NovelToon NovelToon
Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Mertua Kejam / Trauma masa lalu
Popularitas:27.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Fathan dan Humairah yang dipenuhi ketenangan, suasana dapur bersih sudah harum semerbak oleh aroma rempah-rempah yang menggugah selera.

Setelah pulang dari pasar, Humairah langsung bergerak cekatan di bantu oleh Bibi Ningsih untuk mengolah bahan makanan yang dibelinya tadi.

Di tempat lain, tepatnya di meja makan minimalis mereka, Humairah sudah menyiapkan sarapan yang masih mengepulkan uap hangat.

Fathan yang baru saja selesai bersiap dan sudah rapi dengan pakaian kerjanya, melangkah mendekat sambil membetulkan kancing lengannya.

"Abi, ayo sarapan dulu. Dan ini bekal Abi untuk makan siang nanti di kantor," ucap Humairah dengan senyum manis, menyodorkan sebuah kotak bekal yang sudah tertata rapi di samping meja.

Tak hanya itu, sebagai bentuk perhatiannya yang mendalam pada kesehatan sang suami,

Humairah menyiapkan susu kurma dingin yang segar di dalam botol tumbler.

Ia tahu suaminya butuh stamina ekstra setelah beberapa hari ini kelelahan menjaganya di rumah sakit.

Fathan menatap semua hidangan itu dengan binar mata yang berbinar-binar.

Rasa bahagia menyergap dadanya melihat bagaimana wanita yang dicintainya kini memperlakukannya dengan begitu mulia sebagai seorang suami.

"Terima kasih, Sayang," ucap Fathan tulus, meraih jemari Humairah sejenak.

"Ayo kita sarapan dulu bersama. Dan ingat, setelah ini jangan lupa minum obatmu. Abi mau kamu istirahat saja hari ini di rumah, jangan kerjakan pekerjaan yang berat-berat dulu."

Humairah menganggukkan kepalanya dengan patuh.

"Iya, Abi. Humairah akan istirahat."

Fathan kemudian mendudukkan dirinya di kursi makan. Namun, begitu ia membuka tudung saji dan melihat menu utama yang tersaji di atas piring besar, matanya langsung melebar sempurna.

Nasi kebuli dengan potongan daging kambing muda yang tebal dan beraroma gurih pekat terpampang nyata di depan matanya.

Fathan menelan salivanya, lalu mendongak menatap istrinya dengan senyuman penuh arti yang sarat akan godaan nakal.

"Kambing lagi, Umi?" goda Fathan dengan suara bervolume rendah, menaik-turunkan alisnya.

"Sepertinya nanti malam kita harus olahraga lagi, nih. Biar energinya tidak membuat Abi gelisah seperti semalam."

Mendengar celetukan blak-blakan suaminya yang mengungkit momen intim mereka, wajah Humairah seketika bersemu merah. Namun, alih-alih merasa takut seperti dulu, Humairah tertawa kecil menutupi rasa malunya dengan punggung tangan, menyadari bahwa godaan-godaan kecil seperti inilah yang akan menghidupkan kembali warna di dalam rumah tangga baru mereka.

Setelah selesai sarapan pagi, Fathan berpamitan dengan Humairah di teras rumah.

Suasana pagi yang beranjak hangat mengiringi langkah mereka.

Fathan menggenggam kedua tangan istrinya dengan erat, menatap lekat wajah ayu yang kini sepenuhnya telah menjadi miliknya.

"Lekas istirahat dan jangan menerima tamu selagi Abi bekerja," pesan Fathan, memberikan peringatan lembut namun sarat akan nada protektif.

Ia hanya ingin memastikan tidak ada satu pun orang—termasuk utusan dari dalem pesantren—yang datang untuk mengusik ketenangan istrinya hari ini.

Humairah menganggukkan kepalanya dengan patuh, mengulas senyum teduh yang menenangkan hati suaminya.

"Iya, Abi. Humairah akan di rumah saja bersama Bibi Ningsih."

Humairah kemudian meraih tangan kanan Fathan, lalu mencium punggung tangan suaminya itu dengan sangat takzim.

Fathan membalasnya dengan mengecup dahi Humairah lama, seolah berat untuk berpisah walau hanya beberapa jam.

"Assalamualaikum, Sayang," ucap Fathan lirih di dekat telinga istrinya.

"Waalaikumsalam, Abi. Hati-hati di jalan," balas Humairah dengan rona merah yang kembali tipis di pipinya akibat panggilan mesra itu.

Fathan masuk ke dalam mobil putihnya dengan perasaan yang jauh lebih ringan dan bahagia.

Setelah memastikan Humairah masuk dan mengunci pintu rumah, Abi melajukan mobilnya membelah jalanan kota, menuju ke Pondok Pesantren Darussalam untuk menunaikan kewajibannya.

Perjalanan dari rumah baru mereka menuju area pesantren terasa begitu singkat karena hati Fathan diliputi oleh rasa tenang.

Sesampainya di pondok, sebelum memulai jadwal mengajar dan mengurus administrasi madrasah, Fathan memutuskan untuk menuju ke rumah orang tuanya terlebih dahulu.

Ia ingin memastikan situasi di dalem sekaligus menghormati abahnya.

Fathan melangkah melewati pintu samping kediaman utama yang tampak terbuka.

Begitu masuk ke ruang tengah, ia mendapati ibunya sedang duduk di sofa dengan wajah yang masih tampak ditekuk masam.

"Assalamualaikum, Umi," sapa Fathan lembut, berusaha mencairkan ketegangan yang tersisa sejak kemarin.

Nyai Latifah melengos, sengaja membuang muka dan enggan menatap anak laki-laki kesayangannya itu.

Beliau mendengus sinis sebelum akhirnya melayangkan pertanyaan dengan nada menyindir yang ketus.

"Mana ratu pemalas itu? Kenapa tidak ikut ke sini?" ketus Nyai Latifah, merujuk pada Humairah yang tidak menampakkan batang hidungnya.

Mendengar sebutan tidak menyenangkan itu keluar lagi dari lisan ibunya, Fathan menarik napas dalam-dalam. Namun kali ini, tidak ada lagi kemarahan atau keraguan dalam sikapnya.

Ia menjawabnya dengan ketegasan seorang suami yang siap pasang badan untuk kehormatan sang istri.

"Istriku sedang istirahat di rumah, Umi. Dan dia bukan ratu pemalas," ucap Fathan dengan nada tenang namun sarat penekanan.

Fathan kemudian mengangkat tinggi-tinggi tas bekal yang sejak tadi ia jinjing, menunjukkannya kepada Nyai Latifah dengan senyum bangga.

"Pagi ini, Fathan bahkan dibawakan bekal nasi kebuli dari istri Fathan yang paling cantik. Masakannya sangat enak dan dia menyiapkannya sendiri sejak fajar."

Mendengar pujian Fathan yang begitu terang-terangan untuk Humairah, dada Nyai Latifah seketika bergemuruh hebat.

Tangannya mengepal kuat di atas pangkuan. Alih-alih melunakkan hati, pembelaan dan sanjungan Fathan justru membuat Nyai Latifah semakin membenci Humairah.

Di matanya, wanita miskin itu telah sepenuhnya mencuci otak putra kebanggaannya hingga berani melawannya.

Fathan yang menangkap perubahan raut wajah ibunya yang kian menegang memilih untuk tidak memperpanjang perdebatan.

Ia tahu, beradu argumen dengan ego ibunya saat ini hanya akan sia-sia.

"Kalau begitu, Fathan pergi mengajar ke madrasah dulu, Umi. Assalamualaikum," pamit Fathan seraya menundukkan kepalanya sedikit, lalu membalikkan tubuh tanpa menunggu tangan ibunya diulurkan.

"Waalaikumsalam," jawab Nyai Latifah terpaksa, suaranya terdengar sangat lirih dan penuh dengan kekesalan yang tertahan.

Fathan melangkah keluar dari dalem dengan mantap.

Langkah kakinya terasa ringan menuju asrama santri, membawa bekal cinta dari Humairah yang siap menemaninya melewati hari ini.

Belum lama Fathan beranjak dari kediaman utama menuju madrasah, keheningan di ruang tamu dalem kembali terusik oleh suara ketukan yang terdengar tegas dari arah pintu depan.

Tok... Tok... Tok...

Nyai Latifah yang mengira putranya kembali karena ada barang yang tertinggal, bangkit dari sofanya dengan sisa kejengkelan yang masih kentara di wajahnya.

Beliau melangkah lebar menuju pintu, lalu membukanya dengan sentakan pelan.

"Ada apa lagi, Fathan?" tanya Nyai Latifah langsung, tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang berdiri di ambang pintu.

Namun, kalimatnya menggantung di udara. Sosok yang berdiri di hadapannya bukanlah sang putra, melainkan seorang wanita muda berpenampilan sangat modis dan elegan.

Kehadiran wanita itu seketika memancarkan aura kemewahan yang kontras dengan suasana pesantren.

"Assalamualaikum, Umi," sapa wanita itu dengan suara yang lembut dan tertata sopan.

Nyai Latifah mengerutkan keningnya, menatap lekat dari ujung kepala hingga ujung kaki tamu asing tersebut.

"Waalaikumsalam. Kamu, siapa?"

"Apa Ustadz Fathan ada di rumah, Umi? Saya ingin bicara dengan beliau jika beliau ada waktu," ujar wanita itu, mengutarakan maksud kedatangannya dengan pembawaan yang tenang.

Nyai Latifah tidak langsung menjawab. Naluri protektif sekaligus keangkuhannya sebagai nyai besar di pesantren ini seketika bangkit.

Beliau melipat kedua tangannya di depan dada, menatap sang tamu dengan tatapan menyelidik yang tajam.

"Sebelum bicara dengan putraku, kamu harus berbicara dengan aku terlebih dahulu. Ada urusan apa kamu mencari Fathan?" tuntut Nyai Latifah tegas.

Wanita muda itu tampak tidak keberatan. Ia menganggukkan kepalanya dengan patuh, menunjukkan tata krama yang baik.

"Baik, Umi. Perkenalkan, saya Zakia, mantan kekasih Fathan di masa lalu. Kedatangan saya ke sini murni karena ingin meminta maaf secara langsung kepada beliau atas kesalahpahaman kami di masa lalu."

Mendengar nama 'Zakia' dan statusnya sebagai mantan kekasih Fathan, mata Nyai Latifah seketika melebar.

Sudut pandang beliau langsung beralih secara detail.

Tatapan matanya tertuju pada tas branded berlogo mewah yang tersampir di lengan Zakia, pakaian anggun berkelas yang dikenakannya, hingga kilauan perhiasan yang melingkar di jemarinya.

Beliau bahkan melirik ke arah halaman, di mana sebuah mobil mewah keluaran terbaru terparkir dengan gagah.

Otak Nyai Latifah yang penuh dengan standarisasi duniawi seketika berputar cepat. Ini dia. Ini sosok wanita yang selama ini ia impikan untuk menjadi pendamping Fathan—terpandang, kaya raya, dan berkelas.

Jauh berbeda bak bumi dan langit jika dibandingkan dengan Humairah yang dianggapnya miskin.

Sebuah rencana busuk seketika tebersit di kepala Nyai Latifah.

Beliau melangkah selangkah lebih dekat, menatap Zakia dengan binar mata yang mendadak berubah menjadi sangat ramah.

"Zakia..." panggil Nyai Latifah, merendahkan intonasi suaranya menjadi seolah penuh perhatian.

"Umi mau tanya satu hal padamu. Apakah, kamu masih mencintai putraku, Fathan?"

Zakia sempat tertegun mendapat pertanyaan sekaum itu dari sang Nyai. Namun, kilat kerinduan di matanya tidak bisa berbohong.

Zakia menganggukkan kepalanya dengan pasti, seulas senyum malu-malu terbit di wajahnya.

"Iya, Umi. Rasa itu sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang."

Mendengar pengakuan jujur itu, Nyai Latifah tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh kemenangan yang sarat akan muslihat.

Di dalam hatinya, beliau merasa telah menemukan senjata pamungkas untuk menyingkirkan menantu yang dibencinya.

"Bagus," bisik Nyai Latifah di dalam hati dengan seringai licik. 'Sudah waktunya Fathan harus berpisah dengan Humairah. Hanya wanita seperti Zakia ini yang pantas menjadi nyai muda di pesantren ini.'

1
mama
buruk sekali kelakuan ny humaira🤭
Atjeh ponsel
😭
keynara
nah ustadz Fathan harus tegas jangan sia siakan Humairah lagi cukup dulu aja
si Ratih dasar pelakor nggak tau malu🤭
keynara
semoga ustadz Fathan jangan berpoligami kasian Humairah 🙏
kayanya bau bau mau dijodohin sama ustadzah ratih jangan sampai ya author 🙏
Atjeh ponsel
cerita nya sangat menarik
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Masyitah Bkt
aduhhhh...kenapa bacaannya mengandung banyak sekali bawangnya😭😭 mulai bab 1 bawangggg teroosss...perih mata jdnya thorr...
Rubi Yati
istri kiyai og kyk gitu sh gk pantes bngt
Yusria Mumba
sabar
Yusria Mumba
kasiang humairah
Hatnah Batulicin
syukurin tuh nyai 😏😏
Dede Dedeh
pinter oge eta nini nini...........
falea sezi
🤣🤣 ngididik istri aja lu g becus gmna nge didik santri🤣🤣🤣 lawak bgt ne kiyai sok agamis
falea sezi
bertele tele sejauh. ini😒
falea sezi
🤣🤣🤣 bisanya nangis ikan terbang bgt thor
falea sezi
plg ke rmh ortumu lah bego males. MC. oon gini😓
falea sezi
ustadz tp galau ma cwek🤣🤣🤣 ustadz apaan 😓 kayaknya belajar agama nya setengah ta
falea sezi
bu nyai apaan kelakuan kayak. lampir kayak nya kiyai nemu istri di club ya mulutnya kayak lacur😒
keynara
nenek sihir kejam banget balas dendamnya semoga Humairah nggak kenapa kenapa dan cepat ketahuan
Hatnah Batulicin
senang nya Mak lampir di talak 😏😏
Mundri Astuti
ntu binimu kasih hukuman talak 1 sekalian kyai, omongan doang ga mempan rupanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!