NovelToon NovelToon
ARKANA

ARKANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:121k
Nilai: 4.8
Nama Author: Canum Xavier

Aku jatuh cinta, pada pandangan pertama.
Awalnya aku tidak pernah percaya bahwa cinta pada pandangan pertama itu ada dan aku tidak mengira bahwa hal itu akan terjadi padaku.

Matanya yang menatap penuh keangkuhan, alisanya yang entah bagaimana berada di sana menambah kesan menawan di wajahnya, coklat gelap di matanya menatap berkeliling ruangan kelas dengan tajam, tidak ada kesan ramah di sana. Matanya sempat bertatap sebentar denganku.

Lalu tersungging sedikit senyum di bibirnya saat dia memperkenalkan diri.

" Halo semua, namaku Arkana Samudera Wijaya. Panggil saja aku Kana", dia berkata sambil menatapku tanpa malu-malu.

Dan aku berani bersumpah, dia mengedipkan sebelah matanya padaku sebelum berjalan ke arah bangku yang ditunjuk guru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Canum Xavier, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Majalah Dinding Sekolah: Kotak Perasaan

Ingat ideku tentang kotak perasaan. Ide yang ku berikan untuk majalah dinding club sekolah Inka. Ide tentang kotak perasaan itu banyak menuai pro kontra saat pengumumannya di luncurkan. Jadi nanti setiap sebulan dua kali di hari senin, anggota club mading akan berkeliling kelas membawa kotak dan siswa-siswa termasuk guru boleh memasukan unek-unek mereka yang sudah di tulis di kertas ke dalam kotak.

Akan ada kolom khusus panjang di papan mading untuk mengisi beberapa kertas yang di pilih secara acak. Setiap dua hari semua perasaan yang sudah di tempel akan di ganti baru. Dengan aturan tidak boleh menebar kebencian dan provokator.

Ada yang mengatakan " untuk apa sih, ini kan sudah jaman digital tinggal ngomong atau hubungi lewat telepon aja". Tapi ada yang bilang " bagus .. Bagus... Biar bisa ngomong kalau kita lagi kesal sama orang. Kan nama kita di samarkan".

Dan ternyata ide ini menjadi boomerang untukku. Aku sedikit menyesal pernah melontarkan ide itu pada Inka. Awalnya semua berjalan baik-baik saja. Beberapa orang menyampaikan perasaannya untuk teman-teman yang lain. Isinya juga kadang lucu-lucu, misalnya:

" Gue punya teman, panggil saja si X. Ampun deh kalau lewat atau duduk dekat kita kecium bau kaki mulu. Sudah di kodein tapi dia gk nyadar.Gimana ya caranya supaya dia sadar gaes?". Tertanda korban.

Ada juga yang isinya begini:

" Duh sebulan ini setiap ketemu petugas perpustakaan aku deg-degan. Setelah aku ingat-ingat ternyata ada buku perpustakaan kebawa pulang sejak sebulan lalu. Kepada bapak/ibu petugas perpustakaan maaf ya pak bu. Hehe tidak sengaja". Tertanda aku yang salah.

Parahnya dua hari berikutnya ada balasan dari perpustakaan untuk yang membawa buku.

" Kepada semua siswa siswi yang membawa buku perpustakaan tanpa melalui prosedur tolong segera di kembalikan. Terutama kamu yang bawa buku selama sebulan. Plis deh... bukunya di balikin sebelum di jemput petugas". Tertanda petugas perpustakaan.

Kotak perasaan ini cukup menghibur selama kurang lebih 2 minggu. Sampai tiba pada sebuah puisi yang berisi tentang perasaan seseorang kepadaku. Kenapa kepada aku karena dengan mudahnya dia menyebut namaku tanpa permisi. Aku yang awalnya selalu tertawa melihat isi kotak perasaan di mading, setelah membaca puisi itu wajahku langsung merah.

Awan

Halus lembut rupamu

Putih bersih laksana salju

Berikan ketenangan hati nan risau

Tiada berkedip kala menatapmu

Mengingat keagungan ciptaan Tuhan

Awan aku suka kamu

Kapan kamu jawab perasaanku?

...Tertanda Bulan...

Beberapa anak yang ikut membaca ada yang melirik ke arahku. Ada yang tidak tau bahwa itu aku hanya tertawa-tawa membaca isi mading itu.

" Gila nembak lewat mading, romantis sih", ada yang berkomentar.

Wajahku merah membaca puisi itu, tapi ada sedikit kehangatan mengalir di hatiku. Entah siapa yang menulis puisi ini.

" Wah... Ini jelas bukan aku yang sortir, kalau aku yang dapat pasti langsung aku masukin ke dalam tempat sampah", kata Inka melihat isi mading itu.

" Tidak apa-apa. Kan tidak setiap saat tugas kamu sortir kotak itu", aku menyenggol lengan Inka yang sedang merasa bersalah padaku.

" Hah . . . Norak banget", seseorang berkomentar dari arah belakang. Siapa lagi kalau bukan Helmi. " Yang kayak gini di taruh di mading, gak mendidik gak bermutu", lanjut Helmi sambil menunjuk ke arah mading. Dan di sambut tawa kedua temannya.

Inka berbalik sambil melipat tangan di dada, siap berperang melawan Helmi. Aku yang ketar ketir menghadapi situasi ini, berusaha menenangkan Inka dengan memegang ujung roknya agar tidak maju ke arah Helmi.

" Di dunia ini masih ada aja orang dengan sikap sirik dan bermulut lancip. Tajam banget mulutnya kayak mata pisau", Inka berujar sambil melihat ke arah Helmi. " Saking lancipnya tu mulut, kalau ngomong gak di pikir dulu karena otaknya gak tau di mana", Inka melanjutkan dengan kata-kata tajam.

Helmi tertawa menyindir. " Pantas saja mading nya hancur, orang-orang di dalamnya macam gini. Ya rusak sekolah ini", Helmi menunjuk ke arah Inka.

Inka balik menertawakan Helmi. " Setidaknya mading gue berisi dengan banyak pengetahuan dan hiburan bermanfaat walaupun isi anggotanya kayak gue. Daripada kayak lo, sok sokan mau bantuin club eh di batalin karena alasan gak jelas. Hampir bikin gagal club sekolah tanding. Gak nyadar ? Gak malu?", Inka berkata sinis.

" Hah... Ngomong apa kamu. Masalah itu ada alasannya", Helmi melotot tidak terima lalu melihat ke arahku si sumber alasan. " Dan lagi ya .... Aku tidak pernah narik seluruhnya", Helmi membela diri dengan emosi.

" Masa? Untung Arkana hebat bisa dapat sponsor cepat. Jadi gak butuh orang macam kamu haha", Inka tertawa puas.

" Cewek sinting... ", Helmi hendak menarik rambut Inka. Tepat saat itu seorang berkata.

" Ada guru..ada guru".

Seketika kerumunan di depan mading itu bubar tanpa sisa. Tontonan seru bagi mereka berakhir tidak sesuai harapan.

" Awas kamu ya... ", Helmi mengancam Inka. " Kamu juga.. Cewek gatel", Helmi menunjuk ke arahku.

Inka mengepalkan tinjunya ingin menghantam Helmi tapi ku tahan. " Sabar.... Sabar... Panjang sabar... Panjang umur .. Oke besti ", aku menahan lengan Inka yang sebentar lagi akan mengudara.

" Duh.. pengan banget mulutnya di kasih cabe ... Gemes", Inka mengomel.

Sepanjang jalan kembali ke kelas, aku hanya mendengar omelan Inka yang masih kesal karena Helmi.

Arkana yang melihatku masuk ke kelas langsung tersenyum cerah dan datang menghampiri kami.

" Inka kenapa manyun gitu?", tanya Kana

" Gak apa-apa. Biasa masalah cewek", aku menjawab sambil tersenyum.

" Gimana? Kamu sudah pikir-pikir mau pergi atau tidak ke konser itu? Itu konser tertutup kok. Gak akan ada rusuh dan aku ambilnya paling depan", kata Kana bersemangat.

" Iya... Aku mau pergi dan sudah ijin ke papaku. Tapi kata papaku...", aku ragu mengatakannya kepada Kana.

" Apa katanya? boleh kan? Kan papamu tau aku", Kana masih bersemangat.

Aku menatap Kana. " Katanya... Kalahkan dulu dia di catur akhir minggu ini". Aku mengatakan itu dengan rasa tidak enak hati. Tapi mending begitu, mending Kana datang dan melawan papaku di liga catur.

" Hah? Serius? Aduh...", Kana mengacak rambutnya putus asa. Aku makin gak enak hati.

" Maaf ya... Atau kamu pergi sama yang lain saja Kana. Kayaknya kalau sama aku ribet urusannya kan", aku berkata pelan.

" Tidak... aku mau pergi sama kamu. Aku akan kalahkan papa kamu", jawab Kana penuh tekad.

Aku tidak bilang sama Kana saat aku meminta ijin, papaku malah bilang mau ikut. Alasannya katanya suka sama gitaris band Dewa. Lah gimana mau aku iyain, tiketnya cuma satu buat anaknya. Di beliin lagi. Papaku memang suka tidak bisa ketebak pikirannya.

Akhirnya dengan berat hati setelah aku bujuk lama banget (2 hari bujuknya), beliau memutuskan Kana harus mengalahkannya di liga catur minggu ini. Jika papa kalah maka ijin akan di berikan.

" Oke... Bilang sama papa kamu. Minggu ini aku akan datang", Kana berkata tegas menerima tantangan papaku.

Aku mengangguk kasihan kepada Kana. Duh papaku ada aja kelakuannya.

***

1
Diana
awan, tentukan pilihanmu sekarang!!🤭
Diana
so sweet😊
Diana
nah kan hawa²nya kisah mereka kayak juan nandes yg ngerebutin embun. tp walaupun akhirnya jodoh berpihak pd nandes tp aku tetap di barisan juan. hidup juan!!✊🤭
Diana
persahabatan awan dan inka mengingatkanku sama embun dan elsa. semoga kisah kasih awan kana tak setragis embun juan.
Diana
kok embun? awan kali, thor. 🤔
Diana
ke gunung apa ke pantai ya? ke gunung sj. ngapain ke pantai kl gak bisa berenang🤭
Diana
🤣🤣🤣jurus ngelawak inka
Diana
semoga konfliknya gak berat. biarlah badanku sj yg berat.🤭
Diana
masih setia dgn awan kana👍
Diana
jd pinisirin
Diana
jamanku dl SMA naik sepeda ontel, anak sekarang sdh main pesawat²an😂
Diana
ini settingnya thn berapa ya? dulu waktu SMA terakhir ada kelas bahasa (A4) alumni 93. entah thn berapa lg ada kelas bahasa.
Diana
ini novel ke 2 yg aku baca setelah merpati kertas yg berhasih membuat hatiku tidak baik² sj. semoga ini tak kalah istimewa👍🙏
ocha falisha
kasian juga tian yak...
nyR
aaaaahhhh so sweet G siiihhh
ocha falisha
kana maunya apa sih thor?
ocha falisha
apa tian memang jodohnya awan? 🤔
CheapShop
semoga ga ada konflik lagi
Ayas Arus
aaahhh bahagianya awan n nyeseknya tian
Evita
Apa cerita ini sdh selesai thor, kok akhirnya ga enak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!