Amelia Cameron nekad mendatangi kantor Best Idea Design milik seorang arsitek terkemuka, Caelan Harrison, untuk menuntut hak keponakannya, Emi. Amelia percaya bahwa Caelan merupakan ayah biologis dari Emi, putri kecil dari adiknya, Olivia yang sudah meninggal. Namun, seperti sebelumnya ketika Olivia menuntut hal yang sama, Caelan menolak untuk bertanggung jawab. Caelan berkata dirinya bukan ayah Emi, bahkan belum pernah bertemu Olivia sebelumnya.
Amelia berkeras, karena memiliki bukti hubungan Olivia dan Caelan. Akan tetapi, Caelan sama kerasnya dan meminta bukti tes DNA. Sebelum tes DNA yang dijadwalkan dilakukan, Caelan muncul di pintu rumah Amelia, berkata ingin bertanggung jawab membesarkan Emi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Soe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 27
Setelah insiden kedatangan Andrew yang membuat kekacauan sesaat, tidak ada lagi kejadian tidak menyenangkan hari itu. Pesta yang diadakan hingga jam 4 sore itu berlangsung dengan baik. Tidak ada tamu yang mengeluh kehabisan makanan dan hiburannya tidak membosankan. Event organizer yang disewa Anna terbukti sangat membantu membuat acara lancar dan seru. Ada beberapa games yang dimasukkan ke dalam acara dan diikuti senang hati oleh para tamu.
Seorang sepupu dari pihak Anna, Jeni, mendapatkan buket bunga yang Amelia lempar. Gadis itu terlihat sangat senang, apalagi setelahnya Amelia mendengar kabar bahwa kekasih Jeni melamar sehingga bisa dipastikan pesta pernikahan yang akan diselenggarakan berikutnya adalah pernikahan Jeni.
Amelia tidak mengenal Jeni sebelumnya, tapi ia ikut bahagia mendengar Jeni akan menjadi pengantin.
“Mona pasti akan membuat pesta besar-besaran,” kata Anna sambil memerhatikan Jeni yang terlihat bahagia. Karena Amelia tampak bingung, Anna menambahkan, “Mona ibunya Jeni.”
“Atau mungkin Mona akan kalah dengan bujukan putrinya yang ingin pernikahan sederhana,” ujar Simon yang berdiri di sebelah Anna.
“Nah, itu bisa saja terjadi,” kata Anna. “Soalnya anak muda sekarang lebih suka pesta sederhana.” Anna menoleh pada Amelia dan Caelan.
“Kehidupan setelah pernikahan lebih penting, Ma,” sahut Caelan sambil merangkul Amelia.
Anna hanya mengangkat bahu. “Selain itu, pesta besar juga perlu banyak tenaga. Aku tidak akan sanggup. Lebih baik kusimpan tenaga untuk mengurus Emi. Anak itu butuh banyak kasih sayang.”
Amelia langsung memeluk Anna. “Terima kasih, Ma.” Amelia mengecup pipi Anna. Matanya berkaca-kaca.
“Jangan menangis, kau akan merusak riasanmu.” Anna menyapu air mata di sudut mata Amelia dengan sapu tangan. “Belum semua tamu kita pulang.”
Teguran Anna membuat Amelia tertawa. Kebahagiaannya terasa sempurna. Bukan hanya punya suami terbaik, Amelia juga diberkahi dengan mertua yang menyayanginya. Ditambah seorang putri kecil. Kebahagiaan Amelia benar-benar terasa lengkap.
Namun, ada ketakutan bahwa kebahagiaan itu akan direnggut darinya. Mengingat sebelum ini takdir selalu mempermainkannya, Amelia tidak bisa percaya bahwa bahagia yang dirasakannya akan berlangsung dalam jangka panjang apalagi bisa bertahan selamanya.
Tiga bulan setelah pernikahan, Amelia mulai percaya kalau kebahagiaan akhirnya benar-benar melekat dalam kehidupannya. Amelia tinggal di rumah baru yang dipenuhi kasih sayang dua bulan yang lalu. Memulai kehidupan rumah tangga bersama Caelan dan Emi.
Emi yang sudah berusia 16 bulan sangat aktif. Suka berlarian di dalam rumah maupun di taman. Memanjat naik ke atas sofa dan meja menjadi kegiatan harian Emi, selain mengoceh dengan bahasa bayi yang kadang tidak dimengerti Amelia maupun Caelan.
Emi yang semakin aktif membuat Amelia tidak bisa mengalihkan mata dari gadis kecil itu. Untungnya, Anna dan Simon serta Sandra sering berkunjung sehingga Amelia tidak sampai kelelahan mengasuh Emi sendirian. Caelan juga selalu aktif menjadi penjaga Emi jika sedang berada di rumah.
“Mamam,” ucap Emi yang menandakan gadis kecil itu lapar.
Amelia menggendong Emi, membawa ke dapur dan mendudukkannya di kursi khusus di meja makan. Amelia mengambilkan piring yang sudah diisi pasta dengan daging giling di atasnya.
Setelah mencuci tangan Emi, Amelia membiarkan anak itu makan sembari menyantap makan siang yang menunya sama dengan Emi, tapi dengan tambahan saus spaghetti dan porsinya lebih banyak.
Semenjak Emi aktif bergerak ke sana kemari, Amelia juga harus aktif mengikuti gerakan anak itu sehingga porsi makannya juga bertambah besar untuk mengganti tenaga yang terpakai mengejar Emi.
Mengurus bayi yang sudah bisa berlari kecil memang merepotkan sehingga Amelia mengurangi pekerjaan yang diambil. Hanya satu dua proyek ringan atau sedang yang Amelia kerjakan setiap minggunya. Amelia tidak berani mengambil pekerjaan dengan tanggung jawab besar dan jangka panjang, karena takut tidak bisa menyelesaikannya.
Untuk masalah finansial, Amelia tidak perlu khawatir. Kebutuhan pokoknya sudah diberikan Caelan, bahkan suaminya juga mengirimkan sejumlah uang ke rekening Amelia setiap bulan untuk keperluan pribadinya. Jumlahnya cukup besar, tapi jarang Amelia gunakan. Sebab untuk membayar cicilan hutang sudah bisa Amelia ambil dari bayaran pekerjaan paruh waktu.
Sekarang Amelia punya rumah, makanan, pakaian layak, dan sedikit tabungan. Terutama juga memiliki keluarga yang disayangi dan menyayanginya. Amelia tidak memiliki keluhan, bahkan sangat bersyukur dengan keadaannya.
Saat Amelia dan Emi makan, Caelan menelepon.
“Papap,” celoteh Emi riang saat mendengar suara Caelan. Amelia mengubah panggilan menjadi video call. Emi semakin bersemangat ketika melihat Caelan di layar ponsel Amelia. “Pa … pa … pa … pap.”
“Halo, Putri Kecil. Apa yang kau makan siang ini?”
“Spaghetti, Papa,” jawab Amelia sementara Emi menjawab dengan mengangkat tangan berisi pasta.
“Papa sudah makan siang?”
“Papa akan makan siang sebentar lagi di restoran hotel. Ada rapat dengan klien setelahnya, mungkin akan lama,”jawab Caelan.
“Makanlah dengan benar, jangan hanya mengurusi pekerjaan,” ujar Amelia.
“Siap, Nyonya. Aku tidak akan lupa makan dan akan beristirahat dengan baik,” sahut Caelan. “Kau di sana juga harus perhatikan kesehatan. Minta tolong Mama dan Papa jika kau merasa kelelahan, atau menginap saja di rumah mereka selama aku pergi. Aku tidak tenang meninggalkan kalian berdua saja.”
Caelan sedang dinas di luar negeri, tepatnya pria itu berada di Australia bergabung dalam sebuah proyek pembangunan gedung perkantoran. Sudah dua hari Caelan di Sydney dan kemungkinan baru bisa pulang sebulan kemudian.
“Aku memang berencana ke rumah Mama sore ini, Mama menelepon tadi pagi meminta kami menginap di sana,” ujar Amelia.
“Pergilah, menginap di tempat Mama supaya kau tidak kesepian.”
“Di sini aku juga tidak kesepian, kan ada Emi,” sahut Amelia.
“Tentu saja, kau tidak merindukan suamimu ini.”Caelan berpura-pura sedih.
Amelia tertawa. Caelan kadang-kadang memang suka bersikap dramatis, hanya untuk menghibur Amelia.
“Kapan aku tidak merindukanmu, Suamiku sayang?”
“Aku jadi ingin memelukmu,” sahut Caelan dengan sedih. “Baru dua hari, tapi aku sudah merindukanmu.” Caelan menghela napas.
“Apa aku perlu terbang ke sana?” tanya Amelia.
“Bisakah? Aku akan minta David pesankan tiket. Berapa lama waktu yang kau perlukan untuk berkemas?”
Caelan jadi sangat bersemangat dan itu membuat Amelia merasa bersalah. Niatnya tadi hanya bercanda, tapi Caelan malah jadi begitu antusias. Semangat Caelan luntur ketika melihat ekspresi Amelia.
“Kau tidak bisa, ya?”
“Maaf, kalau kami ke sana hanya akan membuat pekerjaanmu terhambat,” ujar Amelia. “Ini proyek yang penting, kau harus mengerjakannya dengan baik.”
“Aku tahu,”sahut Caelan lemah. “Aku akan mengerjakannya dengan baik dalam waktu sesingkat mungkin supaya bisa cepat pulang.”
“Kami menunggumu di sini.”
“Aku harus pergi sekarang. Dadah Emi sayang,”ucap Caelan. Lalu sebagai penutup pria itu berkata pada Amelia, “Aku mencintaimu.”
“Aku mencintaimu.”
Caelan menghilang dari layar, dan Amelia kembali merindukan suaminya itu.
Emi tidur setelah makan siang. Karena tidak ada pekerjaan, Amelia mengeluarkan kardus-kardus yang dibawanya dari rumah lama. Mengingat rumah lama, Amelia teringat Andrew yang tidak pernah muncul lagi setelah hari pernikahan. Amelia pernah bertanya pada Caelan mengenai Andrew, tapi suaminya hanya menjawab, “Sudah dibereskan.”
Amelia tidak bertanya bagaimana Caelan membereskan Andrew, tapi Caelan berani bersumpah tidak memberi Andrew uang. Jadi, ia tidak bertanya lagi.
Sebelum membongkar isi kardus, Amelia menemukan totebag berisi surat-surat yang diambil dari rumah lama. Ia mennyortir satu demi satu surat tersebut, kebanyakan berisi tagihan dan penawaran, adapula surat panggilan kerja yang terlambat Amelia temukan. Cukup disayangkan karena panggilan wawancara itu datang dari sebuah perusahaan terkemuka.
Namun, keadaan Amelia sekarang juga kurang memungkinkan untuk mulai bekerja tetap. Belum tentu juga Caelan akan memberinya izin.
Amelia berhenti menyortir ketika menemukan surat beramplop hijau dengan nama Rumah Sakit Emeral di atas amplop itu.
“Hasil tes DNA Emi.”
Amelia segera membuka amplop untuk melihat isinya. Baru saja hendak mengeluarkan surat, bel rumah berbunyi. Amelia meletakkan surat dan bergegas ke pintu untuk melihat siapa yang datang.
Amelia tertegun di depan monitor yang memperlihatkan tamu yang mengunjunginya siang itu. Seorang pria dengan topi baseball yang Amelia kenali. Pria itu adalah Andrew, pamannya.