NovelToon NovelToon
In Between

In Between

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Office Romance / Tamat
Popularitas:37.3k
Nilai: 5
Nama Author: PrettyDucki

Bagi Mila, hidup adalah perencanaan. Dan dalam rencana itu, Tyas adalah pilihan yang sempurna. Rasa aman, masa depan jelas, jawaban dari segala doanya.

Namun hidup punya selera humor yang aneh.

​Tepat saat ia bersiap melangkah ke arah Tyas, Arya kembali muncul. Mantan kekasihnya itu datang membawa kembali aroma masa lalu yang seharusnya Mila kubur dalam-dalam.

Untuk pecinta second-chance romance dengan drama kantor, chemistry yang explosive, dan heroine yang nggak mau kalah, ini cerita kamu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrettyDucki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana & Realita

Arya menatap berkeliling begitu ia melangkah masuk ke kamar kos Mila. Matanya menyapu dinding yang bersih, furnitur yang rapi, jendela samping yang menghadap taman kecil. Mila memperhatikan pria itu dari sudut matanya sambil meletakkan tas di meja.

Oh. Pria ini mungkin berpikir buruk tentangnya.

Mila mulai membayangkan Arya sedang menyusun narasi soal seorang sekretaris yang menjadi simpanan om-om senang. Lalu ia mulai khawatir Arya mungkin saja akan meragukan apakah janin di rahimnya benar-benar darah dagingnya atau bukan.

"Kamar kos ini dari Damian," katanya sebelum Arya sempat bicara apapun. "Pacarnya batal pakai, jadi dikasih ke aku."

"Aku nggak bilang apa-apa." Arya menjawab kalem.

Mila menggaruk tengkuknya, merasa bodoh karena sudah terlalu cepat berasumsi. Ia berdeham, mencoba mengusir kecanggungan. "Mau minum?"

Arya menggeleng. "Kita nggak dalam keadaan yang butuh basa-basi." Tatapannya langsung mengunci Mila. "Kapan aku bisa ketemu mama kamu?"

Mila mengerutkan kening. "Untuk apa?"

"Aku harus ketemu mama kamu sebelum kita menikah. Kita juga perlu urus surat-suratnya."

"Nggak ada yang bilang kita akan nikah."

Arya menatapnya bingung, alisnya bertaut. Ia menarik napas pelan sebelum bertanya dengan suara yang dijaga agar terdengar netral.

"Anak itu... bukan punyaku?"

Pipi Mila memanas karena tersinggung. "Kamu pikir aku tidur sama banyak orang? Apa di mata kamu aku serendah itu?"

"Nggak gitu." Arya tersentak. "Sorry. Maksudku... kamu punya pacar--"

​"Kami bahkan nggak pernah tidur satu ruangan. Apalagi sex," sahut Mila ketus.

Hening sejenak.

Bayangan Tyas muncul di kepala Mila tanpa ia undang. Tyas yang selalu menjaga jarak fisik, yang pernah bilang ia hanya akan menyentuh istrinya. Tyas yang menjaga Mila dengan cara yang bahkan tidak pernah Mila minta.

Dan sekarang di sini Mila duduk dengan anak dari laki-laki lain di dalam rahimnya. Anak yang hadir di malam saat statusnya dan Tyas belum benar-benar selesai. Lalu rasa bersalah itu datang lagi merayapi hatinya.

Namun, kalimat yang keluar dari mulut Arya berikutnya menyentaknya kembali ke realita.

"Mungkin dia gay."

Mila menoleh ke Arya dengan ekspresi tidak percaya. "Apa?"

"Laki-laki normal nggak mungkin--"

"Nggak semua laki-laki nggak bisa mengendalikan diri." Potong Mila. "Ada yang namanya respek. Ada yang namanya nunggu waktu yang tepat."

Kalimat itu membuat Arya menutup mulutnya rapat-rapat. Sindiran Mila barusan menghantam telak tepat di wajahnya.

Arya berpaling menatap jendela.

"Kita nggak akan nikah," kata Mila, mengembalikan arah percakapan.

"Jadi?"

Mila menggigit bibirnya. Jemarinya menggenggam tepi bantal sofa yang ia peluk sejak tadi. Ada jeda yang cukup panjang sebelum kata-kata itu akhirnya keluar, pelan dan ragu-ragu.

"Aku mau aborsi."

Keheningan yang mencekam jatuh di antara mereka.

Arya merasa lidahnya kelu. Tidak menyangka Mila akan mengambil solusi ini.

.

.

Arya sempat merasa ada bagian dari dirinya yang bersorak saat tau Mila hamil. Hampir pasti itu anaknya, karena Mila tidak akan memberi tau hal ini jika ia bukan ayahnya.

Arya ingat tadi pagi, di kamar hotel Surabaya setelah kembali dari kamar Mila, ia sempat merenung sendirian.

Menjadi ayah tidak ada dalam rencana jangka pendeknya. Meski bayangan tentang keluarga kecil sempat terlintas di kepalanya sejak ia bertemu Mila di Mandhala. Namun harapan itu segera padam setelah Tyas bilang pria itu akan menikahi Mila.

Jadi ketika Mila menyerahkan test pack dengan dua garis merah di permukaannya, pikiran Arya langsung melompat ke satu kesimpulan yang terasa menenangkan.

Mungkin ini takdir.

Dari sana, otaknya bergerak sendiri, cepat dan sistematis seperti biasa. Ia sudah menyusun semua rencana bahkan sebelum Mila selesai menangis.

Negosiasi dengan kantor. Alasan yang masuk akal untuk pernikahan mendadak. Apakah lebih aman melahirkan di Singapura mengingat ia pernah membaca tentang beberapa kasus malpraktik di Indonesia.

Ia bahkan sudah berpikir tentang nama.

Tapi antusiasme itu padam seketika saat Mila mengucapkan keputusannya.

"Aku mau aborsi."

Arya terdiam. Untuk sesaat ia bisa merasa tubuhnya gemetar.

"Mila, kamu sadar apa yang kamu ucapin?" Arya berdiri, suaranya bergetar karena marah dan tidak percaya. "Itu anak kita."

​"Anak kita?" Mila tertawa getir, matanya berkaca-kaca. "Gampang untuk kamu bilang gitu. Tapi siapa yang paling hancur kalau ini berlanjut? Karier aku, Arya! Karier yang aku bangun mati-matian dari nol!"

​"Aku bisa urus soal kantor."

​"Apa yang bisa kamu urus?!" Mila menatapnya tajam. "Kamu tau kebijakan Mandhala soal hubungan sesama karyawan? Salah satu dari kita harus keluar! Kamu pikir siapa yang akan dipaksa keluar? Kamu? Tenaga ahli yang mereka rekrut mahal-mahal dari McKinsey? Nggak mungkin! Pasti aku! Aku yang harus berhenti kerja. Aku yang akan hamil 9 bulan. Aku yang harus melahirkan, menyusui, dan kehilangan masa depanku!" Mila berdiri, menantang tatapan Arya.

"Sementara kamu? Kamu akan tetap jadi diri kamu yang sekarang! Hidup kamu akan berjalan seolah nggak terjadi apa-apa! Adil buat kamu, tapi kiamat buat aku!"

​Arya terpaku. Argumen Mila menghantamnya telak. Ia ingin membantah, tapi setiap kata yang diucapkan Mila adalah kebenaran pahit yang tidak bisa ia tutupi.

Ia menyadari betapa egoisnya rencana-rencana indahnya tadi.

​Arya menunduk dalam, menatap lantai granit yang mengkilap.

Arya jatuh terduduk di sofa, tubuhnya seolah kehilangan tenaga. Siku bertumpu di lutut, kedua tangan menyangga kepala yang tertunduk dalam diam. Beberapa saat ia membeku seperti itu, sebelum akhirnya mengangkat wajah dan menatap Mila.

​"Oke," bisik Arya serak. "Itu tubuh kamu. Aku nggak punya hak untuk menentukan apa yang harus kamu putuskan tentang tubuh kamu."

​Ia menarik napas panjang, terasa sesak di dadanya seolah oksigen di ruangan itu mendadak hilang.

"Aku akan terima apa pun keputusan kamu, Mila. Kalau itu yang kamu mau... aku nggak akan maksa. Tapi aku jamin kamu nggak akan urus ini sendirian."

​Arya berdiri lalu berbalik pergi. Ia tidak sanggup menatap mata Mila lagi karena ia tau, jika ia melihat sedikit saja keraguan di sana, ia akan memohon agar Mila tetap mempertahankan anak itu.

.

.

Pintu kamar kosnya tertutup dengan bunyi pelan. Mila masih berdiri di titik yang sama, mematung menatap daun pintu seolah bayangan Arya masih tertinggal di sana.

Ia berjalan gontai menuju ranjang, lalu meringkuk memeluk lutut, berharap mendapat kehangatan dari dirinya sendiri.

Aborsi.

​Kata itu tidak muncul begitu saja karena amarah sesaat. Ia sudah menimbangnya berkali-kali di bawah lampu remang kamar hotel di Surabaya, mengunyahnya pahit-pahit di dalam taksi menuju bandara, dan memikirkannya sepanjang dua jam penerbangan kembali ke Jakarta.

Ia tidak ingin menjadi monster. Siapa pun wanita di dunia ini pasti ingin menyayangi darah dagingnya. Namun, setiap kali ia mencoba membayangkan masa depan, yang ia lihat hanyalah bayang-bayang kehancuran.

Mila memejamkan mata, teringat sorot mata Arya yang hancur saat ia menolak "tanggung jawab" pria itu.

​"Aku janji akan tanggung jawab," gema suara Arya di kepalanya.

Janji. Sebuah kata yang sekarang terdengar seperti ancaman bagi Mila. Ia pernah percaya pada janji pria itu sebelumnya. Janji untuk menjaga, janji untuk tidak pergi. Tapi lihat ke mana perginya semua janji itu.

Siapa yang bisa menjamin Arya tidak akan mengingkari janjinya lagi kali ini? ​Jika nanti perutnya mulai membesar dan Arya merasa beban itu terlalu berat, pria itu bisa saja melenggang pergi.

Tiba-tiba rasa takut mencekik kesadarannya. Ia takut pada hidup yang harus ia jalani jika ia membiarkan anak ini lahir. Ia takut akan membenci anak yang tidak berdosa karena anak itu menjadi simbol kegagalannya menjaga harga diri.

Tapi ​benarkah ia sanggup melenyapkan darah dagingnya sendiri? Tidakkah itu berarti ia akan menjadi monster?

Pertanyaan itu berputar di kepalanya.

Entahlah.

Ia tidak tau apakah ia sanggup atau tidak. Tapi untuk sekarang… ia tidak melihat jalan lain.

...***...

Dear Arya, kamu harus sabar2 ya ngadepin bumil, hidupnya udah capek banget, jadi plis terima aja kalo dia suka marah2 😪

Btw sebenernya aku gak ada niat bikin cerita ini jadi terlalu mellow, tapi entah kenapa arahnya jadi ke sini 🙃

1
Rain Aricia
Entahlah, aku pun jadi pusing sama kehidupan kalian☺️
Ga tau mau belain Mila atau Arya. Kalian berdua tuh ya sama2 punya masa lalu yg kelam. Dah cocok kalian jadi pasutri, persis lah jodoh itu cerminan diri
Rain Aricia
Kau pun juga salah, dah tau istri hamil malah cari gara2.
Rain Aricia
Halahh kalian berdua ini. Ga ekspek aku klo sampe kek begini. Masa lalu kalian ga ada yg beres dah perasaan😭😭
Rain Aricia
Mana ada, emang kalau dia nikah sama mu dia bakalan bahagia? Gak Tyas, malahan dijulitun emakmu dia habis2an. Setidaknya dia ngakui kesalahannya klo dia hamidun
Rain Aricia
Ga tau apa2 malah ngata2in seenaknya.
Rain Aricia
Jadi maksudmu apa?🙄
🌺⃟ SasMaya
keren loh bro Arya ini ... gentle man
🌺⃟ SasMaya
Duarrr... ini mamak-mamak kaya kena petir di siang bolong
🌺⃟ SasMaya
kata mamak Mila: "Oohh... pantas saja Mila putus dengan Tyas." 🤣🤣🤣
🌺⃟ SasMaya
syok lah pasti ... 😆
🌺⃟ SasMaya
klise sekali kalau di dunia nyata .... kelahiran prematur, tapi bobot bayi normal
🌺⃟ SasMaya
wkwkwkwk 🤣🤣🤣
🌺⃟ SasMaya
aku dukung kamu Mila..
Rain Aricia
Jadi badmood lagi ini Mil?
Rain Aricia
Benar Mil, langsung aja ulti
Rain Aricia
Tyas, kau kan dokter yahhh. Kau kan dh punya ilmu banyak. Masa dokter kek kau mau dibodoh2in sama orang kek Jimmy? Aneh kali
Rain Aricia
Mil kamu jujur? Ntar kalau Tyas bocorin ke emaknua gmna? Hancur deh rencana kalian ngeles kalau si anak lahir prematur
Rain Aricia
Lah, kok ga sehat sih Mil? Bukannya harusnya tambah oke ya?🤣
Rain Aricia
Mana ada nyamuk, ga asa suara nyit nyitnya
Rain Aricia
Hihiii pasti Mila kepengen lagi ga sih ini🤣
Habis berantem malah makin nagih ya mil?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!