NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Pembantu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:19.8k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

-Spin off 'NOVEL PURA-PURA JADI SUPIR'-

Sepuluh tahun mendekam di penjara mengubah Bianca Adytama dari nona muda angkuh menjadi wanita yang haus akan ketenangan. Membuang nama besarnya, ia pergi ke sebuah desa di Jawa Barat dan menyamar sebagai pelayan bernama Gita.
Di sebuah villa mewah milik seorang juragan perkebunan, Gita berharap bisa hidup tenang. Namun, kedatangan Arlan Dirgantara—putra sulung sang juragan yang baru bercerai—mengacaukan segalanya.
Arlan tidak buta. Ia tahu Gita bukan pelayan biasa. Gerak-geriknya terlalu elegan, bicaranya terlalu cerdas, dan sorot matanya menyimpan rahasia gelap. Dari rasa penasaran menjadi obsesi, Arlan mulai menjerat Gita dalam permainan cinta yang menegangkan.
Sanggupkah Bianca mempertahankan penyamarannya saat masa lalu yang ia kubur mulai tercium oleh pria yang terobsesi memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Pintu jati ganda itu tertutup dengan debuman berat, mengunci tiga orang di dalam ruangan yang mendadak terasa begitu sempit. Hawa dingin dari pendingin ruangan terpusat seolah membekukan udara di sekitar meja kerja Arlan. Doni melangkah tanpa suara, meletakkan map biru tua itu tepat di atas permukaan kaca meja jati sebelum mundur dua langkah, berdiri dengan posisi siap dan waspada.

Arlan tidak segera duduk. Ia berdiri bersedekap di balik meja kebesarannya, menatap map tersebut seolah benda mati itu adalah musuh yang harus ditaklukkan. Perlahan, jemari tangannya yang kekar bergerak membuka lembaran pertama. Matanya yang tajam memindai baris demi baris tulisan formal yang tercetak di sana.

NAMA: Gita Ivara

CATATAN KRIMINAL: Pasal Percobaan Pembunuhan Berencana (Pengadilan Negeri Surabaya, 2016)

MASA HUKUMAN: 10 Tahun (Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA)

STATUS SEKARANG: Bebas Bersyarat / Domisili Pengawasan di wilayah administratif Jawa Barat.

Setiap kata terasa seperti hantaman palu yang mendarat tepat di dada Arlan. Surabaya. Sepuluh tahun yang lalu. Lembaran itu juga memuat ringkasan singkat tentang sebuah pertikaian keluarga, di mana wanita bernama Gita ini dituduh mencelakai anggota keluarganya sendiri.

Arlan merasakan rahangnya mengetat, namun ada sesuatu yang bergeser di dalam hatinya. Kilasan ingatan tentang bagaimana Gita selalu menunduk dalam-dalam setiap kali mendengar suara keras, bagaimana caranya membersihkan lantai dengan punggung tegak namun mata yang menyimpan duka sedalam lautan, kini mulai masuk akal. Itu bukan tatapan seorang kriminal yang kejam. Itu adalah tatapan seseorang yang jiwanya telah remuk, seseorang yang sengaja mengurung diri dalam kesunyian untuk membayar sebuah kesalahan yang entah sepenuhnya benar atau tidak.

Melihat Arlan yang terpaku cukup lama menatap dokumen tersebut, Stella yang duduk di sofa kulit dengan kaki menyilang tersenyum simpul. Ia merasa berada di atas angin.

"Bagaimana, Arlan?" suara Stella memecah keheningan, mengalun manja namun sarat akan racun. "Aku tidak menyangka pengusaha sehebat dirimu, yang begitu mendewakan citra bersih dan perfeksionisme, ternyata menampung seorang mantan narapidana di lingkaran terdalammu. Di mana logikamu yang biasanya selalu diagung-agungkan itu?"

Arlan perlahan menutup map tersebut. Gerakannya begitu tenang, nyaris tanpa emosi, sebuah topeng kendali diri yang biasa ia gunakan di ruang sidang bursa efek. Ia mendongak, menatap Stella dengan sepasang mata elang yang dingin dan skeptis.

"Apakah salah jika seorang mantan narapidana ingin memiliki kehidupan yang lebih baik, Stella?" tanya Arlan, suaranya bariton, rendah, dan berwibawa. Tidak ada sedikit pun nada kepanikan atau keraguan di sana.

Stella tersentak kecil, tidak menduga reaksi mantan suaminya akan sedatar ini. Ia melepaskan tawa sinis yang melengking pendek.

"Oh, luar biasa! Arlan Dirgantara yang dulu memecat direktur keuangannya hanya karena selisih angka sekecil ujung kuku, sekarang mendadak berubah menjadi seorang dermawan yang bijak? Jangan bercanda! Wanita itu pernah mencoba membunuh orang, Arlan! Kamu membiarkan seorang pembunuh menyiapkan kopi untukmu setiap pagi!"

"Dia bekerja dengan sangat baik di sini," potong Arlan tajam, suaranya naik satu oktaf, menghentikan kalimat Stella seketika. "Dan selama aku yang memegang kendali di perusahaan ini, aturan di sini adalah aturanku. Masa lalu seseorang tidak ada hubungannya dengan kualitas pekerjaannya di depan mejaku."

Arlan melangkah maju, menumpukan kedua tangannya di atas meja, condong ke arah Stella dengan tekanan intimidasi yang nyata. "Sekarang, aku minta kamu pergi meninggalkan kantorku. Apapun yang kamu bawa hari ini, tidak akan mengubah apa-apa. Jika kamu atau... orang di belakangmu berpikir bisa menggunakan lembaran kertas kusam ini untuk mengancamku atau memeras Dirgantara Group, kalian baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam hidup kalian. Buang jauh-jauh pikiran picik itu, Stella."

Wajah Stella memucat mendengar ketegasan Arlan. Pria di depannya ini sama sekali tidak goyah.

"Dan satu hal lagi," tambah Arlan, matanya menyipit berbahaya. "Jangan karena sekarang ada Mahendra yang berdiri di belakangmu, kamu merasa memiliki sayap untuk terbang tinggi dan melampaui batas denganku. Kamu tahu persis apa yang bisa kulakukan pada Mahendra Korpora jika aku mau."

Doni, yang sejak tadi mengamati situasi, langsung bergerak maju tanpa perlu perintah kedua. Ia membukakan pintu ganda ruang kerja dengan gestur tubuh yang mengusir secara halus.

"Silakan, Nyonya Stella. Tuan Arlan harus bersiap untuk agenda berikutnya."

Stella bangkit dari sofa dengan sentakan kasar. Tas desainer di lengannya bergoyang seiring dengan dadanya yang naik turun menahan amarah yang membakar. Ia menatap Arlan dengan pandangan penuh kebencian yang mendalam, lalu melirik sekilas ke arah luar pintu lobi tempat Bianca mungkin masih berada.

"Ini tidak akan berakhir di sini, Arlan," bisik Stella dengan suara bergetar karena geram. "Kamu mungkin bisa melindunginya di dalam gedung mewah ini. Tapi kita lihat saja seberapa kuat perisaimu saat rahasia ini sampai ke telinga para pemegang saham asing di proyek besok."

Dengan langkah yang dihentakkan keras, Stella berjalan keluar, meninggalkan ruang kerja dengan sisa wangi parfumnya yang pekat dan atmosfer yang masih terasa tegang.

Begitu pintu tertutup rapat kembali, keheningan yang berbeda menjalar di dalam ruangan. Arlan tidak langsung memanggil Bianca masuk. Ia duduk perlahan di kursi kerjanya, menyandarkan punggungnya yang lelah, lalu kembali membuka map biru itu.

Jemari Arlan menyentuh foto kecil Gita Ivara yang terlampir di sudut kertas. Di foto itu, wajah Bianca tampak sangat kurus, dengan rambut yang diikat seadanya dan sepasang mata yang kehilangan seluruh binar kehidupannya. Kontras sekali dengan aura berkelas dan keanggunan alami yang ia lihat akhir-akhir ini.

Ada rasa bersalah yang mendadak merayap dan meremas ulu hati Arlan.

Selama ini, ia sering bersikap keras pada wanita itu. Kini, setelah mengetahui detail penderitaan sepuluh tahun yang harus dilewati wanita berusia tiga puluh tahun itu di balik jeruji besi, Arlan merasa dirinya sangat picik.

Gita tidak sedang berpura-pura. Wanita itu benar-benar sedang melarikan diri dari dunia yang telah menghancurkannya. Ia menjadi pelayan di desa terpencil di Jawa Barat semata-mata untuk mencari kedamaian, menebus sebuah dosa masa lalu dengan cara hidup mandiri tanpa bantuan siapa pun.

Obsesi Arlan yang awalnya dipicu oleh rasa penasaran dan cemburu posesif, kini bermutasi menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam dan berbahaya: keinginan mutlak untuk melindungi. Pria dingin yang skeptis terhadap cinta itu kini bersumpah di dalam hatinya, bahwa ia tidak akan membiarkan Stella, Mahendra, atau siapapun mengusik kedamaian yang sedang dibangun oleh wanita rapuh namun tegar itu.

**

Langkah kaki yang tergesa-gesa selalu membawa gema yang buruk di koridor Dirgantara Group. Baru saja pintu lift tertutup setelah Arlan mengusir Stella dari ruang kerjanya, sebuah ketegangan baru justru meletus di tempat yang paling tidak terduga: lobi utama lantai dasar.

Stella tidak sudi pulang begitu saja dengan tangan hampa. Rasa dongkol karena digertak Arlan di atas tadi membuat darahnya mendidih. Ketika lift membawanya turun ke lobi utama yang luas dan bising oleh lalu lalang karyawan serta tamu korporat, matanya menangkap siluet yang sangat ia kenali.

Di dekat meja resepsionis, Bianca sedang berdiri tenang. Wanita berusia tiga puluh tahun itu baru saja selesai menyerahkan beberapa dokumen titipan Doni kepada petugas ekspedisi. Dengan kemeja putih sederhana dan rok span hitam yang membungkus tubuh semampainya, ia tampak bersahaja. Namun, cara berdiri yang tegak, leher yang jenjang, serta gestur jemarinya saat memegang map sama sekali tidak mencerminkan seorang bawahan rendahan. Aura putri mahkota yang terdidik dalam kemewahan bertahun-tahun lalu tetap memancar, lumat di balik ketenangannya yang dewasa.

Melihat keanggunan yang alami itu, seringai penuh kedengkian kembali merayap di wajah Stella. Ia mempercepat langkah, memotong jalur berjalan Bianca dengan hentakan selop hak tingginya yang nyaring di atas lantai marmer.

"Berhenti di situ, Pelayan," suara Stella melengking, cukup keras untuk membuat beberapa karyawan yang sedang berjalan menuju pintu putar otomatis menoleh seketika.

Bianca menghentikan langkahnya. Jarak mereka hanya terpaut dua meter. Menghadapi konfrontasi yang tiba-tiba ini, tidak ada keraguan atau ketakutan di sepasang mata jernih Bianca. Wajahnya tetap teduh, sedewasa wanita yang telah kenyang menelan asam garam penderitaan di balik jeruji besi.

"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya Stella?" tanya Bianca, suaranya mengalun rendah, sangat tenang dan berkelas, kontras dengan intonasi Stella yang berapi-api.

"Jangan berlagak polos di depanku, Gita... atau siapa pun nama kampungmu itu," Stella mendengus hancur, menatap Bianca dengan pandangan jijik.

Tanpa memperdulikan peringatan keras yang diberikan Arlan di ruang kerjanya beberapa menit lalu, Stella merobek segel tas desainer miliknya. Dengan gerakan teatrikal yang sengaja memancing perhatian seluruh orang di lobi, ia menarik selembar kertas foto berukuran besar dari dalam map biru yang tersisa.

Plak!

Stella melemparkan foto itu tepat ke arah dada Bianca. Kertas itu meluncur, sempat menyentuh kemeja putih Bianca sebelum jatuh berhamburan di atas lantai marmer yang mengilat.

"Lihat ini, semuanya! Buka mata kalian lebar-lebar!" teriak Stella sambil menunjuk ke arah lantai, wajahnya memerah penuh kemenangan. "Lihat siapa wanita yang dipelihara oleh CEO kalian di lantai atas! Lihat siapa asisten pribadi baru yang selalu dibawa Arlan ke mana-mana!"

Beberapa karyawan yang berada di sekitar lobi—mulai dari staf administrasi, resepsionis, hingga petugas keamanan—perlahan mendekat karena dorongan rasa ingin tahu. Mata mereka tertuju pada kertas foto yang tergeletak di lantai.

Di atas kertas foto itu, terpampang jelas sosok seorang wanita dengan rambut yang dipangkas acak-acakan, wajah kusam tanpa riasan, dan yang paling mencolok: sepasang mata yang menatap kosong ke arah kamera sambil memegang papan nomor identifikasi di depan dada. Wanita di dalam foto itu mengenakan seragam katun kusam berwarna biru pudar dengan tulisan tebal di bagian punggung: LAPAS PEREMPUAN.

Meskipun wajah di foto itu tampak jauh lebih kurus dan tertekan, siapapun di lobi itu bisa mengenali bahwa wanita di dalam foto itu adalah Gita Ivara yang saat ini sedang berdiri di depan mereka.

Bisik-bisik miring langsung menjalar seperti api yang menyiram bensin di malam hari.

"Dia... mantan narapidana?" bisik seorang staf perempuan di balik jemarinya yang menutupi mulut.

"Kasus apa? Astaga, bagaimana bisa orang seperti itu lolos skrining HRD dan langsung bekerja di samping Pak Arlan?" sahut karyawan lain, tatapannya mendadak berubah menjadi penuh selidik dan curiga.

"Jangan-jangan dia menggunakan... cara lain untuk mendekati Pak Arlan? Mantan napi biasanya pintar memanipulasi," timpal suara lain dari sudut koridor lift.

Gunjingan dan tatapan menghina mulai menghujani Bianca dari segala penjuru. Namun, di tengah kepungan udara yang merendahkannya, Bianca tetap berdiri kokoh. Bahunya tidak merosot setongkat pun. Ia menunduk sebentar, menatap foto masa lalunya yang kelam di atas lantai. Ada denyut nyeri yang pas di dadanya—bukan karena malu, melainkan karena ia teringat kembali pada masa-masa di mana ia harus menebus dosa atas kebodohan masa mudanya yang arogan.

Ketenangan hatinya saat ini adalah hasil dari ketegaran sepuluh tahun yang sunyi. Ia tidak membalas makian Stella, tidak pula mencoba membela diri. Sifat mandiri dan dewasanya membuat ia menerima konsekuensi dari masa lalunya dengan lapang dada.

"Kenapa diam? Kamu malu, hah?" Stella melangkah maju, memperpendek jarak hingga aroma parfumnya yang menyengat mengepung Bianca. Ia sengaja menaikkan volume suaranya agar gaung skandal ini merusak kredibilitas Arlan di mata publik.

"Arlan Dirgantara yang terhormat sudah tertipu oleh pelayan busuk sepertimu! Dia membawa seorang kriminal, seorang wanita yang pernah mencoba membunuh orang, ke dalam jantung perusahaannya! Apa kamu berencana meracuni Arlan juga setelah kamu berhasil menguras hartanya, hah?!"

Sementara situasi di lantai dasar semakin tidak terkendali, di lantai tertinggi, pintu lift darurat mendadak terbuka dengan sentakan kasar. Meta, yang kebetulan turun untuk memeriksa berkas logistik di area lobi, langsung berlari kembali ke lantai atas dengan wajah pucat pasi.

Tanpa mengetuk pintu, Meta menerobos masuk ke dalam ruang kerja Arlan, napasnya memburu tidak beraturan.

"Tuan... Tuan Arlan!" panggil Meta dengan suara bergetar karena panik.

Arlan, yang saat itu sedang berdiri di depan jendela besar sambil memikirkan detail dokumen masa lalu Gita yang baru dibacanya, berbalik dengan kening berkerut dalam.

"Ada apa, Meta? Di mana sopan santunmu?"

"Nyonya Stella, Tuan... Beliau belum pulang," ucap Meta, jemarinya gemetar menunjuk ke arah lantai bawah. "Beliau menghadang Gita di lobi utama. Nyonya Stella membawa bukti foto masa lalu Gita saat mengenakan seragam penjara dan berteriak di depan seluruh karyawan. Sekarang... semua orang di bawah sedang mempermalukan dan menggunjingkan Gita sebagai kriminal."

Brak!

***

1
Mukeseh
hajar stella arlan 🤣🤣🤣 q suka list keributan besar pokoke 😂😂😂
Anisa Sudarwanto
lnkut thorr
Mundri Astuti
Kirana coba muncul sama Raditya yak
Verawati Naycyl
Stella kamu salah memilih lawan.....bisa bisa kamu sama Mahendra bakalan di bikin nangis darah
fatmawati (pipit)
stella kamu blm mengenal keluarga adytama, jari lentik seseorang bisa membuka tabir kebusukan mu dan keluarga mu dlm pencurian aset milik arlan
Mundri Astuti
lanjut thor 🙏
Mukeseh
stella belum ae siapa gita ivara 🤣🤣 apalagi kalau mahendra tau apa gak syok dia 🤭
Sri Murtini
Byanka tenang saja blm saatnya kau kembali ke Surabaya
ryuka
adduuhhh duuhh bianca gimana ini 🤭🤭🤭🤭🤭
Mukeseh
lagi thorr
fatmawati (pipit)
stella kau blm mengenal bianca secara seluruhnya, mungkin dia di penjara bukan karna kemauannya karna ada seseorang yg menjebak dia dan keluarga adytama hancur
mungkin juga karna musuh raditya
fatmawati (pipit): yg itu aku lupa🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
fatmawati (pipit)
kau blm mengenal biaca adytama (gita Ivana) kau ingin menjatuhkan bianca maka kau akan berhadapan dengan sisi lainnya bianca
ryuka
aduuhhh bianca kamu berhak bahagia 🫠🫠🫠🫠🫠
Mundri Astuti
Mahendra minta dikepret ma Kirana dan raditya
Mundri Astuti
jangan harap bisa nyentuh Bianca kaya si bunglon Stella Mahendra, krn da Raditya, Kirana dan Aditama ...
mudah"an Kirana cepet tau dan mintol Radit buat kasih bodyguard jaga Bianca dari jarak jauh
Mukeseh
huuuu 😂😂semoga atrlan bisa mrlindu gi
Verawati Naycyl
gak sabar nunggu kelanjutannya thor....bakalan di apain Bianca sama Arlan..
Verawati Naycyl
lanjut thor..
Mundri Astuti
diihhhh Arlan, Gita atau Bianca ga terus terang itu krn privasinya, emang selama ini dia ngerugiin kamu kaya mantanmu itu...ngga kan
Sri Murtini
Arlan...siapapun Gita kamu harus hati " bikin dia nyaman disisimu jgn sampai lepas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!