Di sebuah kerajaan yang penuh dengan intrik dan kekuatan mistis pada masa Dinasti Tang, hiduplah seorang pangeran bernama Li Wei. Sejak kecil, Li Wei selalu dianggap lemah dan tidak berbakat dalam seni bela diri, sehingga ia sering dijuluki "Pangeran Cupu" oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, di balik penampilannya yang lemah, Li Wei memiliki hati yang baik dan kecerdasan yang luar biasa.
Li Wei tumbuh di istana dengan penuh cemoohan dari saudara-saudaranya dan para pejabat istana. Ayahnya, Kaisar Li, merasa malu dengan kelemahan Li Wei dan lebih mengutamakan putra-putranya yang lain. Namun, Li Wei tidak pernah menyerah dan terus berusaha untuk membuktikan dirinya.
Suatu hari, saat sedang berjalan-jalan di hutan, Li Wei bertemu dengan seorang guru bela diri misterius bernama Master Feng.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 32
Keesokan harinya.
Sinar mentari pagi yang hangat menyelinap di antara dedaunan pohon plum di taman kediaman Selir Yuhe. Aroma bunga yang sedang bermekaran berpadu dengan harum teh melati yang mengepul dari cangkir porselen di hadapannya. Biasanya, suasana setenang ini mampu menenangkan pikirannya. Namun pagi itu, wajah Selir Yuhe justru tampak suram. Tatapannya kosong menembus hamparan taman, sementara jemarinya mencengkeram cangkir teh begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Berita yang dibawa para pelayan sejak subuh terus berputar di kepalanya.
Lu Zhuang... keponakan yang selama ini selalu ia banggakan... diperlakukan seperti seorang pelayan oleh Meiling.
"Kurang ajar..." desisnya pelan. Nada suaranya rendah, tetapi sarat amarah yang sulit dibendung.
Dalam sekali hentakan, cangkir teh itu dibanting ke atas meja batu.
Prang!
Pecahan porselen berhamburan ke segala arah. Air teh yang masih hangat memercik hingga membasahi permukaan meja dan lantai batu. Para dayang yang berjaga di sekitar taman sontak menundukkan kepala. Tak seorang pun berani mengangkat wajah.
"Berani sekali dia memperlakukan Lu Zhuang seperti pelayan!" bentak Selir Yuhe. Dadanya naik turun menahan murka. "Dia pikir hanya karena mendapat sedikit perhatian dari Yang Mulia, dia bisa menginjak-injak martabat keluargaku?"
Seorang pelayan wanita berlutut gemetar.
"Yang Mulia... mohon tenangkan amarah Paduka. Jangan sampai kesehatan Paduka terganggu...."
"Diam!" hardik Selir Yuhe tanpa menoleh. "Martabat keluarga Yu dipermalukan. Bagaimana mungkin aku bisa tinggal diam?"
Ia bangkit dari tempat duduknya. Lengan bajunya berkibar diterpa angin pagi, sementara sorot matanya berubah semakin tajam.
"PELAYAN!" serunya lantang.
Seluruh pelayan yang berada di taman segera berlutut serempak.
"Hamba mendengar perintah Paduka!"
"Siapkan kereta kuda. Sekarang juga."
"Baik, Yang Mulia!"
Tanpa membuang waktu, beberapa pelayan langsung berlari meninggalkan taman. Ada yang menuju kandang kuda untuk menyiapkan kereta kerajaan, ada pula yang memanggil pengawal pribadi Selir Yuhe agar ikut mengawal perjalanan.
Suasana yang semula damai berubah menjadi sibuk dalam sekejap. Derap langkah para pelayan terdengar bersahutan memenuhi lorong-lorong kediaman.
Sementara itu, Selir Yuhe berdiri memandang langit dengan wajah dingin. Kemarahannya belum juga mereda.
"Mei ling ..." gumamnya lirih, tetapi penuh ancaman. "Aku ingin melihat sendiri keberanianmu. Jika kau benar-benar telah mempermalukan Lu Zhuang, jangan salahkan aku bila hari ini kau harus membayar semuanya."
Tak lama kemudian, kereta kuda berhiaskan lambang keluarga Yu berhenti di depan gerbang utama kediaman Pangeran Lie Wei . Empat pengawal berpakaian hitam berdiri di sisi kanan dan kiri kereta dengan wajah dingin, sementara para pelayan yang ikut mengiringi rombongan segera menyingkirkan siapa pun yang menghalangi jalan.
Kedatangan Selir Yuhe yang mendadak membuat para pelayan di kediaman itu saling berpandangan. Wajah mereka dipenuhi kebingungan sekaligus kecemasan.
"Selir Yuhe datang?"
"Tanpa pemberitahuan?"
"Melihat wajah beliau... sepertinya terjadi sesuatu."
Bisik-bisik itu segera terhenti ketika kepala pelayan keluar menyambut dengan membungkukkan badan.
"Hamba memberi hormat kepada Yang Mulia Selir Yuhe."
Selir Yuhe bahkan tidak meliriknya. Ia turun dari kereta dengan anggun, tetapi setiap langkahnya memancarkan tekanan yang membuat suasana di sekitar terasa mencekam.
"Di mana Putri Mei Ling?" tanyanya datar.
"Yang Mulia Putri sedang berada di paviliun belakang...."
"Aku tidak datang untuk mendengar laporanmu."
Selir Yuhe memotong ucapan kepala pelayan sebelum selesai.
"Tunjukkan jalannya."
Kepala pelayan menelan ludah. "Baik, Yang Mulia."
Sepanjang perjalanan menuju paviliun belakang, para dayang dan pelayan yang berpapasan segera berlutut memberi hormat. Tidak ada seorang pun yang berani mengangkat kepala.
Sementara itu, di paviliun belakang, Mei Ling sedang duduk santai di tepi kolam teratai. Di hadapannya terdapat papan catur, sementara secangkir teh hangat masih mengepulkan uap tipis. Wajahnya tenang, seolah tidak ada satu pun persoalan yang mampu mengusik pikirannya.
Seorang dayang berlari tergesa-gesa hingga napasnya tersengal.
"Yang Mulia!"
Mei Ling mengangkat pandangannya perlahan.
"Ada apa sampai kau berlari seperti itu?"
"Selir Yuhe... Selir Yuhe datang kemari. Beliau membawa banyak pengawal dan terlihat sangat marah."
Alih-alih panik, Mei Ling hanya mengambil cangkir tehnya lalu menyeruputnya dengan tenang.
"Jadi akhirnya beliau datang juga."
Dayang itu berkedip bingung.
"Yang Mulia... apakah... apakah Anda sudah menduganya?"
Mei Ling meletakkan kembali cangkir tehnya dengan senyum tipis yang sulit ditebak.
"Sejak Lu Zhuang pulang dengan harga dirinya terluka, aku sudah tahu cepat atau lambat Selir Yuhe akan mencariku."
Tatapannya beralih ke arah jalan setapak yang menghubungkan taman depan dengan paviliun.
"Kalau begitu... mari kita sambut tamu kita dengan layak."
Belum lama ucapannya selesai, langkah kaki yang tegas terdengar semakin mendekat. Detik berikutnya, sosok Selir Yuhe muncul di pintu masuk paviliun dengan tatapan tajam yang dipenuhi amarah.
Pandangan kedua wanita itu bertemu.
Untuk sesaat, udara di sekitar seolah membeku.
Tak seorang pun berani mengeluarkan suara.
Semua orang tahu...
Pertemuan dua wanita berpengaruh itu bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan awal dari bentrokan yang bisa mengguncang seluruh istana.
Mei Ling menatap Selir Yuhe tanpa sedikit pun mengubah ekspresinya. Sorot matanya tenang, tetapi setiap kata yang keluar dari bibirnya terasa setajam bilah pedang.
"Bibi Yuhe," ucapnya perlahan, "aku tahu Lu Zhuang datang ke kediaman Pangeran Li Wei bukan atas kemauannya sendiri. Ada seseorang yang mengirimnya... dan orang itu adalah Bibi."
Selir Yuhe tidak segera menjawab. Tatapannya hanya semakin tajam.
Mei Ling melanjutkan.
"Kediaman Pangeran Li Wei bukanlah tempat yang bisa dimasuki sembarang orang. Terlebih oleh seseorang seperti Lu Zhuang yang datang tanpa undangan dan membawa tujuan yang tidak pantas."
Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum tipis.
"Dan jika Bibi mengira aku tidak mengetahui niatnya untuk melamar menjadi selir Pangeran Li Wei, maka Bibi telah meremehkanku."
Wajah Selir Yuhe perlahan berubah dingin.
"Jadi kau memang sengaja mempermalukannya."
"Bukan." Mei Ling menggeleng pelan. "Ia mempermalukan dirinya sendiri."
Keheningan kembali menyelimuti paviliun.
Lalu Mei Ling berkata dengan suara yang tetap lembut, tetapi cukup keras untuk didengar semua orang.
"Asal Bibi Yuhe tahu..."
"Aku bukan tipe wanita yang gemar berbagi suami seperti Bibi."
Kalimat itu bagaikan petir di siang bolong.
Para dayang sontak membelalak. Beberapa pelayan bahkan refleks menahan napas.
Tak ada seorang pun yang berani mengangkat kepala.
Sementara itu, wajah Selir Yuhe langsung mengeras. Tatapannya dipenuhi amarah yang nyaris tak lagi dapat disembunyikan.
"Mei Ling!" bentaknya.
Namun Mei Ling tetap berdiri dengan anggun.
"Aku hanya sedang menjelaskan alasan mengapa Lu Zhuang tidak akan pernah menjadi selir di kediaman Pangeran Li Wei. Selama aku masih menjadi istri sah beliau, tidak akan ada wanita yang bisa masuk ke dalam kediaman itu dengan ambisi menjadi selir."
Tatapan keduanya kembali beradu.
Api permusuhan yang selama ini hanya membara dalam diam...
Kini telah dinyalakan secara terang-terangan.
Tanpa diketahui oleh Selir Yuhe maupun Mei Ling, di balik dinding batu yang memisahkan paviliun dengan koridor taman, sesosok pria berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
Pangeran Li Wei.
Sejak kedatangan Selir Yuhe, ia sebenarnya sudah tiba di kediaman. Namun, ia memilih untuk tidak langsung menampakkan diri. Ia ingin melihat sendiri bagaimana istrinya menghadapi badai yang datang tanpa peringatan.
Tak satu pun kata yang terlewat dari pendengarannya.
Terutama kalimat yang baru saja diucapkan Mei Ling.
"Selama aku masih menjadi istri sah beliau, tidak akan ada wanita yang bisa masuk ke dalam kediaman itu dengan ambisi menjadi selir."
Kemudian disusul kalimat yang membuat sudut bibirnya terangkat tanpa sadar.
"Aku bukan tipe wanita yang gemar berbagi suami seperti Bibi."
Li Wei menggeleng pelan sambil terkekeh lirih.
"Jadi... selama ini itu yang ada di dalam hatimu, Mei Ling."
Senyumnya semakin lebar. Ada rasa hangat yang perlahan memenuhi dadanya.
Selama ini, Mei Ling selalu bersikap tenang dan menjaga jarak. Ia jarang mengungkapkan isi hatinya, apalagi menunjukkan rasa cemburu.
Namun hari ini berbeda.
Untuk pertama kalinya, di hadapan begitu banyak orang, Mei Ling dengan tegas menyatakan bahwa ia tidak akan membiarkan wanita lain menjadi selirnya.
Entah mengapa...
Mendengar pengakuan itu membuat hati Li Wei dipenuhi kebahagiaan yang sulit dijelaskan.
"Kalau begitu..." gumamnya pelan. "Aku juga tidak akan mengecewakanmu."
Tatapannya kembali mengarah ke paviliun.
Wajahnya masih dihiasi senyum tipis, tetapi sorot matanya berubah tajam.
Sudah cukup ia membiarkan Mei Ling menghadapi semua ini seorang diri.
Kini...
Sudah waktunya seorang suami berdiri di sisi istrinya.
Suara langkah kaki yang mantap memecah keheningan.
Tok... tok... tok...
Semua mata sontak beralih ke arah pintu masuk paviliun.
Sesosok pria berjubah hitam bersulam benang emas melangkah masuk dengan tenang. Wajahnya tampan, sorot matanya tajam, dan setiap langkahnya memancarkan wibawa seorang pangeran.
"Pangeran Li Wei..."
Para pelayan segera berlutut serempak.
"Hormat kepada Yang Mulia Pangeran!"
Selir Yuhe sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Li Wei berada di kediaman itu sejak tadi.
Li Wei mengangguk singkat kepada semua orang. Namun, pandangannya langsung tertuju kepada Mei Ling.
"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya dengan nada lembut.
Mei Ling mengangguk pelan.
"Hamba baik-baik saja, Yang Mulia."
Baru setelah memastikan istrinya tidak mengalami apa pun, Li Wei menoleh kepada Selir Yuhe. Senyum hangat di wajahnya menghilang, berganti dengan ekspresi datar yang sulit ditebak.
"Bibi Yuhe."
Selir Yuhe membalas tatapannya.
"Li Wei. Kau datang di saat yang tepat. Istrimu telah mempermalukan keponakanku."
Li Wei tidak langsung menjawab. Ia melangkah hingga berdiri di sisi Mei Ling, tanpa ragu menunjukkan kepada semua orang di mana posisinya berada.
"Aku sudah mendengar semuanya."
Kalimat itu membuat wajah Selir Yuhe berubah.
"Kau... mendengarnya?"
Li Wei mengangguk.
"Sejak awal."
Keheningan kembali menyelimuti paviliun.
"Bukankah lebih baik Yang Mulia menasihati istrimu?" tanya Selir Yuhe, berusaha menekan emosinya. "Ia telah membuat Lu Zhuang kehilangan muka."
Li Wei menatap Selir Yuhe dengan tenang.
"Kalau begitu, izinkan aku bertanya."
"Saat Lu Zhuang memasuki kediamanku tanpa undangan, apakah itu bukan kesalahan?"
Selir Yuhe terdiam.
"Saat ia datang dengan membawa niat menjadi selirku, apakah itu bukan bentuk penghinaan terhadap istri sahku?"
Selir Yuhe mengepalkan tangannya.
Li Wei melanjutkan, suaranya tetap tenang, tetapi setiap katanya terasa berat.
"Kediaman ini adalah rumahku."
"Lalu Mei Ling adalah nyonya rumahnya."
"Siapa yang boleh masuk, siapa yang harus keluar, dan siapa yang pantas diterima... itu adalah hak Mei Ling."
Ia menoleh sekilas kepada istrinya. Tatapannya yang tadi dingin seketika melembut.
"Selama keputusan itu tidak bertentangan dengan hukum kekaisaran..."
"...maka sebagai suaminya, aku akan mendukungnya."
Mata Mei Ling sedikit membesar. Ia tidak menyangka Li Wei akan mengucapkan kalimat itu secara terang-terangan di hadapan Selir Yuhe.
Sementara itu, wajah Selir Yuhe sudah sulit disembunyikan lagi.
Ia datang dengan keyakinan bahwa Li Wei akan menegur Mei Ling demi menjaga hubungan dengan keluarga Yu.
Namun kenyataannya justru sebaliknya.
Pangeran Li Wei memilih berdiri di sisi istrinya.
Untuk pertama kalinya, Selir Yuhe menyadari bahwa hubungan antara Li Wei dan Mei Ling jauh lebih kuat daripada yang selama ini ia bayangkan.
Ia menarik napas panjang, lalu berkata dengan nada dingin,
"Baik... aku akan mengingat sikap kalian berdua hari ini."
Li Wei membalas dengan tenang.
"Silakan, Bibi Yuhe. Dan sampaikan pula kepada Lu Zhuang."
"Selama Mei Ling masih menjadi Putri Kediaman Pangeran Li Wei..."
"...tidak akan ada wanita lain yang memasuki rumah ini dengan tujuan menjadi selirku."
Kalimat itu bergema di seluruh paviliun.
Para pelayan menundukkan kepala semakin dalam.
Mereka tahu...
Hari ini, bukan hanya Selir Yuhe yang kehilangan muka.
Harapan Lu Zhuang untuk memasuki Kediaman Pangeran Li Wei sebagai seorang selir telah dipatahkan secara langsung oleh pemilik kediaman itu sendiri.