Andreas Bramawijaya, seorang CEO ternama yang tampan dan selalu bersikap dingin. Sikap dingin nya itu, tidak lain karena dia kecewa dengan keluarga nya, dan kehilangan istri dan anak tercinta nya karena kecelakaan.
Akibat kehilangan istri dan anak nya, Andreas menjadi seseorang yang sangat dingin, ketus dan jarang tersenyum sehingga ditakuti banyak orang.
Bu Stella, kepala pembantu di rumah Andreas, yang sudah menemani Andreas sejak kecil, sangat kasihan melihat tuan yang sudah dianggap seperti anak nya itu berubah menjadi pendiam setelah ditinggal anak istri nya.
Akhir nya Bu Stella inisiatif untuk mendatangkan anak semata wayang nya ke rumah Andreas untuk menemani dan merawat Andreas supaya mau berubah menjadi Andreas yang seperti biasa lagi.
Savanna Zelindra anak yang baru lulus SMA, terpaksa harus menuruti kemauan ibu nya untuk ikut pindah kerumah bos nya. Apakah Savanna akan bisa berhasil menaklukkan sang bos duda tampan yang dingin?
Ikuti terus ya cerita nya🫶
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ell.ellsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ide pendekatan Savanna
Andreas turun ke bawah untuk makan malam. Andreas juga ingin melihat reaksi Savanna sekarang, setelah kejadian sore tadi. Ternyata Savanna tak ada di dapur.
Andreas celingukan mencari Savanna.
"Apa dia mengurung diri ya di kamar?" Andreas jadi merasa takut, apalagi bu Stella belum pulang ke rumah.
"Bu maaf saya mau tanya, kemana anak nya bu Stella?" Andreas menanyakan kepada bu Yuni yang sedang menyiapkan makanan.
"Oh Savanna, mungkin sedang mandi dulu, soal nya barusan baru bantuin ibu masak."
Andreas mengangguk. Dia gak jadi panik, karena Savanna masih beraktifitas seperti biasa.
Ternyata tak lama, benar saja, Savanna keluar dari kamar nya, dengan piyama tidur nya.
"Aduh dia baru mau mulai makan lagi. Kenapa gak dari tadi sih makan nya." Savanna menggerutu, karena dia masih kesal dengan Andreas.
Walaupun masih kesal, Savanna tetap harus menyambut majikan nya itu.
"Selamat malam tuan. Selamat menikmati makan malam nya."
Tanpa menunggu jawaban, Savanna langsung pergi.
"Tunggu."
Savanna buru buru berbalik, kaget mendengar Andreas.
"Ada apa tuan?"
"Ada yang ingin saya bicarakan. Setelah makan kita bicara sebentar ditaman."
"Aduh, dia mau bicara apa ya. Kok aku jadi deg degan. Ah sekalian aja aku bicara juga sama dia." Savanna mengangguk, tapi sambil ngomel dalam hati nya.
"Savanna, kenapa tuan sangat aneh, tiba tiba tuan Andreas ingin berbicara, apa tadi terjadi sesuatu?" Bu Yuni berbisik ke Savanna karena penasaran.
"Aku juga gak tahu bu. tapi sekarang, kaya nya aku mulai gak takut sama dia bu, apa boleh aku melawan dia?"
"Ya ampun, gak boleh lah. Nanti di marahin ibu mu loh."
"Soal nya dia ngeselin banget bu. Aku benci banget sama dia. Pengen bejek bejek rasa nya."
"Ssttt ah gak boleh gitu, Savanna harus tetap menghormati tuan."
"Ekhem."
Savanna dan bu Yuni sangat kaget, mendengar Andreas yang tiba tiba berdehem, seperti tau sedang di bicarakan.
Andreas mendatangi Savanna.
"Tuan sudah selesai makan nya?"
"Ikuti saya."
Akhir nya Savanna mengekori nya di belakang.
Andreas berdiri membelakangi Savanna.
"Maaf tuan, ada apa?"
"Kamu marah dengan kejadian tadi?"
Savanna mengerutkan alis,
"Apa? Gimana tuan?"
Andreas berbalik, takut nya Savanna kurang jelas mendengar perkataan nya.
"Apa kamu marah dengan kejadian tadi?"
"Tuan nanya aku marah??"
Andreas mengangguk.
"Astaga, Tuan pikir aja, itu adalah ciuman pertama ku, kenapa bisa bisa nya tuan cium bibir aku."
"Aduh. Jangan kenceng kenceng, bicara nya pelan aja, gimana kalau kedengeran sama yang lain?" Andreas langsung membekap bibir Savanna.
Savanna langsung menyingkirkan tangan Andreas.
"Ayo, ikut saya, kita bicara nya di atas." Andreas menarik tangan Savanna.
"Jangan tarik tarik aku. Aku bisa jalan sendiri."
Akhir nya mereka sampai lah di ruang kerja Andreas.
"Wah. Bagus nya." Tapi Savanna malah salfok dengan desain interior ruangan nya.
"Eh ngga, aku harus nya lagi marah marah tadi. Kenapa harus di jeda sih."
Andreas sedikit tersenyum mendengar ocehan Savanna.
"Sekarang kita bicara di sini, karena ruangan nya kedap suara, jadi, tidak akan ada yang mendengar pembicaraan kita." Andreas mengawali pembicaraan.
"Oke kalau begitu. Tuan Andreas harus tanggung jawab karena sudah mengambil ciuman pertama ku."
"Kenapa jadi saya yang harus bertanggung jawab, itu salah mu sendiri."
"Salah ku?"
"Iya, salah mu. Kalau kamu gak tarik saya, mungkin kejadian itu gak akan terjadi."
"Haha itu alasan nya, jadi tuan berfikir itu salah ku? Dengar ini tuan Andreas, coba berkaca lah, apakah kamu tidak punya kaca di rumah megah mu ini? Lihat lah badan mu, proporsi badan mu yang kekar dan gagah, lihat lah perbedaan nya dengan ku. Aku gak sengaja narik baju mu, tapi kenapa kamu gak ada tenaga nya sama sekali, padahal badan mu. Astaga, aku gak bisa berkata kata lagi, buat apa rajin olahraga badan kekar, tapi di tarik dikit langsung melehoy."
"Hmm, apa harus saya jelaskan dengan rumus fisika? Berat badan tidak mempengaruhi ketika kondisi kita belum stabil, kestabilan tubuh sangat diperlukan. Beda dengan kejadian tadi siang, kejadian itu sungguh sangat cepat, respon nya juga pasti sangat cepat karena saya belum siap."
"Jadi maksud tuan, tuan merasa gak bersalah karena sudah cium aku, gitu?"
Andreas hanya menggelengkan kepala nya.
"Iiissshhh." Savanna seolah ingin meremas wajah Andreas.
Dengan mata memerah, Savanna langsung jongkok di depan Andreas dan menangis.
"Ya ampun, kamu kenapa nangis, aduh, gimana ini." Andreas celingukan, bingung.
"Tuan tahu gak sih, itu benar benar ciuman pertama ku dengan laki laki, aku merasa kotor. Harus nya ciuman itu, buat cinta sejati aku nanti. Hiks." Savanna berbicara sambil menangis.
Andreas jongkok di depan Savanna.
"Iya maaf kan saya. Saya yang ceroboh. Saya harus bertanggung jawab seperti apa? karena ciuman itu tidak bisa dikembalikan lagi." Andreas jadi merasa bersalah, karena melihat Savanna yang menangis tersedu.
"Emang nya tuan mau tanggung jawab?"
"Ya kalau bisa, saya akan bertanggung jawab."
"Tuan janji?"
"Asal kamu tidak menangis lagi."
"Asik, mumpung tuan Andreas lagi baik, aku jadiin kesempatan aja ah." Savanna bergumam dalam hati sambil melihat Andreas yang seperti merasa bersalah.
"Ya udah kalau gitu aku gak akan nangis lagi. Tapi tuan Andreas harus nurutin permintaan aku."
"Permintaan apa?"
"Tuan Andreas harus temenin aku belajar untuk masuk Universitas seminggu."
"Terlalu lama, 2 hari saja."
"Yah 2 hari mana cukup, ujian masuk Universitas itu kata nya susah, kan tuan Andreas udah berpengalaman, pasti tahu. Pokok nya seminggu."
"3 hari."
"Ya udah, gak usah aja. Terus aku mau lapor sama ibu, kalau aku di cium tu......"
"Sstt ya sudah satu minggu." Andreas langsung menekan bibir Savanna dengan telunjuk nya.
"Oke deal." Savanna menjabat tangan Andreas, lalu tersenyum penuh kemenangan.
"Tapi tolong, jangan bilang bu Stella."
"Mmm aku sih bisa aja diam ya kalo tuan Andreas juga bisa bekerja sama. Tapi, kalo tuan Andreas macem macem, ya udah aku bisa bocorin kapan aja, bahkan sekarang pun."
"Iya iya, saya turuti permintaan kamu."
"Oke. jadi besok belajar nya setelah tuan selesai makan malam aja ya."
"Ya terserah."
"Kalau begitu aku permisi dulu ya."
Andreas tak menjawab.
"Oh iya tuan, ngomong ngomong, ruangan ini desain nya bagus banget, keren. Kaya yang nempatin nya keren. Hihi." Savanna langsung lari pergi dari ruang kerja Andreas.
"Astaga, bocah itu." Andreas geleng geleng kepala.
Tapi setelah di pikir pikir, Savanna anak nya lucu juga, dia baik, cuma ya tingkah nya saja kadang ngeselin. Tapi mungkin karena Savanna menyesuaikan umur nya. Masa remaja, masa yang memang masih sangat labil.
Andreas jadi bingung, kenapa dia jadi sedikit terhibur ketika di dekat Savanna.