Meizura terpaksa memenuhi permintaan ayahnya untuk menjadi gadis penebus hutang. Awalnya dia berpikir akan dijadikan wanita simpanan oleh Armano Davies. Akan tetapi siapa sangka, dirinya justru dinikahkan dengan putranya yakni William Davies, pria yang dikabarkan meninggal beberapa bulan lalu.
"K_kau masih hidup?" tanya Maizura tak percaya. Dia mengerjap beberapa kali untuk menyakinkan penglihatannya.
William Davies menatap Meizura tajam. Dia tak suka wanita yang cerewet. "Diam! Jangan banyak bertanya. Kau hanya gadis penebus hutang," kata William penuh penekanan.
Setelah menikah dengan William, hidup Meizura mulai berubah. Banyak hal yang terjadi hingga suatu saat Meizura mengetahui fakta lain yang di sembunyikan oleh suaminya. Bagaimana kelanjutannya? Simak kisah mereka di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon emmarisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Apa Yang William Sembunyikan?
Meizura menatap William dalam. Keduanya saling memandangi dengan binar yang sama. Ya, William akui jika perasaannya sudah berkembang menjadi cinta. Namun, untuk mengakuinya sekarang, William belum memiliki keberanian sebesar itu. Dia akan menunggu moment yang tepat.
"Apa kau sudah makan malam?" tanya William. Meizura menggeleng sebagai jawaban, William langsung mengajak Meizura untuk turun dan makan bersamanya.
"Siang tadi aku menemani mommy berbelanja. Aku merasa tidak enak, mommy terus membayar belanjaanku," Meizura mulai menceritakan kesehariannya begitu dia duduk di samping William.
"Tidak apa-apa. Biarkan saja mommy melakukan itu semua. Lagi pula uang mommy tidak akan habis hanya dengan sekali membelanjakanmu."
"Tapi aku benar-benar merasa tidak enak, Liam."
"Kau harus terbiasa. Mommy sangat menyayangimu. Dia pasti akan melakukannya lain kali. Terima saja semua yang diberikan mommy padamu. Suatu hari aku akan menggantinya dengan hadiah untuknya."
Mendengar William berniat memberi ganti pada mommynya, Meizura cukup merasa lega. Dia akhirnya mengangguk dengan patuh.
"Baiklah, Jika kau akan menggantinya. Maka aku tidak akan menolak mommy lain kali."
Keduanya makan dengan suasana yang cukup hangat. Meizura memiliki banyak cerita untuk dikisahkan pada William. William pun dengan senang hati menjadi pendengar.
"Sayang, kau pernah menanyaiku untuk tinggal di mansion utama, kan?" tanya William. Meizura mengangguk dengan pasti. "Bagaimana jika kita pulang ke sana?" lanjut William.
Meizura mengangguk dengan tak acuh. Namun, sepersekian detik kemudian, Dia menatap William dengan tatapan takjub.
"Apa kau serius?" Wajah Meizura tampak sangat senang. William mengangguk. Ya, dia akan kembali. Karena setelah ini saatnya dia membuat perhitungan pada orang yang telah mencelakainya.
Meizura langsung tersenyum lebar. Dia sangat bahagia mendengar kabar ini. Meizura menjadi tidak sabar untuk menceritakan hal ini pada ibu mertuanya.
"Ah, mommy dan daddy pasti senang mendengar kabar ini. Aku akan menelepon mommy dulu untuk mengabarinya." Meizura akan berdiri dari kursinya. Akan tetapi William menahan tangannya.
"Tidak perlu mengabari mommy atau daddy. Kita berikan mereka kejutan setelah ini."
"Kita akan ke sana sekarang?" tanya Meizura masih dengan keterkejutannya. Namun, anggukan kepala William memperjelas semuanya. Akhirnya ... waktu yang dinanti Meizura tiba juga.
Seusai makan, Meizura mengemasi beberapa pakaiannya, Dia juga mengambil semua paper bag belanjaannya tadi siang yang belum sempat dibongkar olehnya.
Pak John membantu Meizura memasukkan semua bawaannya ke dalam mobil. Elliot pun juga ikut membantu. William sudah berada di dalam mobil. Dia menelepon seseorang dengan suara yang sangat pelan, seperti khawatir jika Meizura mendengarkannya.
Sebenarnya, apa yang William sembunyikan darinya? Meizura sedikit termangu. Namun, tak lama kemudian. Dia memilih untuk bersikap tak acuh seolah dia tidak pernah mendengarkan apapun tadi.
William dan Meizura berangkat meninggalkan Villa yang beberapa bulan mereka tempati. Sekarang sudah saatnya William kembali untuk menuntaskan semuanya. Setelah masalahnya selesai, William baru akan menjalani rumah tangga yang benar dengan Meizura.
Selama dalam perjalanan, baik William maupun Meizura sama-sama bungkam. Mereka berdua larut dengan pemikiran masing-masing. Meski Meizura tidak menyukai keheningan ini, tapi dia memilih tetap diam.
Sesampainya mereka berdua di Mansion utama keluarga Davies. Meizura turun terlebih dahulu. Elliot segera membuka bagasi dan mengambil kursi roda William. Tidak ada sambutan sama sekali, ini memang yang William mau. Elliot membantu William. Saat Meizura tidak terlalu memperhatian William, Pria itu berjalan dengan cepat melompat ke kursi rodanya. Itu satu hal yang cukup lucu menurut Elliot. Akan tetapi, dia tidak berani tertawa.
"Elliot, biar istriku saja yang mendorongku. Kau bawakan saja barang-barang Meizura." William langsung memerintahkan Elliot begitu dia merasa Meizura mengabaikannya. Meizura yang semula ingin mendahului untuk mengetuk pintu, akhirnya urung dan berbalik mendorong kursi roda William.
Elliot tidak mengetuk pintu, tapi saat dia berdiri di depan pintu mansion, Pintu itu langsung terbuka dengan sendirinya.
"Bagaimana bisa?" gumam Meizura keheranan. William yang mendengar pertanyaan Meizura, seketika tersenyum tipis. Padahal dia tahu jika Elliot pasti sudah mengirim pesan pada pelayan di rumahnya.
Saat pintu benar-benar terbuka, pelayan yang berdiri untuk menyambut Elliot tersentak kaget melihat sosok yang duduk di kursi roda.
"Tu_tuan Muda!" pekik pelayan itu. Suaranya yang nyaring membuat Stevia yang duduk di ruang tengah langsung berdiri tegang.
"Kau bilang siapa?" Stevia setengah berlari untuk memastikan dugaannya. Senyum wanita paruh baya itu langsung merekah begitu dia melihat menantu dan putranya berada di depan pintu.
"Anakku, akhirnya kau pulang juga." Stevia langsung memeluk William. William tersenyum dan mengusap punggung ibunya.
"Ya, Mom. Aku kembali."
Pertemuan mengharukan itu cukup mempengaruhi Meizura, gadis itu terisak lirih melihat dua orang yang saling menyayangi itu.
Stevia langsung mengurai pelukannya dengan William, saat mendengar suara tangisan Meizura.
"Ayo-ayo kita masuk. Sudah jangan menangis, Sayang. Apa yang kau tangisi?" Stevia merangkum lengan meizura dan membawanya masuk ke dalam. Elliot dengan sigap menggantikan mendorong kursi roda atasannya. William mendengus kesal.
Saat sampai di ruang tengah, Armano rupanya berdiri menatap mereka dengan tatapan teduh.
"Putraku, akhirnya kau pulang."
"Ya, aku sedikit merindukan kemewahan ini, Dad," ujar William. Armano tersenyum mendengar jawaban William.
"Kita bicara besok. Sekarang bawa istrimu beristirahat. Ini sudah sangat larut. Meizura pasti lelah setelah perjalanan jauh."
William hanya mengangguk. Semua barang Meizura sudah dimasukkan pelayan ke kamar William. Meizura langsung mendorong kursi roda William setelah mengucapkan selamat malam kepada kedua orang tua William.
Setibanya di kamar William, Meizura mengedarkan pandangannya. Dia tidak terkejut memasuki kamar bernuansa abu-abu itu. Bahhkan selimut dan bedcovernya pun berwarna abu-abu.
"Ini kamarku, Sayang. Dulu jika pulang kerja, aku akan selalu mengurung diri di sini jika aku tidak pergi dengan teman-temanku."
"Oh, ya? Apa kau ingin aku mempercayai kebohonganmu ini? Aku bahkan sering melihat berita kau sering berkencan dengan kekasihmu dulu."
Raut wajah William langsung berubah saat meizura menyebut kata kekasih. Dia seperti dipaksa mengingat Vallen mantannya yang penghianat itu.
William mendengus kesal. "Sekarang tidurlah. Aku perlu ke kamar mandi."
"Aku akan membantumu."
"Tidak perlu. Aku bsa sendiri." Meizura tertegun mendengar nada bicara William yang datar. Saat William menghilang di dalam kamar mandi, Meizura berpikir.
"Apa aku menyinggungnya? Kenapa sikapnya sering berubah ubah sih?"
Meizura menghela napas lelah. Dia mulai menjelajah kamar William yang sangat luas itu. Dia berdiri di depan pintu walk in closet, Meizura membuka pintu itu dan masuk ke dalamnya.
"Wah, bahkan ini lebih luas dari kamarku."
...****************...
sungguh mantap sekali ✌️🌹🌹🌹🌹
terus lah berkarya dan sehat selalu 😘😘