Dodik Aksara Bintara Bangga. Calon pewaris Maha Dewi Group yang mewarisi lebih dari sebagian saham di sana.
Suatu hari, Dodik mengetahui kebenaran orang tuanya yang tersembunyi selama bertahun-tahun. Karena marah, ia kabur dari rumah. Tanpa sengaja, ia tidur bersama seorang perempuan--
Ini hanya tidur! Tidur dalam artian sebenarnya, bukan khusus. Namun, warga desa malah memaksanya menikahi perempuan, yang tak lain adalah anak Pak RT.
Kehidupan Dodik berubah 180 derajat. Tinggal di desa, dikelilingi sapi, dan ibu mertua yang menyebalkan ....
Bagaimanakah kisah kehidupan Dodik selanjutnya?
Instagram: @citragtw_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Citra Gtw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Menantu Yang Buruk
Bu RT mendesah kesal. Dia sengaja pergi seharian untuk mendapatkan udara segar. Baru masuk rumah, eh, polusi sudah mengerubunginnya. Emang masalah harusnya ditendang keluar, bukannya ditinggal lari.
Seharusnya aku ikut suamiku aja, batin Bu RT.
“Lalu?” sahut Bu RT singkat.
“Lalu? Hanya itu tanggapan Ibu?” Dodik malah terperangah.
“Emangnya aku harus gimana?” tanya Bu RT.
“Seenggaknya pujilah aku. Aku udah turutin kemauan Ibu. Apa Ibu belum puas juga?” Rupanya kekesalan Dodik masih tidak menurun.
“Emangnya sehebat apa yang kamu lakukan? Apa kamu berhasil memberantas korupsi di negara ini? Atau kamu dapat uang dua ratus milyar dalam satu jam?” sahut Bu RT sinis.
Dodik terperangah mendapatkan tanggapan seperti itu. Bu RT terlalu jujur. Kini Dodik tahu dari mana asal kebodohan istrinya.
“Masalah kepuasan, sekalipun kamu berhasil memberi makan lima ratus ekor sapi, aku enggak akan pernah puas kepadamu, karena kamulah yang menjadi menantuku. Aku menginginkan Radi menjadi menantuku bukan tanpa alasan, tapi karena dia akan memuaskanku sebagai mertua. Lihatlah, dia berhasil membangun toko besar dengan jerih payahnya sendiri. Dia membeli tiga ekor kambing dari uang sunatan. Lalu membesarkannya sampai jadi sapi, dan sekarang bisa jadi toko. Dia enggak pernah nyebut-nyebut kekayaan bapaknya meski motor milik bapaknya yang terbaik di desa ini. Dan kamu bertanya, apa ibu belum puas?” Bu RT mendengus sinis. “Bandingkan dirimu dengan Nak Radi, lalu pikirkan apa kamu udah cukup membuatku puas?” sindir Bu RT.
Dodik mengepalkan kedua tangannya. Lagi-lagi dia kehabisan kata-kata karena Bu RT. Karena tidak bisa bicara, dia pun pergi ke kamarnya.
Citra yang baru datang mendengar itu semua. Dia pun mendekati ibunya dan meletakkan air yang dibawanya ke atas meja.
“Jangan kasar-kasar dong, Bu. Apa susahnya sih kasih pujian ke suamiku?” tanya Citra.
“Apa kamu yakin kalau tuanmu itu layak untuk mendapat pujianku? Aku bahkan enggak percaya kalau tuanmu udah lakuin semua itu. Paling-paling kamu yang lakuin semua itu, sedangkan tuanmu cuma bisa ngaku-ngaku,” sahut Bu RT sinis. Kemudian dia pergi ke kamarnya sendiri meninggalkan Citra.
Citra duduk lemas. Bu RT terlalu cepat mengatakannya sampai Citra tidak sempat mengeluarkan kebenaran. Citra pun mengeluarkan kebenarannya melalui gumaman yang hanya didengarnya sendiri, “Itu enggak benar, Bu. Yang bawa semua dedaunan itu ke atas sepeda benar Tuan Dodik. Meski hanya itu.”
***
“Dasar Nenek Sihir! Bukannya penyihir seharusnya licik karena suka berbohong? Kenapa dia licik karena suka mengatakan kebenaran?” dumel Dodik lirih.
Tiba-tiba Dodik merasakan seseorang mengusap punggungnya. Dia pun menoleh. Rupanya Citra telah duduk di sampingnya.
“Maaf atas perkataan ibuku yang sembarangan,” kata Citra menyesal.
“Aku kesal bukan karena perkataan ibu mertua yang sembarangan, tapi karena perkataan ibumu yang benar. Dan lebih mengesalkan lagi, dia bahkan membanding-bandingkanku dengan Radi. Dia berkata seolah-olah tahu bagaimana jika Radi menjadi menantunya. Apa emangnya kamu udah nikah sama laki-laki itu?” tanya Dodik.
“A-apa maksudmu? Bukannya aku menikahimu?” sahut Citra.
“Tuh, kan, Radi bahkan belum pernah menjadi menantu di keluarga ini. Jelas-jelas akulah yang udah mengganggu pernikahan kalian sehingga aku menjadi menantu di keluarga ini. Tapi ibu mertua bahkan enggak mau noleh sedikit pun ke aku,” protes Dodik.
Citra diam. Sebenarnya Citra tidak suka dengan perkataan yang Dodik lontarkan meski Dodik mengatakannya dalam keadaan marah.
.
.
.
.
Idih-idih! Bang Dodik mulai jealous 😅😅
Btw, ada yang masih ingat soal uang dua ratus milyar 😂😂
ga jelas2 ceritanya
pusing bacanya ceritanya TDK berkembang itu dan itu lagi di bolak balik