"Menikahlah dengannya, atau kamu pergi dari rumah ini tanpa membawa apa pun!"
Tepat dua hari sebelum pernikahan adiknya, Aira dipaksa menikah dengan pria kusam dari ujung desa demi membuang sial. Dewa, pria yang hanya bermodalkan motor tua dan pakaian lusuh, menjadi suaminya dalam semalam.
Aira sudah bersiap hidup melarat. Namun, saat ia mulai tulus mencintai sang suami di tengah kemiskinan, sebuah iring-iringan mobil mewah datang menjemput.
Siapa sangka, pria yang dihina keluarganya sebagai fakir itu ternyata pemegang tahta tertinggi di kota ini. Saat topeng terbuka, mampukah Aira bertahan di dunia suaminya yang penuh intrik, atau justru ia yang akan berbalik meninggalkan kemewahan itu?
Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Sultan Desa.
By - Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Malam semakin larut, namun kecemasan yang sekilas lewat di mata Dewa tidak luput dari perhatian Aira. Meskipun Dewa berusaha kembali tersenyum dan menyuapinya potongan bakwan jagung terakhir, ada sesuatu yang tertahan di balik rahang tegas suaminya itu.
Aira memilih menyimpan pertanyaannya. Ia tahu kapan harus menuntut penjelasan dan kapan harus memberikan ruang bagi pria yang kini memikul beban sebagai kepala dua keluarga sekaligus. Pradipta Group dan rumah tangga kecil mereka.
Setelah menghabiskan nasi uduk di balkon, Dewa mengecup kening Aira lebih lama dari biasanya. "Kamu tidur duluan ya, Sayang? Aku harus memeriksa beberapa berkas yang dikirim Hans tadi. Katanya ada dokumen audit kuartal pertama yang butuh persetujuan darurat."
Aira menatap mata suaminya, mencari kebohongan di sana. "Mas jangan tidur terlalu larut. Ingat, besok hari Minggu. Katanya Mas mau mengajak Arka berjemur pagi."
"Iya, istriku yang cantik. Aku tidak akan lupa," jawab Dewa sambil mencubit pelan hidung Aira, mencoba mencairkan ketegangan yang ia buat sendiri.
Begitu Aira melangkah masuk ke dalam kamar dan merebahkan diri di ranjang luas mereka, Dewa kembali mengeluarkan ponselnya. Ia berjalan menjauh ke ujung balkon, memastikan suaranya tidak akan terdengar ke dalam.
Ia menekan tombol panggil pada kontak bernama 'Hans'.
"Hans," bisik Dewa, suaranya mendadak berubah dingin dan tajam, kembali menjadi sosok CEO Pradipta Group yang disegani. "Siapa yang ada di dalam mobil hitam itu?"
Di seberang telepon, suara Hans terdengar tenang namun penuh kehati-hatian. "Saya sudah memeriksa rekaman CCTV gerbang depan, Tuan Muda. Mobil itu terdaftar atas nama sebuah perusahaan konsultan finansial di Singapura. Namun, yang mengejutkan adalah orang yang duduk di kursi belakang."
Dewa mengepalkan tangannya di birai balkon. "Siapa?"
"Tuan Arvin, suami dari Non Siska. Beliau baru saja mendarat dari perjalanan luar negerinya malam ini, tetapi alih-alih pulang ke rumahnya atau menemui istrinya, mobilnya justru berhenti di depan gerbang kediaman Pradipta selama sepuluh menit sebelum pergi lagi."
Dewa terdiam sejenak. Rahangnya mengeras. Arvin? Mengapa pria itu mengintai rumahnya di tengah malam? Apakah ini ada hubungannya dengan kondisi finansial keluarga Surya yang sempat hancur, atau ada agenda lain yang melibatkan Siska?
"Pantau terus, Hans. Jangan sampai Siska atau terutama Aira tahu tentang hal ini. Aira baru saja pulih dan Arka masih terlalu kecil untuk menghadapi riak baru," perintah Dewa tegas.
"Baik, Tuan Muda. Saya laksanakan."
Dewa mematikan sambungan telepon. Ia menarik napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa ketegangan bisnis sebelum melangkah masuk ke dalam kamar. Di bawah temaram lampu tidur, ia melihat Aira sudah terlelap dengan posisi miring, memeluk guling pelan.
Dewa tersenyum tipis. Ia merebahkan diri di samping istrinya, memeluk pinggang Aira dari belakang, dan berbisik lirih, "Aku akan melindungi kebahagiaan ini, Ai. Apa pun taruhannya."
Keesokan paginya, sekitar pukul enam lewat tiga puluh menit, kamar utama Pradipta sudah kehilangan ketenangannya. Bukan karena tangisan Arka, melainkan karena suara ketukan pintu yang bertubi-tubi dengan ritme yang sangat dikenal.
Tok! Tok! Tok!
"Dewa! Aira! Jagoan Oma sudah bangun belum? Ini mataharinya sudah bagus sekali untuk berjemur!" seru Nyonya Widya dari balik pintu.
Dewa yang baru saja membuka mata menggeram pelan dalam bantalnya. "Mama... ini baru jam setengah tujuh pagi," gumamnya dengan suara khas bangun tidur.
Aira yang sudah terbangun sejak tadi karena gerakan aktif Arka di dalam ranjang bayi hanya bisa terkekeh. Ia bangkit, mengenakan daster panjangnya, lalu membuka pintu kamar.
Di depan pintu, Nyonya Widya sudah berdiri dengan pakaian olahraga lengkap bermerek desainer terkenal, kacamata hitam bertengger di kepalanya, dan handuk kecil di leher.
"Lho, Ma? Rapi sekali? Mau ke CFD (Car Free Day)?" tanya Aira heran.
"Bukan ke CFD, Aira. Mama mau membawa Arka berjemur di taman bawah. Sini, biar Oma yang gendong jagoannya," ucap Nyonya Widya sambil langsung menerobos masuk dan mengangkat Arka yang sedang mengedipkan matanya lucu.
Dewa bangkit dari ranjang dengan rambut acak-acakan, hanya mengenakan kaus oblong putih dan celana pendek hitam. "Ma, kemarin kan kesepakatannya Dewa yang mau mengajak Arka berjemur hari Minggu. Dewa kan jarang punya waktu luang di hari kerja."
Nyonya Widya membalikkan badan sambil mendekap Arka protektif. "Kamu itu kalau menggendong Arka terlalu kaku, Dewa. Kemarin saja popoknya miring. Nanti kalau Arka masuk angin bagaimana? Sudah, biar Mama saja. Kamu mandi sana, bau acak-acakan begitu mana cocok jadi Papa Siaga."
"Ma, ini namanya gaya casual seorang Papa," protes Dewa tidak mau kalah. Ia mencoba meraih Arka, namun Nyonya Widya dengan gesit berputar menghindar.
"Aira, lihat suamimu! Masih pagi sudah mau merebut cucu Mama!" adu Nyonya Widya pada menantunya.
Aira yang menyaksikan perdebatan ibu dan anak itu hanya bisa memijat pelipisnya menahan tawa. "Mas Dewa, mengalah saja dengan Mama. Lebih baik Mas bantu Aira siapkan minyak telon dan baju ganti Arka di bawah."
Dewa menghela napas pasrah, menatap punggung ibunya yang berjalan menjauh dengan penuh kemenangan sambil menggendong Arka.
"Lama-lama aku merasa statusku di rumah ini turun dari CEO menjadi asisten pribadi bayinya Arka," gerutu Dewa yang langsung disambut tawa renyah dari Aira.
Setelah ritual berjemur yang penuh drama kepemilikan oleh Nyonya Widya selesai, keluarga kecil itu berkumpul di meja makan.
Nyonya Widya duduk sambil memangku Arka yang sudah wangi, sementara di atas meja sudah tersaji menu sarapan super mewah, sereal organik impor, buah-buahan beri segar, susu almon, dan roti gandum panggang.
Dewa turun dengan pakaian yang sudah rapi, duduk di kursinya, lalu menatap makanan di depannya dengan dahi berkerut.
"Ma, ini makanan apa? Kenapa bentuknya seperti makanan burung?" tanya Dewa polos sambil menunjuk mangkuk sereal organik.
Nyonya Widya melotot. "Dewa! Ini sereal premium dari Swiss! Bagus untuk kesehatan jantung dan pencernaan. Kamu itu sudah jadi CEO, seleramu jangan seleranya kuli terus!"
Dewa mendengus kecil. "CEO juga punya lidah Indonesia, Ma. Perutku tidak bisa menerima makanan estetik begini kalau pagi-pagi."
Tiba-tiba, dari arah dapur, aroma gurih yang sangat menggugah selera menyeruak. Bau bawang merah goreng, terasi sedikit, dan telur dadar merajai ruangan. Aira keluar sambil membawa sepinggan besar nasi goreng kampung berwarna cokelat pekat lengkap dengan kerupuk kaleng.
"Nah! Ini baru makanan manusia!" seru Dewa dengan mata berbinar-binar. Ia langsung menggeser mangkuk serealnya ke samping dan menarik piring nasi goreng buatan Aira.
Nyonya Widya menggeleng-gelengkan kepala. "Aira, kamu ini jangan terlalu memanjakan lidah Dewa dengan makanan berminyak begitu." Namun, sedetik kemudian, hidung Nyonya Widya kembang kempis menghirup aroma nasi goreng tersebut. "Tapi... baunya memang enak sekali ya?"
Aira tersenyum manis, ia menyendokkan sepiring kecil untuk ibu mertuanya. "Ini nasinya tidak pakai banyak minyak kok, Ma. Cabainya juga sedikit supaya tidak pedas. Mama mau coba?"
Nyonya Widya berdeham, mencoba menjaga wibawanya sebagai nyonya besar Pradipta. "Ehem... baiklah, demi menghargai usaha menantuku, Mama coba sedikit saja."
Begitu suapan pertama masuk ke mulut Nyonya Widya, keanggunannya mendadak luntur. "Wah... Aira, ini pakai bumbu apa? Kok rasanya jauh lebih enak daripada nasi goreng di hotel bintang lima yang biasa Mama datangi?"
"Resep rahasia dari gang sempit dulu, Ma," sahut Dewa bangga sambil mengunyah lahap. "Makanya Dewa dulu tidak mau lepas dari Aira, salah satunya karena sihir dapurnya ini."
Aira tersenyum malu, hatinya menghangat melihat betapa ibu mertuanya yang dulu sangat menentang kehadirannya kini bisa duduk bersama, menikmati makanan sederhana dengan lahap di satu meja yang sama.
Kebahagiaan ini terasa begitu lengkap.
...----------------...
**To Be Continue** ....
yg di paksa menikah karena adik ny sisia mau menikah duluan. dan melangjahi kakak ny oamali.
tapi sekarang kok siska yg jd kakak.
aneh ny..
di buang klrga, sendiri, tak di skui klrga susmi
dan detik berikut q di bua deg"n oleh othor, apa kebahagiaan mereka akan hancur dengan kedatangan masa lalu Dewa