Irene, sosok gadis biasa yang begitu mencintai teman satu sekolahnya yang bernama White. Bagi Irene, White adalah cinta pertamanya. Rumah kedua baginya, namun nyatanya rumah kedua yang dianggapnya dapat membuat hidupnya lebih baik, nyatanya sama seperti rumah pertamanya.
Irene selalu rindu akan rumahnya yang dulu pernah ia rasakan dengan begitu nyaman dan tentram. Namun akankah ia bisa kembali merasakan dan melepaskan rasa rindunya pada rumah yang diimpikannya selama ini? Ataukah, ia tidak akan selamanya dapat melepas kerinduannya pada rumah impiannya itu.
“Aku rindu rumah yang tentram dan damai. Tapi, apakah aku masih bisa merasakan rumah seperti itu? Rumah yang hanya ada di dalam mimpiku,” -Irene Sachiara-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Hyungsik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbongkar
Pasha berhasil dibuat tercengang dengan ucapan Citra. Pria itu tidak menyangka kalau gadis yang ada di hadapannya itu memiliki taktik yang cukup cerdas untuk membongkar kebusukan Nancy.
“Gue nggak nyangka ternyata Dirga dan Nancy sudah satu tahun belakang menjalin hubungan dibelakang White,” celetuk Citra dengan ekspresi wajah kesalnya.
Pasha melirik sekilas pada Citra dengan dari sudut matanya. “Gue juga nggak nyangka mereka ternyata sudah sejauh ini,” sahut Pasha seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
Citra menoleh dengan kedua alis bertautan. “Loe sebelumnya sudah tahu kalau mereka punya hubungan?” tanya gadis itu.
Pasha mengedikkan bahunya. “Awalnya gue pikir mereka sering bareng karena satu arah. Tapi ternyata… ya, seperti apa yang loe lihat tadi,”
Pasha dan Citra menghela nafas, benar-benar tidak menyangka akan mendapatkan kejutan dihari kelulusan mereka dari Nancy dan Dirga.
“Terus, bagaimana dengan White? Apakah dia tahu?” tanya Citra lagi.
Pasha menggelengkan kepalanya. “Belum,”
Pasha langsung membalikkan tubuhnya menghadap Citra. “Loe bisa simpan video mereka kan?” tanya Pasha yang dibalas anggukan oleh Citra.
“Loe tenang aja, videonya aman di ponsel gue!” jawab Citra.
“Bagus, kalau bisa loe kirim juga ke gue tuh video!”
Citra mengerutkan dahinya. “Loe mau buat apa sama tuh video?”
Pasha berdecak. “Loe tenang aja, gue bakalan nunjukin video itu ke Nathan. Gue harap loe juga bisa ikut gue buat ngebuktiin keaslian video itu sama dia,”
Citra semakin dibuat bingung, apa hubungannya video itu dengan Nathan. Pasha mengerti ekspresi wajah kebingungan milik Citra. Akhirnya mau tidak mau ia pun memberitahukan satu rahasia yang dipendam oleh nya dan juga Nathan.
“Nathan punya satu video lain tentang keburukan Nancy, dan ini hanya gue dan Nathan yang tahu. Tapi sekarang loe pun juga sudah tahu,” ujar Pasha.
Citra masih dilanda kebingungan. “Video apa?” tanya Citra. “Apa yang loe maksud video mesum mereka berdua?”
[Tak…]
“Aaakhhh…” Citra langsung memegang keningnya yang disentil Pasha.
“Otak loe itu tolong dikondisikan!” celetuk Pasha.
Citra masih mengusap keningnya yang ternyata memerah akibat ulah Pasha. “Sakit tau!” keluh Citra.
Pasha tersenyum dan mengusap kening Citra. “Sorry,” pria itu terkekeh melihat Citra yang mengadu kesakitan.
Tanpa sadar apa yang dilakukan Pasha telah membuat Citra nge-freez. Sentuhan Pasha yang begitu lembut membuat Citra merasakan nyaman. Citra mengerjapkan matanya dan tersadar dari apa yang dipikirkannya saat ini.
“Terus apa yang loe mau lakuin sekarang?” tanya Citra.
“Kita temui Nathan, loe ikut gue! Jangan lupa juga kirim videonya,” jawab Pasha.
Citra mengangguk, dan langsung mengirim video itu pada nomor Pasha. Padahal keduanya ingin menemui Nathan dan menunjukkan video tersebut, tapi kenapa Pasha memintanya juga, pikir Citra. Namun gadis itu tetap melakukan perintah Pasha.
Keduanya pun bergegas keluar dari tempat itu dan kembali ke gedung aula dimana mereka sudah ditunggu oleh para sahabat dan keluarga mereka. Setibanya mereka di aula, baik Pasha maupun Citra terus mengedarkan tatapan mereka ke penjuru tempat sambil berjalan beriringan.
“Sepertinya mereka sudah benar-benar pergi,” ucap Citra setengah berbisik.
“Hmm, sepertinya mereka menuju apartemen Nancy atau Dirga.”
Dari kejauhan Venus dan Nathan dapat melihat kedatangan Pasha dan Citra yang berjalan bersama. Kedua pria itu pun mengerutkan dahinya dan bertanya-tanya, bahkan saat ini mereka sedang saling tatap dengan ekspresi bingung.
“Tumben loe berdua akur,” celetuk Venus.
Pasha berdecak, dan Citra hanya memutar bola matanya malas.
“Gue dari toilet, dan ternyata dia juga dari sana. Jadi kita bareng aja kesininya,” sahut Pasha yang tidak ingin semuanya menjadi salah paham.
“Lho, Cit, kening kamu kenapa?” tanya Anita.
Citra langsung menyentuh keningnya. Ketiga sahabatnya pun juga memperhatikan kening Citra yang terlihat sedikit memerah.
“Loe habis kepentok apaan, Cit? Sampe merah gitu,” Alya tertawa saat bertanya pada Citra.
Citra mengerucutkan bibirnya. “Ini tadi nggak sengaja kepentok pintu pas lagi buka pintu toilet,” bohong Citra.
“Makanya hilangin tuh kebiasaan loe yang seradak seruduk,” celetuk Hanzel.
“Betul itu,” sahut Irene dan Alya bersamaan.
Pasha mendekat ke arah Nathan yang bersisian dengan White. Pria itu berbisik dan membuat Nathan mengernyitkan dahinya.
“Gue ada berita baru tentang Nancy,” bisik Pasha.
Nathan menoleh dengan tatapan penuh tanya. Pasha hanya mengangguk pelan, seakan memberikan isyarat pada Natha kalau dirinya ingin berbicara empat mata.
Nathan dan Pasha pun diam-diam menghindar dari semuanya. Citra yang sejak tadi memperhatikan Pasha pun meyakini dirinya untuk bersiap standby pada ponselnya.
Benar saja, tidak lama Pasha dan Nathan pergi ponsel gadis itu pun berdering. Citra diam-diam menyingkir dari Irene, Alya dan Hanzel. Sementara Venus dan White masih sibuk berbincang dengan Reksa, Thomas dan Max. Padahal disana ada Zef, namun Zef hanya menimpali sesekali saja. Karena fokusnya kali ini hanya Irene.
Zef dan Reksa sudah sangat cukup mengenal Max. Ternyata mereka adalah rekan bisnis, dan itu membuat White cukup terkejut. Tambah lagi, ternyata Thomas adalah asisten sang ayah.
Citra berjalan dengan sedikit tergesah. Ia mencari keberadaan Pasha dan Nathan.
“Rengginang alot,”
Citra langsung menoleh saat mendengar nama yang biasa disematkan oleh Pasha padanya. Citra pun berdecak kesal pada Pasha.
“Dasar si minyak urut,” gerutu Citra yang sangat kesal pada Pasha.
Kini ketiganya sudah saling berhadapan. Citra segera mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan video pada Nathan. Sebelumnya Citra sempat protes pada Pasha, kenapa tidak pria itu saja yang menunjukkan pada Nathan. Namun Pasha mengelak dengan alasan kalau Citra lah orang pertama yang merekamnya.
“Bilang aja loe lagi nggak ada paketan,” celetuk Citra.
Pasha hanya terkekeh menunjukkan deretan giginya.
“Gue harap secepatnya loe berdua kasih tahu White. Walaupun dia udah nyakitin hati sahabat gue, tetap saja gue merasa kasihan lihat dia terus-menerus dibohongi sama siluman barongsai itu,” usul Citra saat Nathan masih melihat video hasil rekaman gadis itu.
Nathan menghela nafasnya, pria itu sedikit menyugar rambutnya. Pesona Nathan memang sangat mempesona, namun tidak dimata Citra. Citra memiliki selera yang sedikit berbeda dari Alya, dan Hanzel.
“Kita akan secepatnya memberitahukan semua keburukan wanita itu,” bukan Nathan yang menjawab ucapan Citra melainkan Pasha.
Sejenak ketiganya hening, lalu tiba-tiba Nathan berujar dan membuat Pasha sedikit terkejut. Karena pria itu menghubungi Venus dan juga White.
“Kita akan melakukannya sekarang. Gue juga udah nggak tahan banget lihat kelakuan sok manja dan sok perhatiannya si wanita burik itu,” cetus Nathan yang terdengar agak ketus.
Pasha dan Citra hanya bisa saling melirik dengan mulut yang terbuka sedikit.
“Loe yakin mau sekarang juga kasih tahu White?” tanya Citra yang masih tak menyangka.
Nathan mengangguk. “Iya, cepat atau lambat kita akan tetap memberitahukan masalah ini pada White. Dan keputusan gue lebih cepat lebih baik kita beritahu White,” jawab Nathan yang tidak bisa diganggu gugat lagi.
Citra menghela nafasnya. “Ya sudah, terserah loe aja!” ujarnya yang terdengar pasrah.
Tidak lama kedua orang yang mereka tunggu pun datang. Venus dan White sedikit terkejut saat melihat Citra yang juga ada disana dan sedang duduk disebelah Pasha.
“Kok loe disini juga, apa loe berdua sudah akrab?” tanya Venus seraya menunjuk Citra dan Pasha.
“Ngaco loe!” sahut Pasha.
“Gue ada disini juga karena ada urusan. Kalau nggak ada juga ngapain gue disini,” celetuk Citra.
White dan Venus hanya bisa menggeleng mendengar ucapan ketus Citra. Memang sudah tidak asing di telinga mereka berdua. White memilih duduk di dekat Pasha dan Venus di dekat Nathan.
“Ada apa loe manggil kita, Nath?” tanya Venus.
Nathan menatap ke arah Pasha dan Citra. Lalu beralih ke arah Venus dan pandangannya berhenti di White. White menaikkan satu alisnya saat tatapan Nathan terlihat begitu intens.
“Ada apa?” tanya White.
Nathan menghela nafasnya. “Gue manggil loe berdua karena ada suatu hal yang mau kita omongin. Terutama sama loe, White!” jawab Nathan.
White mengerutkan dahinya. “Sama gue? Soal apa?”
Nathan membasahi bibirnya yang sedikit kering. “Sebelum itu, gue minta sama loe untuk tidak marah ataupun emosi sama gue, Pasha dan Citra. Karena ini menyangkut soal Nancy,”
White semakin mengerutkan dahinya dan menatap keempat orang yang ada disana.
“Memangnya Nancy kenapa?” tanya White.
“Dia selingkuh sama Dirga,” celetuk Citra.
Nathan dan Pasha memejamkan matanya saat mendengar Citra langsung membicarakan inti permasalahannya. Sementara White sendiri masih mencerna apa yang baru saja diucapkan Citra.
“Maksud loe apa sih? Gue tahu loe sangat benci sama cewek gue. Tapi loe nggak perlu fitnah dia di hadapan gue, Cit!” ucap White yang tidak terima jika Nancy dijelekkan oleh orang lain didepannya.
Citra memutar bola matanya malas. “Sudah gue duga sih kalau loe bakalan bilang begitu. Dasar cowok beg**!”
“Loe ngomong apa? Gue beg**?” sahut White yang sudah mulai emosi.
“White,” tegur Pasha.
Nathan memijat pangkal hidungnya. “Sudah Cit, sebaiknya loe diem dulu ya! Biar gue sama Pasha yang bicara,” bujuk Nathan pada Citra.
“Hmm, terserah loe dah!” jawab Citra agak malas.
“Jadi begini White, barusan Citra nggak sengaja melihat dan mendengar apa yang Nancy dan Dirga lakuin di gudang belakang sekolah. Bukan hanya Citra yang ada disana, gue pun juga ada. Kalau loe mau bukti, kita punya buktinya” ujar Pasha yang langsung menyodorkan ponsel Citra.
Melihat ponselnya diberikan White, membuat Citra sedikit protes. Ia pun menyenggol lengan Pasha.
“Ponsel gue itu. Pakai ponsel loe aja sih, nanti gue kasih hotspot. Yang ada ponsel gue dibanting sama dia,” protes Citra.
Pasha berdecak kesal. “Tenang aja, pinjam dulu ponsel loe.” jawab apa adanya Pasha.
White mulai memutar video yang direkam oleh Citra. Seketika itu juga ekspresi wajahnya berubah. Bahkan pria itu sudah mulai mengepalkan kedua tangannya kuat dan rahangnya pun mulai mengeras.
“Brengsek!” geramnya.
Walau White berkata pelan, namun keempat orang didekatnya masih dapat mendengarnya.
Prak…
White membanting ponsel Citra di atas meja, dan membuat gadis itu melotot sempurna.
“Apa kata gue tadi? Pasti HP gue dibanting sama dia,” protes Citra pada Pasha.
Citra pun langsung mengambil ponselnya, lalu mengusap layar ponselnya dengan lembut dan memasukkan kembali ke dalam tas kecilnya.
White sudah benar-benar sangat emosi, ia pun berdiri dan hendak menemui Nancy dan juga Dirga. Namun dengan cepat Nathan menahannya dengan ucapan yang membuat White diam dan juga penasaran.
“Gue ada satu video lagi yang sudah lama ingin gue tunjukkan ke loe,” Nathan segera mengeluarkan ponselnya.
Pasha yang duduk disebelah Nathan pun cukup terkejut. Sebenarnya ia juga penasaran, namun sebaiknya ia tahan dulu. Setidaknya ia harus menahan amarah White terlebih dahulu.