NovelToon NovelToon
The Emerald And Her Four Mates

The Emerald And Her Four Mates

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Hidup Evelyn hancur sejak kepergian ayahnya. Diasingkan ke Kota Vespera yang kumuh dan divonis mati dalam hitungan bulan, ia memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya. Tapi seutas tali tambang yang lapuk justru menggagalkan niatnya, menyeretnya masuk ke dalam dunia supranatural yang selama ini tersembunyi.

Darah Evelyn membawa rahasia besar. Ia adalah seorang Multi-Mate yang terikat pada empat penguasa ras immortal terkuat: Naga, Demon, Elf, dan Mermaid.

Di tengah sisa umurnya yang kian menipis, Evelyn terjebak dalam perebutan takdir cinta, perebutan kekuasaan antar-ras, dan konspirasi masa lalu yang perlahan terkuak. Ikuti kisah megah sekuel ketiga dari semesta Alan the Pegasus dan Mnemosyne: The Lost Memory dalam: The Emerald and Her Four Mates.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35. Kekesalan Evelyn

"Kau bicara apa sih?!" sentak Evelyn jengkel. "Heh, dengar ya... Kau ini bukan siapa-siapa lagi bagiku! Bahkan bukan teman lagi! Jadi, jangan harap aku mau menerimamu hanya karena ikatan takdir konyol itu. Aku juga tidak peduli jika pria tampan itu sudah berumur ratusan tahun! Dan soal pamanmu itu... apa maksudmu pria yang memiliki wujud seperti iblis menyeramkan?"

"Iya, benar. Dia memang memiliki wujud yang mengerikan karena dia adalah seorang Demon," jawab Kaelen cepat untuk memastikan. Ia bahkan nekat melangkah maju dan menghadang jalan Evelyn. "Apa kau pernah melihat wujud aslinya?"

Evelyn tertawa sarkas. "Tentu saja pernah! Pantas saja sikapmu begitu arogan dan menyebalkan, ternyata kau masih memiliki ikatan keluarga dengannya. Sama-sama kejam dan tidak punya perasaan! Enyah kau, jangan menghalangi jalanku!"

Dengan sentakan kasar, Evelyn menggeser tubuh tinggi Kaelen yang menghadang di depannya, lalu kembali melangkah lebar menaiki bukit.

"Hei, Evelyn! Jangan marah seperti itu! Aku hanya penasaran saja," teriak Kaelen. Ia kembali memaksakan kakinya berlari untuk menyusul Evelyn. "Aku tidak akan menghalangimu kalau kau memang menyukai Mage Benjamin. Tapi asal kau tahu, dia itu orangnya sedikit cerewet, ketus, dan paling tidak suka dengan perempuan!"

"Aku sudah tahu dan aku tidak peduli!" sahut Evelyn tanpa sudi menoleh. "Yang jelas, dia jauh lebih baik daripada kau! Meskipun sikapnya ketus, dia jauh lebih perhatian padaku!"

"Apa benar begitu? Oh, jadi kau ingin pria yang perhatian?" Kaelen bergumam, sebuah tekad baru berkilat di matanya. "Baiklah, aku akan menjadi sosok kekasih yang selalu memperhatikanmu setiap saat. Bahkan, aku bisa mengalahkan perhatian Kakek Benjamin. Kita lihat saja nanti."

"Terserah. Aku tidak mau lagi mendengar bualanmu," sahut Evelyn dingin.

Langkah kaki mereka akhirnya membawa keduanya sampai di depan halaman pondok kayu milik Sang Mage. Napas Evelyn terasa pendek dan berat akibat jalur perbukitan yang menanjak curam. Ia tidak langsung melangkah untuk mengetuk pintu.

Gadis itu memilih berdiri diam, meraup udara pagi sedalam mungkin demi menenangkan paru-parunya yang membara, sepenuhnya mengabaikan kehadiran Kaelen di sisinya.

Pemuda di sebelahnya tampak jauh lebih bugar sekarang. Luka-luka di tubuh Kaelen perlahan menutup, menyisakan kulit baru yang bersih.

Pemulihan cepat itu terjadi bukan tanpa alasan. Kekuatan regenerasinya bangkit karena jaraknya yang begitu dekat dengan Evelyn—atau lebih tepatnya, karena resonansi energi dari The Heart Pearl miliknya yang kini bersemayam di dalam tubuh gadis itu.

Evelyn berdiri tegak di halaman berumput tersebut, tempat yang beberapa hari lalu sempat ia pijak. Pandangannya menyapu hamparan Hutan Perak Vespera yang membentang luas di bawah sana, menyajikan lautan vegetasi berkilau yang memanjakan mata.

"Indah sekali, bukan?" bisik Kaelen lembut.

Namun, sepasang matanya sama sekali tidak searah dengan pandangan Evelyn. Netra itu terpaku sepenuhnya pada sosok Evelyn, memperhatikan bagaimana angin gunung mempermainkan helai-helai rambut sang gadis.

Evelyn tidak repot-repot merespons. Ia hanya mendengus sinis, tetap teguh pada pendiriannya untuk memperlakukan pria itu layaknya hantu.

Rambut ikal hitam milik Kaelen ikut bergerak ditiup angin bukit. Meskipun matahari pagi mulai meninggi dan menghangatkan kulit, hal itu sama sekali tidak menyurutkan keras kepalanya untuk terus menempel pada Evelyn.

Ia harus meminta maaf. Ia harus menebus semua dosa masa lalunya. Sepasang mata biru safirnya seolah terkunci, tidak mampu berpaling dari wajah dingin Evelyn.

"Evelyn... Aku benar-benar ingin meminta maaf dengan tulus padamu," ucap Kaelen tiba-tiba.

Pria itu menurunkan tubuhnya, menjatuhkan satu lutut di atas tanah halaman yang berdebu. Sebuah gestur ketundukan mutlak. "Dengarkan aku, kumohon... Aku ingin memperbaiki semuanya dari awal. Aku ingin kita kembali seperti dulu. Seperti saat kita masih di Akademi Luminara. Bukankah kau dulu menyukaiku? Sejujurnya... aku juga menyimpan rasa padamu sejak lama, Evelyn. Kau harus tahu itu."

Evelyn membeku. Ia memutar tubuhnya perlahan, lalu menghujamkan tatapan mata yang luar biasa datar dan sedingin es.

"Kau salah besar. Aku tidak pernah menyukaimu," sahut Evelyn tegas, memotong harapan Kaelen tanpa ampun. "Dan kita tidak pernah sedekat itu di Luminara. Kau sendiri yang tiba-tiba menjauh, lalu mengasingkanku tanpa alasan yang jelas hanya karena aku anak seorang Ghost Hunter yang dituduh mencelakai sepupu-sepupumu!"

"Iya, aku akui aku bersalah waktu itu. Aku terlalu dibutakan oleh dendam dan emosi. Karena itu aku sangat menyesal... Sekali lagi, maafkan aku," lirih Kaelen dengan sepasang mata yang menyuarakan penyesalan mendalam.

Evelyn memijat pelipisnya, merasa frustrasi yang amat sangat. "Sampai kapan kau akan berlutut begitu dan mengemis maaf? Entahlah, Kaelen... Aku sudah telanjur mati rasa. Hatiku sudah terlalu hancur karena perbuatanmu," ucap Evelyn dingin.

Semenjak pindah ke Vespera, ia tidak pernah lagi berhubungan dengan siapa pun dari Luminara. Ah, ralat. Bukan ia yang menarik diri, melainkan merekalah yang membuang Evelyn dari dunia mereka.

"Kau tahu, Kaelen? Aku sudah sangat menderita," lanjut Evelyn, suaranya mulai bergetar saat benteng pertahanannya retak. "Apalagi setelah aku terdampar di Kota Vespera ini. Aku benar-benar sendirian! Terasingkan, tidak punya keluarga, tidak punya teman, atau siapa pun yang berdiri di pihakku! Dan kau... kau tiba-tiba datang hanya untuk menorehkan luka yang lebih dalam dengan alasan balas dendam pada ayahku. Kau tidak akan pernah tahu rasanya menjadi aku!"

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Evelyn. Segala beban, keputusasaan, dan rasa lelah yang selama ini ia pendam sendirian mendadak mendesak keluar. Ia muak pada takdirnya yang malang.

"Aku sudah cukup tersiksa setiap detik karena penyakit glioblastoma-ku! Aku sekarat, Kaelen! Hidupku tinggal menghitung bulan!" teriak Evelyn, meluapkan seluruh rasa sakit yang menggerogoti jiwanya. "Kau masih belum puas melihat ayahku tewas di tanganmu sendiri? Bahkan ibuku... dia juga mati karena ulah kerabat Demon-mu! Kalian semua kejam! Hanya karena kami manusia lemah, bukan berarti kalian makhluk imortal bisa seenaknya menginjak-injak kami! Aku tahu kalian hanya menganggap kami ras rendahan yang tidak lebih dari sekadar mangsa atau makanan, bukan?!"

Mendengar pengakuan yang begitu menyayat hati itu, Kaelen sentak berdiri. Jantungnya berdegup kencang, dihantam rasa syok yang luar biasa. Ia sama sekali tidak pernah menduga kalau selama ini Evelyn tengah berjuang melawan tumor otak yang mematikan.

"Aku tidak sama dengan mereka, Evelyn!" sergah Kaelen cepat dengan wajah panik yang tidak bisa disembunyikan. "Kau tahu sendiri aku seorang Merman, bukan seperti Siren yang gemar menjebak manusia. Aku bukan predator! Jangan samakan aku dengan monster-monster itu!"

1
Eka Putri Handayani
Benci banget aku sama karakter pangeran duyung sialan itu😭
Soobin Chan: harusnya di apain nih? karungin aja kali ya🤣
total 1 replies
Soobin Chan
yang suka sama ceritanya jangan lupa like, komen dan support author ya😍🙏
Janet Janet
double up Thor ceritamu bagus
Soobin Chan: jangan lupa baca juga cerita aku yang lain ya😄
total 2 replies
Eka Putri Handayani
Semangat thor lebih bnyk up lg dong, gayamu kael tunggu aja evelyn bertransformasi jadi lebih kuat uh bakal kelepek-klepek deh
Soobin Chan: makasih ya supportnya. maaf author cuma bisa up 1× sehari😄
total 1 replies
Soobin Chan
aslinya emang kuat ko dia, tahan banting pula🤣
Eka Putri Handayani
sumpah gak suka banget sm kael kasar, thor buat evelyn segera ninggalin raganya yg sakit² itu deh
Soobin Chan: iya di tunggu aja ya nanti di bab-bab selanjutnya🙏
total 1 replies
Eka Putri Handayani
thor lebih baik langsung buat evelyn kembali pada raga aslinya deh kesian bngt klo dia hrs menderita kya gtu🥺
Soobin Chan: sabar ya😄 nanti juga sembuh sendiri.
makasih banyak ya udah mampir dan mau baca cerita gaje dari author ini/Smile/
total 1 replies
Soobin Chan
masih sepi hihi/Sob/
Soobin Chan: komen dong guys🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!