Menjalin hubungan serius dan hari pernikahan pun telah ditetapkan, tentunya membuat gadis manapun akan berpikir bahwa pria itulah yang akan menjadi imam dalam rumah tangganya, tak terkecuali gadis cantik bernama Azira putri. Namun semua mimpi dan harapan indah itu hancur seketika, dengan kedatangan seseorang dari masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26.
Di saat Leon dan Reka tengah berdiskusi serius, di tempat yang berbeda, Lexi justru tengah menyiapkan selimut untuk digunakannya tidur di sofa malam ini. Ya, Zira terang-terangan menolak untuk tidur seranjang dengannya. Lexi tidak protes apalagi sampai marah, pria itu menuruti keinginan istrinya untuk tidak tidur seranjang.
"Sudah larut malam, sebaiknya beristirahatlah!." Kata Lexi dengan suara yang terdengar begitu lembut pada Zira.
"Hm." Gumam Zira yang kini tidur memunggungi sofa yang ditempati oleh Lexi.
"Hari ini kamu mungkin membenciku, tapi suatu hari nanti aku pasti akan membuatmu jatuh cinta kepadaku dan bahkan tidak sanggup jauh dariku, sayang." Batin Lexi sembari menatap punggung Zira. Kini Lexi mulai merebahkan tubuhnya di sofa. Sungguh, seumur hidup ini kali pertama Lexi tidur di sofa. Walaupun rasanya kurang nyaman terlebih sofa tak dapat menampung seluruh tinggi badannya, Lexi tetap rela melakukannya.
Zira yang tak kunjung dapat memejamkan mata lantas berbalik badan menghadap ke arah sofa, hingga ia dapat melihat wajah teduh Lexi di bawah cahaya temaram lampu tidur. Entah apa yang ada dipikirannya ketika menyaksikan wajah teduh Lexi saat terlelap, yang jelas cukup lama Zira menatap ke arah pria yang kini berstatus suaminya itu, hingga pada akhirnya Ikut tertidur.
Keesokan paginya. Lexi yang lebih dulu bangun, segera menuju kamar mandi karena pagi ini ia ingin menepati janjinya pada dokter Riki untuk berkonsultasi tentang kondisi ayah dari pria itu. Kurang lebih setengah jam kemudian, Lexi keluar dari kamar mandi dengan kondisi yang jauh lebih segar, rambutnya pun masih nampak basah.
Tidak dapat dipungkiri, tubuh Lexi memang sangat menawan dengan keberadaan roti sobek di sana, maka tak heran jika banyak kaum hawa yang mengagumi sosoknya. Zira yang melihatnya pun sempat terpesona, namun secepat kilat memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Rencananya hari ini Zira akan kembali bekerja setelah kemarin meminta izin. Ya, ia meminta izin sehari saja khusus untuk hari pernikahan dan itu hanya diketahui oleh Dirut rumah sakit. Sementara rekan sejawatnya, tak seorangpun yang tahu tentang pernikahannya, kecuali dokter Riki. Dokter yang sebulan lalu menangani kondisinya saat sedang dirawat di rumah sakit.
"Mandilah, jika hari ini ingin kembali bekerja!." Kata Lexi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, sebelum berlalu menuju walk-in closet.
"Hm." Zira turun dari tempat tidur, meraih handuk dan lanjut menuju kamar mandi.
Tak jauh berbeda dengan Lexi, hanya dengan waktu kurang lebih setengah jam Zira nampak keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bath towel untuk menutupi tubuh po-losnya. Di saat yang hampir bersamaan dengan Zira keluar dari kamar mandi, Lexi nampak keluar dari walk-in closet.
Cahaya yang menembus jendela kaca tepat mengenai tubuh Lexi hingga membuat aura pria itu terlihat nyaris sempurna. Jas putih kebanggaannya semakin menambah porsi ketampanan serta karisma dalam diri pria itu.
Deg
Lagi-lagi, Zira memalingkan wajahnya ke sembarang arah saat menyadari Lexi mengarahkan pandangan ke arahnya.
"Aku sudah selesai, masuklah!." Lexi mempersilahkan Zira gantian menggunakan walk-in closet.
Beberapa menit kemudian, Zira pun selesai bersiap, mengenakkan pakaian kerjanya dan tak lupa merias wajahnya dengan make-up tipis agar terlihat lebih fresh.
"Jika tidak ingin berangkat bersama, mas akan meminta sopir untuk mengantarmu." Lexi tidak ingin memaksa Zira untuk berangkat bersamanya jika memang tidak ingin.
"Baiklah. Aku diantar sama sopir saja." Balas Zira.
Lexi mengangguk tanpa protes, sebelum akhirnya berlalu meninggalkan kamar. Seharusnya Zira senang dengan sikap Lexi yang seperti sekarang ini. Tapi entah mengapa, bukannya merasa senang, hati Zira justru dongkol saat Lexi langsung mengiyakan begitu saja tanpa protes.
*
Mobil Lexi serta mobil yang mengantarkan Zira tiba di rumah sakit diwaktu yang hampir bersamaan. Kedatangan Lexi disambut langsung oleh Dirut rumah sakit yang didampingi oleh wakil Dirut, yakni seorang wanita cantik berusia di akhir dua puluh tahunan. Wanita cantik itu tetap tersenyum manis pada Lexi, sekalipun pria itu memasang wajah datar.
"Selamat pagi, tuan Lexiano Fernandez." Sapa pak Dirut.
"Pagi." Sebelum berlalu bersama Dirut RS, sekilas Lexi melirik pada istrinya yang baru saja turun dari mobil.
"Pagi... Dokter Zira." Sapaan dari seorang rekan sejawatnya berhasil mengalihkan perhatian Zira dari objeknya.
"Ganteng kan pemilik rumah sakit ini?." Rupanya rekan sejawatnya tersebut memperhatikan Zira saat menatap ke arah Lexi.
"Pemilik rumah sakit?." Cicit Zira seperti tak percaya.
"Benar. Tuan Lexiano Fernandez adalah pemilik rumah sakit ini dan beliau juga berprofesi sebagai dokter spesialis jantung." Untuk profesi lain Lexi sebagai seorang dokter spesialis, Zira sudah tahu dari obrolan suaminya itu bersama dokter Riki tempo hari, tetapi untuk status Lexi sebagai pemilik rumah sakit, Zira baru tahu tentang hal itu.
"Nggak heran sih, wakil Dirut sampai bela-belain datang sejak pukul setengah enam pagi tadi demi menyambut kedatangan dokter Lexiano, habisnya beliau sangat pantas untuk dinanti, sudahlah kaya raya, ganteng, berwibawa, berkarisma pula. Agh.... intinya kita nggak pantaslah bersaing dengan wakil Dirut untuk mendapatkan tuan Lexiano Fernandez." Rekannya tersebut terus berceloteh disamping Zira karena tak tahu menahu siapa Lexi bagi Zira.
"Setampan itu kah dia di mata para wanita diluar sana?." Batin Zira setelah pamit duluan pada rekannya itu.
Seperti janjinya pada dokter Riki, hari ini kedatangan Lexi khusus untuk melayani sesi konsultasi tentang penyakit yang diderita oleh ayahnya dokter Riki, bukan untuk hal-hal yang lain, termasuk untuk sekedar mengenalkan diri sebagai pemilik rumah sakit. Karena, Lexi tak punya waktu luang untuk itu. Setelah selesai agendanya bersama dokter Riki dan ayahnya, rencananya Lexi harus segera menuju ke perusahaan karena ada meeting penting bersama tamunya yang berasal dari negara paman Sam.
"Kalian tahu tidak, pagi ini pemilik rumah sakit datang berkunjung ke sini. Mana orangnya ganteng banget lagi...."
"Yang benar?."
"Tentu saja, memangnya sejak kapan aku bohong mengenai pria ganteng, hm."
"Jangan mimpi ketinggian, orang dari kalangan berada seperti tuan Lexiano Fernandez mana mungkin melirik pada dokter seperti kita yang hanya mencari nafkah di rumah sakit miliknya."
Baru saja tiba di ruangannya bertugas, Zira sudah disambut oleh obrolan para rekannya.
"Memangnya apa yang salah jika kita hanyalah dokter yang mencari nafkah di rumah sakit ini? Bukankah menikah tidak mesti dengan yang status sosialnya sama." Entah mengapa kalimat tersebut lolos begitu saja dari mulut Zira hingga langsung mendapat tanggapan dari rekan sejawatnya.
"Zaman sekarang sangat jarang orang kaya menikah tanpa melihat status sosial dari pasangannya, dokter Zira, terlebih jika pria yang telah memiliki kekayaan unlimited kayak tuan Lexiano Fernandez. Beliau pasti akan mencari pasangan yang sepadan dengannya, kecuali jika benar-benar cinta, karena sejatinya cinta tidak memandang logika."
kamu benci banget ma Lexi,tanpa kamu sadari suami mu banyak pengagumnya
dan aku begitu juga 😆😆😆
kesian dia karena ambisi gila orang tuanya yang ingin berbesan dengan orang tua mu
Mimi aja Lex 🤣