NovelToon NovelToon
Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Kutukan / Misteri
Popularitas:419
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Dara Kirana terpaksa meninggalkan gemerlap kota untuk menetap di kaki Gunung Marapi yang selalu diselimuti kabut misterius, namun kepindahannya justru menyeretnya ke tengah pusaran rahasia kuno yang mematikan. Saat nyawanya terancam oleh insiden tak wajar di tengah hutan hujan yang lebat, sesosok pemuda dingin dan tertutup bernama Indra Bagaskara muncul menyelamatkannya dengan kekuatan yang melampaui logika manusia. Di tengah aroma tanah basah dan desas-desus tentang legenda manusia harimau yang mulai menjadi nyata, Dara menyadari bahwa ketertarikannya pada Indra bukan sekadar romansa biasa, melainkan awal dari kebangkitan darah "Pawang" dalam dirinya yang ditakdirkan untuk menjinakkan sang penguasa rimba sebelum sisi binatangnya mengambil alih kesadaran manusianya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Rantai Tak Kasat Mata dan Janji Sang Alpha

​Jalanan aspal yang membelah pinggiran Hutan Pinus Marapi itu akhirnya terbebas dari kepungan kabut berdarah. Angin malam berhembus turun dari puncak gunung, menyapu sisa-sisa debu kehitaman yang beberapa menit lalu masih berupa mesin pembunuh kolonial.

​Di tengah kesunyian yang kembali merayap, napas para penyintas terdengar berat dan ritmis.

​Bumi Arka mengusap wajahnya yang berlumuran keringat dan debu dengan punggung lengannya. Sang Alpha muda menatap kekacauan di sekelilingnya dengan pandangan nanar. Di sebelah kanannya, Gendis terkapar lemah meski proses purifikasi dari Dara telah menyelamatkan nyawanya. Di sudut lain, Santi masih pingsan tak sadarkan diri, otak manusiawinya menolak memproses kengerian yang baru saja disaksikannya.

​Dan di tengah-tengah jalanan itu, terbingkai oleh sisa cahaya bulan yang mengintip dari balik awan kelabu, Indra Bagaskara masih memeluk Dara Kirana.

​Pewaris takhta Cindaku itu menyembunyikan wajahnya di lekukan leher sang Ratu Penengah. Cengkeraman tangannya di pinggang Dara begitu erat, seolah jika ia melonggarkannya sedikit saja, kewarasannya akan kembali ditarik ke dalam jurang kegilaan. Tubuh besar Indra bergetar halus—sebuah reaksi fisik pasca-ledakan Withdrawal Syndrome (Sindrom Kecanduan) yang nyaris mengubahnya menjadi monster tanpa akal.

​Bumi menelan rasa pahit yang mengiris pangkal tenggorokannya. Insting serigalanya melolong pedih, namun akal sehat Alpha-nya mengambil alih komando.

​"Kita tidak bisa berlama-lama di sini," suara Bumi memecah keheningan, berat dan sarat akan otoritas. "Bau darah dan energi murni yang meledak tadi akan memancing patroli mayat hidup lainnya, atau lebih buruk, warga desa manusia yang kebetulan meronda."

​Bumi berjalan menghampiri Santi, dengan mudah mengangkat tubuh gadis berambut ekor kuda itu dan menyampirkannya di bahu kirinya layaknya karung kapas. Ia lalu berjongkok di sebelah Gendis, membantu serigala betina itu berdiri dan memapahnya dengan lengan kanannya.

​"Ayo bergerak," titah Bumi, menatap Indra dan Dara. "Rumah Kakek Danu adalah satu-satunya tempat dengan segel pelindung terkuat di radius ini."

​Mendengar suara Bumi, Indra perlahan mengangkat wajahnya dari leher Dara. Mata hazel-emas pemuda itu masih tampak keruh, diselimuti oleh kabut posesif yang sangat pekat. Harimau di dalam dirinya baru saja ditenangkan, namun ia belum sepenuhnya tertidur.

​Indra menatap Bumi dengan kilat kewaspadaan predator, sebelum akhirnya menunduk menatap Dara. Tanpa melepaskan sentuhannya, Indra menyelipkan lengannya di bawah lutut Dara dan mengangkat gadis itu ke dalam gendongannya (bridal style) dengan gerakan yang sangat posesif.

​"Indra, aku bisa berjalan sendiri," protes Dara pelan, wajahnya merona hangat.

​"Tidak," jawab Indra mutlak. Suaranya serak dan bergetar. "Tanah ini dipenuhi darah lintah. Kakimu tidak boleh menyentuhnya."

​Dara menghela napas panjang, melingkarkan lengannya di leher pemuda itu. Ia tahu ini bukan sekadar soal darah di aspal; ini adalah wujud nyata dari sindrom kecanduan sang Harimau Putih. Indra membutuhkan kontak fisik absolut untuk memastikan bahwa penawarnya nyata dan tidak akan pergi ke mana-mana. Jurnal ibunya benar: Nafsu Rimba yang telah mencicipi energi Pawang akan melahirkan rantai tak kasat mata yang mengikat mereka berdua.

​Mereka berlima berjalan dalam keheningan yang mencekam, menyusuri jalan pintas menembus hutan pinus menuju halaman belakang rumah panggung Kakek Danu.

​Begitu mereka tiba, Kakek Danu sudah berdiri di ambang pintu belakang, memegang sebuah lentera minyak dan sebilah parang tua berukir aksara Jawa. Wajah pria tua itu tegang, namun langsung menghela napas lega saat melihat cucunya kembali dalam keadaan bernyawa, meski diiringi oleh rombongan yang babak belur.

​"Masuk. Semuanya," Kakek Danu membuka pintu lebar-lebar, lalu segera menaburkan segenggam garam kristal yang telah dicampur dengan serbuk kemenyan ke ambang pintu begitu orang terakhir melangkah masuk.

​Suasana di dalam rumah panggung itu seketika berubah sibuk. Kakek Danu mengambil alih kendali layaknya seorang tabib medan perang.

​"Baringkan teman manusiamu itu di sofa ruang tengah," perintah Kakek Danu pada Bumi. "Dan bawa serigala betina itu ke karpet dekat tungku perapian. Hawa hangat akan mempercepat regenerasi selnya."

​Bumi menurut tanpa membantah. Setelah merebahkan Santi dengan hati-hati, Alpha muda itu memapah Gendis ke dekat perapian. Kakek Danu segera menyeduh sebuah ramuan dari daun-daun kering yang berbau menyengat, lalu memaksa Gendis meminumnya.

​"Kek, Santi..." Dara yang baru saja diturunkan dari gendongan Indra menatap sahabatnya dengan cemas. "Dia melihat semuanya. Dia melihat Begu, dia melihat Gendis berubah wujud, dan dia melihat Marsose itu dibantai."

​Kakek Danu berjalan menghampiri Santi yang masih pingsan. Pria tua itu mengeluarkan sebuah kantong kecil dari balik kemejanya. Ia mencubit sedikit serbuk berwarna keunguan dari dalam kantong tersebut, lalu meniupkannya perlahan tepat di atas hidung Santi.

​"Ini serbuk akar kecubung wulung," jelas Kakek Danu, menatap Dara yang kebingungan. "Ini tidak akan menghapus ingatannya sepenuhnya, karena itu mustahil. Tapi serbuk ini akan mendistorsi batas antara kenyataan dan alam bawah sadar. Besok pagi saat dia bangun, otaknya akan memproses seluruh kengerian ini sebagai sebuah mimpi buruk akibat demam tinggi. Pikiran manusia memiliki mekanisme pertahanan alami yang hebat, Nduk; ia akan dengan senang hati mempercayai kebohongan logis daripada kebenaran yang tidak masuk akal."

​Dara mengembuskan napas lega. Setidaknya, nyawa dan kewarasan sahabatnya aman malam ini.

​Namun, kewarasan di dalam rumah itu masih jauh dari kata stabil.

​Sejak Indra menurunkan Dara, pemuda Cindaku itu tidak beranjak satu sentimeter pun dari sisinya. Saat Dara duduk di kursi rotan, Indra memilih untuk duduk di atas karpet tepat di sebelah kaki gadis itu. Postur Indra seperti seekor singa penjaga yang sedang mengawasi teritorinya. Mata hazelnya terus mengikuti setiap gerakan Bumi, dan setiap kali Kakek Danu melangkah terlalu cepat, uap panas tipis mengepul dari bahu Indra.

​Sindrom kecanduan ini mengerikan. Indra secara fisik berada di ruangan yang aman, namun secara psikologis, ia merasa terancam oleh segala hal yang bukan Dara.

​"Indra," Dara menyentuh bahu pemuda itu dengan lembut. Suhu kulit Indra masih lebih tinggi dari manusia normal. "Aku aman. Willem tidak ada di sini. Kau tidak perlu tegang."

​Indra menoleh, menatap tangan Dara yang berada di bahunya. Pemuda itu meraih tangan mungil tersebut, menggenggamnya dengan kedua tangannya yang besar, dan menempelkannya ke pipinya.

​"Baumu..." gumam Indra, suaranya sangat rendah, hanya bisa didengar oleh Dara dan pendengaran tajam Bumi di sudut ruangan. "...kabut sialan itu masih menyisakan bau darah lintah di udara. Harimau ini... ia menyuruhku untuk kembali ke sana dan membakar seluruh hutan sampai bau itu hilang. Satu-satunya cara agar aku tidak pergi adalah dengan menahan aromamu bersamaku."

​Pernyataan itu terdengar begitu putus asa. Dara merasakan dadanya sesak. Kutukan ini benar-benar tidak adil bagi Indra. Ia dilahirkan sebagai raja yang perkasa, namun takdir merantainya pada insting yang sangat primitif.

​Dara tidak menarik tangannya. Ia membiarkan Napas Akar-nya mengalir pasif, memberikan resonansi kesejukan yang menahan gejolak di dalam darah sang Harimau Putih. Ia menerima rantai tak kasat mata itu dengan ikhlas. Inilah beban seorang Pawang. Bukan sekadar menyembuhkan, melainkan menjadi sauh bagi kapal yang sedang dihantam badai.

​Dari arah dapur, Bumi berdiri bersandar pada kusen pintu. Sang Alpha Serigala menatap pemandangan di ruang tengah itu dengan rahang terkatup rapat.

​Cinta adalah sebuah anomali bagi seorang Alpha. Insting dasar mereka adalah mengklaim, mendominasi, dan melindungi pasangan (mate) mereka dari pejantan lain. Namun malam ini, Bumi harus menelan insting absolut tersebut. Ia melihat bagaimana Indra memeluk tangan Dara layaknya orang sekarat yang memeluk botol oksigen.

​Bumi tahu, jika ia memaksakan egonya malam ini dan menarik Dara menjauh dari Indra, pemuda Cindaku itu akan benar-benar hancur dan mengamuk. Sutan Agung akan mengeksekusinya, dan mereka akan kehilangan sekutu terkuat sebelum perang melawan Willem benar-benar dimulai.

​“Seorang Raja memikirkan dirinya sendiri. Seorang Alpha memikirkan kawanannya,” pepatah mendiang ayah Bumi terngiang di kepalanya.

​Bumi memalingkan wajahnya. Dadanya berdenyut perih. Ia melangkah keluar melalui pintu dapur menuju beranda belakang rumah Kakek Danu, membutuhkan udara malam yang tidak dipenuhi oleh aroma posesif sang Harimau Putih.

​Udara di luar terasa sangat dingin. Bumi mencengkeram pagar kayu beranda, menundukkan kepalanya, dan membiarkan angin malam mendinginkan tubuhnya.

​Beberapa menit berlalu dalam keheningan, sebelum suara derit papan kayu terdengar dari arah pintu.

​Bumi tidak menoleh. Penciumannya telah memberitahunya siapa yang datang.

​"Serigala di dalam dadamu melolong sangat keras hingga aku bisa mendengarnya dari dalam, Arka," suara bariton Indra memecah kesunyian malam.

​Pemuda Cindaku itu melangkah perlahan ke area beranda. Ia telah meninggalkan sisi Dara untuk sementara waktu—sebuah usaha yang membutuhkan kontrol mental yang luar biasa menyiksa—hanya untuk berbicara dengan rival abadinya.

​Bumi melirik dari sudut matanya. Indra berdiri dua meter darinya. Hawa panas masih menguar tipis dari tubuh pewaris Bagaskara itu, namun matanya telah sepenuhnya kembali jernih.

​"Kau seharusnya tetap di dalam, Kucing Besar. Penawarmu ada di sana," balas Bumi sinis, nada suaranya tajam namun tidak memancing perkelahian.

​Indra menyandarkan punggungnya pada tiang kayu beranda, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Ia menatap lekat-lekat pada kegelapan Hutan Marapi di hadapan mereka.

​"Aku harus keluar sebelum ego dan gengsiku mencekikku sampai mati," ujar Indra datar. Pemuda itu menghela napas panjang, sebuah kebiasaan manusiawi yang sangat jarang ia lakukan. Ia memutar kepalanya, menatap lurus ke arah Bumi.

​"Kau menahan insting Alpha-mu malam ini. Kau melihatku hancur seperti anjing kurap yang mengemis kewarasan pada Ratu Penengah, dan kau tidak menyerangku saat pertahananku terbuka lebar. Kau bahkan memerintahkan Dara untuk menenangkanku di jalan aspal tadi," Indra menjeda kalimatnya, meresapi bobot dari apa yang akan ia ucapkan. "Itu adalah pengorbanan yang sangat mahal bagi seekor serigala sepertimu. Aku berutang kewarasanku padamu, Arka."

​Mendengar pengakuan setulus itu dari seorang calon Raja Cindaku membuat Bumi tertegun sejenak. Permusuhan mereka telah berlangsung selama turun-temurun, diwarnai oleh darah dan perebutan teritori. Namun malam ini, di beranda kayu ini, sejarah itu runtuh.

​Bumi memutar tubuhnya, bersandar pada pagar, menatap Indra dengan pandangan yang sama seriusnya.

​"Aku tidak melakukan itu untukmu, Bagaskara," jawab Bumi dingin namun jujur. "Aku melakukannya karena aku tahu Ratu kita akan hancur jika ia melihatmu mati karena kutukanmu sendiri. Dan aku melakukannya karena kawananku—termasuk Gendis yang bodoh itu—membutuhkan kekuatan Harimau Putih-mu untuk menghadapi pasukan lintah yang ada di bawah sekolah kita saat ini."

​Bumi mengambil satu langkah maju, menembus zona nyaman Indra.

​"Dengar baik-baik, Kucing Besar. Aku membiarkanmu meminum penawarnya malam ini karena kita butuh jenderal Cindaku terkuat untuk perang esok," desis Bumi, matanya berkilat dengan determinasi seorang Alpha sejati. "Tapi jangan pernah, sedetik pun, kau mengira bahwa aku menyerahkan Ratu-ku padamu. Gencatan senjata ini hanya berlaku untuk taring dan cakar kita dalam urusan teritori. Tapi dalam urusan hati gadis itu... aku tidak akan pernah mundur."

​Sebuah tantangan terbuka telah dilontarkan. Bukan tantangan berdarah, melainkan janji persaingan yang sehat dan jantan.

​Mendengar itu, sudut bibir Indra justru melengkung, membentuk sebuah senyum miring yang arogan, namun kali ini dipenuhi oleh rasa hormat yang absolut. Pemuda Cindaku itu tidak merasa terancam; ia justru merasa diakui.

​"Aku tidak mengharapkan hal yang kurang dari itu dari seorang Alpha Serigala," balas Indra, nada suaranya kembali menemukan kepercayaan dirinya. "Kau boleh mencoba merebut hatinya sesukamu, Anjing Liar. Tapi instingku telah mengklaimnya, dan seorang Bagaskara tidak pernah melepaskan apa yang menjadi miliknya."

​Kedua pemuda itu saling menatap tajam di bawah sinar bulan yang temaram. Tidak ada hawa panas yang membakar. Tidak ada auman binatang buas. Yang ada hanyalah sebuah sumpah tak kasat mata di antara dua pemimpin muda; mereka akan bertarung berdampingan hingga Willem van Deventer hancur menjadi abu, dan setelah itu, mereka akan bertarung sebagai pria untuk memenangkan hati sang Ratu Penengah.

​Di dalam rumah, Dara duduk di kursi rotan sambil mengompres luka memar di lengannya. Ia menoleh ke arah jendela yang mengarah ke beranda belakang. Ia tidak bisa mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh Indra dan Bumi di luar sana, namun insting Pawangnya bisa merasakan perubahan drastis pada residu energi mereka.

​Distorsi dan benturan energi yang biasanya selalu meledak saat mereka berdekatan kini telah hilang. Energi panas Indra dan energi hangat Bumi mengalir secara paralel, tidak saling menyentuh, namun bergerak ke arah yang sama. Harmoni yang mustahil itu akhirnya tercipta.

​"Kau merasakannya juga, bukan?" sebuah suara serak dan lemah terdengar dari arah perapian.

​Dara menoleh. Gendis telah terbangun. Serigala betina itu bersandar pada dinding bata perapian, wajahnya masih pucat, namun matanya yang eksotis menatap Dara dengan pandangan yang jauh berbeda dari pagi tadi. Tidak ada lagi sinis dan kebencian. Yang ada hanyalah penundukan dan rasa takjub.

​"Merasakan apa, Gendis?" Dara membalas dengan lembut, meletakkan handuk kompresnya.

​"Perubahan pada Alpha kami," jawab Gendis, menatap ke arah pintu beranda. "Seumur hidupku, aku diajarkan bahwa Cindaku adalah musuh alami yang tidak memiliki empati. Aku membencimu karena kau mencoba menyatukan dua hal yang mustahil. Aku mengira kau akan menghancurkan kewibawaan Bumi."

​Gendis menundukkan kepalanya, air mata penyesalan kembali menggenang. "Tapi aku salah. Kau tidak melemahkan mereka. Kau baru saja menciptakan dua raja terkuat yang pernah ada di lembah ini. Mereka menekan ego binatang mereka karena mereka menghormatimu."

​Gendis menatap mata Dara, sebuah sumpah mengalir dari bibirnya yang bergetar. "Aku nyaris membunuhmu hari ini karena kesombonganku. Namun kau justru memberikan nyawamu untuk menyelamatkanku. Hukum kawanan mewajibkan sebuah utang nyawa dibayar dengan darah. Mulai malam ini, aku, Gendis dari Lereng Timur, bersumpah untuk menjadi perisaimu, Ratu Penengah. Ke mana pun kakimu melangkah, taringku akan selalu menjagamu dari bayang-bayang."

​Dara tertegun mendengar sumpah kesetiaan absolut tersebut. Ia melangkah mendekati perapian, berjongkok di hadapan Gendis, dan menggenggam tangan serigala betina itu dengan hangat.

​"Aku tidak butuh perisai yang berjalan di belakangku, Gendis," ucap Dara dengan senyum tulus yang memancarkan wibawa murni. "Aku butuh saudari yang berjalan di sampingku."

​Malam yang panjang dan berdarah itu akhirnya mencapai penghujungnya. Di luar jendela, semburat jingga perlahan-lahan mulai merobek selimut kabut kelabu Lembah Marapi. Fajar menyingsing, membawa serta kehangatan mentari pagi.

​Namun, di kedalaman bumi, jauh di bawah fondasi SMA Nusantara, fajar ini menandai sesuatu yang sangat berbeda. Willem van Deventer berdiri di tengah katakombe purba, memandangi ratusan peti mati yang kini telah terbuka sepenuhnya. Pasukan Marsose Darah-nya telah terbangun dari tidur dua abad mereka, dan mereka lapar.

​Perang tidak lagi sekadar rumor di dalam kabut. Malam ini, darah akan tumpah di dunia yang terang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!