Bagaimana jadinya jika istri sah menjadi seorang pelakor, hanya karena ingin balas dendam pada sang suami?
Kaira wanita malang yang dibunuh dan dikubur hidup hidup oleh suaminya, kini menaruh dendam yang tak bisa di kendalikan.
Setelah pembunuhan itu terjadi, kaira masih bisa bertahan hidup karena Gina, sang sahabat yang menolongnya di waktu yang tepat.
Jika Gina tak datang mungkin Kaira sudah mati dengan perut yang ditusuk pisau dan suluruh tubuh yang tertibun tanah.
Setelah kejadian pembunuhan, Kaira kini merubah diri, ia sengaja melakukan operasi wajah dan seluruh badan agar terlihat seperti gadis pada umumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Arip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Saat mobil melaju dengan kecepatan tinggi, aku terus berteriak, menyuruh Alex untuk menurunkanku saat ini juga.
"Turunkan aku di sini sekarang juga. "
Lelaki yang terlihat fokus mengendari mobil, kini memasangkan suatu benda kecil pada telinganya. Ia malah tersenyum dan sedikit megoyangkan kedua bahunya.
Sialan, apa maksud lelaki dingin ini, dia mau mempermainkanku. Menghela napas mencoba tetap tenang.
Tangan kanan kini mengambil benda kecil itu, mendekatkan mulut lalu, " Ahkkk. "
Terkejut, Alex mulai menghentikan mobilnya, membuat aku sedikit syok. " Kamu ini gila ya. "
Terlihat ia tampak kesal, menghebuskan napas dihadapanku, " bisa tidak kamu ini duduk dengan tenang. "
Perkataannya tentunya membuat aku menjawab dengan lantang," tidak bisa. "
"Kalau begitu, aku harus memberi kamu peringatan. "
Mengerutkan dahi, mendengar perkataanya membuat aku sedikit bingung. Alex kini mencari suatu benda, dimana ia menemukan sebuah tali.
"Apa yang mau kamu lakukan. "
Memperlihatkan sebuah lakban besar, yang entah aku tak tahu dari mana ia mendapatkanya. " Lakban. "
Alex malah tersenyum tipis, lalu berucap. " Biar kamu tenang. "
"Jadi."
Alex menahan tanganku yang terus memberontak, mendekatkan wajah padaku, " bisa diam tidak. "
"Lepaskan, mau apa kan aku, heh. "
"Terserah aku dong, mau apakan kamu, yang terpenting kamu tenang dan ikuti kemauanku. "
"Apa."
Kedua mataku membulat mendengar ucapan Alex, dimana ia langsung menutup mulutku dengan perban belapis lapis.
"Mm."
Alex malah senang setelah berhasil menenangkanku seperti seorang korban penculikan.
"Sekarang kamu tenang. "
Apa tujuan lelaki di sampingku ini? Apa jangan jangan dia mau menjualku! Ahk, tak mungkin. Lantas apa.
Aku terus menggerutu kesal dalam hati ini, " kenapa?"
Tak sopannya, Alex kini mencubit pipiku. Ia tertawa dengan begitu reyahnya.
"Lelaki cuek ini ternyata bisa tertawa. "
"Kenapa, kamu pasti ingin mengatakan sesuatu padaku. "
Aku menatap lelaki di sampingku dengan penuh rasa jijik. " Sudah, sebaiknya kamu duduk yang manis saja, jangan berfikir yang tidak tidak "
Apa katanya, mana mungkin aku tak berfikir negatif, dia membawaku tanpa alasan yang pasti.
Mobil mulai melaju kembali, aku masih merasakan rasa takut dalam diri ini.
Walau pun lelaki di sampingku ini kakak dari sahabatku, bisa saja ia berniat jahat padaku.
Menatap sekilas ke arahnya, lelaki itu terlihat fokus mengendarai mobil, membuat aku berusaha melepaskan diri dari ikatan tali yang melilit tubuh ini.
"Percuma kamu mencoba melepaskan tali itu, karena aku sudah mengikatnya dengan kencang. "
"Mm."
Mencoba mengerakan badan, berusaha lepas. Ahk, sialnya tak bisa, aku benar benar terjebak.
Ponsel mulai berbunyi, terlihat Alex sedikit menurunkan kaca matanya.
"Ponsel kamu berbunyi, kenapa diam saja. "
"Mm. Mm. "
Alex malah menepuk jidatnya, ia tersenyum kecil, " aku lupa kalau kamu tak bisa bergerak. "
Lelaki ini, benar benar membuat emosiku meluap, tangan kekarnya mulai mengambil ponsel dalam saku celana.
"Mm."
Berguman dalam hati, " sialan, berani sekali dia."
Mengeser tombol berwarna merah yang bergerak pada layar, aku mencoba menatap siapa yang menelepon.
Namun, betapa kesalnya. Alex malah menjauhkan layar ponselku dari penglihatan mata ini.
"Halo."
Beraninya Alex mengangkat panggilan dari ponselku. Lelaki itu melepaskan tws yang menempel pada telinganya.
Lalu berucap, " halo. "
"Halo. Kaira kamu baik baik saja. "
"Ngapain coba kamu telepon kesini, sudah matikan , jangan kuatir. " Kedua mata Alex sekilas menatap ke arahku, " dia baik baik saja. "