NovelToon NovelToon
Psychopath Obsession

Psychopath Obsession

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Misteri / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: haniyahhputri

ADULT STORY!

Allferd Xander Maverick, seorang direktur perusahaan IT sekaligus chef ternama, siapa sangka jika sebenarnya Allferd adalah sosok yang berbahaya. Allferd adalah seorang psikopat.

Kemudian jiwa obsesi muncul dari psikopat tampan itu ketika melihat sosok aktris yang mirip dengan mendiang kekasihnya 8 tahun lalu.

"Presetan dengan cinta! Aku hanya ingin memilikimu saja. Apakah itu harus mengatas namakan cinta?"

"Keparat. Kau memang tak punya hati,"

Bagaimanapun caranya, Allferd harus membuat Stella menjadi miliknya karena Allferd tidak akan membiarkan dirinya sendiri untuk merasakan kahilangan lagi.

Apapun yang sudah berada di genggaman Allferd, tak akan semudah itu untuk Allferd lepaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon haniyahhputri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Psychopath Obsession - 32

BRAK!

Allferd menendang pintu dengan sekali hentakan, membuat pintu yang terbuat dari kayu yang sudah rapuh sudah hancur begitu saja. Tangan kanannya memegang pistol dengan erat untuk berjaga-jaga, memakai pakaian serba hitam tak lupa juga ia menggunakan topi.

Padahal Allferd melakukan hal ini bukanlah yang pertama kali atau kedua kalinya, melainkan sudah ke yang sekian kali. Entah kenapa rasanya kali ini berbeda, jantungnya berdegup lebih kencang dan perasaannya pun tidak enak.

Sebisa mungkin Allferd menetralkan perasaannya, membuang segala pemikiran buruknya dan terus melangkah maju mencari target yang akan ia bunuh.

Tadi pagi sekali tepat Stella masih tertidur dengan lelap, Allferd melacak keberadaan Werner dan Rodriguez. Ia harus menyelesaikan semua masalahnya hari ini juga. Tak ingin membuat wanita yang di cintainya menunggu terlalu lama di dalam hotel atau paling parah membiarkan wanita itu kembali seorang diri.

Kaki Allferd terus maju melangkah penuh kehati-hatian. Langkahnya terhenti saat seseorang dari arah belakang tiba-tiba datang memukul tengkuk Allferd hingga Allferd terjatuh dan tidak sadarkan diri. Terpejam di peluk sang gelap.

Selama Allferd tak sadarkan diri, pria itu di seret begitu kasar oleh dua orang pria berbadan besar. Di dudukkan di atas kursi lalu tubuhnya di ikat agar tidak bisa bergerak.

Suara gemaan orang tertawa begitu kencang sebenarnya berhasil membangunkan Allferd dari pingsan, tapi saat tersadar pria itu sudah di ikat, Allferd tetap memejamkan matanya dan berusaha melepaskan ikatan di tangannya.

Allferd menyimpan pisau lipat di beberapa tempat, salah satunya di sela ikat pinggangnya, memudahkan Allferd untuk mengambil pisau lipat itu. Tapi sepertinya, dewi Fortuna sedang tidak berpihak kepadanya.

PLAK!

Gamparan menggunakan pistol yang mendarat di pipinya dengan begitu kencang sehingga menimbulkan bunyi nyaring membuat Allferd mau tak mau membuka matanya. Allferd menatap tajam pria yang berada di hadapannya saat ini sedang tersenyum penuh remeh menatapnya.

"Kita bertemu lagi Mr. X." Seringaian itu menjadi sambutan pertama saat Allferd membuka mata. Tidak asing lagi, dia Werner, pria yang kalah tender perusahaan dengan Allferd dan pria yang istrinya tidak sengaja Allferd bunuh. Ternyata sedendam itu Werner kepada Allferd.

Allferd masih terdiam, tak mengucapkan sepatah katapun, namun tatapan tajam yang di tunjukkan Allferd seolah sudah menunjukkan semuanya.

Werner menegakkan tubuhnya, memainkan pistol yang berada di genggamannya, sedangkan Allferd kembali berusaha melepaskan tali yang mengikat tangannya menggunakan pisau lipat kesayangannya.

Mata Allferd menyapu ruangan kosong tak terpakai ini atau mungkin lebih tepat untuk di sebut sebagai gudang. Hanya ada 6 orang saja yang berada di ruang ini—termasuk Werner— tapi Allferd yakin, masih banyak yang lainnya berjaga di luar ruangan ini.

Mata Allferd tak berhenti bergerak, menyelediki sudut demi sudut, kini otaknya sedang mengatur strategi agar bisa menghabisi semua orang yang berada di sini lalu pergi bertemu Rodriguez. Sekilas, rencana itu terdengar lebih mudah namun berhasil keluar dari sini saja tanpa luka saja adalah sebuah keajaiban.

"What do you want?" Tanya Allferd tanpa basa-basi seperti biasanya, tak suka bertele-tele dan ia tak boleh menyia-nyiakan waktunya hari ini.

"Akhirnya kau menanyakan apa yang selama ini aku tunggu, aku sempat mengira kini kau gagu." Werner tertawa remeh.

Allferd masih terdiam, menunggu kalimat selanjutnya yang akan di lontarkan oleh Werner. Tangan di balik tubuh Allferd tidak sediam mulutnya, bahkan sedikit lagi tali itu akan berhasil ia buka.

"Aku hanya menginginkan dua hal, sama seperti kau telah merebut dua hal dari hidupku,"

Allferd masih terdiam, membiarkan Werner terus berbicara.

"Pertama, aku ingin perusahaanku, oh mungkin di tambah perusahaan milih kau dan Edgar itu akan lebih baik,"

"Yang kedua, aku ingin kematian wanitamu, Stella Daddario, gorgeous goddess American, wanitamu." Werner benar-benar menjelaskan secara spesifik siapa yang ia maksud.

Jika beberapa tahun belakangan, ia akan biasa saja ketika mendengar kata 'kematian', tak ada emosi, seakan jiwanya sudah mati, bahkan ia juga tak segan-segan untuk membunuh, membabi buta orang sekenanya tanpa emosi. Percikan darah adalah kepuasan tersendiri bagi Allferd.

Namun semenjak bertemu dengan Stella, rasa itu mulai memudar. Lebih tepatnya saat ia mulai jatuh cinta kepada wanita berambut blonde itu.

Mendengar kata kematian yang di tuju kepada Stella, hal itu lebih menakutkan ketimbang kematiannya sendiri. Nyawa Stella jauh lebih berharga dari pada nyawa Allferd sendiri.

Allferd berusaha mati-matian menahan api amarah yang mulai membara di dalam dirinya. Untuk kali ini Allferd tidak boleh terburu-buru mengambil langkah, sebab bukan hanya nyawanya saja yang terancam.

"Setelah kau mendapatkan keduanya? Apa yang akan kau inginkan?" Allferd membuka suara.

"Kematianmu, kehancuranmu, aku sangat menginginkannya, sangat menantikannya," balas Werner santai seraya duduk di kursi yang telah di sediakan di depan Allferd dengan jarak dua meter.

Semua pistol tertuju kepadanya, ia tidak boleh gegabah. Allferd kembali mengingatkan dirinya sendiri.

"Bagaimana jika aku menginginkan kematianmu lebih dari kau menginginkan kematianku?" Allferd tersenyum miring.

Werner tersenyum lebih puas, mengeluarkan ponsel dari saku lalu menunjukkan layar ponselnya kepada Allferd. Meski berjarak dua meter, Allferd masih dapat melihatnya dengan jelas.

"Maka kau akan menyaksikan kematian wanitamu oleh mata kepalamu sendiri," jawab Werner penuh kemenangan.

Itu foto Stella yang sedang di bekap menggunakan kain hitam, bahkan matanya pun ikut di tutup. Sudah sangat jelas jika itu adalah Stella, warna rambut yang mencolok sudah menunjukkan itu semua.

"Ah, foto ini di kirim lima menit yang lalu. Haruskah aku menelepon wanitamu agar kalian bisa saling mengucapkan salam perpisahan?" Tawar Werner dengan nada yang di manis-maniskan. Jarinya bergerak lincah di atas layar ponsel, suara panggilan menyambungkan membuat degup jantung Allferd semakin terasa mendebarkan.

Jika posisinya tidak seperti ini, sudah pasti Allferd telah menembak semua kepala yang berada di sini, menginjak jasadnya bahkan meludahi mereka. Berkali-kali, kesekian kalinya, berusaha mati-matian Allferd menahan dirinya agar tidak meledak saat ini juga.

Saat panggilan sudah terhubung, Allferd memejamkan matanya, berharap agar Stella baik-baik saja di sana.

"Ini aku, bisakah kau berikan ponselnya kepada nona Daddario sekarang? Ada yang ingin mengucapkan salam perpisahan di sini," Werner membuka pembicaraan melalui panggilan, bahkan Werner sengaja mengaktifkan speaker agar suara dari sebrang sana terdengar oleh Allferd dengan jelasnya.

Terdengar suara ribut dari sebrang telpon, "cepat, bicaralah!" Bentak seseorang dari sana.

Belum terdengar suara Stella, namun darahnya semakin mendidih saat mendengar bunyi tamparan dari sebrang telpon.

"Argh!"

Akhirnya Allferd dapat mendengar suara Stella, namun bukan itu yang ia ingin dengar sekarang. Mengetahui wanitanya tidak baik-baik di sana membuat Allferd semakin bernafsu untuk menghabisi semua orang yang berada di sini.

"IF YOU TOUCH HER, I'LL KILL YOU BASTARD!" teriak Allferd tak tertahankan.

"Stella?" Allferd melembutkan nada bicaranya.

"Allferd? Astaga! Aku lega bisa mendengar suaramu, kau baik-baik saja bukan?" Dengan cepat, suara Stella menyahuti.

"Aku baik-baik saja, jangan khawatirkan aku. Bertahanlah, percaya padaku, kau akan selamat, tunggu aku."

"Aku percaya, cepatlah kembali, aku merindukanmu." 

BIP

Werner segera mematikan panggilan secara sepihak, tak ingin berlama-lama menyaksikan telenovela picisan yang berada di hadapannya saat ini.

Kini kedua tangan Allferd sudah berhasil melepaskan tali, Allferd mengecek bagian kaki yang di ikatnya, ternyata tidak terlalu kencang mereka mengikatnya, hanya bagian tangan saja yang kencang.

Allferd sudah menyimpan pistol di bagian sepatu kanan dan kirinya. Menghitung aba-aba dalam diam untuk memulai aksinya. Tak bisa di biarkan lebih lama lagi, Stella membutuhkan dirinya di sana.

"Kemana mereka membawa Stella?" Tanya Allferd dengan nada tenang, tak ada emosi yang terselip kali ini.

Werner mengedikkan bahunya tak acuh, "Rodriguez yang mengurus semua itu, aku hanya mengurusmu saja."

Allferd memejamkan matanya sesaat, ini tak bisa di biarkan lebih lama lagi. Stella berada di bawah pengawasan malaikat mautnya. Baiklah, Allferd berjanji jika ia akan menjadi malaikat maut Rodriguez.

Dengan gerakan secepat kilat, Allferd mengambil kedua pistol yang berada di kakinya. Menembak semua orang yang berada di sini sembari berdiri dan melemparkan tubuh bagian belakangnya kepada Werner dengan sekali gerakan.

DOR! DOR! DOR! DOR!

Sudah tak terhitung berapa peluru yang telah Allferd keluarkan. Artinya, sekarang Werner berada di bawahnya, terjebak di antara kursi yang sedang di dudukinya dan kursi yang berbeda di tubuh Allferd. Meski Allferd sempat merasakan punggungnya kembali sakit akibat hentakan dari kursi kayu tersebut.

Allferd menembakkan peluru berkali kali, ke arah kepala bahkan dada kepada lima orang yang berjaga di dalam ruangan ini. Tinggal satu lagi yang tersisa, Werner yang kini sudah berada di bawah kekuasaannya.

Setelah menghabisi kelima orang tersebut, Allferd segera melepaskan ikatan tali di kakinya menggunakan pisau lipat yang ia selipkan di kaus kakinya.

Setelah tubuhnya terlepas dari tali-tali sialan itu, Allferd menginjak tubuh dada Werner seraya menodongkan pistol di tangan kiri dan pisau di tangan kanan.

"Ada pesan terakhir yang ingin kau sampaikan?"

DOR! DOR!

Allferd menembakkan kedua tangan Werner agar tak bisa lebih leluasa untuk bergerak.

"Kau, ********." Ucap Werner merintih.

"Aku tidak pernah sengaja membunuh istrimu, itu adalah sebuah kesalahpahaman." Perjelas Allferd.

Jiwa psikopat Allferd kembali menguasai tubuh ini. "Kanan atau kiri?" Tantangnya. Yang di maksud oleh Allferd adalah menyuruh Werner memilih kematiannya ingin di lenyap kan oleh pistol atau pisau kesayangan Allferd.

"Sepertinya aku lebih suka keduanya." Lanjut Allferd.

Detik selanjutnya, leher Werner telah Allferd tancapkan menggunakan pisau. Dada Werner semakin di injak, namun raut wajah Allferd tetap datar, tak menunjukkan emosi sedikitpun.

"Aku ingin melihat sekaratmu terlebih dahulu,"

Werner belum memejamkan matanya, bahkan kedua mata Werner masih menatap Allferd penuh kedengkian.

Allferd menodongkan pistolnya tertuju kepada kepala Werner, ia memejamkan matanya sebelum suara pistol kembali terdengar.

DOR!

Percikan darah mengenai Allferd, kini ruangan menjadi sunyi, namun tugas Allferd belum selesai hingga di sini, masih banyak kejutan yang akan menantinya.

Tapi satu hal menjadi kepuasan Allferd, jika Werner telah mati di bawah kekuasaannya.

***

KALIAN MAU ENDING SEPERTI APA SIH? SILAHKAN KOMENTAR!!

1
namia khira
Ok bagus ceritanya /Good/
s
jarum yang menancap
s
tangannya ia lipat di depan dadanya
Hiatus
lah baru ketemu main sosor ya gimana gak emosi ceweknya.
Elin Damayanti
gatau knp tapi gw suka bgt baca novel tentang pyschopat obsessi gtu 😭❤️😊
haniyahhputri
excited banget sekarang udah bisa ketemu Victoria Aiden di My Bad Boy Bodyguard
yaty
tahniahhhh author
besttt
semangat author 💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Susila Wati
Samuel Anderson Lucifer sprtiny iblis atw vampir ya!🤔
Ajib Azam
lanjut up tor
Eva
mulai otw ...
....
stella punya mslah apa ama rodrigues
^⁠__⁠daena__⁠^
Kak haniyah aku kangen Maverick 😭😭😭
Setyawati Sukmara
aku suka cerita nya seru
raraprnc
saran aja ni buat author nya, klo nge sensor kata2 jgn di sensor semua misalnya:
"si*l*n banget tu orang" jgn di sensor semua "****** banget tu orang" jdnya kan pra readers kurfah srn aja,maaf klo mslnya nyakitin hati😭🙏
haniyahhputri: maaf yaa, untuk bagian sensor kata udah otomatis diubah waktu dipublikasikan 😁 aku engga seteliti itu buat ubah smua kata umpatan yg banyak bgt, alias dari aku pribadi gak pernah sensor, itu udah otomatis keganti sama servernya:")
total 1 replies
Sanni Abdillah
ini ngegantung thor mana lanjutannya aku tunggu2 lho udah lama sekaliiiii ...
abel
kapan up thorr, udah lama nunggu nii
Hesti Sagita
kayaknya seru klu ada cerita Aiden Victoria🤣🤣
haniyahhputri: emang ada ko ceritanya 😃 masuknya ke Maverick Series #2 yang ketiga versi Samuel
total 1 replies
Hesti Sagita
abis ngebunuh kakaknya besok tinggal emaknya Stella deh
Hesti Sagita
secara nggak langsung Stella pingin di lihat nyata bukan hny angan" oleh Allferd
Hesti Sagita
Caryn ada2 aja masa iya ada manusia kayak Samuel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!