya itu, kan? Kamu yang tenang, ada aku di sini."
Sudah cukup, Arga tak kuat lagi menyaksikan adegan romantis secara langsung di hadapannya. Dengan sedikit kasar Arga melepaskan tubuh Tasya dari pelukan Kelvin membuat Tasya terhuyung ke belakang.
"Sudah pelukannya? Ini rumah sakit, tidak malu di lihat orang-orang."ucap Arga dengan sinis membuat Kelvin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. Ia bisa melihat dari mata Arga jika terdapat kecemburuan di sana, apakah Arga menyukai Tasya? Tetapi, rasanya tidak mungkin itu terjadi, sebab Tasya tidak pernah menceritakan apapun tentang Arga padanya.
Kelvin hendak menjawab. Namun, perkataannya tertahan saat orang tua Sandra dan Alex datang secara bersamaan.
"Tasya, gimana keadaan Sandra?"tanya mama Sandra dengan rasa khawatir yang luar biasa. Tasya tak mampu menjawab ia hanya bisa menangis di pelukan Arga. Membuat semua orang mengerti apa yang terjadi pada Sandra, tubuh mereka seakan sangat lemas.
"Saat ini keadaan Sandra kritis, Alex sedang berada di dalam karena dokter tidak memperbolehkan banyak orang yang melihat Sandra, kita doakan saja semoga Sandra dapat melewati masa kritisnya."ucap Arga yang mewakili Tasya.
Diana. mama Sandra menangis terisak di pelukan sang suami, ia tak menyangka anak semata wayang nya masih berjuang antara hidup dan mati. Sungguh Diana tak ingin kehilangan Sandra, karena Sandra adalah anak mereka satu-satunya.
Kelvin menatap Arga dengan rahang mengeras, melihat Arga merangkul Tasya membuat hatinya tidak terima. Cih, pria tua di depannya ini sangat aneh, melarangnya memeluk Tasya tapi Arga sendiri memeluk Tasya.
"Sudah kali om pelukannya."ejek Kelvin. Namun, Arga tak peduli ia masih memeluk Tasya dengan eratnya. Sedangkan Tasya semakin membenamkan wajahnya pada dada bidang Arga, gadis itu mengabaikan Kelvin begitu saja karena dirinya masih sangat kacau, terlebih pelukan Arga membuat Tasya sangat nyaman sekali.
Kelvin yang merasa di abaikan, merasa kesal, ia mulai beranjak pergi dari sana. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat, karena keadaan Tasya masih sangat kacau sekali. Mungkin esok ia akan datang kembali, tentu saja tanpa kehadiran Arga di sini. Arga yang melihat kepergian Kelvin tersenyum sinis, tak ada yang bisa menyentuh Tasya sedikit pun karena Tasya adalah miliknya.
Elice. nenek Tasya menatap Arga dengan tatapan dalam. Apa mungkin ia bisa melepas Tasya pada pelukan Arga kembali? Sedangkan Arga adalah lelaki yang sudah membuat cucunya terluka sangat dalam. Ia harus bertindak tegas pada Arga, jika sewaktu-waktu Arga menyakiti Tasya kembali, Alice tak segan-segan menyuruh orang suruhannya untuk membunuh Arga.
Arga yang paham dengan tatapan nenek Tasya, mencoba bersikap seperti biasa. Karena ia sudah berjanji untuk tidak menyakiti Tasya lagi karena sekarang ia sangat mencintai Tasya. Arga akan berjuang dengan keras untuk mendapatkan Tasya kembali dan menjadi istrinya yang utuh tanpa harus ia berpura-pura seperti ini.
"Saya permisi ingin membawa Tasya ke taman rumah sakit ini, keadaannya sangat kacau mungkin dengan ke taman perasaan Tasya akan sedikit tenang."
Orang tua Sandra mengangguk setuju, tetapi nenek Tasya hanya diam saja. Ia melihat keadaan cucunya yang sangat kacau, mulai menganggukkan kepalanya. Mungkin benar kata Arga, dengan pergi ke taman membuat Tasya tenang tidak terus kepikiran dengan menantu kesayangannya yang sedang kritis dan sedang mengandung cucunya itu.
Tanpa kata Arga menggendong Tasya di depan, layaknya seorang ayah yang menggendong anak perempuannya. Kemudian pria itu mulai melangkah pergi menuju taman. Tak membutuhkan waktu lama mereka sudah sampai di taman, Arga mencari tempat untuk duduk. Arga memilih taman yang banyak pepohonan rindang, di sana juga ada kursi untuk tempat duduk mereka. Arga ingin menurunkan Tasya di kursi tersebut. Namun, pelukan Tasya di lehernya dan lilitan kaki Tasya di pinggangnya sangat erat. Tasya tak ingin melepaskan pelukan itu membuat Arga duduk dengan Tasya yang berada di atas pangkuannya.
"Sudah tenang?"tanya Arga pelan.
"Sedikit."ucap Tasya dengan kepala yang menyender di dada bidang Arga dengan tangan memainkan kancing kemeja Arga.
"Om."
"Hmmm."
"Terima kasih, karena om selalu ada untuk Tasya."
"Itu sudah kewajibanku agar terus menjagamu."
"Apakah nanti di saat om memiliki pacar atau om sudah menikah, om Arga masih seperti ini dengan Tasya?"tanya Tasya lirih. Entah mengapa Tasya takut Arga akan menjauh darinya.
"Menurutmu?"
"Aku berpikir jika om sudah memiliki pacar atau istri, om tidak akan seperti ini lagi. Karena Tasya bukan lagi prioritas om."ucap Tasya sendu.
"Jika begitu, jadilah prioritasku."
atsu adik sepupu