Cinta dalam perjodohan yang sudah asing di telinga kita di era jaman serba modern ini. Tapi tidak untuk kehidupan Tsania kebahagiaan akan kelulusannya di warnai duka karena perjodohan dari keluarganya.Dengan lelaki misterius tanpa ia kenali, dan kejutan di hari pernikahannya yaitu lelaki misterius itu adalah guru favoritnya di sekolahan.Tsania begitu bahagia.Karena perjodohan ini tidak begitu menyeramkan.Tapi belum bisa menikmati pernikahannya dia di landa gelisah karena sang kekasih hati yang ia tinggalkan tanpa kabar itu,mengetahui dan sakit hati.Demi menjaga perasaan sang guru dia dan sang kekasih hati menutup rapat-rapat cinta di masa lalunya.Akankah Tsania kembali dengan sang kekasih hatinya? ataukah menata cintanya dengan sang gurunya? Yuk ikuti novel ini sampai selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyah Nur khudlriyyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RINDU TERLARANG
Usai sholat ashar aku kembali ke kamar lagi memeluk dan mencium sajadah merah yang penuh cinta itu. Hatiku terasa damai dan tenang ketika memeluknya. Tapi terkadang ada goresan luka yang menyayat saat memandanginya terlalu dalam. Sakit dan perih menjadi satu membentuk ikatan rindu yang terlarang.
Mungkinkah hatinya masih untukku? mungkinkah hatinya masih bisa ku tempati? Entahlah... Semua telah berlalu. Aku yang meninggalkannya tanpa kabar. Aku yang menyakitinya tanpa sebab. Masihkah aku berani merindukannya lagi?. Sedangkan aku saja sudah tidak bisa di rindukan lagi. Andaikan waktu bisa terulang kembali akan ku katakan pada Arnold agar dia segera melamarku. Andaikan semuanya belum terlambat....Ah, sudahlah itu hanyalah masa lalu yang manis yang perlu di lupakan dan di tinggalkan.
Tak terasa air mataku mengalir di pipi saat semua rinduku terpendam tanpa bisa terobati lagi.Merasa cemburu jika dia berkencan dengan wanita lain meski itu hanya teman atau bahkan adikku sendiri. Aku yang tak tahu malu ini masih saja serakah. Bukannya dulu kamu juga ingin menikah dengan guru favorit mu? kenapa setelah terwujud kamu malah mengingkarinya?. Sudahlah.... Hai hati yang katanya suci, jangan sok ikut campur . Hati bisa berubah kapan saja karena ada Allah yang membolak-balikkan hati.Ingat kamu sekarang sudah berstatus istri. Deg... Astagfirullahalazim.
Tok.... Tok....
"Mbak Tan di panggil ibuk.... " suara Toni memanggilku.
"Iya Ton,sebentar ya? "
"Iya"
Aku segera keluar kamar menemui ibu yang dari tadi tak tampak di rumah.
"Ton? ibuk dimana? "
"Ibuk, di depan rumah nduk...!!! "
"Iya buk"
Ku segera ke teras rumah menemui ibu yang dari tadi pergi entah kemana. Dan disana sudah ada pak Zan dan Toni duduk di teras berbincang-bincang.Entah apa yang di bicarakan. Aku lantas mencium punggung tangan ibu saat sudah sampai di teras.
"Dari mana tadi buk? kok gak kelihatan"
"Ibuk,dari mbak Mirna pesen makanan yang buat hantaran ke rumah besan minggu besuk nduk"
"Ouh, kirain kemana. Laili kemana buk? "
"Ih, pura-pura nanya lagi padahal ya udah tahu. Mentang-mentang namanya mirip dengan mantan" goda Toni.
"Apaan sih, sok tau " jawabku dengan sewot.
"Emang siapa Ton? " tanya pak Zan dengan penasaran. Padahal dari tadi asyik bermain kucing di pangkuannya.
"Arnold, kak. Murid kakak juga kan? " jawab Toni.
"Owh, emang siapa nama mantan Tsania? "
Drrnnn... Tin.. Tin...
Suara motor ninja yang begitu hafal ku dengar tiba-tiba berhenti di depan rumah. Ku toleh suara motor itu yang sedari tadi jongkok di depan ibu. Dan pemandangan yang menyayat relung hatiku terpampang jelas di depan mataku. Ninja merah dengan stiker huruf yang masih terlihat jelas di depan lampu depan. A dan T.Dia belum membuangnya.Apakah masih ada harapan?
"Assalamu'alaikum... " Arnold dan Laili turun dari motor Ninja itu.
"Waalaikumsalam... " jawab semuanya.
"Kok baru pulang nduk? " tanya ibuk saat bersalaman dengan ibuk dan berurutan denganku, Toni dan pak Zan.Tak lupa Arnold pun ikut bersalaman. Aku pikir dia akan melewati ku ternyata tidak. Tangannya sangat dingin sekali.
"Iya buk maaf"
"Udah mau mahgrib, saya pamit pulang dulu ya buk? pak? maaf telat pulangnya"
"Mahgrib disini aja Nold, nanti pulangnya habis mahgrib aja" celetuk pak Zan mengagetkan ku. Refleks aku langsung berdiri dan masuk tanpa permisi.
"Mau kemana Tan? " panggil ibuk
"Kebelet pipis buk...!!! "
"Nggak usah pak, Arnold mau pulang aja. Nanti malahan ngrepotin"
Aku yang masih berdiri mematung di ruang tamu masih mendengar jelas suara Arnold.
"Nggak lah, sekalian makan bareng-bareng sini aja nanti"
"Iya kak biar ramai" tambah Laili
"Iya kak betul itu" Toni menambahi
"Tapi.... "
"Udah nggak usah tapi-tapian perjalanan sini sampek rumahmu itu setengah jam mending mahgrib sini aja. Udah ayok masuk udah adzan itu" pak Zan merangkul pundak Arnold dan mengajak masuk ke dalam rumah. Aku yang masih mematung segera berlari ke kamar mandi. Entah mau pipis atau tidak yang terpenting dari kamar mandi.
"Nduk Tan? " panggil ibu dari luar pintu kamar mandi.
"Iya buk"
"Wudhu sekalian, nanti sholat jamaah di rumah"
"Iya buk"
Usai wudhu aku segera keluar kamar mandi dan segera masuk ke kamarku. Clingak-clinguk tak ada tanda-tanda suara Arnold di ruang tamu bahkan di meja makan juga gak ada di ruang tengah juga gak ada. Lantas kemana orang itu?.
"Cari siapa mbak? " tiba-tiba Laili muncul dari belakang ku.
"Pak eh kak Zan"
"Masuk kamar tadi kayaknya kak"
"Ouh, ok deh. Kamu habis dari mana? "
"Itu,bantu ibuk nutup kandang ayam sama kelinci"
"Ok, deh sana cepetan wudhu"
"Siap, deh"
Tanpa mencari Arnold lagi aku langsung masuk kamar.
"Astagfirullahalazim... " jantungku berdebar begitu dasyatnya, melihat Arnold di dalam kamarku yang juga mau keluar kamar.
"Eh, maaf " Arnold tersenyum dengan begitu manisnya dan langsung keluar tanpa permisi.
"Ngapain dia kak? " tanyaku acuh saat Arnold sudah keluar kamar.
"Pinjam sarung"
"Kenapa nggak pinjem Toni aja? "
"Toni keburu masuk kamar dia gak berani pinjem lagi. Udah nggak usah sewot gitu jangan benci-benci dengan nama Arnold tidak semua nama Arnold jahat kok. Dia anak baik gak kayak mantan kamu"
Deg... Apa makhsud pak Zan sih?
"Oh, gitu. Ok deh" jawabku dengan masih menyimpan rasa bingung di hati.
Setelah semua siap pak Zan mengimami sholat maghrib dengan khusyuk. Tiga rakaat telah usai di laksanakan. Sebuah kewajiban dan keharusan bagi kita umat muslim yang beragama Islam. Menunaikan sholat lima waktu. Usai berwiridan bersama semua keluar kamar sholat hanya tinggal aku, ibu dan Arnold.Hatiku semakin berdebar saat Arnold masih di ruangan itu. Dalam keheningan terdengar isakan tangis ibu.
"Hiks.... hiks..." Aku dan Arnold menoleh bersama ke arah ibu
"Ibu kenapa? " ku peluk dengan lembut pundak ibu
"Ibu bahagia nduk, bisa jamaah dengan menantu ibuk. Andaikan ayahmu juga masih ada pasti juga bahagia"
"Iya, buk alhamdulillah. Ya udah yuk kita makan malam dulu"
"Iya, nduk" ibu melepas mukena dan di gantung di belakang pintu.Keluar dari kamar sholat begitu saja.Menyadari bahwa di kamar sholat tinggal aku dan Arnold saja aku segera pergi keluar membawa sajadah merahku.
"Tan? " Arnold menarik tanganku saat hendak pergi keluar. Mataku terus tertuju pada tanganku yang masih di pegang Arnold
"Maaf... " Arnold melepaskan tanganku.Aku hanya membalas dengan senyuman
"Terimakasih ya? sudah menjaga dan menggunakan dengan baik sajadah itu"
"Iya, sama-sama. Dan terimakasih juga ya? atas sajadah nya"
"Iya, aku harap selamanya kamu akan tetap menggunakan sajadah itu"
"Iya, InsyaAllah. Ya udah aku keluar dulu ya? nggak enak nanti kalau ada yang lihat"
"Iya, maaf yah? "
Aku berlalu meninggalkannya sendiri di ruangan itu.
Terimakasih ya Tan? setidaknya masih ada tempat di hatimu untukku. Aku bahagia Tan rasa rinduku bisa terobati. Maafin aku pak Irul atas rindu terlarang ku ini. Arnold.
Satu kata utk Fauzan EGOIS
satu kata untuk Stania BODOH
Duh Arnold datang tuh gimana ini??nyesek aku😭😭😭😭😭