we Lin seorang penjaga toko perhiasan yang di kirim ke dunia lain dan menjadi karakter op di dunia lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WERWET, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19 masalah
"T-terlambat?"
"Beliau sudah berangkat."
"Hah?"
"Jalan kaki."
"..."
Suasana mendadak sunyi.
Salah satu anggota bahkan mengira dirinya salah dengar.
"Jalan... kaki?"
Tetua Morcant mengangguk santai.
"Katanya sekalian olahraga."
Cangkir teh kembali terangkat.
Sementara itu, wajah para anggota Organisasi Rasi Bintang mulai pucat.
Mereka telah menyiapkan kereta langit, pengawal elit, dan penyambutan megah.
Namun orang yang hendak mereka jemput...
Sudah berangkat sendiri.
Pemimpin rombongan langsung mengeluarkan artefak komunikasi.
"Lapor kepada markas!"
"Ada apa?!"
"Operasi penjemputan gagal!"
"Musuh menyerang?!"
"Tidak!"
"Lalu kenapa?!"
"Beliau sudah berjalan kaki!"
Di markas utama, seluruh aula mendadak hening.
Seorang tetua perlahan menutup matanya.
"Seperti yang kuduga..."
Tetua lain menelan ludah.
"Beliau bahkan tidak membutuhkan kereta langit kita."
"Benar..."
"Mungkin bagi beliau, berjalan kaki hanyalah bentuk latihan biasa."
Tidak ada seorang pun yang menyadari kenyataan sebenarnya.
Saat itu...
Di jalan setapak yang sepi.
We Lin sedang berjalan santai sambil membawa tas kecil.
"Hm..."
"Kalau naik kereta mungkin lebih cepat..."
Ia berpikir sejenak.
"Tapi jalan kaki lebih hemat."
"Kasihan aku ke anggota rasi bintang yang menanggung seluruh biaya nya."
Lalu ia kembali melangkah tanpa mengetahui bahwa seluruh Organisasi Rasi Bintang sedang panik karena gagal menjemputnya.
Di markas Organisasi Rasi Bintang.
Setelah menerima laporan, seluruh aula masih dipenuhi suasana aneh.
Seorang tetua memecah keheningan.
"Di mana beliau sekarang?"
Seorang anggota segera melihat artefak pelacak.
"Tidak terlalu jauh."
"Kalau begitu cepat susul!"
"Baik!"
Beberapa anggota elit segera berangkat.
Mereka bergerak secepat kilat melewati pegunungan.
Tak lama kemudian...
Mereka melihat sosok yang sedang berjalan santai di sebuah jalan kecil.
Tas kecil tergantung di bahunya.
Langkahnya tenang.
Seolah sedang menikmati perjalanan.
"Itu beliau!"
bisik salah satu anggota.
Pemimpin rombongan menarik napas dalam.
Mereka maju beberapa langkah lalu membungkuk hormat.
"Selamat siang, Tuan We Lin."
We Lin berhenti.
"Oh?"
Ia melihat lambang tujuh bintang di pakaian mereka.
"Kalian panitia acara?"
Para anggota saling berpandangan.
"...Kurang lebih begitu."
"Kami datang untuk menjemput Anda."
"Kami sudah menyiapkan kereta."
We Lin menoleh.
Di belakang mereka berdiri sebuah kereta hitam megah yang ditarik oleh dua makhluk roh bersayap.
Kilauan rune memenuhi seluruh badan kereta.
Bahkan tanah di sekitarnya dipenuhi energi spiritual.
Namun...
We Lin tidak bisa merasakan aura spiritual.
Yang ia lihat hanyalah kereta yang terlihat cukup mahal.
"Oh."
Ia mengangguk pelan.
"Lumayan bagus."
Keringat dingin langsung mengalir di dahi para anggota.
Kereta Langit Peringkat Surga...
"Artefak transportasi kebanggaan Organisasi Rasi Bintang...
Hanya dinilai bisa saja oleh beliau."
Pemimpin rombongan tetap menjaga ekspresinya.
"Silakan naik, Tuan."
We Lin berpikir sejenak.
Lalu bertanya,
"Naik ini bayar lagi tidak?"
"soal nya saya takut membebani kalian."
"..."
Seluruh anggota membeku.
"Tidak."
"ini Benar-benar gratis?"
"Sudah termasuk pulangnya?"
"dan juga kami tidak keberatan kalo gak di bayar."
Mata We Lin sedikit berbinar.
"Oh."
"Itu bagus."
Tanpa ragu ia langsung naik ke dalam kereta.
Para anggota diam-diam menghela napas lega.
Misi penjemputan akhirnya berhasil.
Namun saat kereta mulai bergerak...
We Lin membuka tas kecilnya.
Ia mengeluarkan sebuah buntalan kain.
Pemimpin rombongan penasaran.
"Apakah itu artefak?"
"Bukan."
"Kitab kuno?"
"Bukan."
"Lalu apa?"
We Lin membuka kain itu.
Di dalamnya terdapat beberapa roti dan bekal sederhana.
"Aku tadi sudah siap kalau harus jalan jauh."
"Kalau naik kereta, bekalnya bisa dimakan nanti."
"..."
Para anggota kembali terdiam.
Di mata mereka...
Seorang ahli agung yang bahkan tidak tertarik pada Kereta Langit...
Ternyata tetap membawa bekal sendiri.
Mereka pun mencapai kesimpulan yang salah.
"Beliau tidak pernah bergantung pada siapa pun."
"Benar."
"Bahkan untuk perjalanan ini, beliau sudah menyiapkan segalanya sendiri."
Sementara itu, We Lin hanya memegang rotinya sambil berpikir.
"Untung ada yang menjemput."
"Kalau tidak, mungkin aku masih jalan sampai sore."
Kereta Langit melaju dengan tenang.
Tak lama kemudian, gerbang utama Organisasi Rasi Bintang mulai terlihat.
Puluhan anggota telah berjajar rapi.
Begitu kereta berhenti, mereka langsung membungkuk.
"Selamat datang, Tuan We Lin!"
Suara mereka menggema ke seluruh kawasan.
We Lin turun perlahan.
Kemudian melihat ke sekeliling.
Bangunan kuno berdiri megah.
Patung-patung batu menghiasi halaman.
Kolam jernih memantulkan cahaya langit.
"Oh."
gumamnya.
"Tempatnya memang besar."
Para tetua yang mendengar itu langsung saling berpandangan.
Mereka merasa usahanya menyiapkan jamuan akhirnya mendapat pengakuan.
Sementara itu, We Lin hanya memikirkan satu hal.
"Semoga makanannya juga banyak."
...
Kunjungan berlangsung dengan damai.
Para tetua menunjukkan berbagai tempat penting.
Perpustakaan Kuno.
Ruang Pertemuan Agung.
Taman Bintang.
Bahkan Gudang Artefak yang menjadi kebanggaan organisasi selama ribuan tahun.
Dengan wajah penuh kebanggaan, mereka menjelaskan sejarah panjang setiap tempat.
"Perpustakaan ini menyimpan jutaan teknik kultivasi."
"Gudang artefak ini berisi peninggalan para ahli masa lalu."
"Dan Taman Bintang merupakan simbol kejayaan organisasi kami."
We Lin hanya mengangguk pelan.
"Oh."
"Bagus."
"Lumayan."
Para tetua terdiam.
Mereka saling bertukar pandang.
Tidak ada keterkejutan.
Tidak ada kekaguman.
Bahkan ekspresinya nyaris tidak berubah.
Di mata para tetua, sikap itu menunjukkan ketenangan seseorang yang telah melihat dunia jauh lebih luas daripada mereka.
Namun kenyataannya...
Di dalam hati We Lin.
'Wah... keren sekali.'
' banyak banget perhiasan di sini.'
'Kalau dijual berapa ya harganya?'
'Jangan kelihatan norak. Tetap tenang.'
We Lin mempertahankan wajah datarnya dengan susah payah.
Sementara itu, para tetua semakin salah paham.
"Seperti yang diduga..."
"Sampai artefak legendaris pun tidak mampu membuat Senior We Lin terkejut."
"Pengalaman beliau pasti melampaui imajinasi kita."
We Lin yang tidak mendengar bisikan itu masih sibuk dalam pikirannya.
'Jangan melotot.'
'Jangan melotot.'
'Kalem.'
'Kalau ketahuan kagum nanti malu.'
Ketika jamuan makan dimulai, suasana akhirnya sedikit santai.
We Lin mencoba berbagai hidangan.
Sesekali menambah porsi.
Para anggota yang melihatnya langsung panik.
"Beliau menyukai hidangan itu!"
"Cepat tambahkan lagi!"
"Dapur! Siapkan dua kali lipat!"
Malam itu, dapur Organisasi Rasi Bintang bekerja lebih keras daripada saat festival tahunan.
Setelah mengantar We Lin pulang, Kereta Langit milik Organisasi Rasi Bintang perlahan menghilang di kejauhan.
Toko perhiasan kembali tenang.
We Lin meletakkan tas kecilnya di atas meja.
"Hm..."
"Perjalanannya lumayan jauh."
Tetua Morcant masih duduk di tempat yang sama.
Cangkir teh di tangannya entah sudah yang ke berapa.
"Bagaimana menurutmu kunjungan tadi?"
We Lin berpikir sejenak.
"Makanannya enak."
"..."
Tetua Morcant meminum tehnya.
Jawaban itu sudah ia duga.
Saat itulah—
Tok...
Tok...
Tok...
Terdengar suara ketukan dari pintu toko.
We Lin berjalan santai lalu membukanya.
Di luar berdiri seorang pria muda dengan pakaian Hunter.
Di pinggangnya tergantung sebilah pedang.
Wajahnya terlihat sedikit gugup.
"Permisi..."
"Apa ini toko perhiasan?"
"Iya."
Hunter muda itu menghela napas lega.
"Syukurlah."
"Aku sempat takut salah alamat."
We Lin membuka pintu lebih lebar.
"Silakan masuk."
Hunter itu masuk perlahan.
Matanya melihat ke seluruh ruangan.
Toko itu terlihat biasa.
Rak-rak kayu.
Etalase sederhana.
Dan seorang pria tua yang sedang menikmati teh di pojok ruangan.
Tidak ada yang terlihat istimewa.
Namun sebelum datang ke sini, ia mendengar sebuah kabar.
Konon...
Belum lama ini ada seorang tamu misterius yang bahkan disambut dengan hormat oleh Organisasi Rasi Bintang.
Dan orang itu memiliki sebuah toko kecil.
Hunter muda itu sebenarnya tidak terlalu percaya.
Sampai akhirnya ia menemukan alamat yang sama.
We Lin melihatnya.
"Kau mau membeli sesuatu?"
"Hah?"
"I-iya."
Hunter muda itu segera mengeluarkan sebuah cincin tua.
"Aku menemukannya saat bertugas."
"Tapi aku tidak tahu apakah ini masih bisa dipakai."
We Lin menerima cincin itu.
Dilihat sebentar.
Kemudian dibersihkan dengan kain yang ada di meja.
"Oh."
"Kotor saja."
Hunter muda itu berkedip.
"Kotor?"
"Iya."
We Lin menyerahkan kembali cincin tersebut.
"Coba dipakai."
Hunter itu ragu-ragu.
Namun tetap mengenakannya.
Beberapa saat kemudian...
Mata Hunter muda itu membesar.
Cincin yang selama ini kusam tiba-tiba memancarkan cahaya lembut.
"E-eh?"
"Aktif..."
"Akhirnya aktif..."
We Lin memiringkan kepala.
"Hm?"
"Mungkin tadi debunya banyak."
Di pojok ruangan, Tetua Morcant hanya meminum tehnya.
Hunter muda itu menatap We Lin dengan wajah tidak percaya.
Banyak ahli telah mencoba memeriksa cincin tersebut.
Tidak ada yang berhasil.
Namun di toko kecil ini...
Pemiliknya hanya mengelap debu lalu mengembalikannya.
"Lalu..."
"Berapa biayanya?"
We Lin melihat cincin itu lagi.
Kemudian menggeleng.
"Tidak usah."
"Hanya dibersihkan sedikit."
Hunter muda itu terdiam.
Di dalam hatinya, ia semakin yakin.
Orang di depannya jelas bukan pemilik toko biasa.
Namun We Lin tidak mengetahui apa yang sedang dipikirkan tamunya.
Ia hanya bertanya dengan santai.
"Kau sudah makan?"
"Hah?"
"Kalau belum, di dekat sini ada penjual mi yang enak."
"..."
Hunter muda itu membungkuk hormat.
"Terima kasih, Tuan We Lin."
We Lin mengangguk.
"Sama-sama."
Setelah Hunter itu pergi...
Tetua Morcant melihat ke arah pintu yang telah tertutup.
"Kupikir mulai hari ini..."
"Dunia Hunter juga akan menjadi ramai."
We Lin kembali menyapu lantai.
"Oh."
Lalu ia melihat ke arah meja.
"Ngomong-ngomong..."
"Dia tadi lupa membawa pembersih cicinnya."
"..."
Tetua Morcant menoleh.
Di atas meja memang masih ada kain kecil yang dipakai We Lin untuk membersihkan cincin tadi.
Dan untuk pertama kalinya hari itu...
Ia merasa kasihan kepada Hunter muda tersebut.
Karena kemungkinan besar...
Besok ia akan kembali ke toko ini.
Di jalan pulang.
Hunter muda itu berjalan perlahan.
Tangannya masih memegang cincin yang kini kembali bersinar.
Sesekali ia melihat ke arah cincin itu.
Lalu ke arah toko perhiasan yang semakin jauh di belakangnya.
"Aneh..."
gumamnya pelan.
"Aku hanya datang untuk memperbaiki sebuah cincin."
"Tapi kenapa rasanya seperti baru bertemu seseorang yang luar biasa."
Ia menggelengkan kepala.
Mungkin itu hanya perasaannya saja.
Tak lama kemudian, ia tiba di markas kecil para Hunter.
Seorang rekannya melihatnya.
"Bagaimana?"
"Berhasil?"
Hunter muda itu mengangguk.
"Berhasil."
"Berapa biaya perbaikannya?"
Hunter muda itu terdiam beberapa saat.
"Tidak ada."
"Hah?"
"Beliau tidak meminta apa pun."
Rekannya terlihat bingung.
"Mustahil."
"Aku juga berpikir begitu."
Hunter muda itu melihat cincin di tangannya.
"Beliau hanya membersihkannya sedikit."
"..."
Rekannya ikut terdiam.
Tidak ada lagi yang mereka bicarakan.
Sementara itu...
Di toko perhiasan.
We Lin sedang menghitung uang hasil penjualan hari ini.
"Hm..."
"Sepertinya cukup untuk beli mi."
Tetua Morcant menyesap tehnya.
"Kau tidak menyesal tidak meminta bayaran?"
We Lin mengangkat kepala.
"Kenapa harus menyesal?"
"Cincinnya memang cuma kotor."
"..."
Tetua Morcant memutuskan untuk diam.
Saat itu...
Cermin Mata Dewa di atas meja tiba-tiba bergetar pelan.
Buzz...
Lalu kembali diam.
Tiba-tiba
Sebuah tulisan kecil muncul di hadapan We Lin.
Sistem
[Reputasi Toko +1]
We Lin membaca tulisan itu.
"Oh."
"Lumayan."
Tetua Morcant yang sedang meminum teh mengangkat pandangannya.
Ia tidak melihat apa pun.
Namun ia melihat We Lin seperti sedang membaca sesuatu yang tidak terlihat.
"Ada apa?"
tanyanya.
We Lin menggeleng pelan.
"Tidak ada."
"Hanya ada tulisan aneh."
"..."
Tetua Morcant memilih tidak bertanya lebih jauh.
Selama tinggal di toko ini, ia sudah belajar satu hal.
Ada beberapa hal di sekitar We Lin...
Yang lebih baik tidak dicari tahu.
We Lin sendiri juga tidak terlalu memikirkannya.
Ia menutup buku kasir.
Kemudian melihat ke arah pintu toko.
"Besok semoga ada pelanggan lagi."
Tetua Morcant menyesap tehnya.
Ia tidak tahu tulisan apa yang dilihat We Lin.
Namun firasatnya mengatakan...
Toko kecil yang tenang ini tidak akan sepi untuk waktu yang lama.
Keesokan paginya.
Matahari baru saja terbit.
Jalanan di depan toko masih cukup sepi.
We Lin seperti biasa mulai menyapu halaman.
Gerakan sapunya santai.
Tidak terburu-buru.
Di dalam toko, Tetua Morcant sudah duduk di kursi favoritnya.
Secangkir teh hangat berada di atas meja.
Suasana terasa damai.
Tiga hari berlalu.
Toko perhiasan kembali menjalani hari-hari yang tenang.
We Lin seperti biasa menjaga toko.
Menyapu.
Membersihkan etalase.
Dan sesekali menghitung hasil penjualan.
Di pojok ruangan, Tetua Morcant sedang menikmati teh hangat.
"Hari ini juga sepi."
gumam We Lin.
"Itu karena kau membuka toko perhiasan, bukan warung makan."
jawab Tetua Morcant.
"Oh."
Masuk akal.
Saat itulah—
Tok...
Tok...
Tok...
Pintu toko diketuk pelan.
We Lin segera membukanya.
Di luar berdiri Hunter muda yang pernah datang beberapa hari lalu.
"Oh."
"Kau lagi."
Hunter muda itu tersenyum canggung.
"Maaf mengganggu."
"Kebetulan aku sedang bertugas di daerah sini."
"Jadi aku mampir."
We Lin mengangguk.
"Hm."
"Lalu?"
Hunter muda itu mengeluarkan sebuah kantong kecil.
"Aku membawa ini."
We Lin melihat ke dalam kantong.
Permen.
Berbagai macam rasa.
Mata We Lin langsung sedikit berbinar.
"Oh."
Hunter muda itu tertawa kecil.
"Kemarin aku lupa mengucapkan terima kasih dengan benar."
"Jadi aku membawanya hari ini."
We Lin menerima kantong itu.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
"Hm..."
We Lin melihat kantong permen itu lagi.
"Kau orang baik."
Hunter muda itu hampir tersedak ludahnya sendiri.
Padahal ia hanya membawa beberapa permen.
Namun entah kenapa pujian sederhana itu terasa jauh lebih berharga daripada penghargaan apa pun yang pernah ia terima.
"Silakan duduk."
kata We Lin.
Hunter muda itu pun duduk.
We Lin menuangkan secangkir teh.
Percakapan mereka berlangsung santai.
Tentang cuaca.
Tentang jalan kota yang sedang diperbaiki.
Dan tentang warung mi yang direkomendasikan We Lin beberapa hari lalu.
"Ternyata mienya memang enak."
kata Hunter muda itu.
"Benar kan?"
jawab We Lin dengan puas.
Di luar toko.
Dua Hunter yang sedang berpatroli kebetulan lewat.
Mereka melihat rekan mereka sedang duduk di dalam toko.
"Itu bukannya dia?"
"Iya."
"Bukankah dia yang membawa cincin beberapa hari lalu?"
"Benar."
Keduanya saling berpandangan.
"Lalu kenapa dia kembali?"
"Tidak tahu."
"Mungkin ada urusan penting."
Mereka kembali melihat ke dalam.
Yang mereka lihat hanyalah secangkir teh dan sebungkus permen di atas meja.
"..."
"Urusan penting macam apa itu?"
"Aku juga tidak tahu."
Sementara itu, di dalam toko.
We Lin membuka satu bungkus permen.
Kemudian memasukkannya ke mulut.
"Oh."
"Rasa melon."
"Yang ini enak."
Hunter muda itu tersenyum.
Tetua Morcant hanya menggeleng pelan.
Di luar sana...
Orang-orang mulai memikirkan berbagai teori rumit mengenai toko kecil ini.
Namun di dalam toko...
Mereka hanya sedang minum teh dan membahas rasa permen.
Beberapa saat kemudian.
Hunter muda itu akhirnya berdiri.
"Kalau begitu, saya pamit."
We Lin mengangguk.
"Hati-hati di jalan."
"Terima kasih."
Hunter muda itu membungkuk singkat.
Lalu meninggalkan toko.
Tok.
Pintu kembali tertutup.
Suasana kembali tenang.
We Lin melihat kantong permen di atas meja.
Kemudian mengambil satu lagi.
"Oh."
"Kali ini rasa anggur."
Tetua Morcant menyesap tehnya.
"Aku mulai mengerti kenapa dia datang lagi."
"Hm?"
"Karena kau memberinya kesan yang baik."
We Lin terlihat bingung.
"Aku cuma membersihkan cincin."
"..."
Tetua Morcant memutuskan untuk tidak menjelaskan lebih lanjut.
Saat itu—
Tok...
Tok...
Tok...
Pintu kembali diketuk.
We Lin berkedip.
"Hari ini ramai."
Ia berjalan menuju pintu.
Ketika dibuka...
Di luar berdiri seorang pria paruh baya dengan pakaian sederhana.
Tidak seperti Hunter.
Tidak seperti anggota organisasi besar.
Hanya seorang pelanggan biasa.
Pria itu tampak sedikit gugup.
"Permisi..."
"Apa ini toko perhiasan?"
"Iya."
Pria itu menghela napas lega.
"Syukurlah."
"Akhirnya ketemu juga."
We Lin mempersilakannya masuk.
Pria itu kemudian mengeluarkan sebuah kalung tua dari sakunya.
Kalung itu terlihat usang.
Beberapa bagian rantainya bahkan mulai berkarat.
"Aku ingin memperbaiki ini."
We Lin menerima kalung tersebut.
Dilihat sebentar.
Kemudian mengangguk.
"Bisa."
Wajah pria itu langsung cerah.
"Benarkah?"
"Iya."
"Hanya perlu diganti beberapa bagian."
Pria itu terlihat sangat lega.
"Terima kasih."
"Kalung ini peninggalan istriku."
"Aku takut tidak bisa diperbaiki lagi."
We Lin kembali melihat kalung itu.
"Oh."
"Pantas."
Pria itu menundukkan kepala.
Ada sedikit senyum di wajahnya.
Untuk pertama kalinya hari itu.
Tetua Morcant tidak melihat kesalahpahaman aneh.
Tidak ada artefak kuno.
Tidak ada organisasi besar.
Tidak ada rumor mengejutkan.
Hanya seorang pria yang ingin memperbaiki kenangannya.
Dan seorang pemilik toko yang membantu pelanggan seperti biasa.
Beberapa saat kemudian.
We Lin mulai bekerja.
Mengganti rantai yang rusak.
Membersihkan bagian yang berkarat.
Memperbaiki kait yang longgar.
Gerakannya tenang.
Tidak terburu-buru.
Pria paruh baya itu memperhatikan dari samping.
Matanya perlahan melembut.
Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama...
Ia merasa benda berharga miliknya benar-benar akan kembali seperti semula.
Sementara itu.
We Lin hanya berpikir satu hal.
"Kalau selesai cepat..."
"Mungkin masih sempat beli mi sebelum sore."
Tak lama kemudian.
Perbaikan selesai.
We Lin meletakkan kalung itu di atas meja.
"Nah."
Pria paruh baya itu membeku.
Kalung yang tadinya kusam kini terlihat jauh lebih baik.
Ia segera mengambilnya.
Tangannya sedikit gemetar.
"Terima kasih."
We Lin mengangguk.
"Sama-sama."
Pria itu kemudian mengeluarkan beberapa koin.
"Berapa biayanya?"
We Lin melihat kalung itu.
"Hanya ganti rantai."
"Segini cukup."
Pria itu terlihat terkejut.
Karena biayanya jauh lebih murah dari yang ia bayangkan.
Namun ia tetap membayar.
Sebelum pergi, ia membungkuk hormat.
"Semoga usahamu lancar."
"Oh."
"Terima kasih."
Pintu toko kembali tertutup.
Suasana kembali tenang.
We Lin melihat beberapa koin di atas meja.
Kemudian mengangguk puas.
"Hari ini lumayan."
Tetua Morcant menyesap tehnya.
"Setidaknya ada pelanggan sungguhan."
"Hm?"
"Apa maksudnya?"
"Tidak penting."
We Lin tidak terlalu memikirkannya.
Ia menyimpan koin tersebut.
Saat itulah...
Sebuah tulisan tiba-tiba muncul di hadapan We Lin.
[Reputasi Toko +1]
[Hadiah Acak Sedang Diproses]
We Lin berkedip.
"Oh?"
Tulisan kedua jarang muncul.
Beberapa detik berlalu.
Kemudian tulisan baru muncul.
[Hadiah Diperoleh]
[Kupon Makan Gratis ×1]
"..."
We Lin membaca ulang tulisan itu.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Matanya perlahan berbinar.
"Makan gratis?"
Tetua Morcant melirik ke arahnya.
"Ada apa?"
"Tidak ada."
jawab We Lin cepat.
Lalu ia duduk dengan wajah serius.
Untuk pertama kalinya hari itu.
Ia merasa sistem telah memberikan sesuatu yang benar-benar berguna.
Sementara itu, jauh di luar toko.
Hunter muda yang tadi berkunjung sedang berjalan menuju markas.
Namun ia tidak menyadari satu hal.
Sejak cincin itu aktif kembali...
Beberapa orang mulai memperhatikan namanya.
Dan cepat atau lambat...
Akan ada lebih banyak orang yang mencari toko kecil milik We Lin.
Malam tiba.
Toko perhiasan sudah tutup.
We Lin duduk di belakang meja kasir.
Matanya tertuju pada tulisan sistem yang masih melayang di hadapannya.
[Kupon Makan Gratis ×1]
"Hm..."
Ia membaca tulisan itu lagi.
Kemudian lagi.
Lalu lagi.
Tetua Morcant yang sedang minum teh mulai curiga.
"Kau melihat sesuatu lagi?"
"Hanya tulisan aneh."
"Oh."
Tetua Morcant mengangguk.
Ia tidak berniat mencari tahu lebih jauh.
We Lin kembali menatap tulisan tersebut.
"Kalau dipakai sekarang..."
"Tidak bisa."
"Kalau dipakai besok..."
"Besok habis."
Semakin dipikirkan, semakin rumit.
Beberapa menit berlalu.
Akhirnya ia membuat keputusan.
"Simpan saja."
Tulisan sistem langsung berubah.
[Kupon Disimpan]
[Tidak Ada Batas Waktu]
Mata We Lin sedikit berbinar.
"Oh."
"Itu lebih baik."
Sekarang ia tidak perlu terburu-buru.
Baginya, makanan gratis adalah sesuatu yang harus digunakan pada waktu yang tepat.
Tetua Morcant melihat ekspresi puas di wajahnya.
Entah kenapa...
Ia punya firasat bahwa We Lin baru saja mengambil keputusan penting.
Padahal kenyataannya hanya soal makan gratis.
...
Keesokan harinya.
Toko kembali buka seperti biasa.
Pelanggan datang dan pergi.
Tidak terlalu ramai.
Namun juga tidak terlalu sepi.
Menjelang siang.
Tok...
Tok...
Tok...
Pintu toko diketuk.
We Lin mengangkat kepala.
"Silakan masuk."
Seorang pria tua masuk perlahan.
Pakaiannya sederhana.
Di tangannya terdapat sebuah kotak kayu kecil.
"Aku ingin menjual sesuatu."
kata pria itu.
"Oh."
We Lin mengangguk.
"Silakan."
Pria tua itu membuka kotaknya.
Di dalamnya terdapat sebuah liontin tua berwarna perak.
Bentuknya biasa.
Tidak ada ukiran istimewa.
Tidak ada batu permata langka.
Paling tidak, itulah yang terlihat.
We Lin mengambil liontin tersebut.
Lalu memeriksanya sebentar.
Saat itulah...
Sistem tiba-tiba muncul.
[Ditemukan Objek Spesial]
[Nilai Tersembunyi Terdeteksi]
"Hm?"
We Lin berkedip.
Tulisan seperti ini jarang muncul.
Pria tua itu terlihat gugup.
"Kalau tidak berharga tidak apa-apa."
"Aku hanya mencoba keberuntungan."
We Lin kembali melihat liontin itu.
Kemudian melihat pria tua tersebut.
Lalu melihat liontin lagi.
Sementara di hadapannya...
Tulisan sistem terus berkedip.
[Dianjurkan Untuk Dibeli]
[Dianjurkan Untuk Dibeli]
[Dianjurkan Untuk Dibeli]
"..."
We Lin terdiam.
Ini pertama kalinya sistem terlihat begitu bersemangat.
Tetua Morcant yang melihat dari kejauhan sedikit mengangkat alis.
Karena untuk pertama kalinya hari itu...
We Lin terlihat benar-benar berpikir serius.
Dan entah kenapa...
Firasatnya mengatakan bahwa liontin tua itu mungkin tidak sesederhana kelihatannya.
We Lin masih memegang liontin itu.
Sistem terus menampilkan peringatan yang sama.
[Dianjurkan Untuk Dibeli]
[Dianjurkan Untuk Dibeli]
[Dianjurkan Untuk Dibeli]
"Hm..."
We Lin menatap liontin itu lebih lama.
Pria tua di depannya mulai gelisah.
"Kalau memang tidak berharga..."
"Aku bisa ambil kembali."
We Lin menggeleng pelan.
"Tidak."
"Aku ambil."
"..."
Sistem langsung berhenti berkedip.
[Keputusan Diterima]
Pria tua itu tampak sedikit terkejut.
"Benarkah?"
"Iya."
We Lin meletakkan beberapa koin di meja.
"Cukup?"
Pria tua itu melihat jumlahnya.
Matanya sedikit melebar.
"Itu terlalu banyak..."
"Tidak apa."
jawab We Lin singkat.
Pria tua itu terdiam sejenak.
Kemudian membungkuk dalam-dalam.
"Terima kasih."
Lalu ia pergi dengan langkah pelan.
Pintu toko kembali tertutup.
Suasana kembali tenang.
Tetua Morcant yang sedari tadi memperhatikan akhirnya berbicara.
"Kenapa kau membelinya?"
We Lin melihat liontin itu.
"...karena terasa perlu."
"..."
Tetua Morcant menatapnya lama.
"Tidak biasanya kau berkata begitu."
We Lin hanya mengangguk pelan.
"Aku hanya merasa itu penting."
Ia tidak menjelaskan lebih jauh.
Dan Tetua Morcant juga tidak bertanya lagi.
Sementara itu, jauh di luar toko.
Pria tua tadi duduk di sebuah ruangan sederhana di markas kecil kota.
Di depannya seorang anggota Hunter duduk dengan ekspresi serius.
"Jadi kau sudah menjualnya?"
"Iya."
"Ke siapa?"
Pria tua itu berpikir sejenak.
"Toko perhiasan di ujung jalan."
"..."
Hunter itu langsung menegakkan tubuhnya.
"Nama pemiliknya?"
"Aku tidak tahu."
"Tapi dia terlihat biasa saja."
Hunter itu terdiam.
Lalu perlahan mencatat sesuatu di kertasnya.
Toko Perhiasan di ujung jalan kembali terlibat.
Di tempat lain.
We Lin sedang menyapu lantai toko.
Sambil bersiul pelan.
Sama sekali tidak tahu bahwa sejak hari ini...
Sebuah benda tua di sakunya mulai menarik perhatian orang-orang yang seharusnya tidak tertarik.