Bismillah ....
14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya
Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.
Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Langit sore itu sedikit mendung, seolah ikut menahan sesuatu yang belum siap turun sepenuhnya.
Adinda duduk di tempat yang sama seperti kemarin. Sudut kafe yang tenang, jauh dari keramaian. Tapi kali ini, ia tidak setenang sebelumnya.
Jemarinya saling bertaut di atas meja. Sesekali ia melihat ponselnya. Pesan dari Naya masih terngiang jelas di kepalanya.
“Ini bukan hal kecil.”
Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat dadanya tidak nyaman sejak tadi siang.
“Adinda.”
Suara itu membuatnya tersentak kecil. Ia menoleh, ternyata Naya sudah berdiri di hadapannya. Wajahnya serius. Tidak ada senyum basa-basi seperti biasanya.
“Maaf, aku langsung ke sini,” ucap Naya singkat.
Adinda menggeleng. “Gak apa-apa. Aku juga dari tadi nunggu.”
Naya langsung duduk. Tidak banyak basa-basi. Ia membuka tasnya, mengeluarkan tablet kecil dan beberapa lembar kertas.
Aura di antara mereka langsung berubah, bukan lagi sekedar pertemanan ini seperti interogasi yang halus.
“Aku udah cek data kamu,” ucap Naya tanpa berputar-putar.
Adinda langsung menegang. “Dan?” tanyanya pelan.
Naya menatapnya beberapa detik, seolah menimbang seberapa jauh ia harus bicara, jika salah kata saja perempuan itu sangat takut membuat lawan bicaranya merasa cemas.
“Data kamu… gak lengkap.”
Dahi Adinda langsung berkerut. “Maksudnya?”
“Untuk ukuran orang yang sudah menikah lama dan hidup normal, riwayat kesehatan kamu terlalu bersih,” jelas Naya. “Bahkan… bisa dibilang ada bagian yang hilang.”
Deg.
Adinda menelan ludah. “Aku gak pernah sakit parah,” sahutnya cepat, seperti membela sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak yakin.
Naya tidak langsung membantah. Ia hanya menggeser tablet itu sedikit ke arah Adinda.
“Lihat ini.”
Adinda ragu sejenak, tapi akhirnya menunduk.
Di layar itu hanya ada satu catatan singkat, seolah semuanya sengaja dibatasi dan dihilangkan.
“Pasien perempuan. Kondisi kritis. Operasi darurat.”
Adinda membeku, napasnya tertahan, entah kenapa dia tidak bisa mengingat sekecil pun kejadian itu, meskipun ia sudah berusaha untuk mengingatnya.
“Ini… siapa?” bisiknya pelan.
Naya menatapnya lurus. “Namanya gak dicantumkan. Tapi semua data lain… mengarah ke kamu.”
Seisi tubuh Adinda langsung terasa dingin tangannya perlahan menjauh dari tablet, seolah tidak percaya dengan semua bukti yang di dapati.
“Gak mungkin…” gumamnya lirih.
Namun Naya belum selesai. “Dan ini yang lebih aneh.”
Ia mengeluarkan satu lembar kertas lagi, yang berisi data-data dari rumah sakit yang sama.
“Kejadian itu… sekitar lima tahun lalu.”
Deg.
Jantung Adinda berdegup kencang. Lima tahun yang lalu, seingatnya waktu itu ia sedang LDR dengan suaminya yang harus bekerja di luar negeri, setelah itu ia tidak mengingat apa-apa lagi seakan bagian hidupnya benar-benar hilang.
“Aku…” ia menggeleng pelan. “Aku gak ingat apa-apa.”
Naya mengangguk pelan. “Itu yang bikin aku curiga.”
Hening sejenak. Suara sendok beradu dari meja lain terdengar samar, tapi di antara mereka, semuanya terasa jauh lebih sunyi.
“Din,” panggil Naya pelan.
Adinda mengangkat wajahnya.
“Aku juga cek data lain.” Tatapan Naya kali ini lebih dalam, lebih hati-hati.
“Ada bayi yang lahir di hari yang sama… di rumah sakit yang sama.”
Napas Adinda langsung tercekat seolah sesuatu di dalam dirinya langsung merespons.
“Ba… bayi?” ulangnya.
Naya mengangguk. “Perempuan.”
Jari-jari Adinda mulai bergetar, entah kenapa pikirannya langsung melayang pada sosok kecil yang baru beberapa hari ia temui "Alesia" tapi tak sedikitpun hatinya berani menyimpulkan.
“Status ibunya…” lanjut Naya pelan, “kosong.”
Kalimat itu menggantung di udara, terasa lebih berat dan menekan lalu Adinda menunduk. Napasnya mulai tidak teratur.
“Kenapa… kosong?” bisiknya.
Naya menggeleng. “Itu yang aneh. Data seperti itu biasanya gak mungkin hilang kecuali memang sengaja dihapus.”
Adinda langsung mengangkat wajahnya.
“Dihapus?” suaranya nyaris tidak terdengar.
Naya mengangguk pelan. “Dan kalau memang benar dihapus…”
Ia berhenti sejenak. “…berarti ada sesuatu yang disembunyikan.”
Adinda sudah tidak bisa lagi berkata-kata dadanya terasa sesak, seolah tidak sanggup menerima semua itu bahkan tiba-tiba bayangan di dalam mimpinya muncul lagi.
Cahaya putih dan suara alat medis serta tangisan bayi, semuanya seolah terdengar jelas di telinganya.
“Hentikan…” bisiknya pelan sambil memegang kepalanya.
Naya langsung waspada. “Din?”
“Aku… aku dengar lagi…” napas Adinda memburu. “Suara itu…”
Tangannya mencengkeram meja. “Mereka bilang… selamatkan ibu atau bayinya…”
Naya langsung menatapnya tajam. Kali ini ia bukan lagi sekadar mendengar cerita, tapi hal ini sudah mulai tersambung, dan Naya benar-benar meyakini itu.
“Din,” ucapnya pelan tapi tegas. “Kamu harus tenang.”
Adinda menggeleng. Air matanya mulai menggenang. “Ini gak masuk akal… aku gak pernah hamil…”
Kalimat itu keluar spontan, bahkan dirinya sendiri tidak merasa yakin dengan kejadian ini padahal bukti sudah mengarah. "Ya Allah berikanlah petunjukMu, jangan buat aku terus bertanya dan bingung seperti ini."
Naya tidak menyela. Ia hanya memperhatikan.
Lalu perlahan berkata.n“Aku belum bilang kamu pernah hamil.”
Adinda langsung terdiam, tatapannya kosong, jika memang ada yang sengaja melakukan itu maka demi apapun ia takkan memberi maaf.
"Aku memang tidak pernah merasakan hamil, yang aku tahu Mas Arya pergi ke luar negeri.
“Iya…” lanjut Naya.
Lalu ia mencondongkan tubuhnya sedikit, mencoba untuk menjelaskan lebih hati-hati lagi. “Tapi… semua yang kamu alami sekarang… mengarah ke sana.”
Deg.
Air mata Adinda akhirnya jatuh pelan tanpa suara. “Kalau itu benar…” suaranya bergetar. “Kenapa aku gak ingat?”
Naya menghela napas pelan. “Ada banyak kemungkinan,” ucapnya hati-hati. “Trauma. Kecelakaan. Atau…”
Ia berhenti. “…seseorang yang tidak ingin kamu mengingatnya.”
Kalimat itu membuat Adinda langsung mengangkat wajah matanya merah padam.
“Siapa?”
Naya tidak menjawab, bukan karena tidak mau tapi karena. Ia belum punya bukti cukup.
“Aku masih harus gali lebih dalam,” ucapnya akhirnya.
Ia meraih kembali kertas-kertas itu, untuk diselidiki kembali. “Tapi satu hal yang pasti…”
Tatapannya kembali tajam. “…ini bukan kebetulan, Din," tegasnya kembali seolah menekankan memang kejadian ini nyata adanya.
Adinda terdiam. Tangannya perlahan menggenggam gelang kecil di dalam tasnya.
Dadanya terasa sesak, namun untuk sekarang
Ia tidak menolak perasaan itu, perlahan hatinya mulai menerima.
“Kalau… kalau itu benar…” bisiknya pelan. “Aku harus tahu.”
Naya mengangguk seolah mengerti dan memberi semangat. “Dan aku akan bantu kamu sampai ketemu jawabannya.”
Di antara suara kafe yang mulai ramai. Dua wanita itu duduk dalam diam. Namun diam mereka bukan kosong. Melainkan awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
🍀🍀🍀🍀🍀
Di tempat lain Sintia berdiri di depan jendela. tatapannya kosong… tapi pikirannya penuh. Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Pesan masuk.
Dari seseorang yang tidak disebutkan namanya.
“Dia mulai mencari tahu.”
Mata Sintia langsung membelalak tangannya mengepal. “Tidak…” bisiknya pelan.
“Belum waktunya.”
Wanita paruh baya itu mulai kebingungan sendiri, karena ia tahu di dalam kasus ini bukan hanya dia saja yang berperan. Hanya saja nasib baik tidak berpihak padanya. Penyokong pada waktu itu sudah tutup usia beberapa bulan yang lalu. Dan kali ini ia benar-benar ketakutan.
Bersambung....