NovelToon NovelToon
SENI TRANSMUTASI TULANG PURBA

SENI TRANSMUTASI TULANG PURBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: 秋天(Qiūtiān)

Han jian merupakan seorang pemuda dari klan Han yang tidak dapat ber kultivasi sejak kecil sehingga menjadi bahan hinaan di klan Han, ia tidak dapat ber kultivasi dikarenakan ia tidak memiliki dantian seperti yang lain nya melain kan sebuah pusaran hitam yang di akibatkan karena dantian nya telah hancur, namun nasibnya berubah setelah menemukan sebuah fragmen tulang di makam ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 秋天(Qiūtiān), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: MEMORI YANG TERSELIP DI BALIK BILAH PERTAMA

Lembah Bayangan Abadi bukanlah sebuah lembah dalam pengertian fisik. Ia adalah wilayah di Samudera Kehampaan di mana cahaya benar-benar mati, dan ruang-waktu terdistorsi menjadi labirin yang tak berujung. Di sini, Kapal Fosil tampak seperti setitik debu yang terjebak dalam pusaran tinta hitam.

Karsa berdiri di tengah dek, di depannya sepuluh pedang miliknya tertancap membentuk lingkaran. Ia menunjuk ke arah pedang pertama—sebuah pedang berat berwarna kelabu kusam yang permukaannya dipenuhi retakan kasar.

"Ini adalah Pedang Kehancuran Sempurna," ucap Karsa. "Ditempa dari tulang lengan kiri ibumu saat ia masih berada di puncak kekuatan Tulang Emasnya. Pedang ini menyimpan kemarahan murninya terhadap ketidakadilan dunia."

Han Jian melangkah maju. Ia bisa merasakan aura penolakan yang kuat dari pedang tersebut. Seolah-olah pedang itu memiliki nyawa dan tidak ingin disentuh oleh siapa pun.

"Pegang gagangnya," perintah Karsa. "Jangan gunakan energi ketiadaanmu. Gunakan darahmu. Biarkan memorinya mengalir ke dalam sumsummu."

Begitu telapak tangan Han Jian menyentuh gagang pedang yang dingin, dunia di sekitarnya meledak.

Han Jian tidak lagi berada di atas kapal. Ia berdiri di tengah sebuah medan perang yang apokaliptik. Langit berwarna merah darah, dan ribuan monster tak berwajah sedang membantai jutaan manusia. Di depannya, seorang wanita dengan rambut perak panjang yang berkibar—Han Rin, ibunya—berdiri tegak meski tubuhnya dipenuhi luka.

Namun, ia tidak sedang bertarung melawan monster-monster itu. Ia sedang berhadapan dengan tiga sosok berjubah emas yang sangat dikenali Han Jian.

"Arsitek Nasib... Penunai Jiwa... dan Pilar Kekekalan," desis Han Jian.

Tapi mereka tampak berbeda. Mereka jauh lebih muda, dan di belakang mereka berdiri sosok keempat—seorang pria tanpa wajah yang tubuhnya terbuat dari rasi bintang yang jernih. Aura pria itu begitu kuat hingga Han Jian merasa tulang nihilitasnya ingin hancur hanya dengan melihatnya.

"Han Rin," suara pria tanpa wajah itu bergema, tenang namun mematikan. "Kau adalah ciptaan terbaikku. Mengapa kau memilih untuk memberontak bersama Han Shuo? Kau tahu bahwa sistem peternakan jiwa ini adalah satu-satunya cara untuk menjaga keseimbangan kosmos."

"Keseimbangan yang kau bangun di atas jeritan bayi dan penderitaan jiwa fana adalah sebuah kehinaan, Sang Penenun Utama!" teriak Han Rin. Suaranya penuh dengan otoritas yang membuat Han Jian merinding.

Han Jian tersentak. Jadi, ketiga dewa yang ia bunuh di Alam Dewa Sejati hanyalah antek-antek. Penguasa yang sebenarnya adalah Sang Penenun Utama, entitas yang menciptakan hukum kultivasi itu sendiri.

"Jika kau menolak untuk tunduk, maka kau akan menjadi bahan bakar pertama bagi sistem baru ini," ucap Sang Penenun.

Dalam visi tersebut, Han Jian melihat ibunya melakukan sesuatu yang gila. Ia mematahkan lengan kirinya sendiri dengan tangan kosong. Dari tulang yang patah itu, ia memanggil api kehampaan dan menempanya menjadi sebuah pedang kelabu.

"Aku tidak akan menjadi bahan bakarmu," Han Rin tersenyum tipis, matanya melirik ke arah portal kecil yang membawa seorang bayi laki-laki—Han Jian kecil—menuju Benua Awan Biru. "Aku akan menjadi duri di dalam dagingmu selamanya."

Han Rin menerjang Sang Penenun Utama dengan Pedang Kehancuran tersebut. Ledakan energinya begitu dahsyat hingga penglihatan Han Jian menjadi putih seketika.

"Hah... Hah...!"

Han Jian tersungkur di dek Kapal Fosil, napasnya memburu. Keringat dingin mengucur dari dahi emasnya. Ia masih bisa merasakan rasa sakit dari tulang yang patah di lengan kirinya, seolah-olah ia sendiri yang mematahkannya.

"Kau melihatnya?" tanya Karsa pelan.

"Sang Penenun Utama..." Han Jian mendongak, matanya berkilat dengan intensitas yang mengerikan. "Dewa-dewa yang kubunuh hanyalah boneka. Penguasa sebenarnya masih ada di sana, di pusat Samudera Kehampaan."

"Benar," Karsa mengambil kembali pedang pertama. "Sang Penenun Utama adalah alasan mengapa ibumu harus mengasingkan diri ke Inti Ketiadaan. Dia adalah sumber dari segala penderitaan keluargamu. Dan Pedang Kehancuran ini... ia baru saja menerimamu."

Han Jian melihat tangannya. Kini, di lengan kirinya, terdapat tato tipis berbentuk pedang kelabu. Ia bisa merasakan kekuatan destruktif yang luar biasa berdenyut di dalam sumsumnya. Bukan lagi sekadar menghapus keberadaan, tapi menghancurkan konsep dari apa yang ia serang.

"Setiap pedang akan memberimu satu fragmen kekuatan dan satu bagian dari kebenaran," lanjut Karsa. "Tapi ingat, semakin banyak pedang yang kau kuasai, semakin besar target yang kau letakkan di punggungmu. Sang Penenun Utama sudah pasti merasakan resonansi ini."

Tiba-tiba, Kapal Fosil itu berguncang hebat. Dari kegelapan Lembah Bayangan Abadi, muncul ratusan rantai emas yang mencoba melilit kapal tersebut. Rantai-rantai itu memancarkan aura yang sama dengan pria tanpa wajah dalam visi Han Jian.

"Mereka sudah di sini," Karsa menarik dua pedang lainnya. "Utusan Sang Penenun. Para Penjaga Hukum Kosmos."

Han Jian berdiri perlahan. Ia tidak menarik Tombak Pemutus Takdirnya. Sebaliknya, ia memanggil proyeksi pedang kelabu dari lengan kirinya.

"Bagus," ucap Han Jian, suaranya mengandung getaran kehancuran yang mutlak. "Aku sedang butuh tempat untuk melampiaskan kemarahan yang baru saja kuwarisi dari ibuku."

Lengan kiri Han Jian berpendar kelabu gelap. Ia melompat dari kapal, menantang ratusan rantai emas itu sendirian. Di tengah kegelapan samudera, cahaya kehancuran milik Han Jian meledak, menandai dimulainya perang suci melawan pencipta sistem yang telah membelenggu dunia selama jutaan tahun.

1
Malik Junjung
critanya trlalu ringkas...
Malik Junjung
yach... mnurut sy sich drpd ikut ujian kdewasaan mnding klwr dri klan... drod pmer kekuatn....
angin kelana
bab selanjutnya semoga lebih seru lg..
秋天(Qiūtiān): di tunggu ya teman teman
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!