Maya Farida, mahasiswi Al-Azhar yang terobsesi pada sejarah Islam dan sains, meninggal dalam kecelakaan tragis tepat di hari kelulusannya di Kairo.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun kembali sebagai bayi perempuan bangsawan Quraisy di Mekah abad ke-6 puluhan tahun sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Di dunia yang belum mengenal Islam, Maya harus hidup sebagai Qatilah binti Naufal, putri dari keluarga elit Bani Asad yang berkuasa. Dengan pengetahuan modern yang tak seharusnya ada di zaman itu, ia perlahan mengubah kehidupan di sekitarnya melalui logika, sains, dan kecerdasannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32 Mila
BAB 32
Aku berlari menembus kepulan asap hitam pekat yang menyesakkan dada. Salju di bawah kakiku telah berubah menjadi bubur abu dan lumpur merah. Bau kayu hangus, daging terbakar, dan darah segar bercampur menjadi satu, menusuk hidungku hingga membuatku ingin muntah.
Tapi aku tidak berhenti.
"Kak Qatilaaah!! Tante Ruuuuth!!"
Suaraku melengking putus asa, memecah suara gemeretak sisa-sisa api yang masih melahap puing gubuk kayu. Aku berlari ke sana kemari, membalikkan bongkahan kayu, menatap setiap mayat yang tergeletak di tanah dengan jantung yang berdegup sangat kencang.
Di belakangku, langkah berat Ayah terdengar menyusul, diikuti suara gemerincing zirah Tante Astrid.
"Haaah... kekacauan ini benar-benar membuatku cemas," geram Ayah pelan. Suaranya terdengar berat oleh kekhawatiran.
"Aku tahu, tenanglah," balas Tante Astrid tajam. "Aku juga tidak mau misiku gagal. Kita harus memeriksa semua tubuh yang ada di sini untuk memastikannya."
Tiba-tiba, langkahku membeku. Kakiku seolah terpaku di atas tanah berlumpur.
"Goran, lihat Mila," tegur Tante Astrid.
"Kenapa dia diam mematung di sana?"
"Sebaiknya kita periksa."
Ayah melangkah lebar menghampiriku. Tapi aku tidak bisa menoleh. Mataku melotot lebar, menatap lurus ke arah sesosok tubuh yang tergeletak di dekat sisa-sisa api unggun desa yang telah hancur berantakan.
"Mila? Ada apa?" Ayah menyentuh pundakku pelan, lalu mengikuti arah pandanganku.
Napas Ayah seketika tertahan.
Itu adalah Tante Ruth.
Kondisinya membuat seluruh kewarasanku hancur berkeping-keping. Sebagian tubuhnya telah hangus terbakar oleh api yang menjalar dari gubuk di dekatnya. Pakaian hangatnya menempel leleh pada kulitnya yang melepuh dan menghitam.
Wajahnya yang dulu selalu tersenyum lembut padaku saat di rumah, kini tertutup jelaga pekat dengan mulut terbuka, seolah ia menghembuskan napas terakhirnya dalam jeritan penderitaan yang tak terdengar. Bau daging panggang yang sedari tadi kucium... itu adalah tubuhnya.
Mataku membelalak lebar hingga terasa perih. Udara seolah ditarik paksa dari paru-paruku. Aku tidak bisa bernapas. Otakku menolak memproses pemandangan mengerikan ini. Tante Ruth... dia sudah berjanji akan mengajariku cara membuat roti yang enak setelah bayi di perutnya lahir. Dia orang yang baik. Kenapa dia harus mati seperti ini?!
Merasakan tubuhku yang mulai gemetar hebat dan napasku yang tersendat, insting Ayah sebagai pelindung langsung bekerja. Pria raksasa yang sudah terbiasa melihat ribuan kematian itu tidak ikut meratapi mayat di depannya. Dengan sigap, Ayah berlutut, menarik tubuhku dengan paksa, dan membenamkan wajahku ke dalam dada bidangnya yang hangat.
Tangan besar Ayah memeluk punggungku erat-erat, menyembunyikan mataku dari kengerian itu.
"Tidak apa-apa, Mila. Jangan dilihat... Ayah di sini," bisik Ayah dengan suara serak.
Dan saat itulah, pertahananku runtuh.
Tangan kecilku mencengkeram erat jubah kulit Ayah. Tangisanku meledak. Aku menjerit, meraung-raung sekuat tenaga ke dalam dadanya. Suaraku serak, jelek, dan dipenuhi oleh keputusasaan murni. Ini bukan tangisan anak kecil yang merajuk, ini adalah jeritan seekor anak monster yang hatinya baru saja dirobek paksa. Selama hidupku, Ayah belum pernah melihat atau mendengarku menangis sehancur ini. Pelukan Ayah semakin mengerat, tubuh raksasanya ikut bergetar menahan gejolak di dadanya.
Tante Astrid berjalan mendekat, menatap mayat itu dengan wajah datar namun rahangnya mengeras.
"Apa dia salah satu keluarga yang kau cari, Goran?" tanyanya dingin.
"Iya," jawab Ayah parau tanpa melepaskan pelukannya dariku.
Tanpa rasa jijik, Tante Astrid berjongkok dan memeriksa kondisi mayat Tante Ruth. Ia menyingkap sisa kain yang terbakar di bagian perut, lalu terdiam cukup lama. Matanya menyipit tajam.
"Namanya Ruth, bukan?" gumam Tante Astrid. "Kau bilang padaku dia sedang hamil besar saat diculik."
"Benar."
"Tapi perutnya kempes, Goran," ucap Tante Astrid sambil menoleh menatap Ayah. "Tidak ada bayi di dalamnya."
Ayah tersentak. "Apa?!"
Sambil terus terisak, aku perlahan melepaskan wajahku dari dada Ayah. Aku menatap Ayah dengan mata bengkak dan penuh air mata.
"A-Ayah... apa maksudnya bayinya hilang?" tanyaku terbata-bata.
Ayah menelan ludah, menatap perut Tante Ruth dari kejauhan. "Itu berarti... Ruth melahirkan bayinya di desa ini, sebelum atau saat penyerangan terjadi."
Mataku kembali melebar. Jika bayinya tidak ada di sini, lalu...
"Lalu... Kak Qatilah..." Kepanikanku kembali memuncak. Aku mencengkeram lengan Ayah. "Kak Qatilah di mana, Ayah?!"
Ayah bangkit berdiri, wajahnya berubah menjadi sangat keras dan gelap. "Kita harus mulai memeriksa semua mayat di desa ini. Kita hanya bisa berharap dia tidak ada di antara mereka, atau mungkin... dia berhasil bersembunyi."
Aku mengusap air mataku dengan kasar. "Baiklah. Ayo kita periksa semuanya!"
Kami bertiga menyebar. Hati kami dipenuhi harap-harap cemas yang menyiksa. Ayah dan aku membalikkan setiap mayat yang tertelungkup di atas salju dan lumpur, menyingkirkan puing kayu, mencari sosok Kak Qatilah. Di sudut lain, Tante Astrid juga melakukan hal yang sama, mencari tanda-tanda anak majikannya.
Tiba-tiba, di dekat sisa-sisa lumbung penyimpanan yang runtuh, telinga tajam Tante Astrid menangkap sesuatu.
KRAK.
Suara ranting patah yang sangat pelan.
Tante Astrid bergerak secepat kilat. Ia melesat menembus puing-puing, menyingkap sebuah papan kayu besar, dan menarik paksa sesosok tubuh yang bersembunyi di bawahnya.
"Dapat kau, tikus kecil!" geram Tante Astrid.
Orang itu meronta-ronta ketakutan. Ayah dan aku langsung berlari menghampiri. Begitu melihat bahwa yang ditarik Tante Astrid adalah seorang remaja laki-laki berpakaian kulit kotor salah satu dari suku penculik ini darahku langsung mendidih.
Tanpa ragu sedikit pun, aku menghunus pedang besi dari punggungku. Aku akan menebas lehernya!
Namun sebelum pedangku berayun, tangan besar Ayah mencengkeram pergelanganku erat-erat. "Tahan, Mila! Dia masih berguna!"
Tante Astrid melempar remaja itu ke atas salju, lalu menodongkan ujung pedangnya tepat di tenggorokan anak itu.
"Siapa kau?!" bentak Tante Astrid.
"T-tidak!! Kumohon, jangan bunuh aku!!" jerit anak laki-laki itu gemetar, air matanya mengucur deras.
"Jika lidahmu tidak menjawab, maka tak ada gunanya kau hidup!" ancam Tante Astrid, menekan pedangnya hingga sedikit menggores kulit leher anak itu. "Jawab!"
Anak itu terisak panik. Di bawah todongan maut, ia menumpahkan semuanya. Dia adalah penduduk desa ini. Beberapa saat yang lalu, seluruh permukimannya dibantai habis-habisan oleh sekumpulan prajurit elit berbaju besi. Semuanya mati, termasuk kepala suku mereka yang mencoba melawan.
Mendengar kata prajurit elit, Ayah langsung menyela dengan suara menggelegar.
"Lalu di mana para wanita dan bayi yang kalian culik?!"
"S-semua yang masih hidup... dibawa pergi oleh pasukan itu!" jawab anak itu terbata-bata.
"Apa kau melihat seorang gadis kecil berkulit selatan di antara mereka?!" tuntut Ayah, cengkeramannya di pundakku menguat.
Anak laki-laki itu mengangguk cepat. "I-iya! Dua hari yang lalu... Draga, salah satu pemburu yang diutus kepala suku kami, membawa pulang gadis berkulit selatan yang gila dan seorang wanita hamil!"
Mataku melotot. "Ceritakan padaku! Semuanya!" bentakku galak.
"D-Draga selalu membuat masalah karena sering membawa pulang buruan yang sudah terluka parah," anak itu menjelaskan dengan napas memburu. "Padahal kepala suku kami sudah sering memperingatkannya agar membawa tawanan dalam keadaan utuh. Karena gadis selatan itu terluka di perutnya, akhirnya Draga dihukum mati di tiang luar desa untuk dijadikan contoh!"
Tante Astrid mengerutkan keningnya, menatap anak itu tajam. "Lalu kenapa kau menyebut gadis berkulit selatan itu gila?"
"K-karena dia memang gila!" jerit anak itu masih syok. "Biasanya tawanan yang terluka di perut pasti akan berakhir mati membusuk! Gadis itu sudah coba kami obati dengan ramuan, tapi saat dia sadar... dia tiba-tiba membuang semua ramuan itu!"
Anak itu menelan ludah, wajahnya memucat mengingat kejadian tersebut.
"Lalu... dia mengambil sebuah pedang besi dari perapian yang menyala. Dia memanaskan pedang itu sampai membara... dan menempelkan besi panas itu ke perutnya sendiri!! Kami semua ngeri melihatnya, kami kira dia sudah gila dan ingin bunuh diri! Tapi... keesokan harinya, darahnya berhenti dan itu malah menyelamatkan nyawanya!"
Hening seketika menyelimuti kami bertiga.
Tante Astrid menurunkan pedangnya sedikit, saling berpandangan dengan Ayah. Mata wanita utara itu memancarkan kengerian sekaligus rasa hormat yang luar biasa.
"Demi para dewa... dia menempelkan besi panas ke lukanya sendiri?" gumam Tante Astrid tak percaya. "Gadis itu benar-benar gila."
Di dalam dadaku, rasa ngeri bercampur dengan kelegaan yang luar biasa. Kakak memanaskan besi? Dia pasti sangat kesakitan! Tapi dia bertahan. Kak Qatilah tidak menyerah pada lukanya!
"Bagaimana dengan wanita hamil yang bersamanya?!" desak Ayah lagi. "Ke mana bayinya?!"
"A-aku tidak tahu! Sumpah, aku tidak tahu!" tangis remaja itu. "Hanya itu yang aku tahu! Saat penyerangan besar itu terjadi, aku langsung bersembunyi di bawah lantai kayu! Aku kira... aku kira kalian bertiga adalah bagian dari pasukan pembantai itu!"
Ayah menunduk menatapku. "Kau dengar itu, Mila? Gadis gila itu tidak mati. Qatilah dibawa oleh pasukan itu. Kita masih bisa mengejarnya."
Napas liarku perlahan teratur. Mengetahui Kakak masih hidup membuat duniaku kembali memiliki tujuan. Aku menatap remaja yang meringkuk ketakutan di tanah itu dengan pandangan sedingin es. Tidak ada belas kasihan di hatiku untuk orang-orang yang telah membuat Tante Ruth mati.
Aku mengangkat pedangku lagi.
"Kalau begitu orang ini sudah tak penting," ucapku datar. "Kita bunuh saja dia."
Aku bersiap mengayunkan pedangku, namun Tante Astrid melangkah maju dan menahan senjataku dengan sarung pedangnya.
"Tunggu dulu. Tahan amarahmu," ucap Tante Astrid dengan senyum tipis yang mematikan. Ia kembali menatap remaja itu.
"Hei, kau... Sebelum kami memutuskan nyawamu, jawab satu pertanyaanku." Tante Astrid menyipitkan matanya. "Kenapa sukumu yang kotor ini repot-repot menculik banyak wanita dan bayi perempuan dari desa-desa sekitar?"