Seorang gus bernama Ali Mahendra adalah putra kiyai kharismatik yang dipersiapkan menjadi penerus pesantren—jatuh cinta pada Nayla Malika seorang gadis yang terjebak dalam dunia Mafia karena masa lalunya yang rumit antara ibunya wanita Indonesia dan sang ayah pria Arab Saudi.
Sang Kiyai yang tahu jika Putra tunggalnya mencintai Nayla, berusaha mencarikan calon istri yang baik---anak dari Kiyai di pesantren lain.
Ning Syifa Maulida seorang anak Kiayai yang akan di nikahkan oleh Gus Ali.
Mampukah Ali dan Nayla bersama dalam perbedaan dunia sosial dan lingkungan. Atau Bagaimana Ali mengatasi masalah ini agar tak kehilangan Nayla
Cinta mereka bukan hanya tentang dua hati, tapi tentang dua dunia yang saling bertolak belakang: sajadah dan senjata, doa dan darah, dzikir dan dendam semuanya menjadi satu dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Malam turun dengan cepat, lampu halaman rumah mewah itu menyala menerangi malam.
Mobil masuk ke halaman dan terparkir, tubuh Nayla di ikat dan berusaha melepaskan diri.
Mulutnya di lakban oleh Khaled, karena Nayla tak segan meludah ke arah para pengawal yang membopongnya.
Tangan dan kakinya juga di ikat oleh Khaled, sementara Fahad di kantor polisi berusaha menyelesaikan laporan.
Laporan mengenai masalah Nayla.
Nayla masih mengenakan kaos tanpa lengan warna hitam, celana hitam dengan sepatu boot hitam mengkilap.
"lnakhudhuh 'iilaa altaabiq alealwii!" ("Ayo bawa dia ke lantai atas!") Perintah Khaled.
Nayla posisinya tangan dan kaki di ikat dan mulut di sumpal.
"Ehmmm," Nayla mulutnya di lakban dan kedua tangan sekaligus kakinya diikat.
Seorang bodyguard berwajah Indonesia dengan rahang tegas, dan sorot matanya yang tajam.
Tubuh Nayla sedang di bopong oleh banyak bodyguard, dengan meronta-ronta.
Sementara di dalam rumah.
Ratna masih terjaga, duduk di ruang tamu sejak sore, gamisnya sudah mulai kusut.
Matanya sembab, jemarinya terus-menerus meremas ujung kerudungnya, setiap saat kendaraan di luar membuat jantungnya melonjak.
Ratna seorang ibu yang merasa bersalah pada Nayla.
Karena sudah bertahun-tahun menelantarkan Nayla, bahkan tega menjualnya kepada Mafia.
Tapi hari ini Ratna menyadari kesalahannya, dirinya sadar jika kesalahannya dulu sangatlah fatal.
"Ya allah maafkan hamba, hamba rela jika nanti di maki-maki oleh anak hamba," ucap Ratna menunggu dengan khawatir.
Tak berapa lama, pintu rumah di buka oleh Khaled.
Hal yang membuat Ratna kaget adalah Nayla tengah meronta-ronta, tangan dan kakinya di ikat.
"Astagfirullah apa yang terjadi?!" tanya Ratna kebingungan.
Nayla sedang di bopong oleh para bodyguard, bahkan terlihat dalam mulutnya yang di lakban---mulutnya tengah memaki ayahnya.
Matanya yang melihat ibunya----langsung mulutnya yang di lakban seperti memaki tapi terhalang.
"Ehmmm! Ehmmm!" ucap Nayla yang matanya melotot dengan gerakan mimik wajah.
Para Bodyguard yang kewalahan mulai melaporkan pada Nayla.
"Sayidi lays qwyaan, 'iilaa 'ayn turidin 'an takhudhi alansati?" ("Tuan kami tak kuat, Nona mau dibawa kemana?") tanya para Bodyguard.
"Ahdiruu nayla 'iilaa altaabiq alealwii!" ("Bawa Nayla ke atas!") perintah Khaled, seolah mengisyaratkan lewat tangannya.
Sementara, Ratna heran dan tak tega melihat putrinya seperti ini.
“Apa yang terjadi?!” tanya Ratna.
"Ya allah Nayla, akhirnya kita bertemu lagi, Nak."
Ratna tak bisa menahan haru saat kembali menemukan putrinya.
"Ehmmm! Ehmmm!" jerit Nayla yang mulutnya di lakban.
Di belakang bodyguard Khaled melangkah masuk, wajahnya keras---namun menyimpan beban yang berat.
Sekilas Khaled menatap istrinya yang seperti kebingungan.
"Khalid, madha hadtha?" ("Khaled, apa yang terjadi?") tanya Ratna.
Sorot matanya menatap Ratna sekilas, Ratna memeluk suaminya.
Sudah dari pagi sampai malam sang suami belum memberikannya kabar,
"Khaled, 'ajbini! madha hadath? limadha nayilat hakdha? limadha lam tukhbirni? laqad kunt 'antaziruka!" (“Khaled, jawab aku! Apa yang terjadi? Kenapa Nayla seperti itu? Kenapa kalian tidak memberi kabar? Aku menunggu dari tadi!”)
Ratna mendekat dan mendekati suaminya, para Bodyguard terus membawa Nayla yang meronta-ronta.
Khaled menghela napas memegang pundak istrinya.
"Sa'ashrah lk lahqaan ya eazizti." ("Nanti akan aku jelaskan sayang,") kata Khaled dengan nada pelan.
Khaled langsung mau pergi ke atas, untuk menyusul para bodyguard.
Namun, Ratna malah menahan tangannya.
"Eazizati, limadha altaakhiri?" ("Sayang, kenapa nanti?") ujar Ratna dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Li alhaqu fi almaerifati." ("Aku berhak tahu,") lanjutnya.
Khaled menutup matanya sejenak, lalu menatap istrinya dalam.
"inaha qisat tawilatun, walan daeuna nadhhab linaraa kayf hal abnitina." ("Ceritanya panjang, sekarang ayo kita lihat keadaan putri kita.")
Khaled mengatakan sambil membenarkan kerudung yang di kenakan istrinya.
Ratna hanya menganggukkan kepala, lalu segera ke lantai atas.
Sebelum melangkah Ratna menyuruh asisten rumah tangga untuk menutup pintunya.
Langkah kaki Khaled dan Ratna menuju lantai atas di kamar yang sudah disiapkan untuk Nayla.
Di lantai atas, tubuh Nayla sudah di letakan di atas kasur.
Kamar Nayla.
Sangat mewah, lantai terbuat dari marmer, banyak foto masa kecil Nayla yang disiapkan Ratna.
Sprei dan bantal berwarna catur.
"Ehmmm! Ehmmm!" ucap Nayla terduduk di sofa tangan terikat.
Rambutnya yang lurus dengan ikal di bawahnya sudah berantakan, Khaled masuk diikuti Ratna---tangan keduanya bergandengan.
"Hal yumkinuk alkhuruj wasayaqif harisan shakhsiaan fi almuqadimati?" ("Kalian boleh keluar dan dua bodyguard berjaga di depan?") ucap Khaled.
Para Bodyguard menuruti perintah Khaled, sementara Nayla menatap benci ke arah ibu dan ayahnya.
Setelah kepergian para bodyguard ini, buru-buru Ratna membuka lakban yang menutupi mulut Nayla.
Brett.
Suara Lakban di lepas dari mulut Nayla.
"Akhh sialan lo pada!" maki Nayla di hadapan kedua orangtuanya.
"Nayla," ujar Ratna.
Ratna menatap putrinya dengan haru, sementara Nayla menatapnya dengan jijik.
Kedua tangannya dan kakinya masih terikat.
"Nayla...," suara Ratna lirih.
Tangan Ratna menyentuh pipi Nayla, namun gadis ini malah menepisnya---dengan memalingkan wajahnya ke samping.
"Nayla!" tegur Khaled menatap putrinya.
"Lo tuh apa-apaan sih?!" maki Nayla.
"Nayla dengarkan ibu dulu," ucap Ratna.
Nayla yang mendengar jika Ratna menyebut dirinya ibu langsung meludah ke lantai.
"Cuihhh!"
"Lu sebut diri lu ibu, seorang ibu mana yang tega menjual anaknya!" marah Nayla menatap Ratna.
Khaled yang sudah emosi, ingin mengangkat tangannya namun di tahan oleh Ratna.
"Lah emang iya 'kan?!" marah Nayla seperti ada dendam pribadi dengan sang ibu.
Nayla terus memarahi kedua orangtuanya karena masa kecilnya terenggut.
"Lo pada maunya apaan sih?!" marah Nayla.
Ratna duduk dan mencoba menjelaskan pada putrinya, jika dulu dirinya khilaf menjual Nayla.
"Khilaf apaan?! Kalo khilaf lo nyariin gua a*jing!" marah Nayla kepada ibunya.
"Tapi lo 'kan kagak! malah nikah ama dia," lanjut Nayla menunjuk ayahnya mengenakan dagunya.
"Nayla!" teriak Khaled.
Pria itu berusaha memperingatkan Nayla, agar tak keterlaluan terhadap orangtua.
"Nayla, aku babamu! kamu harus hormat ama saya!" marahnya.
Nayla malah meludah mengenai gamis Khaled, dan sungguh kali ini pria Arab saudi itu sudah kelewat emosi.
Tangannya terangkat menampar wajah putrinya dengan keras.
PLAK.
"Eazizi!" ("Sayang,") ucap Ratna berusaha memperingatkan suaminya.
Nayla yang menerima tamparan dari sang ayah hanya tertawa, membuat orangtuanya heran.
"Gampar lagi dong...Peyot!" teriak Nayla di depan wajah sang ayah.