Seina adalah gadis cantik yang bercita-cita menjadi aktris terkenal. Setelah lulus sekolah, hidupnya terasa sempurna ketika dia berhasil debut di dunia hiburan. Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Di puncak awal kariernya, Seina justru dibunuh oleh seorang haters yang iri padanya.
Saat membuka mata, Seina tidak lagi berada di tubuhnya sendiri. Dia terbangun di tubuh Serina Elvano, seorang wanita egois yang dibenci banyak orang. Lebih mengejutkannya lagi, dia berpindah tubuh saat Serina sedang berjuang melahirkan anaknya.
Serina harus menjalani kehidupan baru sebagai istri Cristian Elvano, pria dingin dan berkuasa yang sama sekali tidak mencintai istrinya. Tidak hanya diabaikan oleh sang suami, Serina juga diperlakukan rendah oleh keluarga Elvano karena sikap buruknya di masa lalu.
Dia bertekad mengubah hidupnya, merebut kembali harga dirinya, dan membuat semua orang yang meremehkannya menyesal, terutama Cristian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
"Cristian, ucapanmu sangat keterlaluan!" Sentak Mariam yang sedari tadi hanya menyimak.
Cristian menatap ibunya tanpa ekspresi. "Kalau Ibu tetap ingin pernikahan ini terjadi, maka nikahkan saja anak laki-laki Ibu yang lain jangan aku."
"Candra sudah memiliki istri, tidak mungkin dia menikah dengan Gladis!" Kata Mariam mengingat anak keduanya.
Mendengar itu Cristian terkekeh hambar. "Lalu apa bedanya denganku, Bu? Aku juga sudah memiliki istri dan anak."
Mariam terdiam kaku, selama ini Cristian tidak pernah berdebat dengannya hanya demi membela Serina. Tapi sekarang, anak itu bahkan berani menentang keputusannya.
Merasa tak perlu ada pembicaraan lagi, Cristian memilih meninggalkan ruang tamu dan mengabaikan panggilan dari keluarganya yang meminta dia kembali.
Langkah Cristian semakin cepat ketika menaiki anak tangga menuju lantai dua di mana kamarnya berada, begitu tiba di depan kamar dia langsung mendorong pintu tersebut dan menemukan bahwa ruangan itu kosong melompong.
"Di mana Serina? Bukannya tadi dia masuk ke sini?" Gumamnya heran.
Kemudian pandangan Cristian beralih pada jendela yang terbuka lebar, dia bergerak menuju jendela tersebut dan melihat ada kain yang menggantung di balkon kamar itu.
"Apa dia gila? Bagaimana bisa dia turun dari sini dengan membawa bayi?" Cristian memijit pangkal hidungnya pelan. "Benar-benar wanita yang tidak bisa di tebak."
Dia mengeluarkan ponsel dari sakunya, lalu mencari nomor Serina dan menghubunginya. Akan tetapi panggilan darinya tidak pernah mendapat jawaban, Cristian mulai merasa cemas kalau sampai terjadi sesuatu pada Serina dan bayinya dia mungkin tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Sial! Sebenarnya ke mana dia pergi?" Ujarnya seraya keluar dari kamar, berniat untuk mencari keberadaan istrinya.
***
Sementara itu, di trotoar jalan yang cukup sepi terlihat sosok serina sedang berjalan dengan menggendong Arcelio. Wajahnya muram dan sesekali kakinya menendang kerikil yang ada di depannya, dia tidak memikirkan rencana jangka panjang yang dia pikirkan hanya ingin menjauh sejenak dari rumah menyesakkan itu.
Tapi sekarang, kemana dia harus pergi?
"Argh, sialan. Sekarang aku harus ke mana? Lagi pula aku tidak punya uang untuk menyewa hotel," lirih Serina. "Kenapa aku ceroboh banget sih, tadi harusnya aku bawa dompet."
Meski sedikit menyesal, tapi dia tidak mungkin berbalik dan kembali ke kediaman Elvano sekarang. Tentu saja dia gengsi, masa kabur baru beberapa menit sudah balik lagi?
Saat kakinya menendang kerikil, tiba-tiba kerikil itu mengenai kepala seorang pria yang berdiri tidak jauh darinya.
"Akh! Siapa yang lempar batu ke kepalaku?" Seru pria itu seraya celingukan ke sana kemari mencari orang tersebut.
Serina berpura-pura melihat ke arah lain agar tidak di curigai, dan untungnya hal itu berhasil sampai dia tidak di curigai.
"Untung saja dia tidak curiga kalo aku yang menendang kerikil itu," Serina menghela napas lega. "Hari ini kenapa nasibku rasanya sial sekali, apa ini pertanda kalau aku harus meninggalkan Cristian?"
Jika di pikir-pikir lagi, dia sepertinya tidak akan sanggup meluluhkan hati Cristian terlebih sekarang dia sudah muak berpura-pura menjadi wanita manja. Tapi, meski begitu Serina masih memikirkan masa depan Arcelio. Jika dia bertindak semaunya sendiri, lantas bagaimana kehidupan Arcelio setelah dia meninggalkan dunia itu dan kembali ke tubuhnya?
Serina terus berbicara sendiri sampai orang yang melihatnya menatap aneh, tapi Serina tidak menyadari hal tersebut. Pikirannya sangat kacau hari ini, semua berawal dari kemunculan Gladis di kediaman Elvano yang langsung membuat moodnya jelek.
"Sekarang aku harus pergi ke mana, ya? Tidak mungkin juga aku menghubungi Cristian dan menyuruhnya untuk menjemput ku, mau di taruh di mana mukaku nanti."
Aktingnya tadi memang patut di acungi jempol, setidaknya dengan itu dia bisa sedikit melihat raut wajah Cristian yang tercengang sampai tak bisa berkata-kata.
Di tengah perasaan gundah gulana, suara seseorang membuat Serina terkejut.
"Kamu... Serina, kan?"
Serina menoleh ke belakang, dia menaikan sebelah alisnya begitu melihat orang yang memanggil namanya.
"Iya, apa kamu penggemarku?" Tanya Serina polos.
Mochimochi yang melihat tingkah Serina hanya bisa menghela napas pendek, dia mulai terbiasa dengan sikap Serina yang terkadang membuat malu di depan umum.
"Penggemar? Kamu pikir kamu artis?" Wanita menggelengkan kepalanya pelan. "Setelah lama tidak bertemu, ternyata ingatanmu cukup banyak bergeser, ya?"
"Bergeser ke mana?"
"Planet." Jawab wanita itu setengah jengkel.
Mochimochi berdehem pelan dan mulai berbicara pada Serina. "Dia teman baik tubuh Serina, kalian dulu sangat dekat sebelum ada teman barumu yang menyeret mu ke dalam jurang kesengsaraan seperti sekarang."
"Benarkah? Lalu kenapa dia sepertinya marah padaku?"
"Karena kamu meninggalkannya, dan melakukan hal menjijikan pada Cristian."
Serina mengangguk paham. "Apakah dia masih menganggap Serina temannya?"
"Aku tidak tahu, coba saja kamu tanyakan sendiri."
"Kalau begitu siapa namanya? Tidak mungkin aku bertanya seperti itu padanya, kan?"
"Namanya Olivia, dia salah satu asisten pribadi rekan kerja Cristian. Dan kalian sudah lebih dari delapan bulan tidak bertukar kabar, karena Serina asli menjauhinya. Dan aku rasa Olivia memang tulus berteman denganmu, dia tidak pernah menuntut kamu menjadi orang lain selama kalian berteman."
Penjelasan dari sistem sudah cukup menyimpulkan bagaimana hubungan Serina dan Olivia selama ini, andai saja dulu Serina asli tidak terbuai dengan ocehan sahabat barunya pasti hubungan mereka masih baik-baik saja.
Serina menunduk, dia bahkan tidak berani untuk menatap wajah Olivia yang berdiri di depannya. Padahal bukan dia yang melakukan kesalahan tapi, kenapa dia harus merasakan hal tak nyaman seperti ini?
"Oliv, kamu apa kabar?" Tanya Serina pelan.
Olivia mengamati penampilan Serina dari atas sampai bawah, dan terhenti pada sosok bayi mungil dalam dekapan Serina.
"Setelah semua yang kamu lakukan, kamu masih berani bertanya seperti itu padaku?" Sinis Olivia.
.. pelan pelan sajaaaaa 🎵🎶🎵
mulai berpihak ke serin kamu cris🫶