Terjebak di antara dua pilihan yg sulit, antara kakak beradik yg dua duanya ada di hatiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisha A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 32 Rendi ingin lebih serius
Hari ini hari terakhir ku di rumah Rendi, aku akan langsung pulang ke rumahku saat pulang kerja nanti.
Hari ini suasana di meja saat sarapan lebih terasa kondusif dan damai. Perasaan dan mood ku yang sejak semalam hancur lebur, kini seketika membaik.
"Jadi nanti pulang kerja gak pulang kesini lagi Cha?" Tanya Tante Ola memastikan.
"Oh hehe enggak Tante, Icha langsung pulang ke rumah." Jawab ku sembari tersenyum.
"Jadi sepi lagi deh rumah ini, Rudi juga dari tadi pagi sudah pulang." Ucap Tante Ola sedikit lirih.
"Gak papa Tante nanti Icha bakalan sering main kesini, lagian kan Rena juga udah janji sama Tante untuk sering main kesini." Ucapku sumringah sembari melirik ke arah Juan.
Bisa kulihat ekspresi Juan langsung berubah saat aku menyebut nama Rena, ekspresinya seperti sedang protes terhadapku.
Aku senang dan lega saat kembali membayangi obrolan ku dan Juan semalam:
*Flashback on*
"Apakah kamu dan Rena sudah jadian ?" Tanyaku memastikan sembari melepas pelukan kami.
"Belum." Jawab Juan sembari menarik ku agar duduk disofa teras belakang rumah Juan.
"Belum ? berarti akan ?" Tanyaku sambil membulatkan mataku.
"Aku berencana membuka hatiku untuknya, jika aku sudah meyakini kalau kamu tak punya perasaan sedikit pun padaku."
"Aku akan berjuang jika kamu mau aku perjuangkan, tapi aku bukan tipe lelaki pe maksa, aku tak akan memaksakan perasaanku jika kamu sama sekali tak menginginkanku." Tambah Juan lagi.
"Lalu, jika ternyata aku sudah menyukaimu ?" Tanyaku.
"Maka aku akan memperjuangkan mu! selanjutnya, biar hatimu sendiri lah yang menentukan siapa yang lebih pantas untuk mendampingimu." Tegas Juan lagi sambil menggenggam jemariku.
"Lalu bagaimana dengan Rena ? Bukankah kamu sudah memberinya harapan ?" Tanyaku menyelidik sembari memicingkan mataku.
"Aku tidak pernah mengumbar kata-kata manis padanya, aku hanya mengajaknya makan malam bersama dirumah sebagai teman, sama seperti Rudi, apa itu salah ?" Jawab Juan santai.
"Perjuangkan lah aku, dan jangan bermesraan seperti itu lagi didepan ku. Aku tidak tahan melihatnya." Ucapku tegas kemudian aku pun bangkit dari dudukku, dan berlalu meninggalkan Juan.
*Flashback off*
Akhirnya aku pun pamit pada Tante Ola saat aku sudah mau berangkat kerja. Rendi sudah menungguku di mobil, Tante Ola ikut mengantarku sampai depan pintu rumahnya, di ikuti juga dengan Juan yang berdiri di belakang Tante Ola.
"Tante Icha pamit dulu ya, terima kasih Tante sudah mengizinkan Icha selama 3 hari menginap disini, dan maaf juga kalau Icha sudah merepotkan Tante karena hal itu." Ucapku sambil menyalami takzim Tante Ola dan memeluknya.
Aku memeluk Tante Ola yang membuat wajahku menghadap ke Juan yang ada di belakang Tante Ola. Juan dengan genit mengedipkan sebelah matanya ke arahku sambil berbisik kata 'I LOVE YOU' tanpa terdengar oleh Tante Ola.
Aku hanya bisa tersenyum simpul sambil melepaskan pelukan ku pada Tante Ola.
Mobil Rendi pun melaju membawaku menjauh dari kawasan perumahan elit itu, melaju membawaku kembali pada rutinitas yang sudah hampir 3 tahun ini aku geluti.
"Dua Minggu lagi kamu ingat kan kalau aku ulang tahun? aku mau buat acara sekalian mau mengumpulkan semua karyawan ku dari semua cabang, Agar semua karyawan dari berbagai cabang juga bisa mengenal satu sama lain. Bagaimana menurutmu ?" Ucap Rendi memulai perbincangan.
"Itu bagus sayang, apakah aku juga di undang ? mengingat aku bukan karyawan mu." Tanyaku menggoda Rendi.
"Tentu saja kamu orang yang paling wajib mendampingiku saat acara nanti." Jawab Rendi sumringah sambil mengusap ujung rambutku.
Aku pun tersenyum dan tertawa kecil, Rendi benar-benar sudah berubah jadi orang yang mulai suka berbincang, pikirku.
"Sepertinya aku mulai terbiasa dengan keberadaan mu dirumah kami." Ucap Rendi lagi saat beberapa menit kami terdiam.
"Terbiasa apanya sih sayang?" tanyaku dengan nada menggoda.
"Ya sepertinya aku sangat menikmati moment saat kamu bangunin aku, aku juga menikmati pemandangan saat melihatmu membantu bik Nur di dapur." Ucap Rendi tersenyum sembari mengusap lembut ujung kepalaku.
"Ya anggap aja itu sebagai gambaran saat kamu sudah menikah nanti lebih kurang akan seperti itu hehehe." Jawabku ngasal.
"Aku sepertinya sudah memikirkannya, aku mau serius." Ucap Rendi dengan ekspresi yang sangat serius.
"Emang kamu selama ini main-main sama aku ?" Jawabku menggoda agar Rendi tidak terlalu serius.
"Aku mau kita menikah tahun ini." Ucap Rendy penuh keyakinan.
"Ha tahun ini ? aa.. apa kamu yakin ?" tanyaku terkejut.
"Apa kamu gak yakin sama aku?"
"Aku yakin sama kamu sayang, tapi kan kita belum pernah membicarakan ini sebelumnya."
"Ya makanya sekarang aku diskusikan sama kamu dulu."
Jantungku berdetak mendengar itu, aku sama sekali tak punya jawaban atas ucapan Rendi barusan. Tak tau harus merasa bahagia atau sedih, karena kini hatiku benar-benar sudah terbagi, ada Rendi dan Juan di hatiku.
"Baiklah sayang, kita lanjutkan bicara itu nanti ya, karena sudah sampai dan aku harus segera turun." Ucapku mengalihkan pembicaraan saat mobil Rendi berhenti di depan kantorku, sembari kucium pipi Rendi lalu bergegas turun dari mobil.
Aku mencoba melupakan sejenak apa yang Rendi ucapkan tadi, aku menyibukkan diriku dengan pekerjaanku, aku tak mau memikirkan itu dulu yang aku tau hanya akan membuatku pusing.
Kini jam kerjaku sudah habis, aku sudah bilang pada Rendi agar tak perlu menjemput ku, aku memilih pulang naik ojek online. Aku tak mau bertemu Rendi dulu hari ini, karena takut dia akan membahas masalah pernikahan lagi. aku benar-benar belum siap membahasnya untuk saat ini.
Aku melihat pintu rumahku sudah terbuka, menandakan kalau ibu dan adik ku sudah dirumah.
"Kakak sudah pulang?" terdengar suara Dafa menyapaku dari dalam rumah.
"Iya nih, ibu mana ?" tanyaku.
"Ibu sedang mandi kak, ibu mau pergi lagi ke rumah nenek."
"Kenapa begitu ? Apa nenek masih sakit ?" tanya ku mengernyitkan dahiku sedikit bingung.
"Iya kak nenek masih sakit dan meminta ibu yang menemaninya."
Tak lama ibuku pun menghampiriku, ternyata ibuku pulang hanya untuk mengantarkan Dafa adikku, karena Dafa sudah 3 hari gak masuk sekolah, jadi dengan terpaksa Dafa harus pulang dan tinggal dirumah bersamaku. Sementara ibu akan pergi lagi untuk mengurus nenek.
Aku pun tak bisa berkata apa-apa lagi selain menyetujui permintaan ibu untuk mengurus adik lelaki ku yang nakal.
Aku memilih mandi untuk membersihkan diriku, sementara ibuku sudah dijemput lagi oleh tanteku dan langsung pamit untuk segera kembali ke rumah nenek. Kali ini semesta lagi-lagi memberi kode, dengan perginya ibuku, otomatis aku lah yang harus mengurus segala sesuatunya dirumah itu, mulai dari memasak, berkemas, bahkan mengurus adikku, semesta seakan menyuruhku untuk lebih fokus belajar jadi ibu rumah tangga.
Apakah ini jawaban dari semesta agar aku segera menikah ?
Bersambung...
sukses
semangat
mksh
tp bnr ada yahh crita gni d dunia nyata
iyaa Smngtt trs y KK👍👍👍👏👏