Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.
Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.
Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Pukul delapan malam.
Lampu kota Jakarta menyala terang, memantul di kaca-kaca gedung tinggi. Di sebuah restoran hotel yang sama seperti sebelumnya, suasana tampak tenang namun penuh kesan eksklusif.
Harsa dan Rina duduk berhadapan dengan dua orang perwakilan dari perusahaan mitra.
Di atas meja, berkas-berkas terbuka. Pembicaraan berlangsung serius.
“Seperti yang sudah kami jelaskan sebelumnya, kami membutuhkan kepastian dari pihak Bapak,” ujar salah satu klien dengan nada tegas.
Harsa mengangguk, tubuhnya sedikit condong ke depan.
“Kami siap memenuhi semua persyaratan tambahan,” jawabnya profesional. “Selama kerja sama ini masih bisa dilanjutkan.”
Rina menambahkan dengan suara halus, “Kami juga sudah melakukan beberapa penyesuaian dari pihak internal.”
Klien itu mengangguk pelan, percakapan terus berlanjut.
Harsa terlihat lebih fokus malam ini. Tidak seperti sebelumnya. Seolah ia benar-benar ingin memastikan kerja sama itu kembali berjalan.
Beberapa waktu kemudian suasana mulai mencair. Salah satu klien tersenyum, lalu memberi isyarat pada pelayan.
“Sepertinya kita butuh sedikit minuman untuk merayakan pembicaraan ini,” ujarnya santai.
Harsa langsung menggeleng halus. “Maaf, saya tidak minum.”
Klien itu tertawa kecil. “Ah, jangan terlalu kaku, Pak Harsa. Hanya sedikit saja.”
“Saya tetap tidak minum,” jawab Harsa, kali ini lebih tegas.
Namun klien itu belum menyerah.
“Anggap saja ini bentuk penghargaan kami. Masa Bapak menolak terus?”
Harsa menarik napas pelan dan dia jelas tidak nyaman.
“Saya benar-benar tidak—”
“Pak Harsa,” potong Rina pelan.
Harsa menoleh.
Rina menatapnya dengan senyum tipis, namun matanya memberi isyarat berbeda.
“Tidak enak kalau terus menolak,” lanjut Rina dengan suara rendah, hampir berbisik. “Nanti mereka bisa salah paham.”
Harsa mengerutkan kening.
“Saya memang tidak biasa minum,” balasnya pelan.
Rina mendekat sedikit, suaranya semakin halus.
“Ini penting untuk hubungan bisnis, Pak,” katanya. “Kadang … kita perlu menyesuaikan diri.”
Kalimat itu sederhana namun cukup untuk membuat Harsa ragu. Ia melirik ke arah klien yang masih menunggu dengan ekspresi penuh harap.
Harsa akhirnya menghela napas panjang.
“Baik,” ucapnya.
Klien itu langsung tersenyum lebar. “Nah, begitu dong!”
Gelas minuman segera disajikan di depan mereka. Harsa menatap cairan itu beberapa detik. Seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. Namun, akhirnya ia meraih gelas itu.
Rina yang duduk di sampingnya memperhatikan dengan tenang. Senyum tipis terukir di bibirnya, malam semakin larut. Pembicaraan mulai bergeser dari serius menjadi lebih santai. Tawa kecil mulai terdengar namun di balik itu ada sesuatu yang berubah. Harsa yang biasanya tegas dan terkontrol kini mulai terlihat lebih longgar.
Sementara itu, Arsyi duduk di lantai kamar. Melodi sudah tertidur di dalam boks. Lampu kamar redup, suasana hening. Arsyi menatap ponselnya. Lalu meletakkan ponselnya. Ia hanya bangkit, mematikan lampu utama, lalu berbaring di samping Melodi.
“Sudah cukup…” bisiknya pelan.
Di restoran gelas Harsa sudah tidak lagi penuh. Entah sudah berapa kali ia meneguk. Ia tidak benar-benar menghitung.
Rina sedikit mendekat.
“Bapak tidak apa-apa?” tanyanya pelan.
Harsa tersenyum tipis, sesuatu yang jarang terlihat.
“Tidak apa-apa.”
Namun jelas ia tidak seperti biasanya. Malam semakin larut ketika pertemuan itu akhirnya selesai.
Lampu restoran mulai meredup, menyisakan suasana tenang dengan sisa percakapan dari beberapa meja. Harsa berdiri dari kursinya dengan sedikit goyah. Tangannya sempat bertumpu di meja, menahan keseimbangan.
Rina langsung berdiri di sampingnya.
“Pak … hati-hati,” ucapnya pelan.
Harsa mengangguk singkat, meskipun pandangannya sedikit buram. Kepalanya terasa berat, dan langkahnya tidak sekuat biasanya.
Mereka berjalan keluar dari restoran hotel itu.
Udara malam menyambut begitu mereka sampai di area parkir. Angin dingin menyentuh wajah Harsa, membuatnya sedikit tersadar namun tidak sepenuhnya.
Rina menatapnya.
“Bapak benar-benar tidak apa-apa?” tanyanya lagi.
Harsa menghembuskan napas panjang. “Saya … baik.”
Namun, jelas tidak langkahnya masih sedikit tidak stabil. Rina mendekat, refleks memegang lengannya.
“Sepertinya Bapak terlalu banyak minum,” ucapnya pelan.
Harsa tidak menolak sentuhan itu, tapi juga tidak menanggapinya. Ia hanya menatap ke depan. Beberapa detik berlalu, sebelum Rina kembali berbicara.
“Pak Harsa…” panggilnya hati-hati.
Harsa menoleh sedikit. “Iya?”
Rina ragu sejenak, lalu berkata,
“Kalau kondisi Bapak seperti ini … bagaimana kalau kita menginap saja di hotel malam ini?” Kalimat itu diucapkan dengan lembut.
Harsa terdiam, keningnya berkerut.
“Menginap?” ulangnya pelan.
“Iya,” jawab Rina cepat. “Supaya Bapak bisa istirahat. Saya khawatir kalau Bapak memaksakan pulang … itu berbahaya.”
Harsa memejamkan mata sejenak, kepalanya terasa berat.
“Saya … pulang.”
Rina sedikit terkejut. “Pak, tapi—”
“Saya mau pulang,” ulang Harsa, kali ini lebih tegas meskipun suaranya berat.
Rina menatapnya beberapa detik.
“Malam sudah larut, Pak. Dan kondisi Bapak—”
“Saya tahu kondisi saya,” potong Harsa. Nada suaranya tidak tinggi. Ia menarik napas dalam, berusaha menstabilkan dirinya.
“Saya tidak ingin tinggal di sini,” lanjutnya pelan.
Rina terdiam. Harsa menatapnya sekilas, lalu berkata lebih jujur,
“Kalau saya terus di sini … saya takut tidak bisa mengontrol diri saya sendiri.”
Kalimat itu membuat Rina membeku sejenak. Tatapannya berubah namun hanya sesaat. Ia kembali tersenyum tipis.
“Baik,” ucapnya akhirnya. “Kalau itu keputusan Bapak.”
Harsa mengangguk.
“Antar saya ke mobil.”
Rina membantu membukakan pintu mobil. Sebelum Harsa masuk, ia sempat berhenti sejenak. Menatap ke arah langit malam. Lalu satu nama terlintas.
“Nadin…” gumamnya lirih.
Harsa masuk ke dalam mobil. Rina menutup pintu, lalu berjalan ke sisi pengemudi. Sebelum menyalakan mesin, ia melirik ke arah Harsa.
Pria itu bersandar di kursi.
Matanya terpejam namun rahangnya masih mengeras. Seolah sedang menahan sesuatu. Rina menatapnya cukup lama. Lalu tersenyum tipis.
“Mari kita pulang, Pak,” ucapnya pelan.
Mobil itu pun melaju meninggalkan hotel. Membelah malam yang dingin.
lanjut thorrrr