NovelToon NovelToon
Jurig Jarian

Jurig Jarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Roh Supernatural / Horor
Popularitas:342
Nilai: 5
Nama Author: Pena Lullaby

Di sebuah kampung tua di pinggiran Jawa Barat, muncul teror mengerikan dari sosok makhluk yang dipercaya sebagai Jurig Jarian — hantu penghuni tempat sampah yang lahir dari kebencian, keserakahan, dan sampah manusia yang menumpuk selama puluhan tahun. Siapa pun yang membuang sesuatu sembarangan pada malam tertentu akan mendengar suara garukan dari tong sampah… sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mimpi Buruk Yang Kembali

Di sebuah apartemen modern di pinggiran kota Hamburg, Bagas terbangun dari tidurnya dengan napas memburu dan keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhnya. Dia baru saja mengalami mimpi buruk yang luar biasa nyata.

Dalam mimpinya, dia melihat Arya berjalan di dalam hutan larangan Jarian, dituntun oleh sesosok bayangan hitam tinggi besar yang keluar dari akar pohon beringin yang patah. Dan sebelum dia terbangun, bayangan itu menorehkan cakar di dadanya rasa sakitnya bahkan masih terasa nyata hingga sekarang.

Bagas bangkit, berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Namun saat dia membuka beberapa kancing piyama tidurnya di depan cermin, langkahnya mendadak lumpuh karena ngeri.

Di atas dadanya, di bekas luka lama tempat ritual hitam Jarian dahulu pernah menggerogoti tubuhnya, kini muncul garis-garis hitam baru yang merayap menyerupai bentuk akar pohon tua yang perlahan mulai menjalar naik menuju lehernya.

Bagas berteriak histeris, suaranya pecah membelah kesunyian apartemennya di Hamburg. Di dalam cermin yang mulai berembun, garis-garis hitam di dadanya mendadak bergerak cepat seperti cacing yang menggeliat di bawah kulit.

Lalu, permukaan kaca cermin itu retak.

Dari balik retakan yang gelap, sesosok perempuan merembes keluar. Rambutnya yang panjang, kusut, dan basah menjuntai menutupi sebagian wajahnya yang hancur membusuk. Sinta. Hantu perempuan dari masa lalu Jarian itu menatap Bagas dengan mata yang menyala merah darah. Mulutnya terbuka lebar, mengeluarkan tawa melengking yang menyakitkan telinga, sementara tangan-tangan kurus dengan kuku hitam panjangnya menjulur siap mencekik leher Bagas.

"Bagas... kembaliiiii..."

"TIDAAAK!"

Bagas tersentak hebat. Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit kamar apartemennya. Jantungnya berdentum begitu keras di dalam dada hingga detaknya seolah terdengar di telinganya sendiri.

Dia langsung bangkit dan duduk di tepi tempat tidur, napasnya memburu seperti orang yang baru saja berlari maraton. Keringat dingin mengucur deras, membasahi seluruh kaus dan sprei tempat tidurnya hingga lembap.

Bagas menoleh ke kiri dan ke kanan dengan panik. Tidak ada hutan larangan. Tidak ada hawa mistis Jarian. Di luar jendela, lampu-lampu kota Hamburg masih berkedip tenang di balik kaca yang kokoh. Udara dingin yang berembus berasal dari heater ruangan.

Bagas menyembunyikan wajah di kedua telapak tangannya, mencoba meredakan ketakutan hebat yang menyerang tubuhnya.

"Cuma mimpi, itu cuma mimpi." bisiknya berulang kali, mencoba meyakinkan logikanya sendiri.

Namun, ketika dia menurunkan tangannya dan menatap dadanya yang naik-turun tak beraturan, rasa ngeri itu kembali menyergap. Meskipun itu hanya mimpi, rasa sakit dan hawa dingin yang ditinggalkan oleh cengkeraman Sinta di dalam tidurnya tadi terasa terlalu nyata untuk sekadar disebut bunga tidur. Sisa trauma Jarian ternyata belum benar-benar mati, monster itu kini menjelma menjadi teror yang siap memburunya hingga ke ujung dunia.

Bagas tidak lagi peduli dengan perbedaan waktu antara Hamburg dan Jakarta. Dengan tangan yang masih gemetar, dia menyambar ponselnya di atas meja kecil, membuka aplikasi panggilan video, dan langsung menekan nama Adrian.

Di Jakarta, ponsel Adrian yang tergeletak di samping tempat tidur bergetar nyaring, memecah keheningan malam setelah kejadian ganjil yang baru saja menimpa Arya. Adrian yang memang belum bisa kembali tidur langsung meraih ponsel tersebut. Begitu melihat nama Bagas di layar, firasat buruk seketika membayang dibenaknya.

"Gas? Kamu kenapa telepon jam segini?" Adrian menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponsel ke telinganya.

"Ian. Adrian. Aku baru aja mimpi, Ian. Mimpi yang rasanya nyata banget." Suara Bagas terdengar putus-putus, serak, dan dipenuhi kepanikan yang luar biasa. Di layar ponsel, Adrian bisa melihat wajah sahabatnya itu pucat pasi dengan keringat yang bercucuran.

"Mimpi apa, Gas? Tenang dulu, napas." Adrian langsung menegakkan posisi duduknya, melirik Dinda yang juga menatapnya dengan pandangan cemas.

"Aku mimpi Sinta, Ian! Dia keluar dari cermin di kamar mandi ku. Tapi bukan cuma itu. Di dalam mimpi itu, aku liat Arya, anak mu. Arya jalan di dalam hutan larangan Jarian, dia dituntun sama bayangan hitam gede banget dari pohon beringin yang patah. Dan pas aku bangun, bekas luka lama di dada ku rasanya sakit banget, Ian. Jarian kayaknya manggil kita lagi." Bagas setengah berteriak, mencoba menahan tangisnya.

Mendengar penuturan Bagas, Adrian mendadak membeku. Darahnya seolah turun ke kaki. Dia memandang Dinda, dan dari tatapan istrinya, dia tahu mereka memikirkan hal yang sama.

"Gas. Aku gak tahu ini kebetulan atau bukan. Tapi baru aja, sepertiga malam ini, Arya juga bangun. Dia berdiri di depan jendela, dan dia nembang pake bahasa Sunda kuno, Gas. Suaranya bukan suara anak kecil. Dan pas aku amanin, di telapak kakinya ada sisa tanah hitam. Tanah busuk yang persis kayak di Jarian." Adrian menarik napas dalam-dalam, mencoba menjaga suaranya agar tetap terdengar tegap meskipun jantungnya berdegup kencang.

Keheningan yang mencekam langsung melingkupi sambungan telepon internasional itu. Benua yang memisahkan mereka seolah runtuh seketika oleh teror yang sama.

"Jadi. Kutukan itu, belum benar-benar selesai?" Suara Bagas bergetar di ujung telepon.

"Aki Sukra pernah bilang dulu waktu kita pergi meninggalkan desa. Akar yang tertanam ratusan tahun gak akan bisa dicabut dalam satu malam. Kegelapan itu cuma tidur, Gas. Dan sekarang, dia bangun lagi dan dia mengincar anak ku" bisik Adrian, mengingat kembali pesan lama sang tetua desa.

1
Heriyansah
Terimkasih kak
Khodijah
bagus ceritanya semangat ya' Thor 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!