NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Pernahkah kamu salah memilih pasangan hingga berujung maut?

Shanaya tewas setelah dipaksa menelan racun. Suaminya, Alvian, dan sepupunya, Anastasia, merampas perusahaannya. Mereka berdua bahkan membunuh ibu Shanaya demi uang.

Mati ternyata bukan akhir bagi Shanaya. Dia terbangun tujuh tahun di masa lalu, tepat tiga hari sebelum acara tunangannya dengan Alvian.

Shanaya menolak mati konyol untuk kedua kalinya. Dia menyusun siasat untuk membalas dendam. Targetnya adalah menghancurkan Alvian dan Anastasia.

Untuk itu Shanaya butuh panggung besar. Dia mengincar Steven Aditya, bos media televisi. Dulu Steven ikut andil dalam kehancurannya. Kali ini, Shanaya akan memaksa pria itu tunduk dan bekerja sama.

Satu kejutan menanti Shanaya. Bukan cuma dia yang kembali ke masa lalu. Ada satu orang lagi yang juga hidup kembali dan mengulang waktu. Siapa orang ini? Apakah dia sekutu yang akan membantu Shanaya, atau musuh yang jauh lebih mematikan?

Baca cerita ini dan temani Shanaya menagih balasa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Sekutu

Shanaya menekan hapus pada satu folder besar di laptopnya. Rencana lama.

Ikon tempat sampah di sudut layar berkedip sesaat. Berkas berisi strategi panjang untuk memutus urat nadi Restu Group lenyap tidak bersisa. Rencana itu sudah kedaluwarsa. Alvian tidak lagi relevan sebagai pusat serangannya. Pria itu baru saja membuktikan diri sebagai pion, bukan raja.

Dinda berdiri di seberang meja kaca. Asisten itu memeluk tabletnya erat-erat. Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat jelas akibat kurang tidur. Jam dinding studio kerja Shanaya menunjuk pukul dua pagi. Di luar jendela, lampu-lampu gedung Jakarta masih menyala angkuh.

"Mbak Naya yakin?" Suara Dinda memecah kesunyian ruangan. "Kita mengumpulkan data kelemahan Restu Group selama sebulan terakhir. Semuanya dibuang begitu saja?"

"Kita tidak membuangnya, Din. Kita mengubah target bidikannya." Shanaya bersandar. Matanya tidak berkedip menatap layar monitor yang kini bersih. "Alvian sudah mengikatkan lehernya sendiri pada Anastasia. Menghancurkan Alvian sekarang sama saja membuang tenaga untuk membunuh pion. Kita harus langsung menusuk rajanya."

Dinda meletakkan tabletnya di atas meja. Layar itu menampilkan artikel berita terbaru. Foto Alvian tersenyum merangkul seorang perempuan berkebaya modern. Judul besar tertulis dengan tinta tebal. Penyelamat Restu Group: Pernikahan Bisnis Tahun Ini.

"Namanya Clara," ucap Dinda pelan. "Pewaris perusahaan logistik yang hampir kolaps dua tahun lalu. Perusahaan keluarganya mendadak mendapat suntikan dana dari investor tanpa nama. Sekarang kita tahu investor itu adalah Anastasia."

"Sepupuku memang cerdas." Sudut bibir Shanaya tertarik ke atas. Senyumnya tidak mencapai mata. "Dia memakai rekening atas nama Clara untuk menyuap direktur regional Maison de Blanc. Kalau dewan direksi Paris membocorkan skandal suap itu ke kepolisian, Clara yang akan ditarik ke penjara. Bukan Anastasia."

"Dan Alvian ikut menyelamatkan muka perusahaannya lewat pernikahan ini." Dinda memijat pelipisnya. "Mereka menutupi berita pembatalan kontrak Paris dengan pesta pertunangan mewah. Media sibuk membicarakan romansa mereka, bukan kegagalan Anastasia di kancah Eropa."

"Pertemuan kita dengan delegasi Paris di lantai lima puluh hotel Ritz tadi berakhir sempurna, Din." Shanaya menyilang kakinya. "Tuan Dubois membatalkan kontrak sepihak. Pintu pasar Eropa tertutup rapat untuk Anastasia. Itu kemenangan kita."

"Tapi kemenangan itu tidak terdengar di sini, Mbak." Dinda mengetuk layar tabletnya berulang kali. Kekecewaannya sangat terlihat. "Anastasia menyuap puluhan wartawan lokal malam ini. Mereka mengontrol narasi publik. Clara dipoles menjadi sosok perempuan sukses. Alvian dipuja sebagai CEO yang bangkit dari keterpurukan. Kita menang di Paris, tapi kita kalah panggung di rumah sendiri."

Shanaya terdiam. Kalimat Dinda benar. Opini publik adalah senjata paling mematikan. Anastasia tahu persis cara memutar fakta di depan kamera. Membongkar kebohongan mereka dengan sekadar menyebar bukti kertas tidak akan cukup. Dokumen bisa disangkal. Saksi bisa dibeli.

Dia butuh sebuah ledakan. Dia butuh saluran yang lebih besar dari semua media yang Anastasia beli malam ini.

Jemari Shanaya berhenti mengetuk sandaran kursi. Suhu di dalam ruangan terasa turun beberapa derajat.

"Kita harus merebut panggungnya," kata Shanaya datar. "Anastasia menguasai media hiburan murahan. Kita akan melawannya dengan saluran berita kelas satu."

Dinda mengerutkan kening. "Kanal Satu? Mbak Naya mau pakai media milik Pak Steven?"

"Bukan sekadar pakai." Shanaya meraih ponsel hitamnya dari atas meja. "Aku akan menariknya masuk ke arena."

"Pak Steven tidak bisa disetir, Mbak." Nada suara Dinda dipenuhi keraguan. "Dia bergerak murni untuk berita dan keuntungan stasiunnya sendiri. Tadi malam di Ritz, dia bahkan pergi begitu saja setelah delegasi Paris keluar dari ruang rapat. Pria itu terlalu berbahaya untuk dijadikan rekan kerja."

"Steven tidak pergi begitu saja." Shanaya menggeser layar ponselnya. Dia membuka ruang obrolan. "Dia memberiku ruang untuk menyelesaikan bagianku. Dia benci membuang waktu."

Mata Shanaya menatap rentetan pesan singkat yang pernah mereka tukar. Kalimat Steven selalu tajam, efisien, tanpa basa-basi. Pria itu menyadap aliran dana internasional dalam hitungan menit hanya untuk memberinya peringatan. Steven turun langsung ke lobi hotel Ritz malam ini karena dia benci melihat Alvian mengontrol wartawan di depan matanya.

Steven punya kebanggaan. Dia punya ego. Dan yang paling penting, pria itu memiliki kebencian yang sama terhadap manipulasi media yang kotor.

"Bos Kanal Satu itu memang tidak bisa dibeli dengan uang, Din." Shanaya meletakkan kembali ponselnya. "Tapi dia bisa dibeli dengan narasi yang sempurna. Anastasia baru saja menciptakan skandal terbesar tahun ini. Suap internasional, pencucian uang, penipuan publik. Itu adalah santapan lezat untuk produser media seperti Steven."

"Mbak Naya mau menyerahkan semua data investigasi kita padanya?"

"Tidak semua." Shanaya mulai mengetik di atas keyboard komputernya dengan gerakan lincah. Barisan kode dan data keuangan berpindah dari layar satu ke layar lainnya. "Aku hanya akan memberinya kerangka utamanya. Aku butuh jangkauan Kanal Satu. Steven butuh rating eksklusif. Ini transaksi bisnis."

Shanaya tahu dia sedang mengambil risiko besar. Di kehidupan sebelumnya, Steven Aditya adalah salah satu pihak yang menyorot tajam kejatuhannya. Pria itu tanpa ampun membedah skandal palsu yang menghancurkan nama Shanaya. Tapi di kehidupan ini, Steven berdiri di posisi yang berbeda. Pria itu melihat langsung bagaimana Shanaya melawan balik. Ada ketertarikan yang tidak pernah Steven akui secara verbal, tapi selalu muncul dalam bentuk campur tangan tak terduga.

Shanaya akan memanfaatkan itu.

Dia tidak butuh Steven sebagai pelindung. Dia butuh pria itu sebagai meriam.

"Siapkan ruang pertemuan di showroom utama Kesuma Group besok siang," perintah Shanaya tanpa menoleh dari layar. "Kosongkan jadwal. Pastikan tidak ada orang lain di sana selain staf inti kita."

"Baik, Mbak." Dinda mencatat instruksi itu dengan cepat. "Mbak Naya mau mengundang Pak Steven ke showroom? Bukan ke kantor pusat?"

"Kantor pusat terlalu formal. Banyak mata dewan direksi yang akan melihat." Shanaya menekan tombol kirim pada sebuah email terenkripsi. "Showroom adalah wilayahku. Di sana, aku yang menentukan aturan mainnya."

Dia mengambil ponselnya kembali dan mengetik satu pesan singkat ke nomor Steven.

Datang ke showroom utama Kesuma Group besok siang pukul dua. Kita perlu bicara. Tanpa wartawanmu. Datang sendiri.

Pesan itu berstatus terkirim. Tidak ada balasan dalam semenit pertama. Shanaya tidak peduli. Dia tahu Steven akan membacanya. Dia tahu pria itu akan datang. Orang yang membenci ketidakefisienan tidak akan menolak tawaran yang bisa menghancurkan saingan terbesarnya dalam satu malam.

Shanaya membuka folder baru. Di bagian atas: satu nama. Steven Aditya. Di bawahnya: bukan target. Tapi sekutu.

1
gina altira
Rasakannn
gina altira
Gila, ini duo monster
gina altira
Bikin emosi ni Anastasia
sukensri hardiati
dari shanaya pindah ke sabrina...trus ke shanaya lagi....makasiiih....
sukensri hardiati: Sami2 👍💪🙏
total 2 replies
sukensri hardiati
tambah rameee....
sukensri hardiati
waduuuuh....
sukensri hardiati
bodoh banget yg mau kerja sama ama anastasia....dah ketahuan dua kali jadi plagiator
gina altira
Konflik nya makin seruu, 👍
gina altira
Shanaya kuat
tutiana
luar biasa
sukensri hardiati
cepet up ya....pingin tahu cara steven keluar dr jeratan masalahnya
sukensri hardiati
ayah shanaya dah meninggal ya...
sukensri hardiati
lama juga tunangannya...tujuh tahun..
sukensri hardiati: 🙏💪👍 ok....dah klir
total 3 replies
gina altira
Steven perhatian juga
Titi Liana
suka
tutiana
sm seperti bab sebelumnya Thor ?
INeeTha: Makasih kak🙏🙏
total 4 replies
gina altira
greget bgt sama Alvian
INeeTha
Makasih buat semua yang sudah mampir, semoga suka dan baca sampai tamat lagi ya 🙏🙏🙏
tutiana
hadirr Thor
gina altira
Semangat terus Thor
INeeTha: makasih kaka🙏🙏🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!