NovelToon NovelToon
Kontrak Nikah Boss Dody : Demi Nafas Nonik

Kontrak Nikah Boss Dody : Demi Nafas Nonik

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Mafia
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Alya Senja

Demi nafas Nonik, Santi OB miskin rela jual harga diri.
Demi warisan triliunan Opa Darwis, Dody CEO dingin butuh istri kontrak.

Satu tanda tangan di UGD, satu cap jempol Nonik yg sekarat.
Kontrak nikah 250 juta resmi dibuat.

Dia istri di atas kertas. Dia suami yg membeku.
Di antara mereka ada Nonik, bocah 5 tahun yang nyawanya jadi taruhan.

Bisakah hati sedingin es Dody luluh oleh tangis Santi?
Sementara Wati sang HRD dan Wandy sang tunangan siap menikam dari belakang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alya Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ADAKAH YANG MENOLONGKU

Ita segera menghampiri sosok itu pelan-pelan. Langkahnya pelan, nyaris tanpa suara, seolah takut membangunkan sesuatu yang lebih buruk dari diam. Jantungnya berdebar tak beraturan di balik dada.

Dia mengulurkan tangan, ragu-ragu, lalu menyentuh bahu sosok itu Hangat. Tapi tepat saat jemarinya menyentuh kain itu, sosok itu bergerak.Dia menyentuh sosok itu. Sosok itu bergerak.

Ita tersentak kaget dan buru-buru beringsut mundur. Lututnya hampir lemas. Nafasnya tercekat.

Sosok itu perlahan menegakkan tubuh, berbalik menghadap Ita. Cahaya redup dari ujung lorong membuat bayangan jatuh tepat di wajahnya. Ita menahan nafas ketika melihat sosok itu ditutupi kain panjang yang menjuntai menutupi seluruh mukanya, hanya menyisakan bentuk tubuh yang familier.

“Mas Bas.”

Kata Ita pelan, suaranya pecah, setengah berharap, setengah takut salah.

Tiba-tiba, dua orang dengan wajah seram yang sedari tadi mengintai dari belakang langsung membalikkan badan dan pergi begitu saja melihat Ita mendekat. Langkah mereka cepat, terburu-buru, menaiki tangga tua menuju atas bangunan tanpa menoleh sekali pun.

Kini hanya tinggal Ita dan sosok itu.

Hening.

Lalu dengan gerakan lambat yang membuat bulu kuduk Ita berdiri, sosok itu mengangkat kedua tangannya dan menarik kain panjang yang menutupi wajahnya. Kain itu jatuh.

Dan:

“Baaa!!!”

Suara itu meledak, keras dan mengejutkan.

Pak Sukma menyeringai lebar, matanya menyipit puas melihat wajah Ita yang pucat pasi.

Ita mundur tiga langkah sekaligus, hampir terjatuh. Dadanya naik turun. Dia merasa seperti melihat hantu yang baru bangkit dari kubur. Wajah pak Sukma basah keringat, matanya merah, senyumnya miring dan tidak manusiawi.

“Pak Sukma!”

Jerit Ita histeris.

Suaranya memantul di dinding lorong yang kosong, kembali padanya sebagai gema yang menakutkan. Rasa dingin merayap dari ujung kaki hingga ke kepala. Dia merasa dirinya terjebak, seperti tikus masuk perangkap.

“Hei, cantik.”

Suara pak Sukma rendah, serak dan penuh ejekan.

Belum sempat Ita berbalik lari, pak Sukma bergerak cepat dan menyambar pergelangan tangannya. Cengkramannya kuat, kasar, membuat kulit Ita memerah.

Ita meronta, berusaha melepaskan pegangan itu. Kuku-kukunya mencakar udara, tapi pak Sukma tak bergeming.

“Lepasin! Sakit!”

“Duh kau tambah cantik deh.”

Pak Sukma terkekeh pelan, matanya menyapu wajah Ita dari atas ke bawah seolah sedang menilai barang dagangan.

Seringainya benar-benar menakutkan bagi Ita. Seluruh tubuhnya menjadi dingin, seperti tiba-tiba dilempar ke tengah es kutub.

“Mana mas Bas, pak?”

Tanya Ita cepat, suaranya bergetar.

Dia terus menarik tangannya, berharap ada celah untuk lepas. Nama mas Bas adalah satu-satunya harapan yang tersisa.

“Mas Bas?”

Pak Sukma mengulang, pura-pura bingung. Kepalanya mendongak ke kiri, menatap langit-langit yang gelap seolah mas Bas ada di sana.

“Dia sibuk ngantor!”

Jawabnya Santai, tapi ada nada kemenangan yang tak bisa disembunyikan.

Ita menelan ludah. Lorong itu tiba-tiba terasa semakin sempit, semakin gelap. Dan tidak ada siapa-siapa yang bisa menolongnya.

Pak Sukma melangkah. Satu. Dua. Jarak diantara mereka menipis seperti benang yang hendak putus.

“Pak … bapak mau apa!!!”

Suara Ita pecah.

Dia melangkah mundur. Punggungnya menempel dinding.

“Sini lho deket sama bapak.”

Nada pak Sukma rendah, merayu sekaligus memaksa.

Tangannya terulur, bayangannya memanjang di lantai bangunan.

“Ja … jangan mendekat!”

Nafas Ita tercekat. Jantungnya berpacu liar, menampar rusuknya sendiri. Dia tak pernah menyangka, kata “aman” bisa runtuh hanya dalam waktu ini.

“Ais … udahlah! Tak usah mikirin Bas!”

Pak Sukma mendengus, matanya menggelap.

Tangannya menyambar, ingin mencuri jarak yang belum pernah diberi.

Refleks Ita lebih cepat dari takut. Giginya menutup rapat di punggung tangan itu.

“Akh!”

Jerit kesakitan menggema, memantul di dinding kosong. Cengkramannya mengendur sesaat. Kesempatan itu tak disia-siakan Ita. Tumit high heels 5 cm di kakinya melesat, menghantam tubuh pak Sukma dengan keras.

Dia terjengkang.

Ita bangkit. Kaki gemetar, tapi tekadnya lebih keras. Baru dua Langkah, lengan bajunya tertarik kuat. Kainnya bersuara robek, seperti harapan yang koyak di tengah malam.

Dengan sekuat tenaga yang tersisa, Ita meronta. Dia meninggalkan sobekan baju di tangan pak Sukma, lalu berlari.

Sepatu high heels itu malah jadi beban. Dia hampir tersungkur. Geram, Ita melempar salah satu sepatunya tepat kearah pak Sukma.

“Duk!”

Benda kecil itu menghantam dahinya. Pak Sukma mengaduh, tangannya menutup wajah. Mukanya merah padam, bukan karena malu, tapi karena amarah yang tertahan.

Ita tak menoleh lagi. Pintu itu satu-satunya harapan.

Ita melesat menaiki tangga, langkahnya panik dan tidak beraturan. Di belakangnya, pak Sukma mengejar seperti bayangan yang tak mau lepas.

“He, cegah dia!”

Perintah itu meluncur tajam dari mulut pak Sukma.

Dua orang berbadan besar yang sedari tadi bersandar di dinding langsung tegak. Mereka baru saja mengisap alat isap. Tapi sebelum sempat bergerak, Ita sudah melesat melewati mereka.

Ita berhasil keluar ruangan itu. Kakinya perih, pergelangan kakinya terasa mau patah. Tapi rasa sakit itu kalah oleh satu hal, takut. Dia berlari secepat yang dia bisa, nafasnya tersengal, dadanya sesak.

Pak Sukma dan dua orang itu berhenti di persimpangan lorong. Ada tiga jalan di depan mereka

Pak Sukma mengangkat dagu, memberi isyarat.

“Kalian ke depan. Aku ke belakang. Jangan sampai dia lolos.”

Ita bersembunyi di bangunan lama , tepatnya di lorong bangunan. Dia ketakutan ketika seekor tikus kecil melewati kakinya. Dia menggigit bibirnya sendiri, menahan mulut rapat-rapat. Tak boleh ada suara. Satu suara saja, semuanya selesai.

Lalu terdengar suara langkah berat. Lambat. Memuakkan.

“Cantik … kemana kau?”

Suara pak Sukma bergema di lorong, serak dan penuh kemenangan semu.

Ita menahan nafas. Dia berjalan mundur perlahan, masuk semakin dalam ke kegelapan. Suara itu perlahan menghilang, ditelan sunyi.

Mungkin mereka sudah pergi, batinnya. Dia mencoba kembali. Langkahnya hati-hati menuju pintu keluar.

Tapi baru saja dia mau keluar, suara itu kembali, lebih dekat.

“Cantik, kau disana rupanya.”

Darah Ita mendidih. Tanpa pikir panjang dia berlari lagi. Dia tidak mau jatuh ke tangan pak Sukma. Laki-laki tua yang sudah lupa diri. Nafas Ita makin berat. Dia merasa akan pingsan. Tapi tekadnya lebih kuat dari lelah yang dirasa diseluruh tubuhnya.

Pak Sukma terus mengejar. Dibelakangnya pak Sukma dua orang itu juga ikut mengejar.

Sampai akhirnya …

Bruk!

Ita menubruk dada bidang seseorang. Bau parfum maskulin yang familiar langsung menusuk hidungnya

Dia mendongak

Pak Dody.

Matanya tajam seperti elang, tapi dinginnya kali ini membawa rasa aman.

Tanpa kata, tangan Ita memeluk lengan pak Dody erat-erat. Tubuhnya gemetar.

Pak Dody … tolong Ita, pak!”

Suaranya pecah. Akhirnya, ada tempat untuk bersandar.

Dody menyisihkan tubuh Ita ke samping dengan hati-hati. Matanya tajam menatap Ita, menelusuri setiap sudut wajahnya yang pucat. Ita membalas tatapan itu. Anehnya, dia tidak takut. Di dalam dadanya ada sesuatu yang bergejolak. Campuran lega, malu dan rasa senang yang tak bisa dia jelaskan.

“Apa yang terjadi?”

Suara Dody rendah, tapi penuh tuntutan. Dia heran melihat Ita ada di tempat ini, bukan di ruang HRD tempatnya seharusnya bekerja.

“Ini jam kerja!”

Kata itu keluar tegas, seperti tamparan kecil yang menyadarkan.

Ita tidak menjawab. Dia hanya menunduk, rambutnya menutupi wajah.

Tiba-tiba, suara itu kembali memecah sunyi.

“Cantik, dimana kau?”

Pak Sukma muncul bersama dua orang muka seram.

Tapi langkah pak Sukma terhenti begitu melihat Dody berdiri di sana. Wajahnya berubah.

“Pak Dody!”

Serunya kaget.

Dia tidak menyangka akan bertemu dengan Dody yang selama ini dianggap sudah menghilang begitu saja.

Dody sendiri sedang kebingungan. Dia baru saja dari rumah sakit untuk mencari ketenangan, sekaligus mencari cara mengumpulkan biaya hutang operasi Nonik. Ibunya Rani juga masih butuh pengobatan. Kepalanya penat, pikirannya kusut.

“Pak Sukma!

Seru Dody dingin, matanya menyipit melihat penampilan pak Sukma yang berantakan.

Kemejanya penuh debu, dasinya miring tak karuan,  rambutnya acak-acakan. Itu bukan penampilan seorang direktur yang seharusnya berwibawa.

Ita yang sedari tadi terdiam, tiba-tiba memeluk lengan Dody erat-erat. Seolah itu satu-satunya tiang yang bisa menahannya agar tidak roboh.

“Pak Dody … tolong pak! Pak Sukma mau berbuat tidak baik pada Ita!”

Suaranya bergetar, pelukannya semakin erat.

Dody memandang Ita yang gemetar di sampingnya. Kali ini dia tidak mendorong. Dia membiarkan Ita memeluk lengannya

“PAK SUKMA, APA YANG BAPAK PERBUAT!!!”

Teriakan Dody yang membuat telinga pak Sukma panas.

Amarahnya meledak. Dia tidak menyangka , pak Sukma berani bertindak sejauh ini.

*

*

*

Pak Sukma tidak menjawab, dia hanya mengangguk pelan pada dua orang dibelakangnya. Matanya dingin.

“Bereskan,dia … sekarang.”

Bersambung

1
gendiz
semangat ya
Alya Senja: Terima kasih kak sudah mampir
total 1 replies
MayAyunda
keren
Alya Senja: Makasih kak sudah mampir 🙏
total 1 replies
Alya Senja
ya terima kasih mau mampir kak. Kita langsung ya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!