Selama tiga tahun bekerja di perusahaan advertising ternama milik keluarga Mahardika Group, hidup Naura Azzahra nyaris seperti neraka. Semua gara-gara atasannya: Arkan Mahendra, direktur muda yang tampan, perfeksionis, dingin, dan hobi menghancurkan harga diri karyawan dengan satu tatapan.
Naura sudah berkali-kali berniat resign. Namun gaji besar dan cicilan rumah membuatnya bertahan.
Sampai malam presentasi besar itu datang.
Di depan seluruh direksi, Arkan tanpa ampun mengkritik konsep Naura habis-habisan. Bukan cuma mempermalukannya, pria itu juga menyebut Naura “tidak cukup kompeten untuk berada di perusahaan ini.”
Malu bercampur marah membuat Naura meledak.
Untuk pertama kalinya, ia membalas semua omongan Arkan—bahkan menyebut pria itu manusia paling menyebalkan yang mungkin akan mati sendirian karena tak punya hati.
Lalu ia resign malam itu juga.
Naura merasa hidupnya akhirnya tenang… sampai ibunya memaksanya datang ke acara makan malam keluarga seminggu kemudian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eunoia Fashion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Begitu kembali ke kubikel kerjaku setelah makan siang yang penuh sandiwara di kantin tadi, aku langsung mengunyah permen karet rasa stroberi pemberian Arkan. Rasa manis dan segar buahnya langsung memenuhi mulutku, perlahan-lahan menghapus sisa rasa kesal akibat akting cemberut yang harus kupertahankan di depan ratusan karyawan tadi.
"Bu Naura..." Rini tiba-tiba muncul di balik sekat kubikelku dengan wajah yang ditekuk sedih. Tangan kecilnya meletakkan secangkir teh hangat di atas mejaku. "Ini teh kamomil untuk Ibu. Minum dulu, Bu, supaya hatinya agak adem. Saya beneran sakit hati melihat Pak Arkan memperlakukan Ibu seperti tadi di kantin. Bos besar kita itu kalau sedang kumat ketusannya memang suka tidak punya perasaan."
Aku buru-buru mengatur ekspresi wajahku, mematikan senyuman yang hampir lolos, lalu menghela napas panjang seolah-olah hidupku sedang sangat menderita.
"Terima kasih ya, Rini. Kamu memang sekretaris terbaik," jawabku dengan suara yang dibuat agak serak. "Sudahlah, tidak apa-apa. Biar saja Pak Arkan bersikap semena-mena. Aku akan buktikan kalau divisi kita tidak bisa diremehkan olehnya."
"Betul, Bu! Semangat!" Rini mengepalkan tangannya di udara sebelum akhirnya pamit kembali ke mejanya sendiri dengan langkah tegap, seolah-olah dia baru saja berhasil menyuntikkan semangat baru ke dalam tubuh pimpinannya yang sedang teraniaya.
Baru saja pintu ruanganku menutup rapat, sesosok pria dengan setelan jas necis tanpa permisi langsung membuka pintu kerjaku. Langkah kakinya terdengar sangat santai, jauh berbeda dengan gaya menggebrak milik Arkan.
Dimas Mahendra berjalan masuk dengan senyuman lebar yang sangat memuakkan di wajahnya.
"Wah, Naura... tampaknya sore ini cuaca di ruanganmu sangat mendung ya," sapa Dimas dengan nada suara yang dibuat-buat seolah-olah dia sangat prihatin pada kondisiku. Dia langsung duduk di kursi depan mejaku tanpa menunggu kuizinkan. "Aku melihat kejadian di kantin tadi. Arkan benar-benar keterlaluan. Bagaimana bisa dia mempermalukan istrinya sendiri di depan umum hanya karena masalah laporan anggaran?"
Aku menahan diri agar tidak mendengus jengkel. Ular ini akhirnya keluar juga dari sarangnya setelah melihat umpan pertengkaran kami. Aku segera memasang wajah sedih bercampur marah, memainkan pulpen di tanganku dengan gelisah.
"Ya begitulah, Pak Dimas," balasku sambil menundukkan kepala, pura-pura menghapus air mata imajiner di sudut mataku. "Pak Arkan memang selalu mementingkan ego dan bisnisnya di atas segalanya. Pernikahan kami ini sepertinya tidak ada harganya sama sekali di mata dia."
Dimas condong ke depan, matanya berbinar-binar penuh kemenangan. "Itulah yang sejak dulu ingin kukatakan padamu, Naura. Arkan itu pria berhati batu yang kaku. Dia tidak tahu cara menghargai wanita hebat seperti kamu. Kalau aku jadi dia, aku tidak akan pernah membuatmu menangis seperti ini."
Tepat saat Dimas sedang asyik meluncurkan kalimat-kalimat manisnya yang beracun, kantong rok kerjaku mendadak bergetar tanpa henti. Ponselku seperti sedang mengalami kejang-kejang di dalam sana.
Aku buru-buru mengambilnya di bawah meja, sedikit menjauh dari pandangan Dimas. Begitu layar menyala, rentetan pesan singkat dari **"Pak Bos Galak"** langsung memenuhi layar seperti serangan teroris.
> *“Kenapa Dimas ada di dalam ruanganmu?!”*
> *“Kenapa dia duduk dekat sekali dengan mejamu? Suruh dia mundur tiga langkah sekarang juga!”*
> *“Naura! Jangan tersenyum pada pria itu! Aku bisa melihat dari CCTV lorong kalau bayangan kepalanya terlalu dekat dengan bayangan kepalamu!”*
> *“Kalau dalam waktu satu menit dia tidak keluar dari sana, aku sendiri yang akan turun ke lantai pemasaran untuk menyeretnya keluar!”*
Aku hampir saja menggigit bibirku kuat-kuat agar tidak tertawa lepas di depan Dimas. Pria kaku yang sedang duduk di lantai atas itu ternyata sedang memantauku lewat sistem keamanan kantor seperti seorang mata-mata posesif yang sedang cemburu buta.
Dengan gerakan cepat di bawah meja, aku mengetik balasan singkat.
> *“Harap tenang, Pak CEO yang terhormat. Ini semua bagian dari rencana kita, kan? Jangan merusak aktingku. Duduk manis saja di kursimu sambil minum air putih yang banyak supaya hatimu yang panas itu agak ademan.”*
>
Arkan langsung membalas dalam hitungan detik.
> *“Hatiku tidak akan bisa adem selama gigi kelinci Dimas itu masih terlihat tersenyum di depan wajah istriku. Tiga puluh detik dari sekarang, Naura. Atau aku benar-benar akan turun ke bawah.”*
Belum sempat aku membalas pesan terakhir dari Arkan, pintu ruanganku mendadak terbuka untuk yang kedua kalinya hari ini. Kali ini bukan dengan ketukan, melainkan dengan hempasan yang cukup keras hingga menimbulkan suara dentuman kecil.
Arkan Mahendra berdiri di ambang pintu dengan wajah yang luar biasa menyeramkan. Jasnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung sampai ke siku. Aura dingin yang keluar dari tubuhnya langsung membuat suhu di dalam ruanganku mendadak terasa seperti kutub utara.
Dimas langsung menoleh dengan wajah terkejut, lalu buru-buru berdiri dari kursinya. "Arkan? Sedang apa kamu di sini? Bukankah kamu harus menyelesaikan laporan pleno dengan Dewan Komisaris?"
Arkan melangkah masuk dengan langkah besar, mengabaikan pertanyaan Dimas sepenuhnya. Mata elangnya langsung mengunci pandanganku, membuatku harus memasang kembali wajah ketus andalanku demi menjaga totalitas sandiwara ini.
"Manajer Naura!" bentak Arkan dengan suara baritonnya yang menggelegar, membuat Dimas sampai agak tersentak mundur satu langkah. "Kenapa dokumen revisi anggaran yang saya minta dua jam lalu belum juga sampai ke meja saya?! Kenapa kamu malah sibuk mengobrol tidak penting dengan orang lain di jam kerja?!"
Aku langsung berdiri dari kursi, menatapnya dengan pandangan menantang yang tidak kalah tajam. "Saya sedang menjelaskan kendala lapangan pada Pak Dimas, Pak CEO! Kalau Anda tidak sabaran seperti anak kecil yang kekurangan mainan, silakan kerjakan saja sendiri laporan itu!"
"Kamu—" Arkan melangkah maju hingga tubuh besarnya berada tepat di samping kursi Dimas, memotong jalur pandangan antara aku dan sepupunya itu. Dia menatap Dimas dengan pandangan membunuh yang sangat nyata—yang aku tahu 100 persen adalah rasa cemburu aslinya yang menumpang pada momen akting ini. "Dimas, ini adalah urusan internal divisiku dengan Manajer Pemasaran. Kembali ke ruanganmu sekarang juga sebelum aku melaporkan tindakanmu yang mengganggu produktivitas karyawan ke bagian personalia!"
Dimas merapikan jasnya dengan senyum miring, mencoba tetap terlihat tenang meskipun dia agak gentar melihat kemarahan Arkan yang luar biasa besar. "Tenang saja, Arkan. Aku hanya tidak tega melihat rekan kerjamu tertekan akibat gaya kepemimpinanmu yang terlalu keras itu. Naura, aku permisi dulu ya. Kalau ada apa-apa, hubungi saja aku," ucap Dimas dengan nada manis yang sengaja dibuat untuk memanaskan situasi.
Begitu Dimas melangkah keluar dari ruangan dan menutup pintu, Arkan langsung membalikkan tubuhnya dengan cepat. Dia mengunci pintu ruanganku dari dalam, lalu berjalan cepat mendekati mejaku.
Seluruh ekspresi menyeramkannya tadi langsung hilang dalam sekejap, digantikan oleh gertakan gigi yang menahan gemas.
"Kenapa kamu membiarkan dia duduk di situ terlalu lama, Naura?" bisik Arkan dengan nada suara yang terdengar sangat kesal bercampur manja, kedua tangannya bertumpu di atas mejaku sambil mencondongkan tubuhnya ke arahku. "Aku hampir saja melempar komputer kerjaku dari lantai atas saat melihat dia mencoba merayumu tadi."
Aku tertawa kecil, melipat tangan di dada sambil menatap wajah tampannya dari jarak dekat. "Kan sudah kubilang, ini semua demi memancing mereka, Mas Arkan. Lihat tuh, Dimas sekarang pasti mengira kita benar-benar sudah mau bercerai. Rencana kita berjalan lancar, kan?"
Arkan berdehem kaku, memalingkan mukanya yang mulai merona merah samar karena aku memanggilnya dengan sebutan 'Mas'—sebuah kelemahan terbesarnya yang selalu berhasil meruntuhkan harga dirinya.
"Meskipun ini bagian dari rencana, aku tetap tidak suka ada pria lain yang menatap istriku dengan pandangan seperti itu," ketus Arkan, mencoba mempertahankan sisa-sisa gengsi besarnya. "Sebagai CEO, aku harus memastikan seluruh aset berhargaku tidak diganggu oleh pihak luar. Ini murni masalah keamanan aset perusahaan, Naura. Tidak ada hubungannya dengan perasaan cemburu yang kekanakan."
"Iya deh, terserah apa katamu saja, Pak Bos Posesif," ejekku sambil menjulurkan lidah, membuat Arkan hanya bisa mendengus gemas.
Tepat pada saat kami sedang menikmati momen kemesraan rahasia di balik pintu yang terkunci, pintu kerjaku mendadak digedor dengan sangat keras dari luar. Suara panik Rini kembali terdengar bersahut-sahutan dengan suara tangisan yang dibuat-buat.
"Bu Naura! Pak Arkan! Tolong buka pintunya, Bu! Ada masalah besar di bagian logistik!" pekik Rini dari luar.
Arkan langsung memasang kembali wajah tripleknya dalam sekejap mata. Dia membuka kunci pintu dengan gerakan cepat, lalu membuka pintu tersebut. Rini langsung menerobos masuk bersama Valerie yang sedang menangis tersedu-sedu sambil memegangi sebuah kotak kardus kecil yang sudah robek di bagian sampingnya.
Dimas pun tampak muncul dari balik lorong, ikut masuk ke dalam ruangan dengan ekspresi wajah yang pura-pura panik.
"Pak Arkan, Bu Naura... Maafkan saya, Bu!" tangis Valerie pecah dengan sangat dramatis, dia sampai berlutut di lantai ruanganku. "Saya... saya tadi salah memasukkan data pengiriman barang sampel digital untuk peluncuran proyek besok pagi. Kotak kardus yang berisi produk asli bermerek mahal itu... sepertinya tertukar dengan kotak kardus berisi sampah kertas dan tersasar dikirim ke gudang cabang di Bandung! Barang itu tidak akan bisa kembali sebelum besok sore!"
Dimas langsung mengambil alih pembicaraan, menatap Arkan dengan pandangan menuduh. "Arkan, ini adalah kesalahan fatal dari sistem logistik yang baru kamu ubah kemarin! Peluncuran proyek digital pemasaran besok pagi bisa gagal total karena barang sampelnya hilang! Kerugian perusahaan bisa mencapai miliaran rupiah!"
Aku melihat ke arah kotak kardus robek yang dibawa Valerie. Di dalam hati, aku dan Arkan sebenarnya sudah tahu kalau ini adalah sabotase yang direncanakan oleh mereka berdua sejak kemarin. Valerie sengaja menukar barang itu agar divisiku terlihat tidak kompeten dan Arkan bisa disalahkan oleh Dewan Komisaris.
Aku langsung memasang wajah syok yang sangat luar biasa, memegangi kepalaku seolah-olah duniaku baru saja runtuh. "Apa?! Bagaimana bisa tertukar?! Valerie, kamu ini bagaimana cara kerjanya?!" bentakku dengan akting yang tidak kalah dramatis dari tangisannya.
Dimas tersenyum tipis di balik wajah paniknya, mengira rencana mereka untuk menghancurkanku dan Arkan akhirnya berhasil dengan sempurna.
Namun, Arkan Mahendra hanya berdiri tegak dengan melipat kedua tangannya di dada. Wajah tampannya sama sekali tidak menunjukkan rasa panik sedikit pun. Dia melirik Hadi yang baru saja masuk ke ruangan membawa sebuah komputer jinjing.
"Hadi, silakan jelaskan pada Pak Dimas dan asisten logistik kita yang ceroboh ini tentang kondisi barang sampel kita yang sebenarnya," perintah Arkan dengan suara dingin yang sangat tenang, memancarkan aura kemenangan yang mutlak.
Hadi menyesuaikan letak kacamatanya, lalu membuka layar komputer jinjingnya di depan wajah Dimas dan Valerie. "Mohon maaf, Pak Dimas dan Mbak Valerie. Atas perintah rahasia dari Pak Arkan sejak kemarin malam, seluruh kotak kardus berisi produk asli yang berlokasi di gudang bawah sebenarnya sudah dipindahkan ke dalam ruangan brankas khusus di lantai eksekutif dengan pengawalan ketat."
Hadi menampilkan layar CCTV brankas yang memperlihatkan ratusan produk sampel kami dalam kondisi aman dan utuh.
"Kotak kardus yang Mbak Valerie tukar tadi siang dan dikirim ke Bandung itu... sebenarnya adalah kotak kardus khusus berisi tumpukan kertas koran bekas dan beberapa batu bata yang sengaja kami siapkan untuk menguji kejujuran sistem logistik baru," lanjut Hadi dengan senyum sopan yang sangat mematikan. "Jadi, tidak ada kerugian apa pun bagi perusahaan. Peluncuran proyek besok pagi akan tetap berjalan sesuai jadwal."
*HENING TOTAL.*
Wajah Valerie yang tadinya penuh air mata langsung membeku seketika, berubah menjadi pucat pasi seperti mayat. Di sampingnya, mulut Dimas terbuka lebar, matanya melotot menatap layar komputer Hadi dengan rasa syok yang luar biasa besar. Mereka berdua benar-benar tidak menyangka kalau seluruh rencana licik mereka sudah dibaca dan diputarbalikkan oleh Arkan sejak awal.
pokonya terus semangat author