NovelToon NovelToon
Si Cantik Milik Ketos Sadis

Si Cantik Milik Ketos Sadis

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Ketos / Diam-Diam Cinta
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: Filanina

Yasmin adalah definisi dari kepolosan yang berbahaya. Kecantikannya yang luar biasa justru menjadi magnet bagi perundungan di sekolah. Dia tidak butuh pahlawan berkuda putih; dia hanya butuh cara untuk bertahan hidup.

​Lalu hadirlah Vyan. Ketua OSIS sempurna dengan senyum ramah yang mematikan.

​Bagi Vyan, membalas dendam tidak perlu menggunakan otot. Dia tidak memukul, dia tidak berteriak. Dia hanya berbisik, menyusun skenario, dan menghancurkan reputasi musuhnya hingga mereka memohon ampun di bawah kakinya. Dia genius, dia bermuka dua, dan dia... sadis.

​Vyan telah memagari Yasmin dengan otoritasnya. Siapa pun yang berani menyentuh Yasmin, harus siap menghadapi "pelajaran" dari sang Ketua OSIS yang tidak mengenal kata maaf.

​Namun, di tengah perlindungan gelap itu, muncul Ray—sang atlet populer yang menawarkan kehangatan tulus, dan Dean—masa lalu yang kembali dengan sejuta rahasia.

​Apakah Vyan benar-benar mencintainya, atau Yasmin hanyalah pion dalam skenarionya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Filanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Cerita Masa Lalu yang Menghimpit

Pertemuan di kelas itu menjadi saksi kembalinya gairah yang sempat padam. Di saat ruang OSIS masih sibuk dengan rapat evaluasi mereka, Zia—dengan bantuan Sandra dan kawan-kawannya yang tak disangka-sangka bisa diandalkan dalam urusan mobilisasi massa—berhasil mengumpulkan para anggota Keputrian yang tersisa.

​Meski ruangan terasa lebih lega dari biasanya, Zia melihat antusiasme yang masih menyala di mata anggota kelas sepuluh dan sebelas yang hadir. Total ada 12 orang—angka yang tergolong kecil dibandingkan masa kejayaan mereka dulu, di mana satu per satu anggotanya mengundurkan diri karena ketiadaan kegiatan yang jelas. Selama Zia pergi, ke-12 orang ini hanyalah status tanpa aktivitas.

​Tak lama setelah rapat OSIS bubar, Dila dan Fifi segera menyelinap masuk ke kelas. Wajah mereka tampak lelah namun lega bisa bergabung. Dila, yang memegang tongkat estafet sebagai Ketua Keputrian selama Zia di Cirebon, langsung menghampiri Zia dengan tatapan penuh rasa bersalah.

​"Zia, maaf banget. Gue sama Fifi benar-benar nggak sempat mengurus Keputrian. Program kerja OSIS menumpuk, belum lagi jadwal belajar buat ujian nanti," ucap Dila tulus.

​Zia mengangguk paham, matanya menyapu seisi ruangan. "Sekarang bagaimana? Apa semuanya mau kembali menghidupkan Keputrian?" tanya Zia, suaranya terdengar mantap dan penuh wibawa.

​"Gue sih pasti mendukung penuh, Zia!" sahut Dila cepat. "Gue jujur ingin Keputrian kembali berjaya seperti dulu, tapi... gue rasa elu yang lebih capable memimpin kita lagi. Gue benar-benar minta maaf kalau kepemimpinan gue nggak jalan."

​"Gue rasa juga begitu, Zi," Fifi menimpali. "Waktu lo pergi, Keputrian itu seperti kehilangan nyawanya."

​Zia terdiam sejenak, ada beban yang kembali hinggap di bahunya. "Tapi, kalau nanti gue pergi lagi, bakal sama saja dong? Kenapa Keputrian hanya tergantung ke gue?"

​"Nggak juga, Zia. Kali ini beda. Lo bisa mentransfer semangat lo ke adik-adik kelas ini secara langsung. Gue yakin dengan sistem yang lo buat nanti, kita bisa beregenerasi dengan lebih baik," Dila berusaha meyakinkan.

​Zia menatap satu per satu wajah anggota yang hadir. Ada harapan besar yang digantungkan padanya. Setelah apa yang terjadi dengan Vyan di kantin tadi, Zia merasa membutuhkan sesuatu untuk diperjuangkan—sebuah tempat di mana ia kembali memegang kendali.

​"Oke," ucap Zia akhirnya, sebuah senyum tipis mulai terukir di bibirnya. "Gue nggak bisa menolak lagi. Asal... semua yang di sini punya semangat yang sama besarnya dengan gue."

​Seketika, sorak gembira pecah di dalam kelas. Ke-12 orang itu, termasuk Dila dan Fifi, tampak kembali bersemangat. Di tengah riuhnya dukungan itu, Zia menyadari bahwa menghidupkan kembali organisasi ini adalah caranya untuk membuktikan bahwa ia tetaplah Zia yang dulu—seorang pemimpin yang tidak akan mudah dihancurkan oleh kenangan pahit masa lalu.

...****************...

Langkah kaki mereka bergema di lorong sepi menuju bagian belakang sekolah. Udara siang itu terasa lebih gerah dari biasanya, menambah rasa tidak nyaman yang merayap di antara Zia dan Vyan. Sebenarnya, berada hanya berdua seperti ini adalah hal terakhir yang mereka inginkan, namun Agil yang mendadak sibuk dengan tugas susulan membuat mereka tidak punya tameng untuk mencairkan suasana.

​"Lu jahat, Vyan. Masa sebagian barang Keputrian disimpan di gudang sih?" cetus Zia, mencoba memecah keheningan dengan nada protes.

​Vyan mendengus pelan, matanya menatap lurus ke depan. "Gue sudah meramalkan bagaimana nasib Keputrian pada akhirnya. Tapi nyatanya lo balik ke sini. Ramalan gue jadi meleset."

​"Sampai nggak seorang pun anggota Keputrian yang bisa protes," sindir Zia lagi.

​"Yah, nggak mungkin kan ruang OSIS dipenuhi barang-barang Keputrian yang sudah berdebu?" jawab Vyan dingin.

​Langkah mereka akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan yang tampak kusam. Gudang belakang sekolah. Seketika, atmosfer di sekitar mereka berubah. Dinding-dinding tua itu seolah memantulkan gema percakapan delapan bulan lalu—percakapan yang menjadi awal dari segala retakan di antara mereka.

Di tempat ini, delapan bulan lalu, Vyan berdiri dengan wajah berseri-seri, membawa sebuah kejutan yang sudah ia siapkan.

​"Gue mau ngomong sesuatu, Vyan," ucap Zia kala itu.

​Vyan tersenyum lebar. "Gue juga punya kejutan buat lo."

​"Oh ya? Apa?"

​"Lu dulu deh yang bilang."

​Zia menatap Vyan dalam-dalam. "Gue mau pergi... Ke Cirebon. Sekolah di sana. Besok."

​Dunia Vyan seolah runtuh seketika. "Kenapa mendadak?"

​"Iya. Soalnya Mama datang tiga hari yang lalu dan nyuruh gue pulang."

​Tiba-tiba Vyan memegang tangan Zia dengan sangat erat. Matanya menatap tajam, sarat akan keputusasaan. "Jangan pergi!"

​Zia tampak bingung dan sedikit risih. "Apa? Ya nggak mungkinlah. Gue harus pergi. Emang sih gue juga sedih kita berpisah. Persahabatan kita nggak mungkin gue lupain."

​"Zia, apa menurut lo kita hanya sekadar sahabat? Nggak lebih dari itu?" suara Vyan meninggi. "Dari sikap gue selama ini, apa perasaan gue gak pernah nyampe?"

​Zia mulai salah tingkah. "Maksud? perasaan apa?"

​"Lo jangan pura-pura bego! Gue ke lo tuh bukan sekadar kagum, suka, ataupun care, tapi cinta. Gue cinta dan sayang sama elo, Zia..." Vyan mengakui perasaannya dengan wajah yang bersemu merah meski tatapannya marah. Ia segera memalingkan muka.

​Zia terdiam, lalu tiba-tiba tertawa. Tawa itu refleks karena ia merasa situasi ini sangat absurd. Namun, tawa itu justru memicu ledakan di hati Vyan. Ia melepaskan tangan Zia dengan kasar.

"Maaf, bukan gue nertawain perasaan lo tapi emang gue kirain kita cuma sahabatan. Gue seneng banget kita bisa kenal dan sahabatan."

​"Lu murahan..." desis Vyan tajam.

​Zia tersentak. Matanya membelalak, rasa kagetnya berubah menjadi amarah. "Apa?"

​"Lu biarin gue flirting padahal lu pikir kita cuma sahabat? Padahal gue nggak pernah pegang tangan cewek dengan cara seperti itu. Cuma elo! Cuma lo yang gue lihat sebagai cewek di dunia ini!"

​Zia membalas tatapan Vyan tak kalah tajam. "Apaan sih? Kita nggak pernah ngapa-ngapain selain pegangan tangan! Lo lebay sampai bilang gue murahan!"

​"Lebay?!" Vyan mendesis, merasa kehormatan perasaannya diinjak-injak.

​"Iya! Kita sering pergi bareng, belajar bareng, ketawa bareng sama Agil juga. Buat gue itu pertemanan yang seru. Lu flirting gue pikir bercanda! Kalau lo pegang tangan gue buat nuntun atau apa, gue pikir juga itu biasa!"

​"Nggak ada yang biasa buat gue, Zia," suara Vyan merendah, terdengar sangat terluka.

​Zia gemetar, amarahnya sedikit menyurut digantikan rasa gelisah. "Vyan... sebenernya gue udah punya pacar... Dia di Cirebon sekarang. Kita masih berhubungan sekalipun jarak jauh."

​Vyan menatap Zia dengan pandangan antara percaya dan tidak. "Lu ngebohongin gue, kan? Kalau iya, kenapa nggak cerita?"

​"Buat apa gue cerita? Lu juga nggak pernah nanya. Vyan, sorry. Pokoknya maafin gue. Gue tahu banyak cewek yang mimpiin elu jadi pacarnya, tapi lu bukan tipe gue. Kalau gue jadi pacar lu, gue pasti selalu takut..."

​Vyan masih terpaku. Zia tampak khawatir melihat reaksi itu. "Maksud gue lu... lu terlalu perfect. Itu aja. Gue yakin lu pasti nemu cewek yang lebih baik dari gue."

​"Nggak perlu pakai acara menghibur gue," potong Vyan dingin. "Kalau lu mau pergi, get lost!"

​Saat itu juga, Vyan meninggalkan Zia yang masih dalam keadaan shock.

​Kembali ke masa kini, Vyan membuka pintu gudang dengan kunci yang ia pinjam dari penjaga sekolah. Zia menatap punggung itu, menyadari betapa ironisnya takdir. Dulu ia menolak Vyan karena merasa Vyan terlalu sempurna dan menganggap sentuhan pria itu "biasa".

​Namun, selama delapan bulan di Cirebon, justru bayang-bayang Vyan yang menemaninya belajar, membantu ambisinya membuat eskul keputrian, dan sentuhan-sentuhan "biasa" itu, tiba-tiba menjadi standar yang tidak bisa dicapai oleh pacarnya sendiri, hingga akhirnya hatinya benar-benar tertambat pada pria yang kini justru membencinya.

​"Vyan, maafin gue..." ucap Zia tiba-tiba. Vyan menoleh, melihat Zia yang sedang menunduk.

​"Kenapa?" tanyanya datar.

​"Waktu itu... gue bikin lu marah..."

​Vyan mengabaikan kalimat itu, seolah permohonan maaf Zia adalah barang usang yang tidak laku. Ia hanya membuka pintu lebar-lebar.

​"Nah, udah kebuka. Masuk aja."

​'Dia cuekin omongan gue. Apa dia masih marah? atau dia sudah benar-benar mati rasa?' batin Zia saat melangkah masuk ke dalam kegelapan gudang yang berdebu.

1
Mega Siregar
jangan sok nangis deh😗
-Thiea-
tuh lihat, yang kalian bully selama ini sebaik itu loh. tega banget kalian semua. 🤬
-Thiea-
coba aja kamu tegas dari kemarin-kemarin. gak akan ada pembulyan di dalam kelas.😑
-Thiea-
ya gimana ya. orang ada yang ngawasin dari belakang. mana berani berkutik mereka.😁
Rain Aricia
Mau ngapain lagi lu Vyan
Rain Aricia
Ah masa sih🤣
Rain Aricia
Aduh Vyan, jangan2 mau jadi posesif lagi
Rain Aricia
Awas jadi rival sama Vyan wkwkw
Rain Aricia
Ga salah sih😭😭
Aquarius97 🕊️
aseeekkk ... gitu kek gar dari kemarin
Aquarius97 🕊️
aihhh mantap banget vyan
Cimol krispy
di sini korban sesungguhnya ya Yasmin. dia cuma di jadikan alat oleh Vyan untuk membalas sakit hatinya ke Zia. whatever kalau memang Vyan beneran suka ke Yasmin, yang jelas sekarang aku kesal sama Vyan. tingkah lakunya antagonis, tapi nyatanya dia protagonis nya, huhuhuhu
Filan: Dia adalah masalah bagi dirinya sendiri ☺
total 1 replies
Cimol krispy
kalian berharap apa, Yasmin dan Zia jambak²an kah🤭
Cimol krispy
Pinter banget emang di Vyan ini memanfaatkan keadaan
Cimol krispy
Mulai playing victim
☠️⃝ MULIANA ѕ⍣⃝✰
yasmin kamu memang bodoh. tapi, kali ini aku akui kamu benar-benar sangat amat bodoh /Proud/
☠️⃝ MULIANA ѕ⍣⃝✰
gak suka sama vyan /Sob/ kasihan yasmin
Miu.Nuha
yaa sesadis itu ternyata Vyan...
kalau gk ad yg nyadarin bisa keblalasan tuh...
Filan: kita siksa aja ya di akhir si Vyan biar dapat balasan setimpal gitu 🤣
total 1 replies
Miu.Nuha
lah, tiba2 menang /Sweat/
gk ada angin gk ada ujan, masuk sekolah pun enggak... aneh betul...
Filan: Iya...
total 3 replies
Miu.Nuha
nangis dulu deh Ray, move on belakangan 😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!