NovelToon NovelToon
I Love U! Suami Dadakan 2

I Love U! Suami Dadakan 2

Status: tamat
Genre:Pengantin Pengganti / Aliansi Pernikahan / Obsesi / Beda Usia / Kehidupan Tentara / Tamat
Popularitas:254.9k
Nilai: 4.7
Nama Author: unchihah sanskeh

Angkasa, seorang Kapten tentara Angkatan Udara yang tegas dan dingin berusia 28 tahun, sangat malas berhadapan dengan wanita. Namun dengan karakternya yang rumit itu, ia justru harus menikah dengan seorang gadis cerewet, ceplas-ceplos dan kekanakan bernama Aina Maura; Kekasih dari adik kembarnya sendiri, Samudera.

Pernikahan paksa tersebut terjadi ketika Samudera mengemban tugas penyelamatan sandera di Tongo, dan mewasiatkan agar Angkasa menikahi kekasihnya jika ia tak kembali lagi. Beban yang diemban Angkasa, perasaan duka serta kasih sayangnya pada adik kembarnya itu akhirnya mendorong Angkasa mengucapkan kata nikah di hadapan ayah Aina.

"Saya akan menikahinya, sekarang!"

Karakter Aina yang tidak cocok untuk Angkasa, membuatnya bersikap dingin bahkan mengacuhkan istrinya sendiri, "Saya tidak pernah mencintai kamu, semua terjadi karena permintaan adik saya dan mendiang ayah kamu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon unchihah sanskeh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 - Ancaman Tak Terduga

Pikiran Dian terus-menerus menggangu. Dialah yang harus mengalah, itu kata Aina. Demi Tuhan, hidup Dian penuh penyesalan hanya sekadar untuk mendapatkan cinta di dunia, ia harus berulang kali kehilangan kesempatan.

Sambil menelan ludahnya kasar, Dian meneguk lagi kopinya sendiri kemudian berkata sebelum Aina beranjak. "Tidak," ujarnya sambil menggeleng tegas. "Jangan menghalangi aku untuk mendapatkan cinta sejatiku, Aina. Walaupun kamu istri sahnya tapi kalian berdua tidak saling cinta, akulah yang mencintai Angkasa sepenuh jiwa, tidak seperti kamu yang membagi hati dengan Samudera."

"Dan selama Aina masih menjadi istri sah-nya Kak Asa, Aina berhak untuk mengatur pergaulan suami sendiri. Tidak terkecuali Mbak Dian yang terang-terangan mau menjadi duri di pernikahan kami. Menjauhlah Mbak, Aina janji akan merawat dan menyayangi Kak Asa dengan baik."

Dian mendongak menatap Aina, kemudian meletakkan kembali gelas kopinya. Ia bersandar di kursi besarnya dan mengamati Aina. Ekspresi wajahnya tak terbaca, pikirannya tertutup sama sekali bagi Aina.

"Sebagaimana yang telah kukatakan padamu, dengan aku mengalah dan membiarkan Angkasa hidup bersama denganmu, apakah itu sudah pasti membahagiakan Asa?"

"Itu urusan rumah tangga kami Mbak, kebahagiaan, kesedihan, segala suka dan duka kami bukan tanggung jawab yang harus diemban Mbak Dian. Biarkan kami menjalani kehidupan keluarga tanpa perlu ada campur tangan dari orang lain." Ucap Aina, senyumnya menyinggung seolah ingin meyakinkan Dian sekali lagi. Siapa dia, apa posisinya di hidup Angkasa, Dian harus tahu semua itu.

Dian mendengar kebanggaan di nada suara Aina, bibirnya membalas dengan senyum simpul, seperti tertampar oleh fakta dan kemutlakan itu. Angin menghembus tengkuknya dan Dian mulai tak kuat menahan senyuman meskipun rasa sakit masih menggerogotinya.

"Mbak Dian terima kasih untuk waktunya pagi ini, maaf karena Aina mengabari tiba-tiba. Semoga pertemuan kita hari ini tidak memberi kesan yang buruk di hati Mbak Dian, Aina doakan untuk kebahagiaan Mbak Dian selalu."

Dian mendengus. "Kebahagiaan saya adalah cinta suami kamu Aina. Di hidupku, aku sudah memiliki segalanya, aku memiliki wajah yang cantik badan yang bagus, karir, segalanya aku punya, Na. Tapi, yang tidak aku miliki sedari dulu hanyalah cinta Angkasa."

Hanya dengan mendengar bantahan Dian yang keras kepala itu membuat napas Aina menjadi lebih ringan. Aina mengusap wajahnya kasar, mengangkat kakinya dengan cepat dan duduk menyilang, dia masih berusaha untuk diam. Ia menyesap cappucino, kemudian menyandarkan kepalanya di kursi dan menatap mantan tunangan Angkasa itu.

"Itu artinya Mbak Dian harus membuka hati untuk cinta yang lain," kata Aina seraya merapikan barang-barangnya di atas meja dan bangkit dari kursi. "Membuka hati tidak seburuk itu Mbak, Aina sudah merasakannya sekarang."

"Itu menurutmu," jawab Dian masam. Dian mengamati wajah Aina, cahaya lembut matahari memantulkan bayangan terang di senyum istri Angkasa itu.

Aina balas menatap, menimbang-nimbang untuk tak menjawab tapi kemudian berkata pelan, "Nanti Mbak juga akan berpendapat yang sama."

Sentakan sesuatu yang luar biasa menohok Aina dengan tamparan kenyataan yang keras. Walaupun ia sudah tahu memang itulah yang seharusnya dan menerima keputusan Aina untuk menjaga pernikahannya, namun saat mendengar ia harus mengalah dan berhenti berharap, mendekati Angkasa masih saja terasa.... sakit.

Dian berusaha tersenyum, gerakan singkat bibir penuhnya mengisyaratkan bahwa ia tahu persis apa yang dipikirkan Aina.

Aina balas tersenyum. "Aina pamit pulang ya Mbak, mau membuatkan Kak Asa makan siang."

Dian mengangguk mengiyakan, tapi senyumnya sudah lenyap dan matanya menjadi gelap, penuh dengan hawa panas hitam yang menggapai Aina dari kejauhan. Seakan ingin menarik Aina ke tempat yang paling jauh, menghilang dari muka bumi, tempat yang Aina sendiri tak tahu di mana.

Aina mengalihkan tatapannya dengan sengaja memutuskan kontak mereka saat itu, dan mulai beranjak meninggalkan Dian di tempat.

Seandainya kamu tidak ada, seandainya hanya ada aku wanita di sisi Angkasa. Mungkin ceritanya akan menjadi lain hal. Pikir Dian sambil mengepal kuat jemarinya di atas meja.

...****************...

Aina berdiri di depan jalan raya, aspal yang bagaikan pita hitam menciptakan pemandangan berkelok dan mobil-mobil melaju di jalanan yang lebar, mirip seperti mainan anak-anak.

Pagi ini cerah, tapi Aina melipat tangannya di depan dada, mengusir udara dingin yang menyesap dari angin pagi.

"Atas nama Aina Maura, Pak?" katanya sambil menyondongkan kepala di depan kaca sebuah mobil yang berhenti di depannya.

Dan orang di dalam situ diam saja hanya mengangguk pelan.

Tanpa pikir panjang Aina masuk ke dalam sana, dan mobil segera melaju setelah Aina menduduki kursinya di tengah. Cukup mengejutkan, karena taksi yang datang justru model sliding door, sangat berbeda dari yang tertera di aplikasi.

Langit pagi ini tampak sangat bersahabat walau angin terus bertiup dari bawah cakrawala, seakan ingin memberi sebuah pertanda. Angkasa ada di luar sana, markas tentara angkatan udara, menyelesaikan urusan mendadak yang membuatnya mengikuti Santos tadi pagi.

Aina kemudian menyadari kesunyian yang tiba-tiba melanda daerah tersebut, itu nampak beda dari jalan menuju rumahnya dan Angkasa. Suara deru mesin mobil di jalanan telah hilang, semua nampak sangat sepi dan membisu secara ganjil. Aina menghela napas dan memajukan tubuhnya perlahan, ke dekat supir. Untuk menghadapi ancaman yang tiba-tiba dapat dirasakannya.

"Pak, ini lewat mana ya? Ini bukan jalan ke rumah saya. Tolong ikut yang dari aplikasi saja ya Pak." pintanya dari kursi penumpang, tetap tampil tenang atau mungkin berpura-pura tenang.

Supir itu kembali mengangguk, "Iya bu. Justru saya sengaja tidak ikut aplikasi, jalanan yang biasanya dilewati kalau jam segini bakal macet parah."

Untuk beberapa saat Aina kembali tenang, ia percaya bahwa supir ini memang paham soal kondisi di jalanan. Dia kembali duduk manis sambil memainkan ponsel, berharap ada satu pesan dari Angkasa, entah sejak kapan ia sangat menantikan notifikasi dari nama Angkasa muncul di deretan pesan pribadinya.

Jemarinya berketuk hebat di layar ponsel, menimbang-nimbang, ingin sekali rasanya bertukar kabar dengan Angkasa sekarang. Dia tersenyum setelah memutuskan untuk mengirim pesan singkat;

Kak Asa, Aina baru selesai bertemu Mbak Dian. Nanti setelah Kak Asa pulang kerja Aina ceritakan semuanya, sekarang Aina masih di dalam taksi mau pulang ke rumah buatkan makan siang. Kakak jangan sering marah-marah di markas ya!

Senyumnya kembali tergores tapi dengan segera pula berubah, menjadi ekspresi kecemasan dan ketakutan saat melihat sekitar jalan, sungguh tempat yang sangat sepi dan asing. Tak ada lagi kendaraan lain di sana, melompong hanya jalanan cor dan udara kering.

"Pak, ini di mana?" katanya lagi. "Kita lewat jalan biasa saja pak! macet juga tidak apa-apa."

"Sudah tunggu saja, Bu." Ujar supir itu dengan nada jengkel.

"Pak saya mau berhenti di sini saja kalau begitu," sahut Aina memohon. "Minggir Pak, saya turun di sini saja. Pak----"

1
Siti Aisyah
Biasa
Siti Aisyah
Kecewa
Bigo S
Buruk
Jumi Eko
bagus
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
kenapa kisah sam & berlian digantung, kak thor?
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
akhirnya cinta masa kecil itu bertahan
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
baik author, ditunggu ya
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
oke asa sudah dengan aina. nicolo belum ada hilal jodohnya. sam sudah menikah dengan berlian. tapi kenapa belum up lagi, kakak author?
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸: oke kak. tapi lapak nikolo dimana? 🤔🤔🤔
total 2 replies
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
dahlah Nico, biarin aja mereka kumpul keluarga dulu. kamu urus laras & the ganks aja ya
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
oke. lanjutkan
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
lalu siapa itu?
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
laras sakit jiwa juga berisik. gak mungkin asa ceraikan aina demi kamu
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
laras bilang apa?
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
obsesi laras pada asa & keluarga nya sungguh merugikan
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
laras
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
aina disekap dimana ya?
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
semua mengira dian lah yg menculik aina. padahal....
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
aina pasti selamat. apakah sam akan muncul di moment ini?
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
inikah momen aina diculik laras
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
aina sudah cukup tegas, dian harus paham ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!