-TAMAT-
Muhammad Faiz Al Ghifari atau Gus Faiz adalah seorang anak laki-laki dari seorang Kyai besar yang memiliki pondok pesantren di pedalaman Jawa. Dia adalah sosok yang sempurna dan selalu menjadi bahan incaran para gadis dan ibu-ibu di manapun dia berada.
Suatu ketika Gus Faiz bertemu dengan Anindya Athaya Zahran, seorang santri putri angkuh yang selalu mencari 1001 cara untuk mengakhiri hidupnya.
Gus Faiz yang selalu tergerak untuk menggagalkan upaya bunuh diri Nindy tidak sengaja terlibat dalam perjanjian yang di luar nalarnya. Perjanjian yang benar-benar mengubah jalan hidupnya, perjanjian yang tidak berterima oleh akal sehatnya, dan perjanjian yang menyalahi aturan hidupnya.
Akankah Gus Faiz menepati janji itu? Bolehkah Gus Faiz melaksanakannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Upi1612, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BB 32 - Pertemuan dengan Nindy
Gus Faiz kini masuk ke dalam kamarnya. Dia pun mulai beristirahat. Namun, dikepalanya bayangan gadis itu yang terlihat seperti santri baru itu terus terngiang-ngiang di kepalanya. Semakin dia menampik bayangan itu, semakin bayangan wajah cantik itu berputar-putar kepalanya.
Gadis itu adalah gadis tirai yang ditemuinya di depan Masjid dan di konter saat dia membeli ponsel baru. Ponsel yang sama dengan gadis tirai itu. Kini, ponselnya ada dua, ponsel jadul lamanya dan ponsel baru yang beberapa waktu lalu sempat digadaikannya di konter. Uang
Gue Faiz mencoba memejamkan matanya, dia ingin tidur dan melupakan Gadis Tirai itu, o iya namanya Anin. Gue Faiz juga mengingat dengan jelas nama itu. Meski terpejam, pikiran Gus Faiz tidak tertidur. Dia memikirkan mengapa Allah SWT mempertemukan Anin di pondok pesantren Abahnya. Jika benar dia di takdirkan bertemu dengan Anin, bagaimana dengan Nindy?
Mengingat nama Nindy, sontak Gus Faiz membuka matanya.
"Lo ngapain sih bawa gue ke sini?!" sayup-sayup Gus Faiz mendengar suara gadis tirai.
"Mboten pareng kados niku, Mbak." (Tidak boleh seperti itu, Mbak) kata Linda. Gus Faiz memang mengenali suara Linda. Karena pernah bertemu dan mengantarnya ke pondok pesantren ini.
"Apaan sih lo. Demi Tuhan gue gak ngerti dan gak mau ngerti apapun yang lo katakan ke gue!" kata Anin.
"Assalamualaikum, Umi." suara Linda.
"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." suara Umi menjawab salam.
Sejenak hening. Gus Faiz masih menunggu percakapan di luar kamar. Tak lama kemudian suara Linda menggunakan bahasa Jawa menjelaskan kalau Nindy sudah melempar temannya yang bernama Atin dengan alas kaki terdengar. Tidak ada sahutan dari Nindy, karena Nindy hanya diam karena bingung, tidak mengerti apa yang sedang dikatakan oleh Linda.
Tak lama kemudian Linda dan temannya pamit kepada Umi untuk kembali ke pondoknya.
"Nindy, tetap di sini ya." suara Umi.
Mendengar Uminya memanggil seseorang dengan nama Nindy, Gus Faiz langsung bangkit dan berjalan menuju pintu.
Karena tidak bisa menghilangkan rasa penasaran, Gus Faiz langsung membuka pintu sedikit tanpa menimbulkan suara lalu dia mengintip sedikit.
Dan benar saja, mata Gus Faiz menemukan Umi, Linda, Anin dan seorang santri yang seperti habis menangis sedang berbincang.
Gus Faiz mulai menerka-nerka apa yang terjadi. Namun, Gus Faiz pun sadar di dunia ini banyak orang yang bernama Nindy.
Gus Faiz bisa melihat seseorang yang bernama Nindy yang merupakan gadis yang mencuri perhatiannya itu mengangguk. Linda dan temannya langsung berpamitan. Linda mengedarkan pandangannya mencari Gus Faiz, Gus Faiz bersembunyi sebentar. Lalu saat derap langkah Linda dan temannya menjauh, Gus Faiz kembali mengintip.
Dia benar-benar tidak bisa menghilangkan rasa penasarannya.
Gus Faiz melihat Umi membawa Nindy duduk di sofa ruang tamu.
"Apa Nindy tahu apa kesalahan yang telah Nindy perbuat?" tanya Umi dengan lembut.
Nindy mengangguk. Melihat bagaimana Nindy mengangguk, Gus Faiz melihat sorot mata Nindy yang terlihat sedih. Kini Nindy terlihat sangat berbeda dari Nindy yang tadi telah meneriaki Gus Faiz di depan pondoknya.
"Jangan diulangi ya?" tanya Umi.
"Maaf tapi Nindy nggak bisa janji, Umi." kata Nindy.
“Umi tahu Nindy anak baik.” kata Umi lagi, kali ini beliau memeluk Nindy.
“Enggak sebaik itu, Umi.” kata Nindy. Tanpa sadar Gus Faiz terus memandangi wajah Nindy.
Umi tersenyum, “Nindy, belum salat Isya kan? Yuk, salat bersama Umi.” kata Umi sambil bangkit berdiri.
Gus Faiz hendak pergi mengikutinya namun seketika kesadarannya pulih.
"Astaghfirullah, apa yang sedang saya lakukan?" tanya Gus Faiz pada dirinya sendiri.
Gus Faiz menutup pintunya dan kembali berbaring di tempat tidur. Hatinya kini diliputi oleh banyak tanda tanya.
"Jadi dia adalah Nindy? Bukan Anin?" tanya Gus Faiz pada dirinya sendiri.
Ada apa dengan saya belakangan ini? Mengapa mudah betul rasanya tertarik dengan perempuan. - batin Gus Faiz.
Gus Faiz memutuskan untuk memejamkan mata, kini dia pun teringat kalau dia juga belum salat Isya. Karena tadi belum sempat salat. Diapun langsung bergegas ke Masjid untuk menunaikan salat isya. Dia juga memilih mengambil air wudu di Masjid.
Gus Faiz melesat dengan cepat. Dia tidak mau bertemu dengan Nindy. Bukan karena Gus Faiz takut dilempar menggunakan sandal seperti sebelumnya. Walau tidak kena. Melainkan dia tidak mau terlibat lebih jauh dengan santri yang bernama Nindy itu.
O iya, mengenai sendal yang di lempar Nindy. Sandal itu mengenai teman Linda bukan Gus Faiz karena Gus Faiz sudah keburu masuk ke dalam gang saat Nindy melempar sndal tersebut. Teman Linda yang tak sengaja lewat langsung tak sengaja menggantikan Gus Faiz dan terkena sandal tersebut.
Sebetulnya yang dilempar Nindy bukanlah sandal tapi high heels. Itulah mengapa ketika mengenai kepala teman Linda, teman Linda itu langsung menangis histeris merasakan sakit yang luar biasa, hingga Linda membawanya ke Umi.
Gus Faiz pun salat, dzikir, dan berdoa. Gus Faiz duduk sebentar dengan posisi sama. Tiba-tiba sekelebat ingatan muncul di kepalanya.
"Sahabat gue namanya Nindy. Dia cantik. Cantik banget." suara Ilham dalam ingatannya. Pandangan Gus Faiz kini sedih memikirkan Ilham. Juga memikirkan dirinya yang belum bisa menepati janji untuk menemukan sahabatnya dan menjaganya untuk seumur hidup.
Apa Nindy yang ada di rumah saya adalah Nindy yang kau maksud, Ham? -batin Gus Faiz.
Dia sangat cantik. Apa gambaran gadis cantik dan nama Nindy sudah pasti adalah Nindy sahabatmu yang kau maksud? -tanya Gus Faiz dalam hati.
"Ya Allah.. perkenankan saya memohon untuk meminta petunjuk atas kebingungan ini." kata Gus Faiz.
Gus Faiz terus berdoa agar Allah SWT mau memberikan jawaban atas segala pertanyaan dalam benaknya.
Tak lama kemudian, Gus Faiz langsung berjalan keluar Masjid. Di luar Masjid, tak sengaja matanya menangkap sosok santri laki-laki yang mirip dengan Aaron. Gus Faizpun memakai sendalnya dan berniat mengejar santri tersebut, namun saat ingin berjalan, dia tidak lagi melihat Aaron.
"Saya pasti sedang berhalusinasi lagi." kata Gus Faiz.
Gus Faiz pun memutuskan untuk kembali lagi ke rumah dan beristirahat. Tubuhnya masih lemah, meski tubuhnya sudah sedikit lebih baik dari saat dia datang pertama kali tadi.
Sesampainya di kamar, Gus Faiz pun masih teringat akan Nindy. Dia terus beristighfar dalam hati. Saat bayangan Nindy datang lagi bibirnya langsung melantunkan zikir. Gus Faiz mulai mengalihkan perhatiannya dengan memusatkan pikirannya hanya kepada Allah SWT.
Tak lama kemudian, Gus Faiz pun tertidur.
Umi yang menyadari kalau Gus Faiz belum makan malam pun masuk ke kamar. Saat mendapati Gus Faiz tidur Umi keluar lagi. Beliau memaklumi kalau anaknya lelah.
Gus Faizpun kini terbang ke alam mimpi.