NovelToon NovelToon
Flight To Your Heart

Flight To Your Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Prabu, seorang pria yang dulunya penuh ambisi, kini tenggelam dalam depresi berat yang merenggut gairah hidupnya. Melihat kondisi sang putra yang kian memprihatinkan, ayahnya yang merupakan seorang pilot senior, merasa hanya ada satu orang yang mampu menarik Prabu keluar dari kegelapan: Xena.
Xena bukan sekadar wanita dari masa lalu yang pernah mengejar-ngejar Prabu saat SMA, ia kini adalah seorang dokter spesialis jiwa yang handal. Sang ayah yakin bahwa kombinasi antara keahlian medis dan ketulusan hati Xena adalah kunci kesembuhan Prabu.
Meski dipenuhi penolakan dan sikap dingin yang membeku, Prabu akhirnya menyerah pada desakan orang tuanya. Ia menyetujui pernikahan tersebut dengan satu syarat mutlak di kepalanya: pernikahan ini tak lebih dari sekadar sesi pengobatan.
Xena pun melangkah masuk ke dalam hidup Prabu, bukan lagi sebagai gadis remaja yang naif, melainkan sebagai penyembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Malam semakin larut, namun kesunyian di rumah kecil milik Xena terasa lebih mencekam daripada kegelapan di luar.

Di dalam ruang tamu yang hanya diterangi sedikit cahaya dari lampu jalan yang menerobos jendela, Xena berdiri mematung.

Rasa nyeri di wajahnya bukan lagi sekadar denyut, melainkan rasa sakit yang menjalar hingga ke seluruh saraf kepalanya. Namun, yang lebih mematikan adalah rasa sesak di dadanya. Oksigen seolah menghilang dari ruangan itu.

Ia mencoba melangkah menuju dapur untuk mengambil air, namun pandangannya mendadak kabur.

Seluruh tenaganya terkuras habis oleh pengkhianatan dan kekerasan yang ia alami hari ini.

"Sakit, perih sekali, Pra..." gumamnya lirih.

Lututnya lemas, dunianya berputar hebat hingga akhirnya kegelapan merenggut kesadarannya.

Tubuh ramping itu jatuh tergeletak di lantai ruang tamu yang dingin, sendirian, tanpa ada satu pun anggota keluarga yang bisa menolongnya.

Di kediaman besar, suasana masih sangat kacau. Namun, Ayah Prabu tidak mau membuang waktu lebih lama lagi.

Setelah kebenaran tentang Tryas terungkap, hanya satu nama yang ada di pikirannya: Xena.

"Ayah tidak bisa tenang sebelum memastikan dia baik-baik saja," ucap Ayah sambil menyambar kunci mobil di atas meja dengan tangan gemetar.

"Ayah harus meminta maaf padanya atas nama keluarga kita."

"Aku ikut, Yah," potong Prabu cepat. Suaranya serak, matanya bengkak.

Ada gurat ketakutan yang luar biasa di wajahnya. Ketakutan akan kehilangan Xena selamanya.

Ayah Prabu menatap putranya dengan tajam, namun akhirnya mengangguk.

Mereka segera menuju mobil. Kali ini, Prabu yang duduk di kursi kemudi.

Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan kota, seolah sedang berlomba dengan maut.

Pikirannya terus terngiang pada luka di wajah Xena yang tadi sempat ia lihat sekilas di balik masker.

Beberapa menit kemudian, Prabu menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah kecil yang tampak sangat sepi.

"Kenapa lampunya gelap sekali?" gumam Ayah Prabu dengan perasaan waswas yang semakin menjadi.

Mereka berdua turun dari mobil dan bergegas menuju pintu depan.

Ayah Prabu mencoba mengetuk pintu berulang kali, namun tidak ada jawaban. Suasana di rumah itu benar-benar mati.

"Xen! Xena! Ini Ayah, Nak!" teriak Ayah Prabu.

Karena tidak ada respon, Ayah Prabu mengambil ponsel dari sakunya dan menghidupkan fitur senter.

Ia mengarahkan cahaya itu ke arah jendela kaca di samping pintu.

Cahaya senter itu menyapu ruangan yang gelap, hingga akhirnya berhenti pada satu titik di atas lantai kayu.

"Astaghfirullah, Xena!!" pekik Ayah Prabu histeris hingga ponselnya nyaris terjatuh.

Prabu langsung merangsek maju dan ikut mengintip dari balik jendela.

Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat istrinya—wanita yang selama ini ia sia-siakan—tergeletak pingsan di tengah ruang tamu yang gelap.

Maskernya sudah terlepas, memperlihatkan luka lebam keunguan di wajahnya yang kini tampak sangat pucat.

"XENAAAA!!"

Tanpa berpikir panjang, Prabu menghantam pintu kayu itu dengan bahunya, mencoba mendobrak masuk demi menyelamatkan nyawa yang hampir ia hilangkan sendiri.

BRAKKKK!

Pintu kayu itu akhirnya menyerah setelah hantaman keras dari bahu Prabu.

Suara engsel yang patah bergema di keheningan rumah, namun Prabu tidak peduli.

Ia langsung berlari masuk, mengabaikan rasa sakit di bahunya.

Lampu ruang tamu segera dinyalakan oleh Ayah Prabu.

Seketika itu juga, pemandangan memilukan terpampang nyata di depan mata mereka.

Xena tergeletak tak berdaya, wajahnya yang pucat pasi terlihat sangat kontras dengan memar keunguan di pipi dan hidungnya.

"Xena, Sayang. Bangun..." suara Prabu bergetar hebat.

Ia berlutut di samping tubuh istrinya, tangannya gemetar saat menyentuh kulit Xena yang terasa sangat dingin.

"Ayo Pra, cepat! Jangan cuma diam! Kita bawa dia ke rumah sakit sekarang!" seru Ayah Prabu dengan nada panik sekaligus memerintah.

Beliau segera membukakan pintu mobil lebar-lebar.

Tanpa membuang waktu, Prabu membopong tubuh ramping Xena ke dalam pelukannya.

Tubuh itu terasa begitu ringan, jauh lebih ringan dari terakhir kali ia menggendongnya, seolah-olah beban batin telah menggerogoti fisik istrinya perlahan-lahan.

"Maafin aku, Xen. Bertahanlah, aku mohon," bisik Prabu lirih di telinga Xena yang tetap tak bergeming.

Prabu membawa Xena masuk ke dalam mobil dan merebahkannya di kursi belakang dengan kepala di pangkuan Ayahnya, sementara ia sendiri melompat ke kursi kemudi.

Ia menginjak pedal gas sedalam-dalamnya, memacu kendaraan itu menembus jalanan malam dengan kecepatan tinggi.

Di spion tengah, Prabu terus menatap wajah Xena yang terpejam rapat.

Penyesalan yang amat dalam kini menghujam jantungnya lebih tajam dari apa pun.

Ia baru saja menyadari bahwa ia bukan hanya seorang pilot yang gagal menjaga keselamatan penerbangannya, tapi juga seorang suami yang hampir membunuh malaikat penjaganya sendiri.

Mobil berhenti dengan derit ban yang memilukan tepat di depan lobi darurat.

Prabu segera melompat keluar, bahkan sebelum mesin mobil benar-benar mati.

Petugas medis yang berjaga segera sigap membawakan brankar, namun Prabu terlalu tidak sabar.

Dengan napas yang memburu, Prabu membopong tubuh Xena keluar dari mobil dan langsung menaruhnya di atas ranjang dorong ruang UGD.

Wajah Xena yang tetap terpejam, dengan memar yang semakin jelas di bawah lampu neon yang terang, membuat tangan Prabu semakin gemetar.

"Dokter! Suster! Tolong istri saya!" teriak Prabu kalap.

Beberapa perawat dan seorang dokter jaga segera mengerumuni ranjang Xena.

Mereka mulai memeriksa denyut nadi, pernapasan, dan refleks pupil mata Xena.

Suasana seketika menjadi sibuk dan penuh dengan istilah medis yang tidak dimengerti Prabu.

Prabu berdiri terpaku di samping ranjang, mencengkeram tangan Xena yang dingin, enggan melepaskannya seolah-olah jika ia melepasnya, Xena akan benar-benar pergi.

"Pak, mohon maaf. Bapak harus menunggu di luar," perintah dokter jaga tersebut dengan tegas sambil mulai menyiapkan peralatan medis.

"Tapi saya suaminya, Dok! Saya harus di sini!" bantah Prabu, matanya merah menatap nanar ke arah istrinya.

"Kami mengerti, Pak. Tapi keberadaan Bapak di sini justru akan menghambat tindakan medis kami. Kami perlu ruang untuk bekerja cepat. Mohon kerja samanya," dokter itu kembali menegaskan sambil memberi isyarat kepada perawat untuk menutup tirai pembatas.

Ayah Prabu yang baru saja menyusul masuk segera memegang bahu putranya, mencoba menariknya menjauh.

"Ayo, Pra. Biarkan dokter bekerja. Kita tunggu di luar sambil berdoa."

Dengan berat hati, Prabu terpaksa melepaskan genggaman tangannya.

Ia didorong keluar oleh salah seorang perawat hingga pintu kaca UGD tertutup rapat di depannya.

Kini, Prabu hanya bisa berdiri di lorong rumah sakit yang dingin dan sunyi.

Bau disinfektan yang menyengat seolah menusuk hidungnya, dan bayangan wajah Xena yang pingsan terus menghantui pikirannya.

Ia bersandar di dinding, perlahan merosot hingga terduduk di lantai, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

Di lorong putih yang sunyi itu, Prabu merasa benar-benar diadili oleh rasa bersalahnya sendiri.

1
Nur Asiah
semua novel genre romantis pasti ujungnya ya balikan
my name is pho: enaknya balikan apa nggak nih
🤭
total 1 replies
Nur Asiah
makan xena yg banyak,biar sehat setelah itu berikanlah kesempatan untuk prabu sekali lagi💪💪
falea sezi
males ujungnya balikan/Puke/
falea sezi
skip sena goblok di injak2 harga diri masih aja mau
falea sezi
klo balik sena oon tolol
falea sezi
goblok jd sena q penjarain trs gugat cerai
falea sezi
laki menjijikkan
falea sezi
enak bgt dateng2 suruh nikah
Nur Asiah
sepertinya perjalanan meraih cinta Xena masih panjang,prabu semangat
Alex
ini hari libur Thor, knpa bawangnya sebanyak ini😭😭😭😭😭
Nur Asiah
setelah kesekian bab aku baja akhirnya nyesek juga rasanya,selamat prabu impianmu kembali dengan lepasnya Xena darimu
Rian Moontero
lanjooott👍👍
miesui jazz jeff n jexx
sgt bgs...
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Alex
kapok kamu pra
wwkwkwkwk
Alex
xena😭😭😭😭
Alex
kok kmu yg nonjok sih pra, harusnya ku tonjok duluan atau ku benturkan palamu di karang yg ada di pantai biar agak encer🤭
gemes bgt sama nie orang dech
my name is pho: sabar kak🤭
total 1 replies
Alex
pra, kmu mau ku getok pakai palu apa pakai kentongan, heran dech, emosi Mulu 😄
my name is pho: sabar kak🤭🥰
total 1 replies
Alex
siap menunggumu untuk lari aku pra, hbis itu Xena akn meninggalkanmu
hahahahaha
ketawa jahat ini🤭
Alex
awas gue tandain loe prabu
nanti kalau bucin Kutendang dari pesawat🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!