Joko Tenang didedikasikan oleh ayahnya sebagai pendekar pembela kebenaran di dunia persilatan. Menjadi murid tokoh sakti aliran putih Ki Ageng Kunsa Pari membuatnya memiliki kesaktian pilih tanding.
Namun, penyakit keturunan dari kakeknya menjadi kelemahan terbesarnya sebagai seorang pendekar. Ia akan mengalami kelemahan hingga pingsan jika didekati oleh wanita kurang dari tiga langkah, terlebih jika sampai bersentuhan kulit.
Joko Tenang yang masih remaja turut ambil bagian dalam misi penumpasan gerombolan perampok yang suka menyerang desa, merampok harta, dan menculik gadis-gadis perawan desa. Namun, kelompok perampok itu sangat sulit ditemukan dan ditumpas.
Mampukah Joko Tenang menjalani misi pertamanya dalam dunia persilatan? Temukan jawabannya di novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Menjadi Cadel
*Gadis Bermata Hijau*
Ketika Kerling Sukma pergi mengurus air rebusan ramuan, sepasang kelopak mata Joko Tenang tiba-tiba bergerak-gerak. Bibir merahnya bergerak menarik, meringis. Empat detik berikutnya, sepasang mata Joko terbuka.
Cahaya yang menyorot dari atas membuat wajah tampan Joko semakin mengerenyit. Pupil matanya segera beradaptasi setelah terpejam saat tidak sadarkan diri.
Mengetahui Joko Tenang telah siuman, Nara bergerak mendekati. Joko yang baru saja hendak bangun duduk, terkejut.
“Jangan mendekat!” seru Joko cepat.
Justru Kerling Sukma yang terkejut mendengar itu, sementara Nara tetap dingin dan terus mendekati Joko di dipan batu.
Kerling menghentikan sebentar kegiatannya dan menengok melihat kepada Joko.
Joko Tenang yang sedang merasakan tenaganya memulih, mendadak berubah lemas lagi. Ia terpaksa merebahkan kembali kepalanya dengan wajah mengerenyit menahan rasa lemasnya.
“Kenapa? Kau takut kepadaku, hah?!” tanya Nara agak membentak, tetapi tatapan mata hitamnya lurus ke depan, tidak kepada wajah Joko.
“Tidak takut, tapi....”
Tanpa memandang kepada Joko, tangan Nara sudah menyentuh pergelangan tangan Joko. Jarinya merasakan denyut nadi pemuda itu. Sentuhan itu justru membuat Joko Tenang kian lemah, sepasang matanya kian sayu, seolah hendak tidur kembali.
“Ada yang aneh dengan tubuhmu, Pemuda Cantik,” kata Nara. “Kenapa kau melemah kembali?”
“Karena... karena Bibi mendekatiku dan... menyentuhku,” jawab Joko dengan nafas yang juga tersengal, seolah siap mati.
Pak!
“Dasar bocah kurang kecut!” maki Nara setelah memukul dahi Joko agak keras.
Nara melepaskan tangan Joko. Ia lalu berdiri. Pandangannya masih lurus ke depan, seolah tidak tertarik sedikit pun untuk memandang pemuda belia di depannya.
“Kau pikir aku wanita murah yang masih suka dengan bocah ingusan sepertimu?!”
Sukma terdiam berdiri memandangi Nara. Ia tidak menyangka wanita bermata hitam itu akan marah. Nara belum berhenti, dia masih mengomel.
“Aku bukan wanita pembawa sial. Jika kau tahu usiaku berapa, kalian berdua seharusnya tidak pantas berbicara kepadaku!”
Joko dan Sukma hanya terdiam, tidak berani menanggapi.
Nara lalu berbalik dan pergi kembali ke dipan batu semula. Pandangannya lurus-lurus saja.
Dengan menjauhnya Nara lebih dari tiga langkah darinya, Joko Tenang merasakan tenaganya kembali memulih. Meski demikian, ia memilih tetap berbaring sementara. Ia khawatir membuat wanita bermata hitam itu kembali marah.
“Sukma! Ambilkan dua wadah untuk buah cumir ini!” perintah Nara.
“Iya,” sahut Sukma pelan.
Sukma lalu mengambil dua mangkok batok kelapa yang mudah ditemukan di sekitar tempatnya berdiri. Ia datang kepada Nara. Wanita berjubah itu meraup buah di dalam keranjang sebanyak segenggaman lalu menaruhnya di mangkok batok. Kedua mangkok diisi dengan takaran segenggam.
“Berikan kepada pemuda cantik itu dan kalian makanlah. Khasiatnya bisa memugarkan tubuh dan menangkal bermacam racun,” kata Nara.
“Jangan mendekat!” seru Joko cepat saat Sukma melangkah mendekati dipan tempatnya berbaring.
Spontan Sukma berhenti. Ia bingung. Nara pun jadi menghadapkan wajahnya kepada posisi Joko.
Joko bergerak bangun untuk duduk.
Tes!
“Hek!” keluh Joko tertahan dengan sepasang mata agak mendelik. Ia kini duduk terdiam tidak bergerak sedikit pun, hanya bola matanya yang bergerak.
Nara telah mengirimkan satu tembakan tenaga dalam kepada tubuh Joko, membuat pemuda itu tertotok penuh. Nara ingin melihat, apa yang akan terjadi jika Sukma mendekati pemuda yang belum ia ketahui namanya.
Sukma lalu meletakkan satu mangkok batok di dekat Joko. Sukma pun duduk di pinggiran dipan untuk memakan buah yang disebut bernama “cumir” oleh Nara.
Tes!
Nara kembali mengirimkan satu sentilan tenaga dalam kepada Joko yang kemudian membebaskan Joko dari semua totokannya.
“Makanlah!” perintah Nara kepada Joko.
“Makanlah, kondisimu tidak baik,” kata Sukma yang melihat wajah Joko memucat dan berkeringat.
Sukma tidak tahu bahwa yang membuat Joko memucat dan berkeringat adalah dirinya yang duduk hanya berjarak sejangkauan.
“Aku tidak kuat...” ucap Joko lemah. Ia berusaha mengangkat tangannya, tetapi tidak kuat.
“Jika dia tidak kuat menggunakan tangannya, suapi saja sebanyak-banyaknya!” perintah Nara dengan nada yang terdengar mengandung kekesalan.
Mendengar itu, Sukma bergerak meraih buah cumir di mangkok Joko lalu tanpa sungkan menyuapkan ke mulut si pemuda. Joko pun menurut dengan membuka mulutnya, sementara pandangannya menatap wajah cantik Sukma yang bermata hijau indah.
Sukma hanya tersenyum tipis, tetapi di dalam dadanya ada rasa berdebar yang disertai rasa desiran aneh tapi indah. Baru kali ini ia menyuapi seorang lelaki. Pandangan Joko yang agak lama terhadapnya, memunculkan rasa malu pada diri Sukma. Setelah ia menyuapi untuk dirinya sendiri, ia lalu beranjak pergi ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat terpotong.
“Buah ini enak,” kata Sukma, tapi tidak memandang kepada siapa-siapa.
Seperginya Sukma dari dekatnya, tenaga Joko kembali berangsur pulih. Karena itulah kunyahannya juga semakin cepat. Buah cumir itu memang enak, memiliki rasa khas sendiri.
“Siapa namamu, Bocah Cantik?” tanya Nara.
Tidak ada yang menjawab. Keheningan itu membuat Joko cepat tersadar.
“Apakah Bibi bertanya kepadaku?” tanya Joko, telat tersadar. Dari nada sauaranya menunjukkan bahwa Joko sudah tidak selemah tadi.
“Bocah kurang kecut!” rutuk Nara pelan.
“Iya, Bibi Nara bertanya kepadamu!” sahut Sukma.
“Namaku Joko Tenang,” jawab Joko. Ia lalu menyuap sendiri buah cumir yang masih ada di mangkok.
“Joko, apakah kau mengenalnya?” tanya Nara.
“Siapa? Wanita itu?” Joko menunjuk Sukma yang membelakanginya. “Aku tidak mengenalnya.”
“Lalu kenapa kau bisa jatuh bersamanya?”
“Aku tidak ingin dia mati, jadi aku melompat teljun....”
Joko Tenang berhenti berkata-kata. Ia merasa heran karena ucapannya menjadi cadel. Lalu ia mengetes lidahnya sendiri dengan berucap, “Ulal, laja, telol, lampok.”
Terkejutlah Joko Tenang mendapati lidahnya agak kaku dan tidak bisa menyebut aksara “r”. Lidahnya jelas-jelas jadi cadel.
“Hihihi!” Kerling Sukma yang mendengar kata-kata Joko jadi tertawa sendiri, tanpa berbalik memandang Joko.
“Apa yang kau tertawakan, Sukma? Lidahmu sama seperti dia,” kata Nara.
“Ah? Kenapa lidahku? Ikut belubah cadel?” tanya Sukma yang kemudian mendelik pula. Ia langsung berbalik memandang Nara dan Joko.
“Hahaha...!” Joko tertawa lebih panjang daripada tawa Sukma tadi.
“Kenapa bisa sepelti ini, Bibi? Lidah kami kenapa?” tanya Sukma.
“Tidak perlu panik,” jawab Nara datar dan seolah perkara itu tidak bermasalah. “Itu karena kalian tidak biasa makan buah cumir. Nanti akan normal kembali.”
“Belapa lama balu akan nolmal kembali?” tanya Joko.
“Sekitar sebulan,” jawab Nara enteng. Lalu katanya kepada Joko, “Kau belum menjawab lengkap pertanyaanku, Joko. Apakah masuk akal, jika kau tidak ingin Sukma mati lalu kau ikut mau mati?”
Kali ini Sukma berdiri memandang serius kepada Joko. Ia pun sangat ingin tahu, kenapa Joko nekat ikut lompat ke dalam jurang demi menyelamatkan dirinya.
“Dua hali lalu, sahabat-sahabatku dan calon kekasihku, semua jatuh ke julang dan hilang. Aku melasa sangat kehilangan. Aku hanya tidak ingin hal itu teljadi lagi,” jawab Joko, tanpa mempedulikan lagi lidahnya yang cadel.
Namun, tetap saja Sukma tersenyum cekikikan menahan tawa mendengar kata-kata Joko, terkhusus pada kata-kata yang cadel. Sebenarnya Nara juga ingin tertawa mendengar kata-kata Joko karena sudah sangat lama ia tidak mendengar orang berbicara setelah baru pertama kali memakan buah cumir, tetapi ia menjaga wibawanya.
“Usia sejauh ini kau baru punya calon kekasih? Atau yang jatuh ke jurang itu calon kekaasihmu yang kesekian?” tanya Nara, terus mencecar Joko.
“Aku belum pelnah punya kekasih. Itu balu calon yang peltama,” jawab Joko seraya tersenyum malu.
“Lelaki itu pendusta. Kau mengaku seperti itu karena kau melihat Sukma adalah gadis yang sangat cantik. Begitu kan?” tukas Nara.
“Ti... tidak, Bibi. Aku olangnya jujul!” seru Joko segera membantah.
“Apakah kau tahu cara menyelamatkan Sukma saat kau melompat juga hendak menolongnya?” tanya Nara dengan nada agak tinggi. Seolah ada emosi yang ingin naik ke permukaan.
“Aku tidak tahu cala menyelamatkannya,” jawab Joko agak pelan, tetapi terdengar jelas.
“Lelaki itu selalu berdusta!” dengus Nara. (RH)