Pernikahan akan terasa indah selagi masih ada cinta dari seorang suami.
Namun hal itu tidak berlaku pada seorang wanita muda. Pernikahannya hancur karena campur tangan keluarga suaminya. Apalagi sang suami tak lagi berpihak pada dirinya.
Nama wanita itu adalah Amara.
Di tengah-tengah keputusasaannya, ia bertemu dengan cinta pertamanya.
Apakah yang akan terjadi pada kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Flashback ( masa-masa SMA Amara-Reza) part - 3
Hasil Rontgen dari rumah sakit menyatakan jika tidak ada cedera parah pada kaki kiri Amara. Kakinya hanya bengkak dan akan sembuh dalam beberapa hari.
Reza mengantarkan Amara pulang ke rumahnya walau dengan sedikit paksaan.
"Aku akan mengganti uang mu, tapi tidak sekarang. Hmm .. Apa kau bisa memberiku waktu untuk mengumpulkan uang?" Amara tampak canggung mengatakannya.
Biaya rumah sakit pasti tidak murah. Apalagi Reza membawanya ke rumah sakit swasta yang sudah pasti harganya sangat mahal.
"Tidak usah pikirkan soal uang. Aku membantumu dengan sukarela." jawab Reza dingin menatap ke arahnya.
"Aku tidak mau berutang budi kepadamu." sanggahnya.
Reza mengerutkan keningnya, merasa kesal mendengar ucapan Amara. Apakah begitu sulit untuk menerima kebaikan ku?
Reza menghela nafas panjang. "Jika kau memang ingin mengganti uangku, kau bisa gunakan hal lain untuk membayarnya."
"Hal lain apa yang kau maksud?" tanyanya bingung.
Reza menatapnya sambil tersenyum simpul. Seketika muncul sebuah ide di kepalanya.
"Nanti akan ku beritahu." jelasnya penuh teka-teki, membuat Amara semakin kebingungan.
Gadis itu tampak mengerutkan keningnya karena tidak mendapatkan jawaban yang pasti dari Reza.
...****************...
Grand Mall pusat kota J.
Di sinilah Amara berada akhir pekan ini. Ia sedang menunggu Reza datang. Akhirnya setelah perdebatan panjang melalui pesan teks di ponselnya, ia menyetujui ajakan Reza untuk menemaninya seharian ini.
Amara hanya berdandan seadanya. Ia mengikat rambut panjangnya dengan satu ikatan dan memakai riasan wajah sederhana. Lebih tepatnya hanya bedak padat dan pewarna bibir berwarna pink lembut yang dioles setipis mungkin dibibir mungilnya itu.
Sementara untuk pakaian, ia hanya mengenakan kaos lengan pendek dan celana jeans panjang berwarna biru navy.
Ia melihat pantulan dirinya melalui sebuah dinding kaca. "Apa penampilanku tidak terlihat terlalu biasa?" ia tampak bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Namun seketika dia tersadar. "Eh! Untuk apa aku memperdulikan penampilan ku. Memangnya ini kencan?" ia tertawa kecil.
"Ini memang seperti kencan, kan."
Amara tersentak ketika menyadari kehadirannya Reza di sana.
"J-jangan mengagetkan ku seperti itu." Amara bersungut-sungut karena kaget.
Reza malah tersenyum melihatnya. "Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu kaget." pintanya.
"Ayo pergi!" ajaknya sambil mengulurkan tangan kanannya, bermaksud agar Amara menggandeng tangannya.
"Apa?" gadis itu tentu saja tak mengerti maksudnya.
Reza menarik kembali tangannya dan memasukkannya ke dalam saku celananya.
"Kencan" itu pun akhirnya di mulai.
Reza sudah menyusun rencana sejak beberapa hari yang lalu. Ada begitu banyak tempat yang akan mereka kunjungi seharian ini.
Di mulai dengan nonton film bersama.
"Memangnya bioskop sudah buka sepagi ini?" tanya Amara bingung ketika memperhatikan jam di tangannya yang baru menunjukkan pukul sembilan pagi.
Bahkan ia baru sadar jika suasana Mall masih sangat sepi. Hanya ada petugas kebersihan dan pegawai-pegawai yang terlihat sedang membersihkan tokonya masing-masing.
Setahu Amara, Mall baru buka pukul sepuluh pagi. Tetapi ia juga merasa heran, kenapa satpam memperbolehkannya untuk masuk tadi.
"Sudah. Kau tenang saja." ucap laki-laki itu dengan santainya.
Ia dan Amara naik ke lantai paling atas untuk pergi ke bioskop. Benar saja, area bioskop masih sangat sepi. Tetapi ada seorang pegawai yang memakai jas, datang menghampiri mereka.
"Anda sudah datang, tuan?" tanyanya sopan.
"Iya, paman. Apa aku bisa masuk sekarang?" tanyanya pada pria itu.
"Iya, tuan. Silahkan ikuti saya." pria itu membawa mereka masuk dan menunjukkan jalan masuk ke bioskop.
Bioskop itu masih sepi. Hanya ada mereka bertiga di sana.
"Silahkan menikmati filmnya tuan dan nona muda. Saya permisi dulu." pamit pria itu lalu meninggalkan mereka berdua.
"H-hanya ada kita saja disini?" Amara tampak bingung.
"Kelihatannya bagaimana?" Reza balik bertanya.
"Sudah! Jangan banyak berpikir. Filmnya akan segera di mulai. Waktuku hanya sampai pukul sepuluh malam nanti. Jadi jangan membuang-buang waktu." Reza menarik tangan Amara menyuruhnya untuk duduk di deretan kursi paling tengah.
Walaupun bingung, Amara tetap menikmati film yang sedang diputar saat itu. Ini pertama kalinya ia pergi ke bioskop.
Film berdurasi dua jam tiga puluh menit itu berakhir.
"Kau suka filmnya?" tanya Reza setelahnya karena melihat Amara benar-benar menikmati film itu.
"Iya, film nya benar-benar bagus. Aku suka sekali dengan pemeran wanitanya...." Amara tampak antusias menceritakan kembali isi film tersebut pada Reza.
Namun Reza bukan fokus mendengarkan ceritanya, melainkan fokus menatap senyuman yang tak henti menghiasi bibir mungilnya itu.
Amara menyadari hal itu, lalu berdehem untuk menghilangkan rasa canggungnya.
"Kita akan pergi kemana lagi?" tanya Amara.
Ia melihat jam tangannya, "Masih terlalu awal untuk makan siang?" ia tampak menimbang-nimbang.
"Hmm.. Temani aku pergi sebentar. Aku ingin membeli sesuatu." ajaknya sambil menarik tangan Amara.
Suasana Mall mulai terlihat ramai pengunjung. Ini memang sudah waktunya Mall untuk buka. Apalagi ini akhir pekan, pasti banyak pengunjung yang datang untuk berbelanja atau sekedar datang untuk menghabiskan waktu.
Mereka masuk ke sebuah toko perhiasan. Reza tampak memilih sebuah kalung dan berniat untuk mencobanya di leher Amara.
Amara seketika mengelak, "Kau mau apa?" Ia mengernyit heran padanya.
"Aku hanya ingin meminjam lehermu untuk mencobanya sebentar." jelasnya.
"Kenapa tidak izin dulu? Kau pikir leherku ini hanya pajangan." Amara menggerutu dengan kesalnya.
"Maaf! Boleh ku pinjam lehernya?" tanyanya dengan nada memohon.
Kalimat itu terdengar rancu, tetapi Amara mengiyakan permintaannya.
Reza memakaikan kalung itu di leher Amara. Desain kalung yang minimalis dengan liontin tunggal yang terbuat dari berlian terlihat sangat pas sekali di leher jenjangnya.
"Sekarang, cobalah untuk melihat ke cermin." pintanya sambil mendorong tubuh Amara ke hadapan sebuah cermin panjang yang menggantung di dinding.
Amara tampak terpesona ketika melihat pantulan bayangan dirinya di dalam cermin. Ia tanpa sadar menyentuh kalung yang kini menghiasi lehernya.
"Cantik sekali!" ucapnya seakan tersihir oleh keindahannya.
"Kau menyukainya?" tanya Reza seketika membuyarkan khayalannya.
"Ah.. Iya. K-kalung ini cantik sekali. Tentu saja aku sangat menyukainya." Amara tampak gugup mengatakannya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan membelinya." ucap Reza lalu melepaskan kalung itu dari lehernya.
Amara hanya tersenyum canggung. Reza segera membayar kalung itu. Lalu mereka pergi dari toko.
...****************...
Setelah dari toko perhiasan, Reza mengajak Amara untuk makan siang di sebuah cafe.
Kini mereka tengah menikmati makan siang mereka. Amara tampak bingung, karena sedari tadi Reza-lah yang membayar semuanya. Sebenarnya siapa yang sedang diuntungkan saat ini?
Amara tampak melirik ke arah tas belanja warna hitam yang didapatkannya dari toko perhiasan tadi. Sebuah pertanyaan besar seketika muncul di otaknya.
"Hmm... Kau akan memberikan kalung itu kepada siapa? Apa untuk ibumu?" ia bertanya untuk memenuhi rasa keingintahuannya.
Reza tampak menyunggingkan senyuman manis di bibirnya.
"Hmm... bukan. Bukan untuk ibuku."
Reza membuat pertanyaan sederhana itu menjadi begitu menyulitkan.
"Lalu, untuk siapa?" Amara tampak penasaran.
"Untuk seseorang yang sangat istimewa."
Amara menyerah. Pria itu sepertinya tidak berniat untuk menjawab pertanyaannya.
"Oh, baiklah." ucapnya lalu melanjutkan makannya.
Reza menatap Amara dengan lembut tanpa disadari oleh gadis itu. Rasanya ia tak ingin hari ini berakhir dengan cepat. Jika bisa, ia ingin berhenti di saat ini.
...****************...