Di dunia di mana takdir ditentukan oleh kemurnian akar spiritual, Wang Tian terlahir sebagai kutukan. Memiliki lima elemen dasar yang saling bertabrakan, ia dicap sebagai "sampah abadi" dan dibuang ke Perpustakaan Terlarang yang terlupakan. Namun, di balik debu sejarah, ia menemukan Sutra Kaisar Sembilan Unsur—sebuah teknik terlarang yang mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari kemurnian, melainkan dari kekacauan primordial.
Demi mengubah nasib, Wang Tian menempuh jalan yang diharamkan: menghancurkan pusat energinya sendiri untuk membangun Pusaran Primordial yang mampu melahap segala elemen alam semesta. Dari murid pelayan yang dihina, ia bangkit menjadi anomali yang mengguncang tatanan langit.
Perjalanannya penuh darah dan pengkhianatan. Ia harus menyembunyikan kekuatannya dari 12 Klan Kuno yang angkuh dan 4 Sekte Penguasa Arah Angin yang mengincarnya sebagai ancaman dunia. Di tengah pelariannya, ia dipertemukan dengan empat wanita luar biasa—termasuk sang Ratu Kegela
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abai Shaden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Kota Terlarang dan Penjaga Abadi
Gurun Kematian seolah-olah hidup, mencoba menelan siapa pun yang berani melintasi batas sucinya. Angin menderu dengan suara yang menyerupai rintihan jiwa-jiwa yang tersesat. Di cakrawala, di balik fatamorgana yang membias, muncullah siluet sebuah kota yang terbuat dari batu hitam yang berkilau seperti obsidian. Inilah Kota Terlarang Kuno, tempat yang dihapus dari peta dunia oleh para Dewa karena dianggap sebagai pusat pemberontakan terhadap langit.
Wang Tian melangkah paling depan. Di sekelilingnya, sebuah medan energi abu-abu tipis melindunginya dan ketiga gadis itu dari radiasi hampa yang mematikan di wilayah ini.
"Lihat itu..." bisik Lin Xuelan, menunjuk ke gerbang kota yang tingginya mencapai seratus meter. Di depannya, berdiri dua patung raksasa yang memegang kapak ganda.
Tiba-tiba, mata patung itu menyala dengan api biru yang dingin.
"Siapa yang berani mengusik tidur panjang para Pengkhianat Langit?" suara itu bukan berasal dari mulut patung, melainkan getaran frekuensi yang menghantam langsung ke mental mereka.
Patung itu mulai bergerak. Debu gurun selama ribuan tahun runtuh dari tubuh batu mereka. Inilah Golems Penjaga Roh, makhluk mekanis yang ditenagai oleh sisa-sisa energi ilahi.
Pertempuran Tanpa Suara
Mora segera menghunus sabitnya, sementara Sui Ren memanggil badai angin tajam. Namun, Wang Tian mengangkat tangannya, memberi isyarat agar mereka tetap di belakang.
"Jangan gunakan energi elemen biasa," peringat Wang Tian. "Tempat ini menyerap energi elemen untuk memperkuat diri. Biarkan aku yang menangani ini dengan kehampaan."
Salah satu golem mengayunkan kapak raksasanya. Serangan itu begitu berat hingga membelah pasir gurun menjadi jurang yang dalam. Wang Tian tidak menghindar. Ia hanya melangkah maju dan menyentuh bilah kapak itu dengan jari telunjuknya.
"Hukum Primordial: Pembusukan Materi."
Seketika, kapak yang terbuat dari logam kuno yang tak terhancurkan itu mulai berubah menjadi debu. Korosi abu-abu menjalar dari titik sentuhan Wang Tian, merambat ke seluruh lengan golem hingga ke dadanya. Golem itu mencoba meraung, namun sistem energinya meledak dari dalam karena dipaksa memproses energi primordial yang tidak bisa ia cerna.
Golem kedua menyerang dengan kecepatan yang tak terduga, mencoba menghancurkan Wang Tian dari atas.
"Terlalu lambat," gumam Wang Tian. Ia menggunakan Langkah Sembilan Bayangan, muncul di belakang leher golem tersebut. Ia menghantamkan telapak tangannya ke inti energi golem. "Kembalilah ke debu."
BOOM!
Kedua penjaga abadi itu hancur berkeping-keping. Gerbang besar Kota Terlarang perlahan terbuka, mengeluarkan hawa dingin yang kontras dengan panasnya gurun.
Jebakan di Aula Ribuan Cermin
Mereka memasuki kota. Di dalamnya, tidak ada bangunan kayu atau bata, melainkan bangunan yang dipahat langsung dari kristal hitam. Mereka sampai di sebuah aula besar yang dikelilingi oleh cermin-cermin raksasa.
"Jangan melihat ke cermin!" teriak Lin Xia dari belakang, namun terlambat.
Sui Ren menatap salah satu cermin dan seketika ia membeku. Di dalam cermin itu, ia melihat dirinya sendiri yang sedang memimpin Sekte Angin Barat menuju kehancuran. Lin Xuelan melihat dirinya dikhianati oleh ayahnya sendiri. Cermin-cermin itu tidak memantulkan fisik, melainkan ketakutan terdalam dan penyesalan jiwa.
Wang Tian melihat ke arah cermin di depannya. Di sana, ia melihat dirinya kembali menjadi seorang pelayan perpustakaan yang dipukuli oleh Li Chen. Namun, Wang Tian hanya tersenyum dingin.
"Masa laluku adalah guruku, bukan penjaraku," ucap Wang Tian. Ia melepaskan aura Kehendak Primordial. "Hancurlah, ilusi murahan!"
Gelombang energi abu-abu menyapu seluruh ruangan. Ribuan cermin pecah berkeping-keping secara bersamaan. Sui Ren dan Xuelan tersentak bangun dari trans mereka, napas mereka memburu.
"Tempat ini... menyerang titik terlemah kita," bisik Sui Ren, wajahnya pucat.
"Itulah sebabnya tempat ini aman dari klan kuno," balas Wang Tian. "Mereka memiliki terlalu banyak dosa dan ketakutan. Mereka tidak akan bertahan melewati gerbang depan."
Penemuan: Kitab Sembilan Segel
Di pusat kota, terdapat sebuah altar yang dikelilingi oleh sembilan pilar yang melambangkan sembilan elemen alam semesta. Di atas altar itu, melayang sebuah gulungan yang terbuat dari kulit naga purba: Kitab Sembilan Segel.
"Selamat, pewaris," suara Sutra Kaisar bergema di dalam kepala Wang Tian. "Di dalam kitab itu terdapat cara untuk menyatukan sembilan elemenmu menjadi Senjata Primordial yang sesungguhnya. Namun, mengambilnya berarti mengaktifkan mekanisme penghancuran kota ini."
Wang Tian menatap teman-temannya. Ia tahu risikonya. "Kalian bersiaplah di pintu keluar. Aku akan mengambil kitab ini dan kita harus segera pergi."
"Kami tidak akan meninggalkanmu, Wang Tian!" tegas Lin Xuelan.
"Ini bukan permintaan, ini perintah," ucap Wang Tian dengan nada yang tak terbantahkan. "Jika kota ini runtuh, hanya aku yang memiliki kemampuan untuk menahan tekanan ruangnya. Pergilah!"
Dengan berat hati, ketiga gadis itu mengikuti Lin Xia menuju jalur keluar. Wang Tian berbalik ke arah altar. Ia meraih gulungan tersebut.
Seketika, seluruh kota bergetar hebat. Pilar-pilar kristal mulai retak dan langit-langit aula mulai berjatuhan. Alih-alih lari, Wang Tian duduk bersila di tengah kehancuran. Ia mulai membaca isi kitab tersebut, membiarkan informasi itu mengalir langsung ke dalam jiwanya sementara reruntuhan bangunan mulai menguburnya.
"Jika aku tidak bisa menaklukkan reruntuhan ini, bagaimana aku bisa menaklukkan langit?"
Di luar kota, Lin Xuelan berteriak saat melihat seluruh Kota Terlarang runtuh dan tertutup oleh badai pasir raksasa. Namun, di tengah badai itu, sebuah kilatan cahaya abu-abu muncul, dan sosok Wang Tian melangkah keluar dengan gulungan di tangan dan aura yang kini terasa jauh lebih tajam—seperti pedang yang baru saja diasah oleh takdir.
"Ayo berangkat," ucap Wang Tian. "Tujuan kita selanjutnya adalah Lembah Naga Terlupakan."
Statistik Bab 17:
Karakter: Wang Tian, Lin Xuelan, Sui Ren, Mora, Lin Xia.
Pencapaian: Menghancurkan Penjaga Abadi, Melewati Aula Cermin, Mendapatkan Kitab Sembilan Segel.
Lokasi: Kota Terlarang Kuno (Hancur).
Kondisi: Wang Tian mulai memahami cara memanifestasikan senjata dari energi primordialnya.
jalur kultivasi lebih panjang,adegan baku hantam,,,,tar kita bikin dia berdarah