NovelToon NovelToon
Terikat Dengan Cinta Atau Takdir

Terikat Dengan Cinta Atau Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:926
Nilai: 5
Nama Author: Ulfa Zahra

Ardian dan kebahagiaan nya.
Kembali berkumpul dengan putrinya serta menikah dengan wanita yang merubah dirinya menjadi pria dengan pribadi yang baik, membuatnya sangat bahagia walaupun cerita masalalu yang sedikit demi sedikit terbuka.
Jidan dan kisah cintanya.
Tidak sama seperti tuannya yang memilih berlabuh ke hati lain dan berdamai dengan masalalu nya. Jidan malah terjebak dengan perasaan nya yang belum benar-benar mencintai wanita lain. Seakan takdir berputar-putar ditempat nya, membuat Jidan selalu terjebak dengan perasaan sendiri, walaupun ada hati lain yang menariknya untuk beralih.
Bagaimana kisah selanjutnya? Simak yuk, biar nggak penasaran bagaimana kisah mereka selanjutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfa Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Langit malam yang tadi terang kini perlahan-lahan tertutup awan hitam. Angin yang tadi berhembus pelan kini berubah menjadi lebih kencang.

"Sepertinya kita sudahi obrolan kita sampai disini, mengingat waktu sudah malam dan akan turun hujan."

"Ah iya kak, tidak berasa ya obrolan kita berjalan sampai satu jam." Ucap Yaya tersenyum kecil. Rasa rindunya sedikit terobati dengan pertemuan mereka yang kedua kalinya karena mereka lebih banyak berbincang malam ini.

"Sampai berjumpa nanti. Semoga ada waktu untuk bertemu lagi, Yaya."

"Iya kak." Jawab Yaya membalas senyuman itu.

Baru saja kaki keduanya berpijak ke atas aspal tiba-tiba saja hujan turun dengan deras nya membuat mereka cepat-cepat mundur ke belakang dan kembali berteduh di tenda Mang Asep.

"Ya hujan." ucap keduanya bersamaan menatap ke arah jalan yang kini telah basah oleh air. Disana tidak hanya ada Yaya dan Jidan yang berteduh melainkan ada beberapa orang lainnya. Beruntung tenda mamang asep muat menampung beberapa orang di sana.

"Ais mana lobet lagi." Keluh Yaya membuat jidan menoleh ke arahnya.

"Kenapa?"

"Ponselnya lobet kak, mana belum pesan taksi lagi." jawab Yaya yang terlihat gelisah."Boleh tidak aku pinjam ponselnya Kak Jabir buat pesan taksi?"

"Boleh. Sebentar." Jidan memeriksa kantong celananya tapi ternyata ponselnya tidak ada. Dan dia baru mengingat ponselnya sengaja ditaruh di dalam mobil tadi."Maaf Yaya, ponselku ketinggalan didalam mobil. Kamu tunggu sebentar biar aku ambilkan."

"Jangan kak, nanti malah merepotkan lagi. Apalagi mobilnya kak Jabir berada di seberang, nanti kak Jabir malah basah." ucap Yaya merasa tidak enak jika harus merepotkan pria itu.

"Nggak apa-apa, dekat aja koh. Kamu tunggu disini." Jidan berlari kecil menerobos hujan mendekati mobilnya. Setelah mengambil ponselnya pria itu berlari mengambil payung yang berada di bagasi.

"Sepertinya aku tidak bisa membantumu Yaya karena ponselku juga Lobet." ucap Jidan memperlihatkan ponselnya yang mati. Ia juga lupa mencharger ponselnya tadi lantaran terlalu sibuk hingga akhirnya Lobet tanpa menyisakan satu bateraipun."Begini saja. Bagaimana kalau aku mengantarmu."

"Tidak usah kak, nanti malah merepotkan. Nanti aku tunggu hujan reda barulah aku pulang. Kak Jabir duluan saja." Tolak Yaya cepat karena tidak ingin membuat pria itu kerepotan karena mengantar dirinya.

"Kayak sama siapa saja Yaya. Nggak merepotkan sama sekali. Ayo aku antar pulang." ucap Jidan menyakinkan."Pakai lah payung itu."

"Lalu kak Jabir?"

"Tidak perlu. Aku juga sudah setengah basah." Jawab Jidan memperlihatkan pakaian nya yang sedikit basah."Kamu aja yang pakai."

Yaya menggeleng kecil tanda kalau dia tidak setuju."Kalau kak Jabir tidak memakai payung maka aku juga tidak. Kita bisa memakai nya bersama kak." lanjut Yaya."Ayolah kak. Kalau tidak aku tidak akan menerima tawaranmu."

"Baiklah baiklah. Kita pakai bersama." Jidan membuka payung itu. Dia mengangkat payung itu lebih tinggi sedikit."Mendekatlah. Kita tidak bisa berjalan dengan posisi yang berjauhan bukan?"

Yaya menatap Jidan dengan ragu. Apalagi dia harus berdiri di sebelah pria itu dengan jarak yang dekat."Kenapa malah diam? Ayo."

"Iya kak," dengan ragu Yaya melangkah mendekati pria itu hingga akhirnya mereka berdiri berdampingan.

Suara jantung keduanya terdengar cepat saat tangan itu tidak sengaja bersentuhan. Andaikan saja tidak ada suara hujan mungkin keduanya bisa mendengar suara jantung masing-masing.

***

Sesampainya Yaya di apartemennya, gadis itu mulai mencari tempat duduk. Debaran jantungnya masih terasa jika mengingat momen mereka berdua tadi. Bagaimana pria itu bercerita hingga perhatian yang diperlihatkan membuat Yaya sangat senang tapi satu sisi juga dia merasa bersalah dengan Enzo. Ia merasa mengkhianati pria itu karena bercerita dengan mantan kekasihnya. Bukan hanya mantan kekasih melainkan pria yang dia cintai.

"Aku tidak menghianati Enzo. Aku hanya bercerita dan tidak lebih dari itu." ucap Yaya menepis rasa bersalahnya itu, karena dia tidak sengaja bertemu dan mereka hanya bercerita saja. Walaupun tidak mencintai Enzo tapi untuk berniat menghinanti, Yaya tidak berpikir sampai ke sana. Karena menurutnya Enzo laki-laki yang baik yang tidak pantas disakiti oleh perempuan. Yaya kadang merasa tidak pantas jika disandingkan dengan Pria itu, tapi sang mami selalu menekannya. Karena itulah dia tidak bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan.

"Sebaiknya aku istirahat daripada aku terus mengingat kak Jabir. Ingat dia hanya membantumu pulang bukan berarti dia mencintaimu lagi." Lanjut Yaya mengingatkan dirinya lagi agar dia sadar kalau Jidan tidak mencintainya lagi.

Rasa gelisah yang Yaya rasakan ternyata dirasakan oleh Jidan juga. Pria itu berusaha menutupi perasaannya tapi lagi-lagi takdir mempertemukan mereka dengan cara tidak sengaja dan ya seperti kembali di permainkan. Cuaca malam ini sangat mendukung pertemuan mereka sehingga mereka pulang bersama. Dia masih mengingat bagaimana gadis itu tersenyum. Mengingat itu membuat debaran jantung Jidan bekerja jauh lebih cepat.

Jidan melangkah keluar dari balkon menatap langit malam yang gelap tertutup oleh awan hitam, hawa dingin menyapa membuat Jidan memeluk dirinya sendiri. Sampai dia melihat sebuah rembulan yang disembunyikan oleh awan-awan hitam walaupun begitu rembulan itu masih terlihat sangat indah.

"Rembulan ku yang cahaya mulai memudar tertutup Awan. Bolehkah aku berbicara walaupun aku tak melihat cahaya mu seperti kemarin. Bolehkah aku bercerita mengenai rasa yang tersimpan rapat dalam kotak yang tak memiliki kunci. Terjatuh dalam lautan dan terombang-ambing terbawa ombak yang membawanya tenggelam hingga tak terlihat.

Rasa itu nyata tapi sangat susah di gapai seperti aku menyelam dalam lautan yang tak berujung, sangat dalam hingga aku sangat sulit menggapai mu dengan tangan ku.

Pada dasarnya kita berbeda dan tidak akan bisa menyatu seperti doa ku. Semakin aku berusaha, semakin sakit terhantam oleh kenyataan kalau benteng kita terlalu tinggi untuk di satukan. Aku mencintaimu mengagumimu dari jarak yang semestinya walaupun aku tau rasa itu akan membawa ku tenggelam dalam rasa yang tak pasti." Gumam Jidan sadar sangat sadar kalau dia masih mencintai Yaya hanya saja perbedaan keyakinan dan kasta membuat Jidan tidak bisa mengutarakan rasa itu.

Walaupun dia pura-pura tidak mencintai Yaya tapi jujur dia tersiksa dengan perasaannya itu.

Bersambung….

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!