Merlin yang merupakan seorang genius dari dunia bumi mati tewas karena kelelahan dan juga kebosanan di dunia asalnya, dan terlahir kembali ke Avalond yang mana berada di galaksi Andromeda, di sana dia menyadari kalau Avalond telah mengembangkan tehnik sihir yang mana mereka lakukan untuk bertahan hidup dari serangan 10.000 ras monster. Namun bukanya putusasa ataupun bertekad untuk menjadi penyelamat dunia, Merlin malah lebih tertarik untuk mulai meneliti tehnik sihir yang ada di dunia Avalond.
Ini adalah kisahnya seorang peneliti gila yang jenius, yang akan melakukan apapun untuk penelitiannya, baik itu legal maupun ilegal dan akan menghancurkan siapapun yang menghalangi jalannya baik itu manusia, monster, Demon ataupun Dewa itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafli Ananda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Fallen bagian 3
Para Fallen, mereka adalah manusia yang menerima berkat dari ras monster dengan menjual jiwa mereka, baik itu Mage ataupun bukan, siapapun yang menjadi bawahan dari ras monster dan menyebabkan kerugian besar bagi umat manusia, maka dia dan seluruh keluarganya akan mendapatkan hukuman mati. Setidaknya hal itulah yang akan terjadi pada mereka yang tinggal di Kerajaan Nera, akan tetapi di beberapa negara besar lainnya, para Fallen juga menjadi masalah besar bagi mereka.
Walaupun tidak sekejam Kerajaan Nera, para Fallen mendapatkan hukuman yang pantas mereka dapatkan, bahkan keluarga mereka sering dikucilkan karena berhubungan dengan seorang Fallen. Eksistensi mereka menjadi sesuatu yang sangat berguna bagi beberapa ras monster, akan tetapi para Roc Bird sama sekali tidak menyukai Fallen yang mana telah membuang kehormatan mereka dan mengkhianati sesama ras mereka.
Roc Bird yang menerima pesan dari Fallen bawahan ras monster lain, akan langsung membunuh Fallen tersebut tampa keraguan sedikitpun, itu karena mereka memiliki harga diri yang sangat tinggi dan tidak akan gentar di medan peperangan. Dan sekarang para Roc Bird sedang kebingungan akan serangan yang di siapkan oleh umat manusia, mereka tidak takut pada umat manusia, akan tetapi mereka juga tidak ingin membuat masalah yang tidak di perlukan.
“Para saudara-saudaraku sekalian, manusia sebentar lagi akan menyerang tempat ini… akan tetapi kita tidak perlu takut karena ras Roc Bird tidak pernah takut akan peperangan, namun yang kita harus pikirkan adalah sosok yang mengadu kita dengan ras manusia, sosok itulah yang harus kita buru”
“Karena hal itulah, untuk saat ini sebaik mungkin kita harus menjauhkan diri berinteraksi dengan ras manusia… jika ada salah satu diantara kalian yang melihat manusia di sekitar area pegunungan, maka tinggalkan mereka… karena kemungkinan itu adalah jebakan lainnya” kata Urusa.
Saat ini Urusa sedang memenangkan para Roc Bird di wilayahnya, karena mereka terlihat marah akan kehilangan anakan mereka, namun karena perkataan dari Urusa sebagian Roc Bird dapat meredakan amarah mereka. Namun ada beberapa Roc Bird yang masih tidak terima akan serangan dari ras manusia, dan mereka mulai membuat kelompok mereka sendiri untuk merencanakan sesuatu di belakang mata Urusa.
Mengetahui hal itu Urusa juga telah menyiapkan beberapa persiapan, dengan mengirim beberapa bawahan kepercayaannya untuk menjaga area perbatasan dari gunung berbatu. Kemudian di sekitar area gunung berbatu, beberapa orang yang terlihat seperti Mage dari pihak militer, terlihat dengan sangat jelas memperhatikan wilayah dari ras Roc Bird.
Para Mage tersebut menggunakan teropong kecil untuk memperhatikan wilayah sekitar mereka, dengan 3 orang yang mana memiliki tugas masing-masing, kelompok Mage dari pihak militer itu dapat bertahan di area gunung berbatu yang terjal dan tak terlihat oleh mata para Roc Bird.
Salah satu diantara ke 3 Mage itu melihat dan mengintai para Roc Bird, sementara satu lagi bersiap dengan keadaan sekitar sambil menyiapkan kebutuhan bersama, yang terakhir menggunakan sihir angin miliknya untuk menutupi wilayah sekitar mereka sehingga tidak ada angin kencang yang dapat mengganggu mereka. Merasa kalau mereka telah mengintai cukup lama, Mage yang bertugas untuk mengintai kemudian berkata.
“Aku rasa ini sudah waktunya untuk kita kembali, tidak ada pergerakan baru dari para Roc Bird itu… jadi aku rasa mereka tidak bersalah akan serangan dari desa itu”
Namun pada saat itu, “Frushkk…” seorang pria berjubah muncul di hadapan mereka, dan pria itu kemudian tersenyum kearah para prajurit tersebut. Merasakan aura yang berbahaya, ke 3 prajurit itu kemudian bersiap dengan Grimoire mereka, ke 2 prajurit lainnya berdiri di depan prajurit pemilik Grimoire elemen angin untuk melindunginya.
Dan dengan nada kasar salah satu prajurit itu berkata.
“Siapa kau, ini adalah area perbatasan yang di larang oleh Kerajaan Nera… tunjukkan dirimu dan segera menyerah di tempat”
“Crrast…” namun secara tiba-tiba sebuah serangan datang dari belakang mereka, dan bukan dari arah pria berjubah tersebut, serangan itu di lancarkan oleh prajurit dengan Grimoire elemen angin miliknya. Setelah membunuh ke 2 rekannya sendiri, “Drukk…” prajurit itu berlutut di hadapan pria berjubah itu dan berkata.
“Salam tuan pembimbing, semua persiapan telah selesai di jalankan… akan tetap ras Roc Bird terlihat ragu untuk maju ke medan peperangan”
“Itu sama sekali bukan masalah, jika mereka memang tidak ingin maju menyerang duluan… maka biarkan pihak militer Kerajaan Nera yang maju… dan kau, pastikan untuk memberitahu kalau ke 2 rekanmu di bunuh oleh Roc Bird itu” kata pria berjubah tersebut.
“Di mengerti tuan” balas prajurit pengkhianat tersebut.
Setelah itu pria berjubah tersebut menghilang dengan cepat, setelah pria berjubah itu menghilang “Sringgs…” prajurit pengkhianat tersebut mengambil sebuah cakar Roc Bird dari sakunya dan “Crrast… Krasst…” dia melukai dirinya sendiri menggunakan cakar tersebut. “Traask…” dengan luka-luka di tubuhnya, prajurit pengkhianat itu tersenyum dan membuat cakar Roc Bird tersebut.
“Dengan luka-luka ini tidak akan ada yang mencurigai diriku, dan mereka akan menyalahkan ras Roc Bird” pikir prajurit pengkhianat tersebut.
Namun pada saat itu dia tidak sadar kalau Merlin sedang melihat mereka, dengan menggunakan energi force elemen kegelapan miliknya, dia menyembunyikan dirinya dengan sangat mudah. Dan sambil melihat kearah prajurit pengkhianat tersebut dari atas pegunungan berbatu, “Sringgs…” Merlin mengeluarkan Demonic Grimoire miliknya dan “Funggs…” dengan cepat dia turun untuk memberikan serangan kejutan.
Lalu pada ke esokan harinya, para Mage pengintai dari tim lain kemudian menuju ketempat mereka, akan tetapi yang di temukan para Mage pengintai itu hanyalah 2 sosok mayat yang telah terkubur dan sebuah kepala Mage yang bertuliskan kata Fallen. Berita tentang kepala dari Mage tersebut kemudian tersebar luas di markas militer sementara, dan di sana pengawas nomer 15 terlihat sedang duduk di hadapan Saundra, dengan senyuman kecil di wajahnya pengawas nomer 15 kemudian berkata.
“Kapten Saundra, tolong batalkan misi penyerangan ini… karena sekarang adalah masalah yang sangat genting, karena para Fallen mungkin akan menyerang kita saat peperangan melawan ras Roc Bird di mulai”
“Pengawas nomer 15, aku tahu ke khawatiranmu… akan tetapi kita tidak bisa percaya akan rumor yang tidak memiliki bukti yang pasti, karena hal itulah kami akan tetap melakukan serangan ketika pihak asosiasi penjelajah datang kemari” balas Saundra.
Tidak lama kemudian seorang prajurit memasuki tenda Saundra untu membawakan kabar gembira pada dirinya, dan kabar tersebut ialah ke datangan dari pihak asosiasi penjelajah yang membawa 15 Mage level 4 yang di pimpin oleh seorang Mage berlevel 6. Dengan cepat Saundra kemudian bersiap untuk menyambut para Mage dari pihak asosias, namun tampa dia sadari kalau kedatangan mereka adalah awal dari kejatuhannya.
Sementara itu Merlin yang mana sedang mengawasi dari jauh, terlihat tertarik dengan apa yang akan terjadi, dia duduk santai di atas sebuah gunung berbatu dan menggunakan energi force untuk memperkuat penglihatan matanya. Di samping dirinya terlihat anakan Roc Bird yang dia bawa telah terbangun dari tidurnya, dan sekarang ini anakan Roc Bird tersebut telah tumbuh sedikit besar dan mencapai level 3.
Bukan hanya itu saja, di belakang Merlin terlihat sosok manusia dengan pakaian rusak dan berlubang, akan tetapi orang tersebut tetap diam dengan kulitnya yang kepucatan. Sambil melihat kearah sosok manusia di belakangnya Merlin kemudian berkata.
“Bersiaplah… sebentar lagi akan menjadi giliranmu untuk bermain”
.
.
.
.
Bersambung……