Ketika cinta telah menemukan tempatnya untuk berlabuh, tak ada siapapun yang mampu mengurai tautan yang terjalin antara dua insan manusia. Sesakit apapun hati yang tersayat karena luka, takdir tetap menjalankan kuasanya.
~Jangan melihatku dari apa yang nampak, karena tak semua yang indah memiliki kesempurnaan. Aku sangat mencintaimu, namun aku harus membangun benteng yang tinggi karena sakit yang telah kau ciptakan~ Aaliya
~Meski kau bukan yang pertama di hatiku, tapi aku mencintaimu dengan segenap jiwaku. Aku takkan pernah melepasmu dan membiarkanmu terbang begitu saja, karena hati ini telah kau genggam dan kaulah satu-satunya yang memiliki. Maaf maaf dan maaf yang mampu ku ucap~ Abian
Apa yang sesungguhnya terjadi antara Aaliya dan Abian? Silahkan baca dan nikmati karya ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mega.ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pinjaman
Aaliya menghembuskan nafas kasar, ia tahu apa yang mengganggu pikiran Abian saat ini.
Dia berlalu tanpa mengatakan apapun, meninggalkan Abian dengan dua piring yang telah kosong diatas meja.
Aaliya masuk ke dalam kamar, membuka lemari pakaian dua pintu miliknya. Ia kemudian berjongkok, mengambil sesuatu yang ia simpan di bagian paling bawah lemari.
Sebuah kotak kayu berukuran sedang ia raih lalu dibawanya duduk di tepi ranjang. Kotak kayu itu memiliki ukiran yang cukup indah, dengan warna yang agak kusam membuatnya nampak sangat klasik.
Aaliya membuka kotak itu perlahan, menyentuh beberapa barang di dalamnya yang sangat berharga baginya. Namun ia memilih mengambil sesuatu yang lain dalam kotak itu, yang akan ia berikan pada seseorang.
Setelahnya Aaliya menutup dan meletakkan kotak itu kembali pada tempatnya semula. Ia menghela nafas, lalu beranjak keluar dari kamar.
Abian masih duduk di kursi meja makan, namun tanpa piring bekas sarapan paginya. Tentu saja, karena Abian adalah pria yang sangat rapi dan menjaga kebersihan.
"Kau masih di sini?" Tanya Aaliya, ia duduk di hadapan Abian dengan tangan yang disembunyikan sembari menggenggam sesuatu.
"Ya, kau tak ada kegiatan apapun di hari libur?" Tanya Abian dan Aaliya menggeleng.
Aaliya masih hening di tempatnya, ia masih memikirkan kata-kata yang akan ia rangkai untuk mengeluarkan sesuatu dari tangannya, ia harus sangat hati-hati agar Abian tidak merasa tersinggung.
"Abian," ucapnya lirih.
Pada akhirnya Aaliya tak berkata apapun, ia hanya mengeluarkan tangannya yang tersembunyi di bawah meja. Setumpuk uang yang jumlahnya lumayan banyak ia letakkan di atas meja, hasil ia menabung selama bekerja.
Abian mengernyitkan dahinya, membuat kedua alis tebalnya menyatu.
"Gunakan ini, Abian," ucap Aaliya singkat.
Sementara pria di seberang meja sana menatap tumpukan uang itu dengan tatapan tak terbaca.
Dia membuang tatapannya dan mengusap wajahnya kasar, Abian tak habis pikir dengan gadis di hadapannya ini.
"Maaf, Aaliya. Lebih baik kau simpan saja dengan baik uangmu itu, aku takkan mungkin menggunakannya," tolak Abian.
"Aku tahu kau pasti akan menolaknya," Aaliya memperbaiki duduknya, "Aku sudah memikirkannya dengan matang, jika kau menolak ini sebagai pemberian maka anggaplah ini sebagai pinjaman."
Mereka saling bersitatap, "Tentu saja kau harus mengembalikannya saat kau sudah memiliki kedai yang sangat-sangat besar," Aaliya melebarkan kedua tangannya membentuk lingkaran.
Abian pun terkekeh, "Aku tidak tahu harus berkata apalagi padamu, Aaliya."
"Maka ambillah, jangan berkata apapun lagi," Aaliya tersenyum, "Aku akan mandi, rencanakanlah apa yang akan kau lakukan untuk memulainya, Abian."
"Hari ini aku punya banyak waktu untuk membantumu, jadi segera pikirkan apa yang akan kau belanjakan selagi aku bersiap-siap," tambah Aaliya.
Abian masih mematung di tempatnya hingga Aaliya menghilang di balik pintu kamar. Dia menggeleng kepalanya pelan, menatap uang pemberian gadis itu. Bukan, lebih tepatnya pinjaman.
Ya, uang itu adalah pinjaman yang artinya ia harus menggunakannya dengan tepat agar suatu hari nanti bisa dikembalikan. Mengingat itu Abian mengesampingkan egonya, justru seharusnya ia bangkit.
Ada seseorang yang dengan sepenuh hati memperhatikannya, ada seseorang yang dengan setulus hati mendukungnya, dan yang harus ia lakukan kini adalah membuat orang itu bangga, membuat orang itu tersenyum karenanya.
Abian kini memiliki semangat yang berkobar dalam jiwanya, ia harus giat dan berusaha keras agar Aaliya tidak kecewa pada dirinya. Ya, gadis itu adalah orangnya. Orang yang dengan tulus memberikan segala perhatian dan dukungannya pada Abian.
.
.
.
Selesai mandi mereka telah duduk di sofa, saling bertukar pikiran dan merencanakan segala hal yang diperlukan untuk membuka kedai makanan.
Aaliya mencatat semua yang dikatakan Abian, sesekali ia pun memberikan idenya untuk kemudian mereka bahas.
Dua jam kemudian pembahasan itu telah selesai, semua rencana telah tercatat dengan rapi. Kini saatnya mereka memulai aksi nyata, dua insan itu bersiap-siap untuk berbelanja semua yang diperlukan.
Aaliya sangat bahagia, tak mengira Abian akan menerima bantuannya dengan semangat yang begitu membara. Meski tak diakui secara jujur, nyatanya gadis itu telah jatuh pada pesona Abian. Hingga ia rela melakukan segala hal untuk mendukungnya. Termasuk mengorbankan sebagian tabungannya yang ia kumpulkan dengan susah payah selama bekerja.
Aaliya tersenyum melirik Abian yang berdiri di sampingnya, kini mereka sudah ada dalam bus. Tangan mereka berada di atas, menggenggam sesuatu yang dijadikan pegangan agar tidak goyah saat bus berjalan.
Hari minggu selalu menjadi hari yang ramai, semua orang seolah ingin keluar dari rumahnya. Semua bus penuh sesak mengantarkan mereka menuju tujuannya masing-masing. Mengingat negara ini sangat memprioritaskan kendaraan umum, tak banyak warganya yang menggunakan kendaraan pribadi untuk akses perjalanannya.
"Kenapa senyum-senyum?" Ucap Abian melirik tajam pada Aaliya.
Sementara Aaliya menggeleng dengan masih terpasang senyum di wajah cantiknya. Hatinya merasa sangat senang Abian tidak lagi berwajah masam, hanya ada senyum semangat yang menghiasi wajah tampannya kini.
.
.
.