Arc 1 = Mu Rong (1 — 13)
Arc 2 = Tao Jahat Penyebar Sial (14 — 44)
Arc 3 = Golongan Bangsawan (45 — ?)
Arc 4 = Sistem Keabadian Raja Iblis (April to?)
[Judul menjelaskan secara tidak langsung jalan ceritanya]
Xuan Cheng mendahului kehidupannya dengan kehancuran yang dialami oleh Desa tempat tinggalnya.
Legenda keempat raja iblis yang menyeramkan, masih menjadi rahasia dan tidak ada satupun raja iblis yang berani muncul di hadapannya.
Sosok laki-laki misterius dari tanah Dao Shan telah menjadi Gurunya. Dia begitu menyimpan banyak rahasia yang belum diketahui olehnya.
Dan hal besar kemudian terjadi ketika usianya menginjak 20 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arinimase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter. 32 - Pertemuan Dengan Murid Pertama
"Kau yakin, akan menyesali perbuatanmu sendiri?" ucap seorang wanita berjubah hitam yang saat ini berdiri tidak jauh di depannya.
Wanita itu memakai jubahnya hingga di atas kepalanya sehingga, membuat semua orang menduga-duga bahwa dia bukanlah salah satu dari keluarga Ling dan telah dianggap sebagai penyusup di kediaman rumah besarnya.
Namun, anehnya ketika Zhang Xiao Ye melihat ke arah wanita itu. Tatapannya seketika berubah serius dan mengeraskan tinjunya seperti dia akan melakukan serangan terhadap seseorang di depannya. Dia menggertakan giginya dan menarik tangan Xuan Cheng agar dia mau menjauh dari wanita yang berada di depannya saat ini. Dan untuk pertama kalinya, Xuan Cheng melihat ekspresi Zhang Xiao Ye yang terlihat sangat marah terhadap orang yang berada di depannya saat ini.
Dia terlihat sangat marah dibandingkan dengan biasanya dan tangannya begitu keras ketika dia hendak untuk menjauhkannya dari wanita yang saat ini berdiri di depan mereka.
Pada akhirnya, melihat Zhang Xiao Ye yang semakin jauh darinya. Membuat wanita itu semakin penasaran terhadapnya dan berjalan mendekatinya dengan perlahan.
Xuan Cheng tidak bisa berpikir jernih apa yang saat ini terjadi padanya. Atau mungkin, wanita ini adalah Bai Hua yang sengaja mengunjungi mereka sehingga mereka tidak perlu repot-repot untuk mencarinya?
Dari dalam sarung pedang yang saat ini menggantung di belakang punggung Xuan Cheng, Qing Yu sudah kembali terbangun dari tidurnya dan juga menyadari keberadaan wanita ini di hadapannya segera berkata, "Tuan! Dia adalah Bai Hua!"
Xuan Cheng tertegun dan langsung melihat ke arah wanita yang saat ini sedang berjalan mendekatinya. Dia benar-benar tidak percaya bahwa dugaannya benar bahwa dia adalah Bai Hua yang telah melakukan kekacauan dimana-mana termasuk apa yang sebenarnya terjadi di desanya.
Lalu, dari cara bicaranya yang seolah menuduh Zhang Xiao Ye melakukan semua penyesalan itu, apakah dia telah mengatakan hal yang sesungguhnya?
Xuan Cheng memberhentikan langkahnya di susul dengan Zhang Xiao Ye yang juga memberhentikan langkahnya untuk terus berjalan mundur. Dia langsung berkata, "Bagaimanapun Guru akan menghindar, Bai Hua juga akan menghampiri. Bukankah tujuan Guru adalah membunuhnya? Lalu, mengapa langsung saja menghindar darinya?"
Zhang Xiao Ye tidak menjawab untuk beberapa saat dan sambil menundukkan wajahnya tanpa menunjukkan ekspresinya saat ini, dia akhirnya menjawab, "Hanya ada kau dan aku di sini. Situasinya benar-benar berbahaya apalagi ada banyak anak-anak yang tinggal di sini."
Xuan Cheng lanjut bicara, "Lalu, bukankah Guru sebenarnya adalah orang yang hebat? Mengapa harus menghindarinya sedangkan Guru bisa menyerangnya hanya dengan satu ayunan jari seperti yang Guru lakukan pada algojo sebelumnya?"
Zhang Xiao Ye tersentak dan menjawab, "Tidak dalam keadaan seperti ini."
"Apa maksudnya?"
"Aku akan menjelaskan mu nanti setelah pertarungan di luar." Zhang Xiao Ye menjawab sambil membawa Xuan Cheng keluar dari halaman rumah besar keluarga Ling dan diikuti oleh Bai Hua yang telah menunggu untuk sebuah pertarungan yang akan dilakukan olehnya.
Xuan Cheng mulai merasakan adanya perasaan dingin ketika Zhang Xiao Ye menggendongnya keluar dari kediaman rumah besar keluarga Ling. Begitupun tatapan seram yang ditunjukkan oleh Bai Hua terhadap mereka, benar-benar membuat semua orang akan mundur dan tidak memiliki pikiran untuk segera bertarung dengannya.
Punggung Zhang Xiao Ye ketika Xuan Cheng menyentuhnya, terasa sangat dingin dan kedua tangan yang sedang memeluk punggungnya, juga terasa lebih dingin dari kebanyakan orang-orang yang ketakutan saat melihat lawannya.
Dia dingin seperti orang mati. Tapi, ketika dia menggandeng tangan Xuan Cheng, semua terasa lebih hangat dan dia terasa seperti manusia biasa.
Sudah pasti, jika dia benar-benar raja iblis ketiga, pastinya dia akan memiliki banyak pengalaman karena dia tidak pernah merasakan bagaimana kematian dan reinkarnasi. Raja iblis ini akan selalu berpura-pura menjadi orang lain dan menyembunyikan kebenarannya hingga saat ini.
”Perasaan dingin apa ini? Sudah jelas ini semua terasa pada seseorang yang saat ini berada di dekatku. Itu bukan berasal dari Bai Hua yang saat ini berada jauh di belakang. Dan satu-satunya yang saat ini berdekatan denganku, hanya Guru seorang di sini. Dia pasti memiliki hubungan dengan Qing Yu dan Bai Hua sehingga, membuat keduanya mengincarnya saat ini.” batin Xuan Cheng yang terus terdiam di tas pundak Zhang Xiao Ye ketika dia membawanya pergi meninggalkan rumah besar tadi.
Namun, tidak lama setelah pelariannya. Muncul sebuah tangan yang datang entah dari mana, langsung menarik kaki Zhang Xiao Ye yang saat ini sedang melompat melewati beberapa dahan pohon besar hingga membuatnya terjatuh dari atas pohon yang cukup tinggi.
Keseimbangannya ketika dia terjatuh, cukup diperhitungkan. Dia berhasil mendarat dengan sempurna tanpa harus terjatuh di atas rerumputan tinggi.
Zhang Xiao Ye berhenti bergerak dan menurunkan Xuan Cheng dari atas kedua tangannya. Begitupun dengan apa yang di depannya kali ini. Bai Hua berdiri di hadapannya dengan tudung kepala yang telah terbuka.
Wajah dengan warna seputih salju, memiliki rambut putih perak dan mata yang merah menyala. Bai Hua telah menunjukkan ekspresi yang mengatakan bahwa dia marah pada seseorang yang saat ini berada di depannya.
Xuan Cheng yakin kalau Zhang Xiao Ye tidak akan mengira bahwa Bai Hua sendiri yang akan mendatanginya. Mungkin karena dia terlalu lama menunggu dan sangat ingin memulai pertarungan dengannya, Bai Hua menjadi sangat bersemangat begitu dia mendengar kedatangan Zhang Xiao Ye di Dao Shan.
Tapi, Bai Hua mengatakan hal yang membuktikan bahwa dia sangat mengenal Zhang Xiao Ye dengan baik. Dan apakah dia memiliki hubungan dengan Bai Hua dan orang-orang di desa Xu?
Setelah menatapnya dan memikirkannya cukup lama, Bai Hua mendengus dan menaruh kedua tangannya di atas pinggangnya. Dia kemudian berkata, "Lama tidak bertemu, Guru."
Xuan Cheng terkejut dan jantungnya berdegup kencang begitu Bai Hua menyebut Zhang Xiao Ye sebagai Guru. Dia tidak mengerti bagaimana situasinya saat ini. Mengapa Bai Hua memanggilnya dengan sebutan Guru dan mengapa ekspresi Zhang Xiao Ye terlihat biasa-biasa saja?
Zhang Xiao Ye menarik tangan Xuan Cheng dan berkata pada Bai Hua dengan ekspresi serius, "Jangan macam-macam dengannya."
'pufft.' Bai Hua sedikit tertawa dan berkata, "Apakah dia muridmu, Guru? Mengapa bocah sangat bodoh untuk menjadikanmu sebagai Guru untuknya?"
Zhang Xiao Ye semakin menarik tangan Xuan Cheng sebelum dia menjawab, "Bai Hua. Dia tidak berhubungan denganmu. Sebaiknya, jangan alihkan perhatian padanya dan jangan pernah menyentuhnya
Bai Hua menyeringai dan berkata, "Guru melarangku untuk menyentuhnya tapi, apakah Guru sama sekali tidak berpikir kembali, kau telah mengambil segalanya dariku sejak Guru menolakku berulang kali?!" Ucapnya sambil menjentikkan jarinya dan membangkitkan kembali orang-orang yang sudah mati, ",... Memangnya apa kekurangan yang aku miliki sehingga Guru sama sekali tidak puas denganku?!"
Setelah dia mengakhiri kalimatnya, beberapa pasukan mayat-mayat hidup yang saat ini berada di belakang punggung Bai Hua, memiliki ekspresi sedih dan marah dengan wajah yang benar-benar hancur. Sorot matanya berwarna merah menyala seperti darah yang terbuang.
Qing Yu kembali terbangun di dalam pedangnya begitu dia merasakan adanya sebuah kebencian yang menyebar dimana-mana. Kebencian itu, berasal dari pasukan-pasukan Bai Hua yang saat ini, telah berdiri di hadapannya. Mereka itu, bukanlah orang biasa. Sisa-sisa dari kebencian dan perasaan dendam yang abadi, "Mereka adalah arwah-arwah penduduk desa Xu!"