NovelToon NovelToon
PEMBALASAN DENDAM SANG PEMBERSIH JEJAK

PEMBALASAN DENDAM SANG PEMBERSIH JEJAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:20.9k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Blurb:

​Dikhianati dan diledakkan di dalam mobilnya sendiri, Kara, algojo terbaik Aegis Syndicate, lolos dari kematian. Enam bulan kemudian, dia menyamar sebagai Riana. Bukan membawa peluru, dia datang membawa kacamata tebal, buku pedoman karyawan, dan kartu pengenal Manajer HRD.

​Aegis Corp adalah kedok pencucian uang raksasa yang sangat takut pada audit pajak negara. Riana memanfaatkan celah itu untuk menghancurkan mereka dari dalam. Algojo menolak rotasi kerja? Pecat. Petinggi mafia mangkir tugas? Cabut asuransinya. Bos mafia mau kabur bawa uang perusahaan? Blokir rekeningnya dengan alasan belum mengembalikan laptop kantor!

​Balas dendamnya berjalan mulus, sampai Jace bergabung menjadi petugas kebersihan. Pewaris sindikat musuh yang sedang menyusup itu malah salah fokus. Bukannya meretas data server Aegis, Jace keasyikan menonton HRD culun itu membuat para monster dunia bawah tanah menangis memohon ampun hanya lewat selembar Surat Peringatan Ketiga.

​"Welcome to the real hell."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Berlindung di Balik Aturan

​​"Jangan bertingkah bodoh dan mati konyol, Jace."

​Suara Riana memotong ketegangan dengan sangat tajam. Perempuan itu sama sekali tidak memasang kuda-kuda bertarung. Matanya dengan cepat memindai seluruh sudut ruang arsip yang sempit dan minim cahaya tersebut.

​Pandangan Riana langsung terkunci pada sebuah penutup ventilasi pendingin ruangan berukuran cukup besar yang terpasang di sudut langit-langit, tepat di atas rak besi penyimpan map pegawai lama.

​"Naik ke sana sekarang juga," perintah Riana cepat, menunjuk ke arah ventilasi tersebut. "Bongkar penutupnya dan sembunyi di dalam lorong udara."

​Jace mendongak menatap ventilasi yang tingginya mencapai tiga meter dari lantai. "Dan membiarkan lo menghadapi puluhan moncong senapan mesin sendirian di bawah sini? Gue bukan pengecut, Kara."

​"Gue Riana, Manajer HRD sekaligus Direktur Kepatuhan di gedung ini. Mereka tidak akan berani menarik pelatuk ke arah eksekutif tanpa perintah langsung," desis Riana mutlak. Perempuan itu meraih kursi besi lipat dan menendangnya ke arah Jace. "Cepat naik! Kalau mereka menemukan lo di sini, alibi gue hancur dan kita berdua mati. Naik sekarang!"

​Suara dobrakan di lorong luar terdengar semakin dekat. Jace menggertakkan giginya kesal, tapi dia sadar logika Riana seratus persen benar. Pria tinggi itu melompat naik ke atas kursi besi, lalu memanjat rak dokumen dengan kelincahan luar biasa.

​Jace meninju penutup ventilasi berbahan aluminium itu hingga bautnya terlepas. Dia menarik tubuh tegapnya masuk ke dalam lorong udara yang gelap dan sempit. Riana langsung memanjat menyusul, memungut penutup aluminium tersebut, lalu memasangnya kembali dengan rapi untuk menutupi jejak. Riana melompat turun, menendang kursi besi kembali ke tempat asalnya, lalu merapikan kemeja putihnya yang sedikit kusut.

​Tepat saat Riana membalikkan badan dan duduk di kursi kerjanya, pintu kayu ruang arsip ditendang dengan sangat keras dari arah luar.

​BRAK!

​Engsel pintu itu patah berkeping-keping. Enam orang pengawal berjas hitam menerobos masuk ke dalam ruangan sempit tersebut secara bersamaan. Laras senapan mesin mereka langsung terangkat, membidik tepat ke arah dahi, dada, dan kedua lutut Riana. Jari telunjuk mereka sudah menempel ketat di pelatuk.

​"Angkat tangan lo ke atas meja! Jangan bergerak satu inci pun!" raung komandan pengawal itu dengan urat leher menonjol, siap memuntahkan peluru panas.

​Riana sama sekali tidak mengangkat tangannya. Perempuan itu duduk tenang menyilangkan kaki, wajahnya datar tanpa ekspresi, seolah enam moncong senapan itu hanyalah mainan plastik anak-anak. Jari telunjuknya justru bergerak pelan membenarkan letak kacamata tebalnya yang sedikit merosot.

​"Turunkan senjata kalian dari wajah gue sekarang juga," ucap Riana dengan nada suara yang sangat dingin dan penuh otoritas, menggema memantul di dinding ruang arsip. "Kalian melanggar aturan operasional keamanan tingkat dua."

​"Tutup mulut lo, pengkhianat! Bos besar memerintahkan kami menembak mati siapa saja yang berani melawan!"

​"Buku pedoman karyawan, bab keamanan internal, halaman tujuh belas," potong Riana tajam tanpa sedikitpun rasa takut. Matanya mengunci mata sang komandan. "Ruang arsip pusat HRD adalah area steril data. Dilarang keras membawa senjata api laras panjang ke dalam ruangan ini karena percikan mesiu bisa memicu sensor api dan merusak dokumen kertas rahasia milik puluhan ribu pegawai."

​Para pengawal itu saling pandang sejenak, sedikit kebingungan melihat target mereka justru menceramahi aturan kantor di bawah todongan senjata mematikan.

​"Gue adalah Direktur Kepatuhan yang diangkat langsung oleh Bramantyo. Kalau kalian berani merusak satu saja map di ruangan ini, gue pastikan bos besar sendiri yang akan memotong jari kalian satu per satu karena menghancurkan aset data perusahaan," ancam Riana mutlak.

​"Hah! Lo masih berani berlindung di balik buku aturan bodoh lo itu, Nona Kacamata?!"

​Sebuah suara tawa yang sangat kasar dan serak memecah ketegangan. Barisan pengawal berjas hitam itu menyingkir ke samping, membuka jalan masuk lebar-lebar.

​Gideon melangkah masuk ke dalam ruang arsip dengan gaya arogan yang luar biasa memuakkan. Wajah pria gempal itu masih babak belur, sudut bibirnya sobek dan membengkak akibat dihajar penjaga keamanan hotel semalam. Namun, matanya memancarkan kepuasan sadis dan dendam kesumat yang akhirnya terbalaskan.

​Tangan kanan Gideon memegang sebuah tali kekang berbahan kulit tebal. Di ujung tali kekang itu, seekor anjing ras Doberman berukuran sangat besar berdiri dengan postur menyerang. Bulu anjing itu berwarna hitam mengkilap, otot-ototnya menonjol kuat, dan air liur menetes dari taringnya yang tajam.

​"Lo pikir bos besar bakal peduli sama aturan kertas waktu dia tahu lo membawa masuk tikus kotor dari Diwantara Group ke dalam rumahnya?" ejek Gideon meludah kasar ke lantai keramik. "Akting lo sudah tamat, Riana. Di mana lo sembunyikan tukang bersih-bersih yang ternyata adalah pewaris bajingan itu? Gue tahu dia pasti ada di lantai ini bersama lo!"

​"Gue tidak mengerti omongan ngelantur dari mantan bos logistik yang baru saja kehilangan ratusan miliar hartanya semalam," balas Riana santai, sengaja menusuk titik ego paling rapuh milik Gideon tanpa ampun. "Gue sendirian menyortir kertas pendaftaran di sini. Kalau lo mau mencari tukang bersih-bersih, cari di gudang pel basement."

​Urat di pelipis Gideon langsung menegang parah. Wajahnya berubah merah padam menahan murka akibat hinaan telak tersebut. Kejadian memalukan di pesta lelang pasar gelap kembali berputar di otaknya.

​"Cari mati lo, jalang!" raung Gideon histeris. "Gue sendiri yang bakal mengoyak wajah culun lo itu setelah anjing pelacak gue merobek leher kekasih gelap lo!"

​Gideon menunduk cepat, melepaskan kaitan tali kekang baja dari kalung leher anjing Doberman tersebut.

​"Cari bau tikus itu, Bruno! Cabut nyawanya sekarang!" perintah Gideon buas sambil menunjuk ke arah deretan tumpukan kardus dokumen.

​Anjing pemburu terlatih itu langsung menyalak mengerikan. Doberman raksasa itu berlari mengendus-endus lantai ruang arsip dengan kecepatan tinggi. Moncong basahnya bergerak liar menyapu setiap sudut ruangan, menelusuri partikel aroma asing yang tertinggal mengambang di udara.

​Di dalam langit-langit ventilasi yang gelap gulita, Jace menahan napasnya sekuat tenaga. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai menetes dari pelipisnya menuruni leher. Ruang lorong udara itu terbuat dari bahan seng aluminium yang sangat tipis. Kalau Jace bergerak satu milimeter saja atau menggeser lututnya, suara decitan seng akan langsung bergema keras ke bawah ruangan.

​Anjing Doberman itu terus berlari memutar, mencium jejak sepatu Jace di dekat kursi meja kerja Riana. Hewan buas itu kemudian menggeram pelan, mengubah arah gerakannya dengan cepat menuju rak besi penyimpan map paling tinggi di sudut ruangan.

​Langkah kaki anjing pelacak itu tiba-tiba berhenti total tepat di bawah penutup ventilasi udara.

​Doberman itu mengendus udara ke atas, telinganya langsung berdiri tegak merespons bau mangsa yang sangat kuat. Hewan itu menatap lurus ke arah langit-langit putih, tepat ke arah sekat aluminium tempat Jace menyembunyikan tubuhnya.

​GUK! GUK! GUK!

​Gonggongan buas dan sangat memekakkan telinga meledak keluar dari mulut anjing raksasa tersebut. Doberman itu melompat-lompat liar ke udara, cakar depannya menggaruk-garuk tiang rak besi dengan sangat ganas. Matanya memancarkan naluri membunuh yang tidak bisa ditipu oleh alasan birokrasi apa pun. Anjing itu sudah mengunci lokasi targetnya seratus persen.

​Senyum kemenangan yang luar biasa licik mengembang sempurna di wajah bengkak Gideon. Pria gempal itu tertawa keras melihat hasil kerja hewan peliharaannya. Dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memberikan isyarat komando mematikan.

​Tanpa perlu diaba-aba dua kali, keenam pengawal berjas hitam itu langsung memutar moncong senapan laras panjang mereka secara serentak ke arah atas.

​Kini, enam laras senapan pembawa maut itu membidik lurus menantang langit-langit ruangan, siap memuntahkan ratusan peluru tajam untuk mencabik-cabik penutup ventilasi dan menembus hancur daging Jace kapan saja.

1
Susilawati
kayaknya bakalan terjadi kekacauan besar nih, gimana ya cara Riana nanti membela diri nya
Susilawati
apakah penyamaran Riana dan Jace akan terbongkar secepat ini, jadi deg deg an.
Muft Smoker
bos anda mungkin pintar mengurung Riana di ketek Leo ,,
tp km lupa bos ,,
Riana tu cerdas ,, 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 ,,
pengen ketawa tp takut di dor ,,🤭🤭🤭
Savana Liora: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Muft Smoker
aduuuh kalo aq di posisi Riana ,, langsung ku peluk si bos 🤭🤭🤭🤭 ,,
eeeeeh slah ,,
langsung meleleh aq ,, cosplay jdi air hujaan ,, 🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭💃
total 4 replies
This Is Me
Memang panjang akal bu bos kepatuhan ini🤣🤣
Muft Smoker: kn udh dibilang kak ,, bramantyo mungkin pintar ,,
tp Riana tu cerdas , licik Dan efisien ,,
si bramantyo kecolongan lgii🤭🤭🤭
total 1 replies
This Is Me
Yah...dikukung gini, gimana beraliansi sama Jace?😱😱
Savana Liora: sabar 🤣🤣🤣
total 1 replies
This Is Me
Waduh...makin serem
This Is Me
Ayooo Jace, selamatkan diri. Riana, siapkan alasan setelah disodori foto dari Gideon
This Is Me
Ahhh....gimana Jace???😱😱😱
This Is Me
Ya ampunnn😱😱
This Is Me
Nah looo...Gimana nih/Gosh//Gosh/
This Is Me
Waduh...bahaya lebih besar mengintai
Septi Lahat
pas bnget momentumnya,, smg mereka bisa, selamat meloloskan diri dri gedung tsb
semangat kak thor🥰
Muft Smoker
duuuh deg2an deeh liat mereka berdua ,,
semoga aj mereka Selamat ,,
FHR
Ya ampuuun...kok aku yang tegang siiih..😥
FHR
Good luck 👍
Semoga sehat dan tetap semangat 💪
Susilawati
mantap Riana 👍👍👍
Susilawati
hati2 Riana, kayaknya si Gideon sengaja mau menjebak
This Is Me
Yeyyyy....ditunggu up nya
Savana Liora: okeee
total 1 replies
This Is Me
Ini pancingan aja seprtinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!