Undian liburan impiannya berubah menjadi awal petaka bagi Rinjani, kesalahan satu malam yang dibuat bukan untuknya menjerat Rinjani masuk ke kehidupan seorang tuan mafia.
"Aku tidak akan menikahimu, namun lahirkan janin itu dan tinggalkan dia untuk jadi penerusku," ucapnya tajam penuh intimidasi seraya melemparkan surat perjanjian dan pulpen.
Namun bukannya takut, Rinjani malah melepaskan flatshoes kotornya, "talk to my flatshoes, sir!" ia melemparnya pada Loui, meski lemparannya seburuk lemparan balita.
Mohon dibaca dari awal sampai akhir ya guys 😉 salah satu cara untuk mendukung author dalam berkarya 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 ~ Bule betekok
"Kenapa aku sampai lupa jalanan dan rumah ini," gumam Loui masih menyimpan potret rumah Jani di otaknya, apa karena dulu ia tak pernah berpikir untuk kembali kesini?
Lamunannya tersentak oleh Mathew yang membuka pintu mobil dan melongokan kepala, "tuan ibu Rinjani sedang tidak di rumah...tapi kita diijinkan untuk menunggu disini," ujarnya mengecewakan, namun Loui memilih untuk menunggunya disini, enggan untuk kembali ke hotel.
"Kemana?" tanya Loui.
"Dari informasi tetangganya, biasanya di jam ini ibu Rinjani sedang membantu tetangga yang memang membutuhkan jasanya, dan hari ini ia sedang berada di rumah industry pembuatan garam."
Loui mele nguh dan menjepit pangkal hidungnya, "dia sudah tua. Apakah Rinjani tak pernah melarangnya bekerja?!" tanya nya dengan nada kesal pada Mathew, lelaki itu mengangkat kedua alisnya, kenapa jadi aku yang dimarahi?
"Shhh....apakah Rinjani tak pernah memberinya uang? Keterlaluan Rinjani," dumelnya menggerutu, "kenapa wanita disini tidak bisa diam saja di rumah." gerutunya lagi jadi kesal sendiri.
"Carikan aku cemilan, untuk menemaniku menunggu ibu Rinjani." kembali Loui memerintah Mathew, membuat Mathew mengangguk paham, namun setelah ia berjalan beberapa langkah, ia kebingungan sendiri, "cemilan macam apa yang diinginkan tuan Lou? Disini mana ada taco atau burrito apalagi waffle," kemudian ia merogoh dompet dan melihat hanya ada lembaran dolaran saja disana.
"Gawat, tak ada rupiah...apakah ini akan laku disini?" ujar Mathew.
"Ck! Si Al!" Mathew menendang udara kebingungan, "kenapa juga aku harus bersama tuan Loui, menyusahkan. Bagaimana Oscar bisa tahan mendampinginya setiap waktu.
Dengan penuh perjuangan, Mathew berhasil mendapatkan sesuatu untuk dimakan oleh Loui dengan menukarkan dollarnya pada seseorang yang mengerti dan mau di area pantai sepaket jam tangan miliknya. Ia juga membeli biskuit serta keripik kemasan yang ada di minimarket saja agar aman di lidah Loui.
Hingga tengah hari Loui menunggu namun ama tak kunjung datang, "ck." ia melirik arloji di tangannya.
Dari kejauhan ama berjalan bersama ceu Mimin sambil ketawa-tiwi, "ceu, si Jani meni betah di Amerika."
Ama tersenyum meskipun senyum itu terasa getir, ia begitu merindukan anak perempuan semata wayangnya itu.
"Alhamdulillah."
"Gede atuh ya, gajinya disana mah pake dollar!" angguknya sekali, "kalo ada mah ya lowongan lagi, ajak atuh Titin, biar bisa kaya si Jani!"
Ama kembali tersenyum lagi tanpa mau menjawab, jika ia diberi pilihan, lebih baik Rinjani bekerja disini saja, sekecil apapun gajinya namun ia berada bersamanya.
"Pantes aja si eceu udah bisa beli bahan bangunan. Mau bangun rumah ya, Ceu? Jadi gedong?!" keponya.
Ama menggeleng, "cuma mau ngajeujeuhkeun uang Jani saja, kelak nanti dia bakalan tua di rumah kan, jadi gaji yang dikirim Jani saya tempelkan di rumah yang nantinya akan dia tempatin juga..." jawab ama.
"Bener, ceu." angguknya lagi.
Langkah mereka cepat mengingat hari sudah begitu terik dan perut yang menabuh genderang perang karena lapar.
"Ceu, eta mobil siapa?!" tanya ceu Mimin saat keduanya mendapati sebuah mobil terparkir di depan rumah ama Jani.
Ama mengernyitkan pandangan, "ngga tau."
"Eceu beli mobil?!" tepuknya di punggung ama, "ahh jangan sok pura-pura! Gaya ceu, nanti mah kalo nengok orang sakit ngga usah naek kol si Ujang lagi euyy! Nebeng boleh?!" serunya semakon membuat ama mengernyit.
"Bukan ceu...itu bukan mobil saya,"
Keduanya mendekat bersama, dari dalam mobil keluarlah Mathew yang semakin membuat ceu Mimin salah paham.
"Alah siah ada orangnya!"
"Buleee!" ia kembali berseru.
"Selamat siang bu,"
Ceu Mimin menjerit bikin semuanya tersentak, ia bahkan refleks menepuk pundak ama Jani lagi, "eceu! Meni gaya, sales mobilnya bule ganteng gini!"
"Ceu!" bentak ama.
"Maaf, siapa?" tanya ama ingat-ingat lupa.
Kemudian keluarlah Loui dari dalam bangku belakang yang langsung menghampiri dan meraih punggung tangan ama untuk salim takzim, meniru apa yang dilakukan Rinjani.
"Mother," sapanya.
Mereka termasuk ama sontak saja terkejut, "alah siah mother cenah ceu, mother teh indung lain?!" tanya ceu Mimin.
"Masih ingatkah dia, ibu?" tanya Mathew.
"Kela, sebentar ini teh...." ama mengingat-ingat.
"Bosnya Jani?!" matanya langsung membeliak sempurna.
Loui nyengir lebar termasuk Mathew yang mengangguk.
"Ini teh bosnya si Jani, ceu?! Masya Allah! Kasep pisan gusti, siga bintang pelem!" seru ceu Mimin yang sudah memegang lengan Loui, membuat Loui sontak memelototi Mathew.
"Maaf, bu." Mathew sampai melepaskan tangan ceu Mimin darinya. Bawaan mafianya tak pernah tersentuh orang lain asing.
"Silahkan masuk..." ajak ama, mengingat hari terik dan agar tak mengundang kehebohan macam ini dari tetangga yang lain.
Mathew memberitahukan pada Loui bahwa ama Jani mempersilahkan mereka untuk masuk.
"Eceu mau kemana?" tanya ama pada ceu Mimin yang malah ikut.
"Eh, astagfirullah! Saya teh kan mau pulang, ya!" tepuknya di jidat.
Selepas kepergian Ceu Mimin ketiganya masuk ke dalam ruang tamu.
"Sebentar saya buatkan minum," ujar ama menaruh kunci seraya berlalu ke dapur. Hatinya diliputi rasa bahagia, gugup, penasaran, dan juga penuh harap, pokoknya campur aduk kaya nasi kucing.
Wa Idu yang melihat jika pintu rumah ama terbuka menghampiri, "Rum tos mulang?! Aya tamu!" teriaknya langsung nyelonong ke arah teras menuju pintu belakang, membuat Loui dan Mathew tergelonjak kaget, "siapa dia?"
"Dia bapak Idu, kerabat Rinjani, tuan."
"Dan ibu Rinjani membiarkannya masuk begitu saja?!" tanya Loui keheranan sekaligus tak terima, jika markas ibu Jani disusupi orang lain tanpa penjagaan.
"Yang benar saja!" dengusnya geli, "apa ibu Rinjani membiarkannya? Sungguh tak sopan!"
Mathew memijit pangkal hidungnya, jelas ia kesulitan menjelaskan kebiasaan masyarakat disini, mereka bukan musuh apalagi ancaman, tuannn huftttt!
.
.
Kini duduk bersampingan Wa Idu dan ibu Rinjani di sebrang Loui dan Mathew hanya dibatasi meja dan cangkir-cangkir teh manis juga kopi.
Harus mulai darimana?
Oke, Loui tersenyum berbinar, "mother borokokok..." ia buka suara.
Uhukkk!
Mata ama membeliak, bahkan Mathew terkejut bak disambar petir saat Loui berucap, wa Idu tak kalah kagetnya, ia sampai tersedak asap rokoknya sendiri.
Terang saja Loui kebingungan dengan ketiga penghuni ruang tamu ini, "what's wrong?!"
"Saya minta maaf, ibu..." Mathew langsung meminta maaf pada ama.
"Borokokok?" Wa Idu cukup dibuat geram. Apaan pula bule ini, sekalinya buka suara nyebut ama Jani borokokok.
"Maneh nu betekok!" balasnya.
Namun ama tertawa hingga kedua bahunya berguncang, "apa Rinjani yang mengajarkan, tuan?" tanya nya melihat Loui dan bergantian pada Mathew dengan pandangan teduh serta ramah. Mathew jelas mengangguk.
"Saya atas nama tuan Lou, benar-benar minta maaf bu,"
.
.
.
.
Note :
* ngajeujeuhkeun : mengurus, membantu me-manage.
* betekok : cibiran/ merujuk pada orang dengan fisik pendek, perut buncit.
* borokokok : umpatan yang ditujukan pada orang yang menyebalkan.
nih qu bantu sadarkan👊👊👊
berasa cepet banget bacanya 🫢🫢