"Perempuan Mandul!" cerca Loretta melotot tajam.
"Ibu...." Amira tergugu, sakit hati ia mendengar teriakan sang mertua.
"Kenapa? Kalian sudahenikah 10 tahun, tapi tak kunjung punya anak, kalau bukan mandul apa namanya, Hah?!"
Di sudut ruangan, Beni hanya tertunduk diam, tak berniat mendekati atau menghibur istrinya.
"Atau jangan-jangan kau sengaja minum pil ya, biar nggak hamil?" Loretta tak henti menyudutkan Amira, berdiri bersedekap membelakangi menantunya itu. "Pergi dari sini, Besok pagi Beni harus menikah dengan wanita lain pilihan ibu!"
........
Pernikahan bukan hanya tentang hidup bersama, tapi juga tentang bagaiman abertahanbbersama, setia sekata dalam menghadapi setiap ujian.
Loretta, mertua yang kejam, tak segan menjebak dan menjatuhkan Amira hanya untuk memisahkannya dengan Beni yang notabene adalah putranya sendiri.
Mampukah Amira pergi menanggung tuduhan yang menyakitkan? akankah ia kembali untuk membalas perlakuan keluarga suaminya?
happy reading ya🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WeGe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trauma Yang Menyakitkan
"Amira!" teriak panik Rita saat tak mendapati Amira di dalam rumahnya.
Mendengar teriakan itu, sontak Raka, Bu Siti, Nolan dan Taya beranjak dari ruang tamu menuju ke dapur, dimana Rita tampak bingung, berdiri di ambang pintu, menatap kebelakang rumahnya.
"Ada apa?" tanya Nolan.
"Di-dia tak ada dimana-mana. Bagaimana ini?"
Taya dan Nolan bergegas mencari ke sekitar rumah Rita, mencari jejak-jejak yang mungkin saja ditinggalkan Amira.
"Aku akan mencari ke rumah pamannya, mungkin saja dia disana!" seru Rita kemudian segera pergi.
"Aku temani!" sahut Bu Siti kemudian bergegas bergabung dengan langkah Rita.
Sedangkan Raka hanya terdiam tegang. Ia berada di situasi yang rumit. "Dia mungkin melihatku, lalu melarikan diri!" sesalnya dalam hati, mengutuki dirinya sendiri.
Saat semuanya panik dan sibuk mencari Amira, Raka terdiam berpikir di ruang tamu rumah Rita. "Kurasa aku tahu kemana dia mengambil jalan!" serunya kemudian beranjak menuju ke jalan raya. "Seperti sebuah kebiasaan, Wanita bodoh itu, setiap beberapa kali berhasil lolos, karena ia selalu menuju ke tempat ramai."
Raka melewati jalan setapak di sisi rumah Rita, diantara kebun jagung yang sudah siap panen. Jelas di sana terlihat jejak kaki yang ia pastikan adalah jejak kaki Amira. "Ini memang sangat tak pantas, tapi berkat kesalahan malam itu, entah kenapa aku justru bisa menghapal ukuran kakinya." Arya bergumam, semakin mempercepat langkah kakinya.
Tepat seperti dugaannya, di ujung jalan setapak itu, terlihat Amira yang susah payah berusaha menaiki tanggul di tepi perkebunan untuk mencapai jalan raya di atasnya.
Siang itu matahari tepat di atas kepala. Bau tanah dan daun jagung menguar pekat. Amira melangkah cepat-cepat, tanpa sekalipun menoleh ke belakang.
“Aduh!” pekik kecilnya saat langkahnya tergelincir di antara deretan pohon jagung. Ia hampir roboh, tangannya kotor karena reflek menopang tubuhnya agar tak jatuh ke tanah.
“Amira!”
Amira tersentak, menoleh cepat ke arah sumber suara. “K-k….” Amira terbata dan panik. Suara itu, wajah itu, Amira tak mungkin melupakannya.
Raka berdiri lima langkah di depannya, di sela-sela batang jagung yang tinggi. Kaosnya telah basah oleh keringat, dengan ekspresi lebih serius dari sebelumnya. Untuk sepersekian detik, Amira tidak bisa bernapas. Dengung memenuhi telinganya. Daun jagung yang tadi meneduhkan, sekarang terasa seperti dinding.
Amira mundur satu langkah. Punggungnya membentur batang jagung yang menjadi terasa sangat tajam.
“Amira. Aku... aku minta maaf.” Suaranya serak. “Aku baru tahu kemarin. Bahwa kamu... kamu sahabatnya Rita. Sahabat istriku.”
Raka menunduk. Tangannya mengepal. “Waktu itu, aku bejat. Aku nggak tahu. Demi Tuhan, Mir, aku nggak mengenali kamu. Aku kira...” Dia menggeleng, tidak sanggup melanjutkan. “Maaf. Kata maaf nggak akan cukup. Aku tahu.”
Amira masih diam. Dadanya naik turun cepat. Keringat dingin membasahi pelipisnya padahal saat itu terik. Matanya menatap Raka, tapi juga tidak. Menatap sedetik lalu melewatinya dan terhenti sedetik ke suatu titik kosong. Jemarinya mencengkeram roknya sendiri sampai gemetar.
“Aku tahu semuanya. Soal suamimu dan... keluarga mertuamu yang menjebak dan mengusir kamu. Bajingan mereka semua.” Dia melangkah maju setapak. “Aku menyesal, Mir. Biar aku bantu kamu. Aku kenal seseorang, dia bisa bantu kamu untuk menuntut bayar perbuatan mereka!” cerocos Raka.
Amira akhirnya bersuara. Serak, nyaris berbisik, “Jangan….”
Raka berhenti.
“Jangan mendekat!” hentak Amira. Napasnya tercekat. Kalimatnya patah-patah, seperti orang tenggelam. “Kamu... kamu pikir permintaan maaf bisa menghapus...” Tangannya bergerak ke leher, meremas kerah bajunya sendiri. “Kamu pikir membantu membalas dendam bisa bikin ini...” Amira menunjuk kepalanya kemudian dadanya, “...hilang?” imbuhnya penuh penekanan.
Air matanya tidak jatuh. Hanya menggenang, membuat matanya panas. “Enyahlah kau badjingan! Kau setan!” pekik Amira dengan dada sesak, serasa mual.
“Mir, aku mohon. Aku bener-bener menyesal!” tandas Raka
Namun Amira menggeleng kuat-kuat. “Berhenti menyebut namaku!” Suaranya lebih tinggi sekarang, dan terdengar pecah. “Setiap kamu ngomong, aku... aku balik lagi ke hari itu! Sial! Bahkan aku justru ingat bau keringatmu. Berhenti, kumohon!” pekiknya pilu.
Amira tertunduk memejamkan mata kuat-kuat. Tubuhnya pun mulai gemetar hebat. “Aku nggak butuh bantuanmu, atau penyesalanmu! Semua yang udah susah payah aku kubur, kamu gali lagi!” imbuhnya tak berdaya.
Angin bertiup, membuat daun jagung berkeresek. Selama beberapa detik, hanya suara itu yang terdengar bercampur dengan isak Amira.
Tiba-tiba Amira kembali tegak, menatap tajam pada Raka. “Pergi!” serunya tegas dan jelas. “Sebelum aku teriak dan orang-orang kampung datang.”
Raka terlihat hancur. Mulutnya terbuka, mau bicara lagi, tapi kemudian urung. Akhirnya dia hanya mengangguk pelan, sangat pelan. “T-tapi—”
“PERGI!” Amira semakin meninggikan suaranya, begitu juga dengan tatapannya yang semakin melotot. Suaranya pecah, membuat burung-burung yang semula hinggap diantara pucuk bunga jagung yang mengering, terbang berpindah tempat.
Raka masih berdiri, ia tidak pergi sepenuhnya, hanya mundur berjarak dua batang jagung. “Mir, dengar dulu. Aku nggak akan menyentuhmu, sumpah. Aku cuma mau—”
“Diam!” Amira memotong. Napasnya masih putus-putus. Matanya liar menyapu sekeliling, lalu berhenti.
Di ujung kebun, di balik baris jagung terakhir, ada jalan raya kabupaten. Siang ini ramai. Truk pasir, motor, mobil pribadi bersahutan lewat. Aspalnya meleleh kena panas matahari.
Amira menatap jalan itu. Lalu menatap Raka. Ada sesuatu yang patah di matanya. Bukan sedih, bukan takut, tapi sesuatu yang kosong. “Satu langkah lagi kamu maju…” ucapnya mengambang tapi datar, terlalu datar hingga membuat Raka mulai memikirkan kemungkinan buruk, setelah mengikuti arah pandang Amira.
“Satu langkah saja kau berani mendekat, aku akan berlari kesana!” ancam Amira dengan dagunya menunjuk ke arah jalan raya. “Aku lompat ke tengah. Di depan truk.”
Bagi Raka, kalimat itu jatuh seperti batu. Keras dan cukup mengejutkan. Raka membeku sesaat. Darahnya seperti berhenti mengalir. “Mir... jangan. Jangan ngomong gitu.” Tangannya terangkat refleks, menahan. Tapi langsung diturunkan lagi. Takut, Takut gerakannya salah. “Oke. Oke, aku diem. Aku nggak maju. Lihat, aku nggak maju,” imbuhnya mulai panik.
Raka benar-benar bingung dan terpojok. Otaknya berteriak harus menolong, harus menarik Amira menjauh dari bibir kebun itu. Tapi logikanya tahu, kalau dia bergerak, Amira mungkin akan nekat lari.
Raka terkunci diantara rasa bersalah masa lalu dan nyawa Amira sekarang. Telapak tangannya basah, mulutnya terbuka, tapi tidak ada kata yang aman untuk diucapkan.
“Amira... kumohon. Jangan karena aku. Aku yang salah. Jangan kamu yang—”
“Cukup!” Amira mundur lagi selangkah. Kerikil di batas kebun berderak di bawah sandalnya. Tinggal empat langkah lagi ke aspal. “Kamu diem di situ. Kalau nggak...”
Kata-katanya tidak selesai, seolah tiak perlu untuk diselesaikan, mata liar Amira beralih ke ujung jalan raya. Truk kontainer melaju dengan deru kencang, cukup membuat tanah di bawah kakinya bergetar. Amira terhuyung sedikit, membuat jantung Raka hampir copot, mengira wanita itu benar-benar melompat.
Raka jatuh ke tanah dan berlutut. “Maafkan aku Mira, tolong jangan nekat, semua memang salahku!” teriak Raka.
Tanpa mereka sadari, dari balik barisan pohon jagung, seorang wanita berdiri mengawasi. Langkahnya yang awalnya tergesa, terhenti seketika saat mendengar ucapan Raka. "Kenapa dia meminta maaf?"
...🍂🍂🍂Bersambung🍂🍂🍂...