Jhon, bertarung demi kehormatan di medan perang. mengalami penyergapan yang terpaksa membuatnya harus meledakkan kekuatan terakhirnya. Dia kehilangan ingatan, kehilangan kekuatan, kehilangan identitas, bahkan nyaris kehilangan segalanya. Dari Jenderal bintang lima, Dari seorang pewaris keluarga William, seketika berubah menjadi bukan siapa-siapa dan bahkan dianggap lebih buruk dari sampah.
Mampukah Jhon menemukan kembali kekuatan yang pernah dia miliki, mampukah Jhon kembali menemukan jati dirinya? Ikuti kisahnya dalam karya saya yang berjudul 'PEWARIS YANG HILANG 2'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edane Sintink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langganan masalah
...Bab 32...
"Kak Bianca, kau tidak menunggu ku. Huh. Aku kelelahan mengejar mu," begitu seorang pemuda mendekat ke arah kursi dimana Jhon dan Bianca Flair duduk, pemuda itu langsung mengeluh. Dari raut wajahnya, gaya berjalan dan nada bicaranya, terlihat bahwa pemuda ini sangat sombong dan manja. Ini membuat Jhon merasakan bahwa masalah baru akan kembali datang.
Heran, sejak beberapa hari ini masalah terus saja menghampiri dirinya. Masalah yang satu masih belum selesai, pagi ini datang lagi satu masalah yang masih terbengkalai dan belum ketahuan bagaimana ujungnya. Kini satu masalah baru malah kembali menghampiri. Ibarat kudis yang belum sembuh, harus terluka berkali-kali lagi dan sialnya di tempat yang sama. Apakah dirinya memang ditakdirkan untuk akrab dengan masalah.
Terkadang Jhon sudah berusaha untuk menjauh dari masalah dan berusaha untuk menjadi pendiam. Tapi semenjak mulai memasuki university ini, satu persatu masalah berdatangan seolah-olah entah kesialan apa yang hinggap pada dirinya.
"Gerry. Sudah ku katakan jangan mengekori ku. Kau ini anak laki-laki. Tidak bisakah kau bersikap sebagai seorang pemuda. Kau tidak lagi berada pada posisi dimana kau harus manja seperti balita," marah Bianca sambil melotot. Namun, pemuda yang bernama Gerry itu sepertinya tidak perduli. Kini dia malah menatap ke arah Jhon dengan tatapan penuh selidik.
"Siapa orang ini?" Tanya nya dengan lagak sombong. Dia bahkan tidak ingin menatap wajah Jhon lama-lama. Hanya lubang hidung nya saja yang kelihatan karena dia mendongak sedangkan Jhon dalam posisi duduk.
Ketika menunggu beberapa waktu tidak mendapatkan jawaban dari Jhon, dia menundukkan kepalanya lalu mengulangi pertanyaannya. "Heh. Apa kau tuli atau bisu? Tuan muda ini bertanya kepada mu?!"
"Kau bertanya kepadaku?" Tanya Jhon sembari menunjuk dirinya sendiri.
Melihat reaksi Jhon yang seperti orang bodoh, , seketika Gerry merasa gatal pada tangannya. Ingin rasanya dia menamparkan wajah Jhon dihadapannya ini bolak-balik tanpa jeda.
"Menurut mu aku bertanya kepada siapa?" Bentak Gerry yang sudah mulai pitam.
"Oh. Nama mu Jhon," jawab Jhon seadanya dan dalam tempo sesingkat-singkatnya.
"Hmmm. Kau, aku tidak mau tau kau siapa. Aku menginginkan kursi ini dan kau silahkan pindah ke kursi yang lain!" Gerry memerintahkan seolah-olah kursi itu adalah miliknya yang ditempati oleh Jhon.
"Eh," Jhon terheran-heran melihat ke arah wajah Gerry dengan tatapan penuh keheranan. Dia tidak merasa bahwa dia mengambil kursi orang lain. Lalu mengapa dia harus pindah.
"Kau tidak mendengar apa yang aku katakan? Cari kursi lain karena aku ingin menempati kursi mu ini!"
"Mengapa aku harus pindah?" Tanya Jhon dengan dahi berkerut. Dia tidak merasa mengambil kursi orang. Lalu atas dasar apa? "Aku sudah duduk di sini jauh sebelum orang lain datang. Lalu mengapa aku harus memberikan kursi ini kepada mu? Aku tidak memiliki kewajiban untuk itu!" Tegas kata-kata Jhon.
Amarah Gerry mulai memuncak ketika menghadapi penolakan dari Jhon. Selama ini mana ada seseorang yang berani menolak dirinya. Tapi pagi ini dia sudah ditolak dan yang menolak dirinya adalah seorang pemuda yang tidak jelas statusnya.
"Gerry!" Bianca Flair membelalakkan matanya kepada saudara sepupunya itu. Lalu dia menatap wajah Jhon dan tersenyum canggung menandakan bahwa dirinya meminta maaf atas kejadian tak enak yang ditimbulkan oleh Gerry.
"Kau mau pindah atau tidak? Aku tau, kau pasti ingin mendekati kakak sepupu ku kan? Heh kodok. Lihat dirimu, apa kau pantas duduk bersebelahan dengan kakak ku? Atau kau ingin uang, katakan berapa banyak yang kau inginkan!" Gerry mengeluarkan segepok uang dari sakunya kemudian melemparkannya tepat di depan Jhon.
Jhon menghela nafasnya dengan sangat berat. Bagaimanapun dia sedikit merasa malu karena seisi kelas saat ini menatap ke arah mejanya.
Perlahan Jhon bangkit dari tempat duduknya, mengemasi barang-barangnya kemudian pindah menuju kursi yang terletak di sudut belakang. Dia sama sekali tidak menyentuh uang yang dilemparkan oleh Gerry. Baginya, biar dia mengalah. Setidaknya dia bisa menghindar dari masalah baru.
Melihat Jhon mengalah, senyum kepuasan terlihat dari sudut bibir Gerry. Baginya, bagaimanapun dia adalah seorang tuan muda dari keluarga Gilson dan keponakan dari gubernur yang menjabat sekarang. Bagaimana mungkin dirinya bisa ditolak oleh seorang pemuda yang dia anggap rendah seperti Jhon.
Berbanding terbalik dengan Bianca. Melihat Jhon mengalah dan pindah tempat duduk, dia pun segera bangkit berdiri lalu berjalan menuju kursi yang tepat berada di samping Jhon.
Jhon merasa tidak senang. Dia ingin mengusir Bianca. Namun ketika dia ingat perjanjian antara dirinya dengan pak tua Dosan Flair, dia pun mengurungkan niatnya.
Di meja lain Gerry membelalakkan matanya seolah tidak percaya. Ternyata bukan Jhon yang ingin mendekati kakak sepupunya, melainkan kakak sepupunya lah yang dengan sengaja mendekati Jhon.
Sedikit dia linglung seolah tak percaya. Namun untuk mencari masalah dengan Jhon sekali lagi dia tidak memiliki alasan. Oleh karenanya dia dengan marah menghentakkan kakinya lalu duduk di kursi yang ditinggalkan oleh Jhon.
Dengan begitu, baik itu Bianca, Jhon dan mahasiswa yang lainnya pun merasa tenang karena sudah tidak ada lagi kebisingan yang ditimbulkan oleh Gerry.
"Huh..," Jhon menghembuskan nafasnya yang terasa sesak. "Akhirnya kelas pertama hari ini berakhir sudah," katanya dalam hati. Diapun berdiri lalu hendak meninggalkan Bianca tanpa bermaksud untuk menyapanya terlebih dahulu.
"Jhon, apa kau punya acara siang ini?" Tanya Bianca Flair membuat Jhon menghentikan langkahnya. Dia menoleh sedikit lalu menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu, bagaimana kalau aku mentraktir mu makan siang?" Tanya Bianca dengan kedua matanya yang berkedip membuat wajahnya yang imut dan manis menjadi semakin menggemaskan.
Spontan Jhon menggelengkan kepalanya. Namun Bianca sudah berdiri kemudian tanpa sungkan langsung menggandeng tangannya dan mau tak mau Jhon hanya bisa pasrah menurut karena tangannya sudah ditarik oleh Bianca.
"Masalah lain pasti akan datang," kata Jhon mengeluh dalam hatinya.
Keduanya berjalan diiringi tatapan iri dari para pemuda yang menatap ke arah Jhon dengan tatapan penuh permusuhan. Andai tatapan bisa melukai, kemungkinan tubuh Jhon sudah penuh dengan luka akibat tatapan itu. Sedangkan Jhon hanya bisa pasrah.
"Jhon, tunggu lah di sini. Aku akan memesan makanan," ujar Bianca Flair begitu mereka tiba di kafetaria dan menempati salah satu meja tak jauh dari sudut ruangan.
Jhon mengangguk lalu segera duduk. Dia tidak memperhatikan kepergian Bianca. Sebaliknya dia mengulang kembali apa yang disampaikan oleh Dosen ketika didalam kelas tadi dalam hatinya. Namun, baru saja dirinya asik dengan dunianya, tiba-tiba satu suara membuatnya kaget dan terpaksa mendongak memperhatikan dua orang gadis dengan tatapan sinis menghampirinya.