Aku dan kamu terikat dalam sebuah ikatan yang diwali dengan kata-kata, berbahan dasar Aksara.
Cinta yang berawal dari sebuah aksara itu, awalnya tidak saling mengenal dan memahami. Takdirlah yang seolah mempertemukan, mengikat, dan berakhir dengan kebersamaan. Lantas, mengapa takdir juga yang memberikan sebuah ujian penuh liku itu? Mengapa seolah akan ada hari dimana akan ada sebuah jarak yang memisahkan mereka dan berakhir menjadi sebuah peristiwa bertajuk ANTARA.
Lalu benci dan cinta itu beda tipis KATANYA. Kata yang awalnya tak ingin kenal mengenal, caci mencaci-caci, bahkan berang memerangi, mendadak ada rasa yang tumbuh bersamaan keluarnya warna-warni bunga yang bermekaran.
Cinta itu manis, hidup tak indah bila kita tak merasakan iramanya cinta, itu JELASNYA. Tetapi seutas kata Cinta tak ada artinya, jika tak mengandung sebuah keabadian yang menjelma. Anggap saja cinta kita perlu diuji untuk menumbuhkan kesetiannya. Dari hal itu kita hanya menemukan dua opsi setelah mendapat ujian itu, BERTAHAN UNTUK KEMBALI atau PERGI UNTUK SELAMANYA.
Percayalah dibalik cinta yang hampir terkoyak itu, akan ada kebahagiaan yang tak berujung sedang menunggumu.
[PLAGIATOR DALAM JENIS APAPUN DILARANG MENDEKAT!]
*****
@Copyright: Agustus 2019.
Move: 30 Agustus 2020.
Picture by: @Vaa_Morn
Story By: Vaa_morn.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaa_Morn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGA PULUH DUA
Mobil Aksen telah sampai di depan rumah Ara. Ia tak ingin langsung melepas tangan Ara, atau menyimpan mobilnya terlebih dahulu. Sebaliknya, ia tengah menatap Ara sangat dalam. Membuat Ara yang menjadi objeknya terlihat risih.
"Lo kenapa sih?" tanya Ara pada Aksen yang terus menatapnya tanpa kedip.
Aksen yang seakan sadar, langsung mengambil sesuatu dibelakang kursi kemudinya. Sebuah bingkisan, yang entah apa isi di dalamnya itu. Aksen lalu memberikannya pada Ara, dan diterima baik olehnya meskipun masih dengan tatapan yang sedikit bertanya-tanya.
"Ini apa? Boleh gue buka sekarang?" tanya Ara yang membolak-balikkan bingkisan itu.
"Buka aja, tapi nanti dikamar kamu. Aku mau kamu ngajak keluar, jadi tolong dandan yang cantik ya. Apa yang ada di dalam bingkisan itu, aku harap kamu bisa memakainya. Aku nggak mau tau!"
Malas-malasan Ara mengangguk. Namun sebagian dari hatinya, merasa tak yakin dengan isi bingkisannya. Bisa saja kan isinya adalah jebakan, yang tentunya bisa membuatnya mati rasa kapan saja.
"Pokoknya kamu harus janji buat pakai hadiah aku kasih." Aksen sadar, Ara tidak yakin dengan hadiah yang diberikannya. Tapi lambat laun membuat Ara malas-malasan mengangguk.
"Gue turun sekarang ya, gerah mau mandi." alibi Ara yang cepat-cepat ingin pergi ke dalam kamar, dan membuka bingkisan itu.
Aksen mengangguk. Setelah melihat Ara yang sudah masuk ke dalam rumahnya, ia membelokkan mobilnya kearah rumahnya sendiri. Meski masih ada sedikit rasa cemburu karena peristiwa tadi, tetap ia tak ingin menghancurkan hari bahagianya nanti.
Ara sendiri sudah masuk ke dalam kamar, dan melempar tasnya begitu saja diatas ranjang. Ia menghempaskan tubuhnya, kemudian menatap bingkisan yang diberikan Aksen barusan tadi.
Sebenarnya ia penasaran, namun ia urung untuk membukanya. Semenjak pagi tadi, ia memang sudah berniat untuk tidur lebih awal dan menghindari insomnianya malam ini. Namun, rencananya sudah gagal total. Siapa lagi jika bukan karena Aksen.
Tapi perlahan, Ara memilih untuk duduk dan mulai membuka bingkisan yang sudah menjadi miliknya itu. Ia mengernyit pelan menatap isi bingkisan itu, namun dalam hitungan detik, dirinya langsung mengerang hebat karena frustasi.
"Apakah enggak ada yang lain, selain benda kayak gini? !" teriak Ara sembari mengangkat pakaian itu merasa jijik.
Dress selutut berwarna putih, khas dengan maknanya yang suci. Tapi entah kenapa, membuat Ara yang tak tahu apa-apa itu ingin sekali menggeplak muka Aksen dengan tangannya sendiri. Tapi? Kenapa ia bisa sebodoh ini? Sehingga dengan mudahnya ia berjanji dan mengiyakan semua kemauan Aksen.
Brakkkkkk...
"Anak cantik Mamah kenapa!" Mamahnya yang baru saja sampai dirumah, dan mendengar teriakan si sulung itu langsung tergesa-gesa ke lantai atas. Rasa khawatirnya membuncah, mendengar suara yang nampak frustasi dari mulut Anaknya itu.
Ara sendiri sudah hampir berkaca-kaca. Matanya memerah menahan tangis, namun tak dibiarkan olehnya untuk keluar. Jika bukan karena janji, sudah dipastikan Ara membakarnya tanpa hitungan detik lagi.
"Aksen ngasih Ara kayak gini Mah, katanya harus dandan yang cantik." Ara sudah berlinangan air mata. Nyatanya ia tak berhasil menahan rasa sedih dan kekesalannya lagi. Itulah kelemahan Ara, yang sedari kecil sudah memakai pakaian khas laki-laki.
Mamahnya hampir saja tertawa jika tidak ingat kondisi anaknya saat ini. Apa salahnya jika sang kekasihnya memberikan sesuatu yang menututnya harus dipakai? Wajar sekali bukan.
Namun sedetik kemudian, Mamahnya tidak bisa menahan tawanya lagi. Gadis labil di depannya ini memang harus diajari tata krama dan fashion olehnya mulai saat ini. Dengan sedikit tarikan tangan, ia memasukkan anaknya ke kamar mandi dan membawa dress yang baru saja diberikan oleh kekasih anaknya itu.
"Mandi, setelah itu langsung pakai. Biar Mamah dandanin kamu, agar calon menantu Mamah cepat-cepat nikahin kamu! Awas aja kalau kamu buang ini kayak tempo lalu." ancam Mamahnya sambil terkekeh pelan. Ia akan bahagia, melihat anaknya untuk pertama kali bergaya seperti perempuan pada umumnya. Inilah waktunya, Mamahnya berbahagia. Sudah lama sekali ia ingin mendandani anaknya!
Ara sendiri terus bergumam. Menatap dirinya di cermin yang berada di depannya. Sedikit demi sedikit, ia mengucap sumpah serapah baik untuk Mamahnya ataupun Aksen. Terkutuklah mereka karena membuat Ara seperti ini.
Bagi Ara, hari ini adalah hari yang terburuk yang pernah ada. Jadi jangan salahkan jika penampilan Ara berbeda dari sebelum-sebelumnya.
______
Aksen senyum-senyum sendiri di dalam kamarnya, tatkala membayangkan penampilan Ara yang berubah hanya demi untuknya. Ia menantikan malam ini sedari mendapatkan rencana ini pagi tadi, yang entah mengapa baginya terasa berputar sedikit lama. Tak jauh dari situ, ia mengambil jaket berwarna biru dongkernya berniat untuk membaluti kaos putihnya. Ia ingin tampil casual, sesuai dengan pribadinya.
Sebenarnya niat Aksen hanya ingin tampil seperti cowok-cowok milenial zaman sekarang. Tak ada jas, tak ada kemeja, penampilannya sekarang adalah murni dari dulu, baik semasa sekolah ataupun kuliahnya. Meskipun dilemarinya hanya terpampang berbagai jas pada umumnya, bukan berarti ia mengesampingkan penampilan pribadinya seperti ini.
Mengoleskan sedikit pomade, dan menata rambutnya sedemikian rupa. Namun setelah rapi, ia memilih untuk mengacak-acaknya kembali. Aksen bingung, ia tidak tahu harus bagaimana. Memilih baju saja tidak sesuai, ia hanya mengikuti kemauan dan seleranya.
"Bodo amat." pikir Aksen setelah dirasa sempurna olehnya, Aksen mengambil dompet dan ponsel yang sudah di siapkan sebelumnya.
Setelah merasa barang-barang pentingnya tak tertinggal, Aksen kembali menatap cermin dan sedikit berpose layaknya model terkenal. Meskipun dalam hati ia mengatai dirinya sendiri sebagai cowok alay, namun apa daya. Ia sedang dilanda kasmaran, dan ingin berpenampilan bagus di depan pasangan.
Ia akan keluar kamar sekarang juga!
"Mau kemana Sen?" tanya Papahnya yang masih sibuk dengan laptop dipangkuannya. Disampingnya terdapat sang Galaksi sekaligus sang Ayah yang terus mengajarinya berbicara, sedangkan Alissha sendiri masih berkutat di dapur belakang mengembangkan hobinya.
Devon sendiri mengerling jahil. Penampilan adiknya yang terkesan rapi namun sama sekali tak formal itu, membuat dirinya tersenyum jahil. Apalagi yang dapat ia katakan selain Aksen yang akan berkencan pada malam ini.
'Gini-gini kan gue pernah muda dan alay kayak dia.' batin Devon yang kembali membayangkan masa lalunya ketika bersama Alissha.
"Jalan Pah, sama Ara nanti." to the point, nggak ada kamus basa-basi dari mulut Aksen.
Benar kan dugaan Devon tadi, Aksen memang akan pergi berkencan dengan calon pasangan.
"Jangan sampai larut, jangan macem-macem, pulangin anak orang sesuai semestinya, awas kalau kamu ngelakuin yang enggak-enggak." peringat Papahnya yang membuat Devon terkekeh.
Membuat sang pelaku yang tak lain adalah Aksen sendiri, menatap mereka jengah.
"Iya Pah, Aksen janji bakal pulangin anak orang dengan selamat dan tidak kehilangan suatu apapun."
Papahnya mengangkat jempol. Ia yakin dengan pilihan anaknya, terlebih lagi kekasih anaknya itu adalah anak dari kolega bisnisnya. Ia tahu juga bahwa sebelumnya kekasih anaknya itu telah menolak credit card yang diberikan oleh Aksen, dan Aksenlah yang cerita terus terang kepadanya soal itu. Saat itu ia jadi tahu bahwa Ara memang gadis terbaik untuk Aksen hingga akhir hayatnya.
"Aksen pergi dulu." pamit Aksen, yang kemudian menyalimi Papahnya terlebih dahulu.
Aksen sudah keluar dari rumahnya. Mula-mula ia menyiapkan mobil yang hendak dipakai, kemudian keluar dari pelataran rumahnya dengan berajalan kaki. Sebelum itu, Aksen menarik napas panjang-panjang, agar tidak gugup bertemu calon mertuanya.
Tok... Tok...
Aksen berusaha sekuat mungkin untuk tidak terlihat gugup dimata mereka. Ia menetralkan degup jantungnya, sehingga sebisa mungkin ia menampilkan wajah datarnya.
Cklek...
Seseorang membuka pintu. Membuat Aksen yang sedari tadi menahan napasnya, kembali menghembuskannya. Untung saja bukan calon mertuanya. Ya, seseorang yang membukanya tak lain adalah seorang cowok yang usianya berkisar lima sampai enam tahun dibawahnya. Aksen tahu bahwa itu adalah Adik kekasihnya.
"Aranya ada?" tanya Aksen dengan wajah datarnya.
Reval mendengus sebal. "Cewek bar-bar itu? Ada tuh lagi sama Mamah di kamar. Katanya cowok nggak boleh gabung ataupun nguping. Kayaknya tuh cewek udah ngerasa jadi cewek beneran."
Aksen menaikkan satu alisnya. Sepertinya Adik dari seorang Ara itu memiliki dendam terselubung kepada Kakaknya sendiri.
"Mau bawa cewek bar-bar itu kemana?" tanya Reval yang menggaruk-garukkan kepalanya.
"Kemana aja." jawab Aksen seadanya.
"Ishhh... Nyebelin ya lo. Entar gue panggilin."
Reval menutup pintunya kembali dengan keras. Sehingga mau tak mau Aksen mengelus-elus dadanya secara sabar. Untung saja dia calon adik iparnya. Jika tidak, sudah mati anak itu ditangannya.
Reval sendiri hanya menggurutu pelan. Karena Kakaknya, ia harus lelah menaiki tangga agar sampai ke atas. Tak sampai disitu, ketika ia membuka pintu kamar Ara, ternyata pintu kamarnya dikunci. Reval yang sedari kemarin merssa emosi terhadap Ara, mau tak mau harus melampiaskannya dengan cara kasar.
"Woyyy... keluar woyyy! Ada orang nungguin lo di teras rumah!" gedoran pintu dari Reval membuat sang pemilik kamar sekaligus Mamahnya yang asyik bercerita menggerutu pelan.
Mamahnya sendiri sudah berjalan cepat kearah pintu, kemudian membukanya secara kasar. Anak-anaknya memang nggak ada yang bener satupun, begitulah pikiran Mamahnya saat ini.
"Kamu nggak sopan ya sama Mamah, Kakak sama Adik sama aja!" seru Mamahnya yang kemudian menjewer telinga Reval keras.
"A... Am... Pun... Ampun Mah!"
Ara sendiri hanya tertawa. Membuat Reval yang tengah meringis pelan itu menatapnya. Tapi? Hampir saja ia memuntahkan isi perutnya, jika Mamahnya itu tak sedang menyiksanya sekarang ini.
"Sejak kapan lo jadi ondel-ondel!" ucap Reval, yang membuat Ara mengerang frustasi.
"Tuh kan Mah, muka Ara mirip ondel-ondel!"
Reval sendiri tertawa keras. Membuat sang Mamah kembali menarik telinganya dengan begitu keras.
"Sekali lagi kamu ngomong, Mamah sita play station kamu tiga bulan!"
Secara tak sadar, Reval langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Merutuki diri sendiri yang entah kapan hari sialnya akan pergi.
*****
1519 kata.