Setelah diputuskan tiga tahun yang lalu oleh mantan kekasihnya dan menutup diri dari pria manapun, Anata Yulia gadis 24 tahun itu, tiba-tiba saja dijodohkan dengan seorang pria yang tidak dikenal oleh kedua orang tuanya.
"Kamu harus mau Nat, sebentar lagi kamu 25 tahun, usia yang rawan dan sudah pantas untuk menikah. Maka, kamu harus mau, ya, kami jodohkan dengan pria tampan dan mapan." Sang Ibu membujuk dengan memohon.
Namun, siapa sangka pria yang akan dijodohkan dengannya ternyata adalah....
"Nata nggak mau, Bu?"
"Kenapa?"
"Karena...."
Yuk, pengen tahu kelanjutan kisahnya? Tentu bakal bikin penasaran. Ikuti kisahnya di "Dijodohkan Dengan Mantan Kekasih"
Ikuti Auhto di
FB " Tupar Nasir
WA 089520229628
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Memilih Mundur
Pagi itu di markas kesatuan, Kafeela berjalan menyusuri koridor dengan langkah tegap, meskipun isi kepalanya dipenuhi oleh sebuah ketetapan hati yang sudah bulat.
Ia berniat menghadap langsung kepada Pak Mayjend. Sebagai seorang prajurit sekaligus seorang suami, Kafeela merasa batasan antara tugas kedinasan dan urusan pribadi sang atasan sudah terlampau buram.
Ia ingin menegaskan posisi bahwa dirinya hanya siap melakukan tugasnya sebagai ajudan pribadi sang jenderal, tidak merangkap dengan tugas tambahan mengawal Jeny pulang kuliah, apalagi harus mengikutsertakan diri memantau anak gadis itu saat masuk ke club malam.
Kejadian fitnah video rekayasa kemarin sudah lebih dari cukup menjadi peringatan keras bagi keharmonisan rumah tangganya.
Namun, sebelum Kafeela sempat mengetuk pintu ruang kerja Pak Mayjend untuk mengutarakan maksudnya, sang komandan justru sudah memanggilnya masuk terlebih dahulu.
Di dalam ruangan, aura ketegasan Pak Mayjend terasa begitu pekat. Sang jenderal rupanya tidak main-main dengan ucapannya semalam untuk menjatuhkan hukuman disiplin pada putri tunggalnya.
"Kafee, masuk," panggil Pak Mayjend, suaranya terdengar berat namun penuh dengan wibawa yang tidak terbantahkan. "Mulai hari ini, kamu fokus penuh pada agenda kedinasan saya. Jangan lagi mencampuri atau mengurusi pergerakan Jeny."
Kafeela sempat tertegun sesaat, sebelum akhirnya memberikan hormat militer yang sempurna. "Siap, Komandan."
"Saya sudah menjatuhkan hukuman pada Jeny atas kelakuan memalukannya kemarin," lanjut Pak Mayjend sembari menyandarkan punggung ke kursi kebesarannya.
"Kemana pun Jeny pergi sekarang, termasuk ke kampus, dia akan dikawal ketat oleh seorang ajudan lain yang baru saya tunjuk, berpangkat sersan. Tidak ada lagi kebebasan kelayapan malam hari."
Pak Mayjend kemudian terkekeh sinis, mengingat bagaimana putrinya sempat menangis histeris menolak keputusan tersebut tadi pagi. Namun, sang jenderal memberikan ancaman yang mutlak dan tidak bisa dibantah.
Jika Jeny berani membantah atau mencoba melarikan diri dari pengawalan sang sersan, maka ia diancam akan dibuang ke tanah Papua saat itu juga. Pak Mayjend akan memindahkannya ke universitas di sana dan membiarkannya hidup dengan biaya sendiri yang terkenal sangat mahal.
Jeny tentu saja tidak mau. Membayangkan harus hidup di tanah Papua yang jauh dari kenyamanan kota kelahirannya, tanpa fasilitas mewah dan uang jajan melimpah dari orang tuanya, membuat nyali gadis manja itu langsung menciut.
Ia akhirnya menekuk lutut, lebih memilih pasrah dikawal oleh pengawal barunya yang berpangkat sersan ke mana-mana, daripada harus menghadapi pahitnya diasingkan ke ujung timur Indonesia.
Mendengar penuturan langsung dari komandannya, perasaan lega yang luar biasa seketika membuncah di dalam dada Kafeela. Ia senang bukan main.
Beban berat yang sempat menggelayuti pundaknya dan menjadi duri dalam pernikahannya kini telah disingkirkan langsung oleh tangan Pak Mayjend sendiri.
Jarak aman sepuluh meter yang diminta Anata semalam bahkan kini berubah menjadi jarak yang tidak terbatas karena ia tidak perlu lagi berinteraksi dengan Jeny.
Begitu keluar dari ruang kerja Komandan dan mendapatkan waktu luang, Kafeela langsung merogoh saku seragamnya. Ia sudah tidak sabar untuk menyampaikan kabar gembira ini kepada sang istri tercinta.
Jemarinya dengan cepat mencari kontak Anata dan menekan tombol panggil.
Tut... Tut... Tut...
Panggilan pertama tidak terjawab. Kafeela mencoba sekali lagi, namun hasilnya tetap sama. Nada sambung itu berbunyi hingga habis tanpa ada suara lembut Anata yang menyahut di ujung telepon.
Di seberang sana, di gedung perkantoran megah PT Lokomoro Desain n Interior, Anata memang sedang berada dalam mode super sibuk.
Sebagai seorang profesional yang bergerak di bidang design and interior, fokusnya siang itu sedang tersita sepenuhnya oleh maket proyek dan lembar cetak biru yang berserakan di atas meja kerjanya.
Anata mengenakan kemeja kerja yang rapi dengan rambut yang dicepol asal, jemarinya lincah menggoreskan pena arsitektur di atas kertas kalkir.
Sementara beberapa staf lain tampak bergantian masuk untuk meminta persetujuan konsep ruang kepada atasannya di divisi masing-masing.
Ponselnya yang diletakkan di sudut meja sengaja diatur dalam mode getar, dan suaranya tenggelam di antara bisingnya diskusi tim di ruang studio desain tersebut. Anata sama sekali tidak sempat mengangkat panggilan Kafeela.
Anata dan timnya, Ira dan Adi, kini benar-benar sibuk. Tidak peduli Hp nya sibuk dengan deringan yang juga ingin segera digubris.
Meskipun panggilannya diabaikan, Kafeela sama sekali tidak merasa kesal. Ia memaklumi kesibukan istrinya. Sebagai wanita karier yang berdedikasi tinggi di PT Lokomoro Desain n Interior, Anata memang kerap kali tenggelam dalam dunianya jika sudah berurusan dengan tata ruang dan estetika bangunan.
Kafeela tersenyum tipis, memutuskan untuk mengirimkan pesan singkat saja agar bisa dibaca oleh Anata saat jam istirahat nanti.
Namun, di balik kesibukan profesionalnya, ada satu hal yang kini menjadi keputusan mutlak bagi Anata sejak tragedi video editan itu terungkap.
Anata secara tegas menolak dan tidak mau lagi mendatangi kediaman Pak Mayjend untuk melanjutkan proyek mendesain ruangannya.
Ia pun sudah membicarakan hal ini dengan dua rekan lainnya, yakni Ira dan Adi, dan mereka pun setuju, sebab ruangan itu hanya tinggal dieksekusi.
Bagi Anata, urusan profesional tetap memiliki batas. Ia seakan trauma dengan fitnah keji yang sengaja dibuat oleh Jeny kemarin sore.
Bayangan bagaimana dirinya dituduh melakukan tindakan tidak senonoh dengan suami orang, di dalam rumah kliennya sendiri, benar-benar menyisakan luka dan rasa waswas yang mendalam.
Ia tidak sudi lagi menginjakkan kakinya di rumah komandan itu jika hanya untuk melayani kebodohan seorang perempuan yang terobsesi pada suaminya.
Secara pribadi Anata pun meminta pengunduran dirinya dalam proyek itu pada atasannya langsung, Pak Rudi.
"Saya minta maaf, Pak," ujar Anata tegas saat berbicara dengan kepala divisinya di PT Lokomoro Desain n Interior yang sempat menanyakan kelanjutan proyek rumah dinas sang jenderal. "Untuk proyek dekorasi kamar di kediaman Pak Mayjend, saya menyerahkan seluruh datanya kepada tim lain. Saya tidak akan mengambil proyek itu lagi karena alasan kenyamanan kerja yang tidak kondusif."
Atasannya sempat bingung, namun melihat gurat ketegasan yang tak bisa diganggu gugat di wajah Anata, pihak perusahaan akhirnya menyetujui untuk mengalihkan proyek tersebut kepada desainer interior yang lain.
Bagi Anata, harga diri dan kedamaian rumah tangganya jauh lebih berharga daripada nominal kontrak kerja dari seorang komandan.
Ia sudah cukup bersabar kemarin, dan kini saatnya dia menarik garis pembatas yang tegas demi melindungi dirinya sendiri dari drama yang tidak penting.
Jangan lupa follow Author.....🥰🥰🥰
Ibu..... anaknya nanti tolong di kasih tau ya... Feeling ibu tepat banget, kalau Si Jin itu suka sama Kafee. Jadi nasehati Bu jangan jadi pelakor ya anaknya.... Jangan bikin malu. Ini udah bikin kasus kayak gini. Padahal itu video bapaknya sendiri lo.... diedit lagi pelukan sama istri anak buahnya ckckck....
Memang harus tegas Kafee. Kasih tau papa si jin Jeny. Biar di ganti aja. Jangan karena masalah kayak gini malah menghancurkan rumah tangga mu